Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
10. Mati Satu Tumbuh Seribu


__ADS_3

Melihat Tifania dan yang lain datang, Riyan benar-benar terkejut. Ia sangat percaya bahwa tidak ada yang datang menolongnya, tapi kepercayaannya pada hal itu hilang seketika begitu mendapati semua murid yang dipanggil bersamanya sebagai pahlawan di dunia ini datang.



"Apa yang kau lakukan, orang bodoh!? Pergi dari sana!"



Riyan tersentak mendengar ucapan Gilbert yang tengah berusaha menahan [Gale Burst] milik si [Chimera] bersama Tifania. Ia langsung berlari ke arah dimana Tifania dan Gilbert berdiri, kemudian bergabung dengan mereka. Para murid terlihat terkejut mendapati Riyan membawa sebuah pedang dengan nafas yang tak karuan.



Setelah Riyan aman, Gilbert dan Tifania melepas salah satu skill mereka, [Holly Aegis]. Begitu dilepas, laser biru milik [Chimera] itu melesat menghancurkan dinding labirin. Lantai bergetar ketika dinding labirin menderukan suara timbunan-timbunan batu yang melimpah. Tentu saja, semua yang murid ada di sana kembali dikejutkan dengan daya rusak [Gale Burst] dari sang lawan.



"Riyan!"



Tifania langsung menghampiri Riyan yang sejak tadi bertarung melawan monster mengerikan itu disertai ekspresi panik dan khawatir yang sangat. Ia langsung memeriksa apakah Riyan terluka atau tidak. Riyan yang mendapati perhatian lebih dari Tifania, merasakan hawa membunuh dari kerumunan para murid.



"Aku tidak apa-apa, tenang saja."



Sambil menoleh ke arah lawannya, Riyan mengucapkan itu untuk menenangkan Tifania. Gilbert, Johan, serta beberapa murid yang memiliki kemampuan bertarung dalam jarak dekat menarik pedang, sedangkan para murid yang unggul di bidang sihir menyiapkan kedua tangan mereka dan mulai mengonsentrasikan mana.



"Dengarkan aku! Yang merasa kuat tahan monster ini, yang merasa lemah larilah duluan ke belakang!"



Mendengar itu, para murid yang berada di barisan paling belakang mulai berlarian satu persatu meninggalkan lorong tersebut secepat mungkin. Tifania segera mendorong Riyan untuk lari, tapi entah mengapa Riyan menahan tubuhnya. Tentu saja Tifania terkejut begitu mendapati tubuh Riyan tak bergerak mengikuti dorongan yang ia berikan.



Beberapa saat kemudian, sambil menghindari Tifania yang hendak mendorongnya sekali lagi, Riyan maju bersama pedang yang ia genggam. Saking cepatnya, Tifania tidak sempat menghentikannya, bahkan belum ada sepuluh detik, Riyan telah melewati barisan Gilbert, Johan, dan enam orang lainnya yang berada di depan siap menghalau [Chimera] itu.



Melihat Riyan menerjang lurus ke depan, sontak saja Gilbert dan lainnya terkejut, terutama Tifania.



"Hei, orang bodoh! Sedang apa kau maju!? Kembali ke sini!"



"Berisik!"



Sambil berteriak membalas ucapan Gilbert, ia menghindari serangan vertikal dari ekor ular sang [Chimera]. Dengan cepat, ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas, membelah kepala ular hitam yang merupakan ekor monster tersebut. Akibat tindakan Riyan, kepala ular ekor si [Chimera] terputus dari badannya.



GROOAAA!!!



Mendapat serangan fatal, monster raksasa berkaki empat itu mengaum kesakitan. Darah hitam mengucur deras dari ekornya yang berbentuk badan ular memandikan pedang serta sebagian tubuh Riyan, tapi kelihatannya Riyan tak peduli. Dengan badan yang dipenuhi cairan hitam kental, ia maju dan menusukkan pedangnya ke dalam kaki depan sang [Chimera] sekali lagi.



GRRR!!



Lawannya langsung sadar begitu merasakan sesuatu yang menggelitik di bagian kaki depannya. Ia menghempaskan Riyan ke belakang hanya dengan satu ayunan, tetapi Riyan sempat mencabut dan menangkisnya menggunakan pedangnya sehingga ia tak terkena serangan langsung.



Terhempas ke belakang, Riyan tidak jatuh. Ia menancapkan pedangnya ke tanah dan berusaha tetap berdiri karena terus termundur akibat reaksi serangan monster itu. Beberapa detik kemudian, ia berhenti tepat di depan Gilbert. Semua orang yang menyaksikan aksi Riyan sesaat lalu itu hanya dapat tercengang dengan mata yang terbelalak hebat.



Siapa yang menyangka bahwa Riyan yang merupakan manusia terlemah, ternyata memiliki kemampuan bertarung yang bisa dikatakan hebat, bahkan mungkin setara dengan Gilbert, jika hanya dinilai dari segi seni berpedang?



Tak ingin membuang banyak waktu, Riyan mencabut pedangnya dari tanah dan mengalirkan mana ke dalamnya, lalu mengayunkan pedang itu secara horizontal ke depan.



"[Mana Slash]!"



Zwungg!



Sebuah gelombang berwarna biru melesat dari jalur tebasan udara pedang Riyan. Gelombang itu terbang lurus secepat peluru menghantam tubuh si [Chimera], lebih tepatnya lehernya. Menerima serangan sekali lagi, monster itu kembali meraung, tapi Riyan tidak memberikan kesempatan padanya untuk beristirahat atau mengaum.



"[Mana Slash]! [Mana Slash]! [Mana Slash]!"



Karena mengayunkan pedang sambil mengerahkan skill itu berkali-kali, akhirnya parameter mana milik Riyan kembali mencapai poin nol. Gilbert dan lainnya dibuat terkejut olehnya yang mengerahkan skill mirip [Slash] yang umumnya dimiliki oleh seseorang berkelas kesatria.



[Mana Slash] adalah salah satu skill milik Riyan yang ia kembangkan dari [Mana Manipulation]. Skill ini membutuhkan sejumlah mana besar yang dialirkan ke suatu benda atau bagian tubuh, lalu dilepaskan dalam bentuk lengkungan gelombang mana layaknya skill [Slash].



Perbedaannya adalah penggunaan mananya yang sangat jauh. Jika [Slash] hanya membutuhkan minimal 3 poin mana, maka [Mana Slash] membutuhkan minimal 7 poin mana. Perbedaan yang sangat signifikan inilah yang membuat Riyan enggan menggunakan skill-skillnya.



Memang [Mana Manipulation] adalah skill yang dicap sebagai skill merugikan, tapi itu semua karena penggunaan mananya yang terlalu berlebihan. Jika pengguna menginginkannya, maka [Mana Manipulation] dapat membuat apa saja dengan bayaran mana yang setimpal, bahkan senjata saja bisa.



Dengan nafas terengah-engah, Riyan mengerahkan [Appraisal] kepada lawannya.



---



Nama : Chimera



Ras : Monster Hybrid



Kelas : Penghancur



Level : 76



Nyawa : 29780/38000



Mana : 6520/7800



Kekuatan Fisik : 1500



Kekuatan Sihir : 1200



Ketahanan : 440



Atribut : Kegelapan, Ledakan, Api



Skill : Dark Force, Gale Burst, Fire Breath



Kondisi : Rage



---



Melihat perubahan yang terdapat pada status sang [Chimera], Riyan terkejut. Memang parameter nyawa dan mananya berkurang, tetapi entah mengapa status lainnya naik beberapa ratus poin, kecuali untuk ketahanan yang juga berkurang.



'Ehm, status kondisi? Aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya ini menjelaskan jika ada sesuatu yang tak lazim terjadi pada pemilik status.'



Saat memikirkan itu, tiba-tiba tubuhnya terasa kejang-kejang sesaat dan tenaganya mulai memudar. Riyan akhirnya jatuh berlutut dengan pedang yang tertancap ke tanah secara vertikal. Batas waktu penggunaan pil penambah status sementara, telah habis.



'Sial, timingnya tepat sekali.'



Tak ada yang dapat ia lakukan selain mengeluhkan itu dalam hati. Staminanya habis, saat ini ia tidak bisa bergerak bebas untuk beberapa saat. Keringatnya mengucur deras dari setiap pori-pori, tangan serta seluruh tubuhnya gemetar, akan tetapi semangatnya sama sekali belum luntur. Sorot matanya terfokus kepada satu hal, yakni si monster, [Chimera].



Ketika Riyan tidak bisa bergerak, Johan dan lainnya melesat ke depan bersama pedang mereka masing-masing melewatinya yang tengah kehabisan tenaga. Melihat ini, tentu saja ia terkejut. Johan dan lainnya berniat untuk menantang monster mengerikan itu? Siapa yang tak terkejut?



"Johan akan menjadi penyerang utamanya, yang lain bukakan jalur untuknya!"



""Siap!""



Mendengar arahan dari Gilbert, mereka langsung berpencar menjadi dua bagian seperti sayap dengan Johan yang berada di tengah. Tidak sampai sana, Gilbert kembali meneriakkan arahan selanjutnya.



"Yang memiliki kelebihan sebagai penyihir di belakang, butakan mata monster itu sehingga Johan dan yang lain dapat mendaratkan satu pukulan telak!"



""Oke!""



Beberapa murid yang berada di barisan belakang tidak jadi melarikan diri begitu melihat aksi Riyan tadi. Kelihatannya mereka tidak mau kalah, apalagi oleh murid terlemah di antara mereka.



"Tifania, sembuhkan si brengsek ini!"



"Berhenti menyebutnya brengsek!"



"Lakukan saja!"



Setelah selesai memberi arahan, Gilbert melangkahkan kakinya ke depan bergabung dengan para murid petarung jarak dekat. Tapi sebelum masuk, ia sempat memberikan tatapan kesalnya kepada Riyan yang sedang kelelahan itu. Riyan mengerti kenapa Gilbert melihatnya seperti itu, jadi ia memilih untuk mengabaikannya.



Para murid yang membentuk formasi sayap di kiri kanan Johan itu menahan dan menangkis serangan sang [Chimera]. Johan dan Gilbert menunggu saat yang tepat untuk menyerang menggunakan serangan terkuat mereka. Di belakang mereka, menyusullah dua bayangan sambil membawa pedang.



"Lama tahu, Graham, Hendra."



"Asal kau tahu, di depan juga terdapat banyak monster."


__ADS_1


"Membersihkan jalur pelarian itu lebih sulit dari yang kau kira."



"Sudahlah. Bukan waktunya untuk bertengkar, kalian bertiga."



Kedua orang yang baru saja bergabung dengan Gilbert dan Johan adalah Graham dan Hendra, salah satu dari enam pahlawan terkuat yang dipanggil dari dunia lain. Mereka berbincang-bincang seolah-olah dalam situasi santai, entah kenapa. Riyan tersenyum kecut melihat keempatnya berbicara tanpa mempedulikan hidup mati mereka.



""[Celestial Fire]/[Grinding Water]/[Wind Disk]/[Aero Razor]!!"



Dalam saat itu juga, para murid dengan keunggulan sihir dari belakang, secara kompak melancarkan sihir bersamaan. Sihir-sihir mereka melesat lurus menuju mata sang [Chimera] dan... tepat sasaran.



GRAAAA!!



Si monster kembali meraung merasakan sakit yang luar biasa di kedua bola matanya itu. Murid-murid yang melancarkan sihir itu tersenyum puas. Gilbert juga menyunggingkan bibirnya.



"Sekarang!! [Vixion Slash]!"



"[Bull Slash]!"



"[Dynamic Clash]!"



"[Single Assault]!"



Zraatt! Zraatt! Craack!! Draakk!!



DUUAARR!!!



Sebuah ledakan besar mengiringi serangan tertinggi milik keempat pahlawan yang menghantam si monster itu. Para murid lainnya langsung berlari ke belakang menghindari angin ledakan yang dapat menghempaskan mereka ke tempat yang tak diharapkan. Sungguh, serangan dari keempat remaja itu sangat luar biasa.



Debu-debu bertebangan menghalangi penglihatan setiap makhluk yang ada di sana. Gilbert dan lainnya masih berdiri dengan tegak di depan sambil menutupi bagian hidung dan mulut mereka agar tak dimasuki debu. Beberapa murid di belakang memanfaatkan situasi kacau ini untuk melarikan diri.



"Riyan!"



Di tengah-tengah itu, Tifania sampai ke tempat Riyan berlutut. Ketika sampai, ia sangat khawatir begitu melihat kondisi Riyan yang tengah berlutut gemetaran. Karena tidak tahu apa penyebabnya, Tifania yang sedang panik itu mengulurkan kedua tangannya ke Riyan dan mengerahkan salah satu skill penyembuhnya.



"[Heal]!"



Dari telapak tangannya, keluarlah sinar putih keemasan kecil menyinari seluruh tubuh laki-laki yang tertutupi cairan hitam kental tersebut. Riyan sedikit terkejut, ia tidak merasakan tubuhnya menjadi lebih baik sama sekali.



"Kau tidak apa-apa, Riyan?!"



Tifania mendekatkan wajahnya pada Riyan dan menanyakan itu diserta panik yang luar biasa. Riyan kembali terkejut, tapi ia tetap menjaga ketenangannya dan hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan dari Tifania itu. Mendengar jawaban yang terlihat yakin dari Riyan, Tifania menghela nafas lega.



GROOAAA!!!



Auman sang [Chimera] kembali terdengar. Debu yang beberapa detik lalu menyelimuti seluruh pandangan, kini telah lenyap diterbangkan oleh auman dari monster berkelas penghancur tersebut. Seluruh murid ketakutan begitu melihat mata menyeramkan makhluk itu.



"Riyan, bisa berdiri?"



"Akan kuusahakan."



Riyan berusaha berdiri dibantu dengan Tifania yang menarik lengan kanannya. Seluruh tubuhnya gemetar, terutama kakinya. Walaupun begitu, sorot matanya terlihat tidak patah semangat. Secara tak sengaja, Tifania melihat mata Riyan yang terpancar semangat bertarung di dalamnya, sehingga ia tercengang untuk sesaat.



"Tifania, bisakah kau pulihkan tenagaku?"



"Eh?"



Sambil menatap sang lawan, Riyan meminta Tifania untuk memulihkan tenaganya. Tifania terkejut begitu mendengar permintaan Riyan yang tak masuk akal itu. Entah mengapa, rasanya Riyan masih ingin berbuat sesuatu, walau status yang dimilikinya sangat rendah.



"Riyan, apa kau serius? Kau ingin bertarung lagi?"



"Ya."



Tifania lebih terkejut lagi ketika mendengar balasan yang tak diharapkannya keluar. Tidak setuju dengan kata-kata Riyan, Tifania menaikkan volume suaranya.



"Sudah cukup, jangan memaksakan dirimu lebih dari ini! Dengan statusmu yang sekarang, kau hanya akan menyulitkan Gilbert dan lainnya."




Riyan hanya menghela nafas berat tak membalas Tifania. Ia menarik lengannya yang ditahan oleh Tifania dan melangkah ke depan. Tifania tidak percaya apa yang ia lihat, seorang Riyan Klaint, pemilik status terparah dari terparah, maju dengan selangkah demi selangkah yang terpotong-potong akibat kehabisan tenaga.



'Apa dia benar-benar Riyan?'



Tifania hanya bisa terbengong melihat Riyan berjalan sempoyongan menuju tempat dimana Gilbert dan yang lain bertempur melawan si monster dari lantai kelima labirin ini. Karena sang [Chimera] dapat bergerak lagi, mau tidak mau Gilbert dan murid petarung jarak dekat menghadapinya dari berbagai arah. Berbeda dari Riyan, tampaknya Gilbert lebih dominan menyerang secara langsung daripada menyerang secara diam-diam.



"[Status]"



---



Nama : Riyan Klaint



Ras : Manusia



Kelas : Penduduk



Level : 6



Nyawa : 24/24



Mana : 2/5



Kekuatan Fisik : 0 (+4)



Kekuatan Sihir : 0 (+6)



Ketahanan : 0 (+12)



Atribut : Hampa



Skill : Appraisal, All Zero, Distract, Nothing Eye, Mana Manipulation, Comprehension , Auto-Counter, Mana Shield, Mana Burst, Mana Slash



---



Melihat statusnya yang kembali normal, Riyan mendecakkan lidahnya. Ia merasa kurang puas dengan semua ini. Ia ingin, paling tidak sedikit saja, melakukan sesuatu. Tak seperti teman-temannya, ketika berduel dengan [Chimera] tersebut, Riyan tampak senang, lebih tepatnya menikmati pertarungan.



Terlihat Gilbert, Johan, dan lainnya mulai kelelahan dan kewalahan dalam menghadapi setiap serangan sang monster. Kaki depan besarnya itu ia layangkan ke sana kemari menciptakan terpaan angin kencang, bahkan para penyerang termundur dibuatnya.



Karena terlalu memperhatikan kondisi Johan, Graham, Hendra, dan teman-temannya, Gilbert menjadi lengah. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh si [Chimera]. Monster itu mengerahkan skill [Fire Breath]-nya ke arah Gilbert. Akibat kelengahannya, Gilbert panik seketika dan menggunakan [Holy Aegis] secara refleks. Tapi nafas api monster tersebut lebih kuat, sehingga mendorong Gilbert menabrak dinding bersama skill perisainya itu.



""Gilbert!!""



Semua murid yang menyaksikan hal itu seketika menjerit histeris, tapi tidak bagi Riyan. Riyan cukup terkejut melihat seseorang yang kuatnya seperti Gilbert dihempaskan begitu saja, bahkan setelah memakai [Holy Aegis], skill pertahanan tingkat tinggi dari atribut cahaya.



[Holy Aegis] merupakan skill tingkat tinggi yang langka dari orang-orang yang memiliki atribut cahaya. Memang [Holy Aegis] adalah sebuah skill, tetapi versi sihir dari skill ini juga ada. Perbedaannya adalah bentuk, penggunaan mana, serta kekuatannya. Versi skill memiliki bentuk lebih besar, penggunaan yang lebih sedikit, serta kekuatannya yang empat kali lipat daripada versi sihir.



Di tengah-tengah situasi panik itu, sekali lagi, sang [Chimera] menyerang, kali ini dengan ekornya yang kepala ularnya telah hilang. Para murid tipe petarung jarak dekat terhempas ke belakang begitu mendapat sapuan dari ekor monster itu. Mereka tergeletak dengan ekspresi dan erangan yang penuh rasa kesakitan.



Riyan kembali berdecak, para murid ketakutan disertai panik, sedangkan Tifania merentangkan kedua tangannya ke depan dipenuhi kepanikan serta ketakutan.



"A-[Area Heal]!"



Di lantai, tergambar sebuah lingkaran sihir putih besar yang berdiameter 20 meter dengan dirinya sebagai pusatnya. Lingkaran sihir itu memancarkan kelap-kelip di tempat para murid-murid yang terluka. Tifania menjadi sedikit panik karena mengetahui pahlawan terkuat di antara mereka saja terluka sampai begitu parahnya. Poin mereka berkurang hingga 200 poin. Untunglah Tifania langsung menanggapinya.



"Bagaimana ini? Kita tidak bisa kabur sama sekali."



Sambil mengeluhkan itu, Riyan membuat ekspresi pahit. Ia masih menerima jika dirinya yang akan menjadi korban atas keganasan monster mengerikan itu, tapi tidak untuk banyaknya nyawa teman-temannya. Gilbert dan lainnya perlahan-lahan mundur, tapi senjata tetap berada di tangan.



Para murid kembali dipenuhi ketakutan, begitu pula Gilbert dan Tifania. Ketika situasi dikendalikan rasa takut dan panik karena sang [Chimera] berjalan mendekat langkah demi mereka, Riyan berusaha tenang dan memikirkan jalan keluar dari situasi ini. Beberapa detik kemudian, ia mendapat sebuah cara.



'Benar juga, ada cara itu.'

__ADS_1



Di bibirnya, terlihat sebuah senyuman tipis nan masam.



'Itu adalah satu-satunya jalan agar semuanya bisa selamat.'



Setelah menghela nafas sekali lagi, akhirnya ia menegakkan wajahnya. Ia mengambil pil penambah status dari saku dan menelannya. Seketika itu juga, tubuhnya terasa lebih ringan dari yang sebelumnya. Ia memeriksa statusnya untuk memastikan apakah pil itu benar-benar bekerja.



"[Status]"



---



Nama : Riyan Klaint



Ras : Manusia



Kelas : Penduduk



Level : 6



Nyawa : 24/24 (100)



Mana : 5/5 (100)



Kekuatan Fisik : 0 (+4) (100)



Kekuatan Sihir : 0 (+6) (100)



Ketahanan : 0 (+12) (100)



Atribut : Hampa



Skill : Appraisal, All Zero, Distract, Nothing Eye, Mana Manipulation, Comprehension , Auto-Counter, Mana Shield, Mana Burst, Mana Slash



---



'Sebenarnya aku ingin menyimpan ini, tapi apa boleh buat, situasi membuatku terpaksa memakai ini. Maaf jenderal, aku tidak bisa menepati kata-kataku.'



Sambil mengatakan itu di dalam hati, Riyan berjalan perlahan menembus desakan tubuh para murid yang ada di depan menghalanginya. Tidak ada yang menyadarinya, sampai ia berdiri di depan seorang diri. Dengan sebuah pedang tua, ia berpijak di tanah barisan terdepan layaknya seorang pemimpin. Gilbert dan lainnya terkejut mendapati Riyan berada di sana, terutama Tifania.



Aura serius yang terpancar dari seluruh tubuhnya, membuat semua murid tercengang, tak terkecuali Gilbert. Memang tidak terlihat, tetapi udara di sekitarnya terasa begitu tertekan saking besarnya aura tersebut. Sang [Chimera] pun berhenti membatu, sampai akhirnya mengeluarkan aumannya yang menyayat telinga.



GRAAA!!



Semua murid menutup telinga, kecuali Riyan. Bukannya menutup telinga, ia malah tersenyum seolah-olah menantikan saat-saat seperti ini. Semangatnya naik, bersama dengan auranya yang membuat udara semakin berat.



"Maaf, tapi mulai sekarang... aku sendiri yang akan menemanimu bermain!!"



Riyan melompat ke depan menerjang angin sambil meneriakkan itu, dengan pedang yang ia hunuskan ke depan. Para murid kembali terkejut melihat aksi nekat Riyan, mata mereka benar-benar terbelalak. Beberapa saat kemudian, Tifania tersadar.



"Riyan!! Mundur!! Kembali!!!"



Akibat teriakan panik Tifania, Gilbert dan yang lain juga sadar. Tiba-tiba mereka menjadi panik dan kesal melihat Riyan yang tetap berlari ke arah lawan mereka itu. Para murid ikut berteriak untuk menghentikannya, tetapi semua suara-suara itu hanya dianggap sebagai angin lewat bagi Riyan. Karena kesal tak dihiraukan oleh Riyan, Gilbert pun berlari menyusulnya dengan pedangnya.



"Riyan! Kembali ke sini sekarang juga!!"



Kecepatan Gilbert dan Riyan sangat berbeda, sehingga Gilbert dapat menempuh seperempat jalan yang telah dilalui Riyan hanya dalam 3 detik. Tapi saat Gilbert mencapai jarak lebih dekat, Riyan membalikkan badan dan mengangkat tangan kirinya ke arah Gilbert.



"[Mana Shield]"



Zwungg!



Begitu perisai khususnya terbentuk, ia langsung mendorong Gilbert menggunakan skill buatannya sendiri. Gilbert tidak menduga ini, akhirnya ia tak bisa merespon dan terhempas ke belakang. Di udara, tubuhnya terdorong dengan kuatnya hingga mencapai barisan, Johan menangkapnya.



Ia membelalakkan matanya melihat apa yang baru saja Riyan lakukan pada dirinya.



'Apa maksudnya ini, Riyan!?'



Di sisi lain, Riyan hanya tersenyum. Bukan senyum masam atau semacamnya, kali ini lengkungan di bibirnya itu terlihat sedih. Melihat senyumannya, Tifania akhirnya sadar apa yang sebenarnya laki-laki itu lakukan.



"Jangan lakukan itu, Riyan!!!"



Ia langsung menjejakkan kakinya ke depan berniat menyusul, tapi tubuhnya ditahan oleh Graham sehingga gerakannya tiba-tiba berhenti. Seluruh pandangan murid, saat ini tertuju kepada Riyan semata. Walaupun begitu, Riyan tidak membalas itu semua dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke depan.



'Wah, ternyata... diperhatikan itu... sangat menyenangkan.'



Diperhatikan seperti ini, Riyan merasa sangat senang. Jika situasi saat ini bukanlah situasi yang membahayakan, mungkin ia akan menitikkan air mata, tapi sekarang air mata hanya akan menjadi penghalang. Langkahnya semakin mantap, hatinya semakin yakin, tubuhnya semakin kuat, kepercayaan dirinya meningkat.



Si [Chimera] mengerahkan [Fire Breath] kepadanya, tapi Riyan dapat menghindari itu dengan mudah. Ia mengambil beberapa batu dari lantai dan melemparkannya ke langit-langit.



"[Distract]!"



Begitu batu membentur langit-langit, sang [Chimera] mengalihkan pandangannya ke tempat suara itu berasal. Memanfaatkan kesempatan ini, Riyan menancapkan pedangnya sedalam mungkin di kaki depan monster itu untuk mendapatkan mana lebih. Ia merasa dapat menyelamatkan teman-temannya dengan ini, karena itulah ia mempertaruhkan nyawanya.



Di saat yang bersamaan, terdengar teriakan histeris dari Tifania yang jauh di belakang. Air matanya jatuh sambil berkali-kali mengucapkan kata 'Jangan!!'. Gilbert membelalakkan matanya tidak percaya apa yang ia lihat di depannya. Riyan hanya tersenyum mendengar mendengar teriakan histeris dari Tifania.



Setelah beberapa detik, sang [Chimera] sadar akan Riyan yang menancapkan sebuah pedang di kaki depannya. Ia mengayunkan kakinya untuk mendorong Riyan, tapi Riyan bergerak lebih dulu ke bagian bawahnya sekaligus menyayat kaki monster itu.



Riyan yang berdiri tepat di bawah perut lawannya, tubuhnya dipenuhi urat-urat yang menonjol keluar seperti akan meledak setiap saat. Rasa sakit kembali menyerang tubuhnya, kali ini jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Sambil menahan rasa sakit itu, ia mengangkat tangan kirinya ke atas dan memusatkan mananya di sana.



Walau diterjang rasa sakit yang dahsyat, entah mengapa, Riyan tersenyum di sana. Para murid terdiam melihat ekspresi yang ia tunjukkan. Ekspresi Riyan saat ini... benar-benar terlihat sangat puas.



'Terima kasih, kalian semua.'



Memandang Tifania, ia mengucapkan itu di dalam hati. Setelah puas, ia menengadahkan kepalanya ke atas dan mengerahkan satu-satunya skill yang dapat melukai monster berkelas penghancur ini.



"[Mana Burst]!!"



BLAARRR!!



Bola biru yang tadi sempat terbentuk di telapak tangan kirinya itu, kini meledak ke arah perut sang [Chimera]. Ledakannya begitu besar, tapi Riyan sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Tangan kirinya agak sedikit dimiringkan ke arah kiri, sehingga tubuh raksasa dari makhluk mengerikan itu terangkat dan terhempas secara diagonal. Ketika monster itu jatuh, lantai labirin berguncang.



Riyan membuat perayaan kecil di hatinya, tapi tidak ada waktu untuk itu. Ia segera berlari ke arah [Chimera] yang sedang tumbang itu dan kembali mengerahkan [Mana Burst] raksasa kedua.



BLAARRR!!



Sekali lagi, ledakan besar terdengar hebat, menutupi lengkingan suara histeris Tifania. Tubuh makhluk itu tergeser dan mendekati sebuah lubang besar di dinding. Tidak ada yang menyadari jika ada lubang besar di sana akibat [Gale Burst] monster berkepala singa itu, kecuali Riyan. Ia melihat itu dan sempat memeriksa apa yang ada di sana, lalu memanfaatkan itu untuk rencananya ini.



"Haaahh!!"



Zleebb!



Dengan sekuat tenaga, ia menusuk perut [Chimera] itu dan menghisap mananya. Ia terlihat sangat kelelahan. Walau begitu, ia tidak menyerah. Setelah merasa cukup, Riyan mencabut pedangnya dan bersandar di tempat yang ia tusukkan pedang tadi.



"Ohok!"



Riyan terbatuk, tapi bukan batuk biasa, banyak darah keluar dari mulutnya. Ini akibat dari memakan pil penambah status yang kedua. Pil ini bukanlah pil yang sebelumnya, pil ini jauh jauh lebih kuat, dengan efek samping yang mengerikan. Jika seseorang menelan pil ini dan tubuhnya tidak sanggup menahan kekuatannya yang berlipat ganda dalam sekejap, maka orang itu akan hancur.



Teriakan Tifania semakin menjadi-jadi melihat Riyan memuntahkan darah. Mendengar suara Tifania, Riyan mengalihkan pandangannya ke mereka yang tengah menyaksikan aksinya sejak satu menit yang lalu. Tidak ada yang dapat bergerak saking takut dan terkejutnya.



"Terima kasih..."



Setelah mengucapkan itu disertai senyum yang menghiasi wajahnya, ia mengarahkan tangan kirinya ke bawah dan mengerahkan [Mana Burst] raksasa. Akibatnya, lantai labirin ini kembali berguncang hebat, lalu akhirnya sebuah retakan besar membentang di depan kakinya. Retakan itu semakin melebar dan melebar, detik demi detik.



Beberapa saat kemudian, bagian lantai dimana Riyan dan [Chimera] itu berada ambruk, longsor ke bawah. Gilbert dan lainnya hendak bergerak untuk menolong Riyan sebelum itu, tapi semuanya sudah terlambat. Tubuh Riyan dan monster penghuni lantai lima labirin Hexaphilia ini, telah jatuh ditelan kegelapan jurang yang terdapat di balik lubang di dinding itu.



"RIYAAAN!!!!!"



Di saat tubuhnya mengudara, Riyan mendengar teriakan keras dari Tifania. Ia tersenyum, air matanya merembes. Hanya ini yang dapat ia lakukan untuk mereka, agar semuanya selamat. Satu-satunya cara agar dapat lolos dari monster berkelas penghancur seperti [Chimera] di level mereka saat ini.

__ADS_1



'Selamatlah, nikmati hidup kalian selama mungkin, demi kalian. Taklukkanlah raja iblis yang akan bangkit di masa depan, demi dunia ini. Aku mendukung kalian semua dengan nyawa ini. Mati satu, tumbuh seribu.'


__ADS_2