
"Hei Jamila, jangan samakan setiap orang. Jangan bawa-bawa nama ustadz!" Cholil menatap datar Mila. Ucapan Mila menyinggung perasaannya.
Mila terdiam, ia yang menunduk me lirik-lirik Cholil yang wajahnya masih nampak datar itu.
"Malam nanti, aku akan bertamu ke rumah. Semuanya akan kita bicara kan. Jangan ada lagi penolak an!" tegas Cholil.
"Ta, tapi pak!"
Mila yang terkejut mendengar ucapan Cholil menatap bingung kepada pria itu.
"Delima bagaimana?" tanyanya pelan, terlihat penuh kehati-hatian.
Air muka Cholil mendadak murung setelah Mila menyebut nama itu.
"Jangan buat dia sebagai alasan menolak lamaranku!" ujar Cholil menatap lekat Mila yang terlihat masih ragu. "Ia memang ingin aku turun ranjang. Tapi, aku tidak mau. Karena aku sudah menganggapnya adik sendiri. Jadi, Delima bukan penghalang buat hubungan kita!"
"Hubungan kita?" tanya Mila dengan narsis.
"Terserah deh, Adek mau GR atau Apa lah namanya. Inti nya, abang ini mau menikah dengan Adek." Ujar Cholil. Ia turun dari mobil. Karena mereka sudah sampai di rumahnya Mila. Kemudian pria itu meminta Mila turun.
"Mama...!"Salsa yang sudah pulang sekolah berlari menghampiri sang mama yang diantar dengan mobil mewah. Siapa coba yang tidak senang akan hal itu.
__ADS_1
"Salsa...Apa Salsa ingin punya ayah lagi?" Cholil berjongkok di hadapan Salsa mensejajarkan tubuhnya dengan Salsa yang ada dalam genggaman Mila.
"Mau Om, mau banget. Kalau bisa tiga ya Om." Ujar Salsa riang dan polos nya.
"Tiga?" tanya Mila dan Cholil secara bersamaan.
"Iya ma, tiga aja. Biar ada yang bantuin kita ma!" celoteh Salsa.
Mila yang terkejut dengan ucapan sang Puteri. Hanya bisa melototkan kedua mata dan mulutnya.
"Iya ma, tiga. Satu ayah cari uang, satu ayah lagi antar pesanan kue. Dan satu ayah lagi nyuci piring, cuci kain, masak dan bersih-bersih rumah ma!" jelas Salsa dengan seriusnya. Bahkan tangannya ikut bergerak mempraktekkan apa yang ia katakan.
"Aku gak mau lihat mama capek lagi." Ujar Salsa dengan mata yang berkabut. Ia takut juga dengan tatapan tajam sang ibu.
Cholil sebenarnya ingin tertawa lepas. Atas ucapan Salsa yang ingin memiliki Ayah 3. Tapi, karena ucapannya terakhir bercampur dengan isak tangis. Ia pun akhir nya terhanyut dalam kesedihan.
Ia usap lembut puncak kepalanya Salsa. Salsa masih dalam pegangan Mila.
"Cukup ayah saja yang jadi ayahmu dan Darel. Ayah yang akan kerja kan semuanya. Cari uang, cuci piring, cuci baju, memasak, bersih-bersih rumah dan antar kan kue pesanan Mama mu!" ujar Cholil lembut penuh penghayatan.
"Haahh.. Om bisa lakuin itu Semuanya?' tanya Salsa dengan tercengang. Kedua mata anak itu menilik ke arah Cholil.
__ADS_1
Cholil mengangguk kan kepalanya pelan. "Bisa, bisa banget sayang. Bahkan om bisa jadi tukang pijat mamamu!"
"Aa.. apa?" ujar Mila cepat. Otaknya langsung traveling mendengar ucapan Cholil.
Cholil mengulum senyum menatap Mila yang kini tersipu malu.
"Aku duda dan kamu janda. Jadi, kita sama-sama tahu dan mengerti lah!" ujar Cholil masih menahan tawa.
"Dasar cowok!'" umpat Mila menatap masam Cholil yang masih senyum simpul itu.
"Hore... Ho re... Ho re... Aku tidak capek lagi untuk pijat punggung Mama, habis capek masak kue. Disuruh lagi pijat mama. Kini ada si om Yang akan memijat mama!" teriak Salsa dengan semangat nya
"Kalau dulu mama mu capek masak kue. Seminggu lagi pasti capek aduk adonan!"
"Pak..!" Protes Mila cepat. Ia merasa tabu membahas hal begitu an.
"Hehehbe... Ho re...!" ujar Cholil dengan semangatnya, menjulurkan tangannya kepada Salsa. Dan mereka pun tos.
"Astaghfirullah. ..!" ujar Mila sambil menggeleng kuat. Ia tidak menyangka Cholil itu orangnya ramai. Tapi, jika di tempat kerja sangat tegas dan cool.
"Hehehe..!" Cholil tertawa puas. Ia sambar Salsa dari genggaman Mila. Ia pun menggendong anak itu masuk ke dalam rumah Yang disusul.oleh Mila
__ADS_1