TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
21


__ADS_3

Keesokan harinya, Di sekolah.


"Assalamualaikum..!" ujar seorang pria.


"Walaikum salam!" sahut semua siswa serentak. Termasuk Mila.


Mila yang heran dengan kedatangan Pak Ardhana ke kelasnya, menghampiri pria yang kini masih berdiri di ambang pintu.


"Mila, ada tamu untukmu!" ucap Pak Ardhana cepat, piket hari ini. Pria itu mendatangi Mila ke kelasnya yang sedang melakukan proses belajar mengajar.


"Tamu?" tanya Mila cepat. Siapa pula tamunya itu. Dia merasa bukan orang penting di sekolah. Dan dia bukan wali kelas. Jadi, sangat mencengangkan jika ada yang mencarinya.


"Iya."


"Siapa?" tanya Mila kepo.


"Sana, kamu temui. Biar aku yang amankan kelasmu!" Pak Ardhana sebaya dengan Mila, jadi mereka kalau bicara tidaklah terlalu formal.


"Gak, aku gak mau ketemu. Aku masih kerja. Kalau dia mau menunggu habis les ku, ya aku akan menemuinya!" Jawab Mila tegas.


"Oohh begitu? baik lah!" pak Ardhana meninggalkan tempat itu. Dan Mila kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajar.


Mila mematikan infokus dan laptopnya. Menerangkan materi telah selesai, dan ia juga sudah memberi soal latihan pada anak didiknya. Tersisa waktu 15 menit lagi agar les nya berakhir. Mila yang memberi soal materi getaran dan gelombang itu, berjalan menghampiri satu persatu siswa nya, memberi arahan pada siswa yang belum paham akan rumus yang ia jelaskan. Mila adalah guru mata pelajaran IPA.


Saat sedang serius mengajari anak didiknya, perhatian Mila teralihkan ke suara keras ketukan pintu. Ketukan nya sangat tidak sabaran.


Tok


Tok


Tok


Mila yang penasaran, menoleh ke arah pintu. Betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita menyebalkan di ambang pintu.


"Kamu kesini! aku ingin bicara!" ujar wanita itu dengan nada sombong nya.


Mila sudah eneg melihat wanita itu. Ternyata tamunya itu adalah adik iparnya Pak Cholil, yang sampai sekarang ia tidak tahu namanya. Tepatnya tidak ingin tahu.


Huufftt...


Mila menarik napas panjang. Ia perlu cadangan oksigen yang banyak di Dada nya. Agar ia tidak terpancing dengan wanita menyebalkan itu.

__ADS_1


Dengan langkah santai Mila menghampiri wanita itu. Kemudian Mila membalik badan ke arah anak didiknya. Menempelkan jemarinya di mulutnya. "Jangan ribut ya anak-anak muallimah." ujar nya lembut.


"Iya muallimah!" sahut anak didiknya sopan.


Melihat kelas sudah dalam keadaan aman. Mila melangkah melalui wanita menyebalkan itu. Dan langkah nya Mila diikuti oleh adik iparnya Cholil. Kini mereka di ruang laboratorium.


"Bagus, kamu akhirnya menolak lamaran Mas Cholil. Berarti kamu tahu diri juga. Dan ku harap Kamu akan tetap beri jawaban yang sama seminggu lagi!" ujar Wanita menyebalkan Itu dengan muka puasnya.


Ingin rasanya Mila tertawa melihat wanita di hadapan nya. "Apa kamu datang kesini, hanya untuk mengatakan itu?" tanya Mila dengan menahan senyum. Ia merasa jadi terhibur dengan wanita satu ini. Tingkah aneh wanita satu ini tidak perlu ditanggapi serius.


"Iya!" jawab nya galak.


"Hahhaha... Apa aku ini kau anggap sainganmu nona cantik? sehingga kamu menerorku terus?" tanya Mila dengan diiringi tawa kecil.


"Ka, kamu!" wanita di hadapan nya terlihat semakin kesal. Ia dianggap lelucon oleh Mila.


"Kamu kan yang terus menerorku kan?!" Mila menunjukan pesan yang ada di ponsel nya.


"Gak!" jawabnya cepat.


"Tingkahmu ini membuatku jadi tertarik untuk menerima lamaran Pak Cholil. Jadi, anda lebih baik pulang sekarang. Siapkan mental anda untuk melihat aku dan abang iparmu bersanding di pelaminan!" Ujar Mila menantang tatapan wanita angkuh di hadapan nya.


"Kamu...!"


"Aauuuww...!" teriak Mila


Mila terjatuh di lantai. Dan dengan gerakan cepat wanita itu menarik kuat hijab nya Mila. Sehingga wajah cantik nya Mila tanpa ditutupi hijab terpampang sudah. Kemudian wanita gila itu melempar ke sembarang tempat hijabnya Mila.


Wanita itu nampak puas sekali, karena melihat Mila dalam keadaan terpuruk


"Hahhaha.. Berani denganku. Rasakan ini!"


Melihat tangan wanita itu hendak menamparnya. Kakinya Mila bergerak cepat menendang wanita itu. Tendangan nya sangat kuat. Sampai-sampai wanita itu terplanting jauh.


"Aauuuww...!" teriaknya histeris.


Teriakannya terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Hal itu membuat beberapa guru berlari ke arah laboratorium.


"Jangan sepele kepada orang lain. Aku diam selama ini, bukan karena aku takut kepadamu. Aku hanya tidak suka buang waktu melayani orang sepertimu!" tegas Mila menunujuk kesal wanita yang kini tidak berdaya itu.


Aaaaahhkk..

__ADS_1


"Sakit..!" ringisnya memegangi bokong dan pinggangnya


Mila mengabaikan wanita itu. Ia menyeret kakinya ke arah hijabnya yang tersampir di meja praktikum.


Dan disaat itu juga, para guru sudah tiba di ruangan Itu. Mila yang malu, dengan cepat mengenakan hijabnya. Ia tidak peduli lagi dengan para guru yang bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Kamu baik-baik saja Bu Delima!" tanya Bu Rosé kepada adik iparnya Cholil.


Delima? oh namanya Delima? Gumam Mila, ia masih membelakangi orang-orang yang heboh menolong wanita yang namanya Delima itu. Sama sekali tidak ada guru yang menanyakan keadaannya sekarang.


Mila sudah selesai ber hijab, ia pun menyeret kakinya dari tempat itu. Tapi, langkahnya berhenti, disaat Pak Harun memanggil nya.


"Mila, jelaskan apa yang terjadi? kamu melukai adik iparnya Pak Cholil?" ujar Pak Harun dengan geram.


Mila memutar tubuhnya menghampiri pak Harun. "Kalau aku cerita kan semuanya, apa bapak percaya padaku?" tanya Mila dengan nanar.


"Ya, kalau kamu berkata jujur, pasti kami percaya!" jawab Pak Harun kesal. Bisa buruk nama sekolah mereka karena Mila bertengkar dengan Adik iparnya Pak Cholil.


Mila menatap ke arah CCTV. Dan guru-guru di tempat itu mengikuti pergerakan matanya Mila. "Pak, itu ada CCTV. Bapak bisa lihat apa yang terjadi. Aku hanya membela diriku. Dia yang menyerangku terlebih dahulu!" ujar Mila tegas dan masih dengan tatapan nanarnya.


"Tidak, aku tidak salah. Lihat aku sudah terluka sekarang. Tulang pinggangku dan tulang ekorku sudah patah Karena nya!" rengeknya seperti orang teraniaya.


"Iya, sabar Bu Delima. Aku yakin kamu tidak salah!" ujar bu Rose, mengusap lembut punggung wanita bernama Delima itu. Kini wanita aneh itu sudah terduduk dan ditemani Bu rosé


Ciihh..


Mila berdecak kesal. Ia menatap tajam wanita yang bernama Delima itu. "Ada Allah yang maha tahu!" ujar Mila tegas, ia pegangi kepala nya yang tiba-tiba saja terasa sakit dan pandangannya kabur.


"Dia yang salah. Aku tidak salah!"


Mila tidak mau beradu pendapat lagi. Kalau dengan kejadian ini, ia disalahkan. Ia akan terima. Karena memang sudah nasib, orang lemah selalu direndahkan.


"Hei... Ada apa ini? cepat ke kantor. Ada Pak Cholil di kantor guru!" ujar Pak Ardhana yang tiba-tiba saja datang ke laboratorium.


"Pak Cholil ke sini lagi. Pasti mau menemui Bu Delima. Habis lah riwayatmu Mila. Berani nya Kamu melukai calon istrinya Bu Delima!" ujar Bu Rose kuat, yang ucapannya bisa terdengar ke luar


Saat ini Mila sudah ada di luar. Ia mengusap Dada nya yang tiba-tiba saja terasa sesak. Sedih rasanya disepelekan dan tidak dianggap. Bahkan guru-guru terlihat lebih percaya pada Delima.


"Ya Allah.. Kepalaku kenapa sakit begini?" ujar nya memegangi kepala nya yang sangat sakit dan nyut nyutan. Mila bahkan sudah tidak bisa melangkah akan kakinya lagi. Kakinya terasa lemas dan Tidak bertenaga.


"Ya Allah..!" Mila berpegangan ke dinding kelas yang ia lalui. Pandangan nya semakin berkabut. Kepala nya terasa berputar putar.

__ADS_1


"Mila...!" dengan berat, Mila buka kedua matanya yang hendak tertutup, guna melihat dengan jelas, sosok seorang pria yang berlari menghampirinya di hadapan nya. Tapi, Ternyata ia tidak bisa melihat jelas pria yang berlari ke arah nya itu. Pandangan nya sudah buram.


Dan setelah itu Ia tidak tahu apa yang terjadi lagi Mila pingsan di teras kelas yang ia lalui.


__ADS_2