
"Mulai besok dan seterusnya. Adek tidak perlu lagi masuk sekolah, atau pergi bekerja. Adek harus istirahat. Tekanan darahmu sangat rendah. Pantesan tadi kamu itu pingsan!" Ujar Cholil tegas menatap Mila yang terkejut itu.
Kini mereka ada di dalam mobil menuju perjalanan pulang ke rumahnya Mila. Mila sudah diperiksa dokter. Dokter mengatakan tekanannya Mila rendah yaitu 80/60 hg.
"Dilarang kerja? apa maksud bapak bicara seperti itu?" tanya Mila menatap serius Cholil. Kini kedua nya bersitatap.
"Minggu depan kita akan menikah. Calon pengantin dilarang keluar rumah!" sahut Cholil mengulum senyum. Dan ia membuang cepat pandangannya setelah mengatakan itu.
Pria pintar, pejabat tinggi dibuat bodoh d hadapan wanita. Entah apa daya tarik wanita yang duduk di sebelahnya ini, hingga Cholil sangat ingin memiliki nya. Padahal banyak gadis yang ingin jadi Istrinya. Termasuk Delima sang adik ipar.
"Gak, gak pak!" Ujar Mila sendu.
Seketika Cholil menoleh ke arah Mila yang nampak sedih itu.
"Pernikahan bukan untuk bahan lelucon dan ajang uji coba. Aku tidak bisa menikah bapak!" sahut Mila tegas. Kedua nya masih bersitatap.
"Yang buat lelucon siapa dek?" tanya Cholil lembut.
__ADS_1
"Ya bapak!" sahut Mila menahan isak tangis. Ia merasa tidak cocok dengan Cholil, dilihat dari segi Mana pun, ia sangat berbeda dengan pria iti. Mila kembali menunduk setelah mengatakan itu.
"Gak ada niatku menganggap semua ini lelucon. Aku memang suka padamu, jatuh cinta pada pandangan pertama. Tepatnya satu tahun yang lalu!" ujar Cholil tulus.
Deg
Mila cukup terkejut mendengar penuturan Kholil
Jatuh cinta satu tahun yang lalu, itu artinya Kholil menyukainya saat pertama kali Kholil datang ke sekolah mereka. Disaat Salsa berulah membuat keributan pas rapat dan saat itu juga CHolil malah memberikan amplop berisi uang kepada Salsa.
"Kirain kamu bilang, aku cewek dan bapak cowok kan beda!" goda Cholil tertawa kecil.
"Iihh.. Pak, aku serius!"
Bruuggkk..
Mila yang masih lemah, menyandarkan badannya di badan kursi.
__ADS_1
"Aku juga serius Dek! Kalau aku gak serius. Tidak mungkin aku seperti ini!" jawab Cholil lembut penuh Ke seriusan.
Mila terdiam. Ia tatap lekat kedua matanya Cholil mencari kejujuran dari mata yang kini berkaca-kaca itu.
"Delima?" ujar Mila tanpa sadar.
"Iya, dia Ingin aku menikahinya Tapi kan aku tidak ingin menikah dengan nya!" ujar Kholil tegas.
"Aku gak mau ada yang tersakiti. Bapak cocok dengan Dek Delima!"
"Aku suka nya dengan mu. Jamila...!" ujar Cholil serius
Mila kembali dibuat tidak berdaya dengan tatapan tulusnya Cholil " Jangan desak aku pak. Beri aku waktu. Sa, satu minggu tidak cukup untuk memikirkan semuanya. Ini tentang perjalanan hidup. kita tidak boleh tergesa-gesa untuk memutuskannya. Bapak juga belum kenal aku seutuhnya. Begitu juga dengan diriku yang belum mengenal bapak!" Ujar Mila sopan.
"Dalam pernikahan yang dibutuhkan adalah niat. Kalau niat kita baik, maka semuanya akan baik!"
"Tidak, tidak pak!" Selah Mila cepat. "Menikah perlu komitmen! aku gak mau dengan tergesa-gesa. Bisa saja suatu saat bapak bosan padaku. Eehh.. Bapak sudah ada istri baru lagi. Apalagi bapak itu ada aura aura mau jadi ustadz. Usatadz biasanya suka poligami!" ujar Mila tegas.
__ADS_1