TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
9


__ADS_3

"Kamu harus bayar hutang nya Irfan padaku. Dia banyak hutang samaku. Apa kamu tahu itu?" tanya Irene dengan mata melotot nya!


"Hutang?" tanya Mila dengan bingungnya. Ia baru tahu kalau Irfan ada hutang dengan Irene.


"Iya, kamu tahu, untuk bisa kerja di perusahaan itu, harus bayar. Dan itu uangku yang mendahulukannya! Tapi, Irfan sampai sekarang Belum membayar nya!" ujar Irene dengan penuh kekesalan.


Kening Mila mengkerut mendengar penjelasannya Irene. "Aku tidak tahu soal itu." Jawab Mila tegas. Ia tahu kalau mau kerja di tempat itu, harus ada orang dalam, tapi soal harus ada uang, Mila tidak tahu


"Sekarang kamu sudah tahu kan?" Tanya Irene dengan kesalnya.


"Aku gak Mau tahu dan tidak ingin tahu. Kamu ya Irene, ku lihat semakin ngelunjak samaku mentang-mentang aku diam atas perbuatan tidak bermoralmu. Dan sekarang kamu car gara-gara lagi. Belum puas kamu melabrak aku seminggu lalu." Kini Mila tidak mau direndahkan oleh Irene lagi.


"Aku seperti ini, karena kamu dan suamimu. Hidupku hancur!" ujar Irene kesal.


Mila yang sedari tadi menahan diri agar tidak emosi, tidak tahan lagi atas sikap semena-menanya Irene. Ingin rasanya ia cekik leher wanita di hadapannya.


"Aku gak mau tahu soal itu. Kamu urus hutangmu dengan Mas Irfan, jangan bawa- bawa saya!" Mila menghidupkan mesin motornya. Ia merasa buang waktu berdebat dengan Irene.


"Hei gak boleh gitu!" Irene menarik bajunya Mila yang sudah melajukan motornya. Auto, Mila stop dan mematikan mesin motornya darahnya kini terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Tiidak puas Irene, wanita yang merusak rumah tangganya mengganggu hidupnya. Mentang-mentang dia selama ini diam dan tidak mau ribut, wanita itu jadi semena me na terhadap nya.


Mila turun dari motornya dengan perlahan dan seolah-olah ia tidak akan melakukan penyerangan. Diluar parkiran Irene, tiba-tiba Mila menendang dengan kuat perut wanita Itu.


Bruuggkk..


Saking kuat nya tendangan nya Mila di perutnya Irene. Wanita itu ambruk di aspal dan mengerang kesakitan.


"Tolong. ... Tolong.!" teriak Irene histeris seperti orang gila, memegangi perutnya yang terasa sakit sekali.


Mila yang tersulut emosinya. Hanya menatap nanar Irene yang kesakitan itu. Sedikit pun ia tidak iba melihat mantan sahabatnya itu terkapar di aspal.


"Tolong ...!" teriak Irene lagi, mengayunkan sepeda motor yang melintas di jalan itu.

__ADS_1


"Pak, ada yang berkelahi!" ujar seorang wanita yang sedang dibonceng suaminya. Yang motornya di stop oleh Irene.


Pasangan suami istri itu menepikan motornya. Bergegas menolong Irene. Sedangkan Mila masih mematung di tempat, menonton saja pasangan suami istri itu menolong Irene.


"Da, darah...!" teriak si ibu yang menolong Irene. Saat Irene dipapah untuk bangkit. Dari balik celana kulot yang ia kenakan mengalir darah segar.


Sontak Mila dibuat syok akan kenyataan itu. Itu artinya, Irene tengah hamil anaknya Irfan.


Suaminya Irene adalah seorang pelaut yang berlayar hingga 1 sampai 2 tahun. Dan terakhir suaminya pulang adalah 1 tahun yang lalu. Dan sekarang sudah bersama Irene lagi. Suaminya itu kembali pulang tiga hari yang lalu, bertepatan jadwal nya pulang disaat sang istri ketahuan selingkuh kira-kira 10 hari yang lalu.


Dan bodoh nya lagi Suaminya itu tetap menerima Irene, walau wanita itu sudah selingkuh.


"Sa, Sakit...!" keluh Irene dengan muka pesakitannya. Bahkan wajahnya sudah pucat dengan bintik-bintik air memenuhi keningnya.


Mila yang syok melihat darah keluar dari celah celana kulot yang Irene kenakan, mendekati Irene dengan muka sedih nya


"Ka, kamu hamil?" tanyanya dengan Suara bergetar. Mila tidak perdulikan lagi, pasangan suami istri yang menolong Irene.


Seketika tempat itu jadi ramai. Dan kebetulan sekali Irfan juga sedang melintas di jalan itu. Ia sedang mencari Mila, karena sudah pukul 15.32 Wib, belum sampai di rumah Pak Mahmud.


"Ada apa ini?" Ujar Seorang pria yang mengenal Irene juga.


"Minggir...!" Irfan menerobos keramaian orang yang kini mengerumuni Mila dan Irene. "Mila..!' ujar Irfan tanpa sadar, Melihat Mila menatap tajam Irene yang kini tengah di papah pasangan suami istri. " Irene!" Ujarnya lagi tak kalah kaget.


Mila yang mendengar suaranya Irfan di belakangnya, memutar lehernya cepat.


"Bu, itu suami ibu ini. Berikan saja padanya!" ujar Mila tegas, ia tunjuk Irfan yang berdiri dengan tercengang di belakangnya.


Irfan melotot Kan kedua matanya kepada Irene. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi kepada wanita itu. Dan tanpa se patah kata ia tinggalkan tempat itu untuk menyusul sang istri Mila.


"Abang... Abang Irfan...!" teriak Irene, ia melepaskan diri dari rengkuhan pasangan suami istri yang menolong nya. Berjalan tertatih tatih mengejar Irfan.

__ADS_1


"Oohh A..lah... Drama manusia mesum ini masih berlanjut!" ujar Seorang ibu-ibu yang mengetahui kasus nya Mila, Irfan dan Irene.


Seketika si ibu-ibu jadi nama sumber, bagi orang yang tidak tahu permasalahan mereka. Setelah mendengar cerita si ibu tadi. Orang-orang yang berkerumum malah menyalahkan Irene


"Huuhh.. Pelakor Kamu rupanya. Rasakan lah hukuman mu di dunia. Gak nunggu karma, kelamaan. Sekarang kamu pantas dapatkan sanksi sosial!" ujar Si ibu yang berniat hati hendak menolong nya tadi.


Tempat itu yang Tadinya sepi, sekarang jadi ramai sekali. Setiap orang yang melintas, memilih berhenti. Kepo dengan apa yang terjadi. Irene yang pesakitan malah jadi tontonan. Apalagi warga sudah tahu, Irene hamil anak dari selingkuhannya. Jadi, seolah tidak ada yang mau membantu.


Hua... Hua... Hua...


Ia menangis histeris di tempat itu. Ia merasa sangat malu sekali, jadi tontonan orang-orang.


Ia yang dalam keadaan lemas, merogoh tas nya untuk mengambil ponselnya. Ia pun melakukan panggilan telepon, tapi yang di telepon tidak kunjung mengangkat telepon nya.


"Bang... Tolong...!" teriaknya, orang -orang masih menonton Irene yang sudah seperti orang gila itu.


"Kasihan dia, ayo kita bawa ke rumah sakit!" Akhirnya ada juga hati warga yang tergerak untuk menolong Irene.


"Iya, ayo...!" Irene pun akhirnya dibawa ke klinik terdekat menggunakan becak motor.


Sepanjang perjalanan menuju klinik. Wanita yang menolong Irene terus saja menghubungi Suaminya Irene. Tapi, tetap telepon nya tidak diangkat.


Hingga Irene sudah sampai di klinik fan masuk ruang pemeriksaan. Akhirnya Suaminya Irene mengangkat telepon.


Hanya butuh waktu 20 menit Suaminya Irene sampai di klinik.


"Di mana istri saya bu?" tanyanya panik.


"Masih di ruang pemeriksaan!"


Bruuggkk.

__ADS_1


Pria yang sedang terluka hatinya itu, terduduk lemas di kursi panjang stainless. Baru juga dua hari ini dia berdamai dengan dirinya sendiri, atas pengkhianatan sang istri. Kini, ia harus saksikan sang istri keguguran dari hubungan gelap.


__ADS_2