Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
18. Penyelesaian


__ADS_3

Di tengah puing-puing reruntuhan, Riyan berdiri tegak dengan tubuh berlumuran cairan merah kental. Luctas yang melihat hal tersebut tersenyum senang dan kembali bersiap untuk melanjutkan pertarungan. Meskipun lawannya hanya seorang manusia berstatus jauh lebih lemah dari dirinya, sepertinya ia takkan segan memerintah Moarleth, hewan panggilan miliknya, mengerahkan seluruh kekuatannya.



Tak lama setelah bangkit dan menyatakan akan meneruskan pertarungan, Riyan berusaha berlari sekuat tenaganya. Tapi jangankan berlari, bahkan berjalan pun sulit dilakukan olehnya. Kaki kanannya mengalami patah tulang sehingga ia berjalan secepat yang ia bisa dibantu oleh pedangnya, [Glayster].



"Apa kau yakin tidak ingin menyerah, Riyan Klaint? Kondisimu sudah sangat mengerikan dan tak layak bertarung."



Mendengar itu, langkah Riyan terhenti. Pandangan yang melihat ke arah tanah, sekarang menatap tajam sang pencipta sekaligus penguasa labirin tersebut. Tatapannya bukanlah tatapan haus darah ataupun kebencian, melainkan sorot mata yang dipenuhi semangat hidup. Mungkin saat ini, tubuh Riyan bukanlah miliknya, tetapi milik keinginannya untuk selamat.



"Mau kehilangan kaki atau tangan pun tak masalah bagiku, asalkan aku masih bisa selamat."



Luctas tersenyum sinis dengan jawaban Riyan.



"Itu berarti, keinginan hidupmu jauh lebih besar daripada beban tubuhmu. Apa kau ingin menjadi undead sama sepertiku, kalau memang itu yang kau mau?"



Saat kata-kata itu masuk ke telinga dan diproses di otak Riyan, ia tersentak. Ia tidak menyangka bahwa kalimat tersebut akan keluar dari seorang undead yang telah hidup lebih dari dua milenium. Sesaat kemudian, emosi yang jarang diperlihatkannya tersulut dan keluar.



"Aku memang ingin hidup, tapi aku takkan menjadi undead!"



Perkataan itu sedikit mengejukan Luctas yang memberi pertanyaan. Sangat jarang ada seseorang seperti Riyan, yang menolak ajakan menjadi seorang undead. Jika diperhatikan dari sisi keuntungan, undead memiliki keuntungan yang cukup memuaskan. Mana tak terbatas, skill [Negative Sense], skill [Summon : Undead], tidak bisa mati karena faktor umur, dan beberapa hal lainnya.



Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Riyan menendang lantai menggunakan kaki kirinya yang masih sehat dan melesat ke depan. Karena [Overload] yang aktif sejak tadi, ia mampu melompat untuk menutup jarak. Luctas terkejut melihat Riyan yang dalam kondisi parah itu, dapat bergerak begitu cepat.



"Moarleth!"



"Graao!"



Sang naga undead itu menjejakkan kaki depannya dan mengangkat tubuhnya sehingga seperti berdiri dengan kedua kaki belakangnya untuk menghindari serangan dari Riyan yang akan datang. Sebaliknya, pemuda tersebut malah tersenyum melihat reaksi lawannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi kelihatannya Riyan memiliki rencana.



Zraakk!



Dalam sekejap, Riyan menancapkan pedangnya ke lantai dan berusaha menghentikan laju badannya. Karena kaki kanannya patah, ia menggunakan Glay sebagai penopang tubuh bagian kanan. Ketika momentumnya mencapai titik ideal, ia pun melompat ke atas, lebih tepatnya ke bagian kepala Moarleth.



'Apa yang ingin ia lakukan?'



Di saat Luctas kebingungan, Riyan mencapai titik tertingginya, yakni tepat di depan mata kanan sang naga. Tak perlu berlama-lama, ia mengangkat tangan kirinya dan mengerahkan salah satu skillnya, [Mana Manipulation]. Mana yang keluar dari tubuhnya secara perlahan berkumpul di enam tempat berbeda, lalu membentuk enam pedang biru kecil transparan.



'Sampai bisa menciptakan senjata dari mana, seperti yang diharapkan darinya.'



Seketika itu juga, keenam pedang itu dilesatkan menuju indra penglihatan terakhir yang dimiliki Moarleth. Karena tidak sempat bereaksi, akhirnya pedang mana tersebut mengenai targetnya. Sang naga pun meraung kesakitan, tapi yang terjadi pada majikannya adalah kebalikannya, Luctas tersenyum gembira.



"Graaa!!"



Saking sakitnya, kedua sayap robek milik Moarleth pun terbentang tanpa disadari. Raungannya menggetarkan seluruh isi labirin, bahkan udaranya juga bergetar. Riyan yang berhasil menyarangkan serangannya bukannya langsung mundur, ia berniat untuk memberikan satu serangan lagi.



"[Mana Burst]! [Holf]!"



Sekali lagi, terbentuk segumbal bola mana di telapak tangan kirinya, tapi kali ini sedikit berbeda. Bola yang berada di telapak tangan kirinya saat ini bukanlah bola mana biasa, melainkan sebuah bola mana tak berwarna. Bola mana tersebut tercipta dari gabungan skill [Mana Burst] dan sihir dasar atribut hampa, [Holf].



Bola mana itu langsung ia tembakkan menuju salah satu lubang hidung sang naga dan tentu saja masuk ke dalam paru-paru sang naga melalui tenggorokan tanpa hambatan, karena berukuran kecil dibanding tubuhnya yang besar. Beberapa saat kemudian, raungan Moarleth terhenti dan badannya terjatuh.



Ketika Moarleth jatuh, Luctas sudah turun dari kepala hewan panggilannya tersebut. Ia terkejut sekaligus tercengang melihat Moarleth, seekor naga undead yang memiliki status tinggi, dapat jatuh hanya karena bola mana kecil dari Riyan yang statusnya tak seberapa jika dibandingkan. Luctas pun mengalihkan pandangannya ke arah Riyan yang baru saja mendarat di lantai dengan kasar menggunakan [Mana Shield]. Ia terdampar di posisi telungkup di atas lantai akibat tidak bisa menggunakan kedua kakinya secara sempurna.



Beberapa detik sebelum menghantam tanah, Riyan mengerahkan [Mana Shield] agar tubuhnya tidak berbenturan langsung dengan lantai batu yang keras itu. Ia tak memakai kedua kakinya untuk mendarat karena ia tahu kalau satu kaki saja takkan bisa menahan berat badannya. Karena itulah ia membuat keputusan cepat yang berbahaya ini, salah sedikit saja badannya akan hancur.



'Apa berhasil?'



Di keadaannya yang parah, Riyan berusaha untuk melihat keadaan lawannya dari posisi telungkupnya. Saat melihat Moarleth, sang naga undead terbaring di tanah tak bergerak, hatinya bersorak gembira. Ia tidak tahu harus memasang ekspresi apa saat ini, mengetahui rencana dadakannya berhasil.



[Holf] adalah sihir dasar dari atribut hampa. Sihir ini dapat membuat sebuah ruang hampa udara yang memberi tekanan berat pada semua makhluk. Sihir ini juga adalah salah satu sihir yang sulit dan jarang dikuasai karena masalah atribut.


Di antara seluruh atribut, hampa adalah salah satu atribut yang langka dan tidak disenangi. Kebanyakan dari pemiliknya tidak bisa mengolah atributnya sendiri dan berakhir menjadi orang gagal, itulah asal-usul mengapa atribut hampa sangat dijauhi dan tak disukai oleh banyak orang.



Salah satu alasan kenapa mereka yang memiliki atribut hampa tidak bisa mengolah atributnya, karena kurangnya sihir dan skill. Sihir dan skill dari atribut hampa sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan atribut-atribut lainnya. Untungnya hanya sedikit orang-orang yang memiliki atribut hampa, sehingga tidak menjadi masalah yang berarti.


__ADS_1


"[Appraisal]"



---



Nama : Moarleth



Ras : Undead



Kelas : Pelahap, Penghancur



Level : 442



Nyawa : 58360/128500



Mana : ∞/∞



Kekuatan Fisik : 7900



Kekuatan Sihir : 2600



Ketahanan : 7200



Atribut : Kegelapan, Api, Ledakan



Skill : Fire Breath, Dark Force, Gale Burst, Strengthen, Iron Scale, Dark Spear, Spear Claw, Sharp Scale, Death Song, Gain Aura, Black Sky, Evil Eye, Quake Stamp



---



'Eh? Parameter nyawanya... berkurang sampai sekitar 70000 poin?'



Riyan pun terkejut begitu melihat besar dampak serangannya barusan. Ya, ia sendiri terkejut. Mengapa? Karena serangannya itu hanyalah hasil pemikiran mendadak yang tak terencana. Entah bagaimana ia memikirkan serangan tersebut, yang jelas gabungan dari [Mana Manipulation] dan [Holf] sangat luar biasa.




Saat bola mana hampa tersebut masuk hingga ke paru-paru dan pecah di dalam sana, tekanan udara pasti akan berubah dan kacau. Beruntung paru-paru Moarleth tidak meledak sehingga ia masih berada di dunia ini. Walau undead adalah ras yang sudah mati, organ mereka masih bekerja layaknya makhluk hidup pada umumnya.



"Wah, ini adalah pertama kalinya aku melihat Moarleth tumbang sejak kuubah menjadi undead dan hewan panggilanku."



Di saat Riyan tak percaya dengan apa yang ia lihat, Luctas merebut perhatiannya dari sang naga undead tersebut. Undead berpenampilan kakek tua itu duduk di bongkahan reruntuhan batu dari pintu masuk yang telah hancur sambil melihat ke arah hewan panggilannya. Tapi anehnya, bukannya berkespresi marah atau benci, diwajahnya terlukiskan senyuman gembira dan lega. Riyan pun bingung pada si penguasa labirin ini.



"Hei kek, apa pertarungannya sudah selesai? Kalau masih belum selesai, aku harus bangkit lagi."



"Tidak, kau tidak perlu bangkit. Pertarungan sudah selesai dan kaulah pemenangnya. Beristirahatlah di sana dulu."



Riyan sedikit terkejut mendengar perkataan lawan bicaranya, tapi ia tahu bahwa kata-kata itu bukanlah sebuah kebohongan atau semacamnya. Ia pun melemaskan tubuhnya dan menempelkan kepalanya di lantai batu yang dingin. Selang beberapa menit kemudian, pemuda tersebut tertidur karena kelelahan walaupun rasa sakit masih bersarang di setiap selnya.



Luctas mengalihkan pandangannya kepada Riyan yang sudah tertidur pulas di tempat yang tak jauh darinya. Ia tersenyum puas melihat Riyan yang tidak menyerah, walaupun terdapat perbedaan kekuatan signifikan diantara mereka. Luctas takkan menyerang Riyan dengan cara pengecut, karena ia mengatakan bahwa lawan untuk Riyan adalah Moarleth, bukan dirinya. Luctas adalah seorang pria yang menjunjung tinggi janji dan ucapan.



"Huh, bocah yang luar biasa, hampir saja aku mati lagi."



"Oh Moarleth, sudah bangun?"



"Ya, begitulah."



Mendengar suara, perhatian Luctas teralihkan kepada Moarleth yang telah siuman dari pingsannya. Ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati hewan panggilannya itu, lalu duduk di samping kepalanya yang besar di lantai. Dan entah mengapa, pandangan mereka berdua tertuju ke Riyan secara bersamaan.



"Dia hebat ya, Moarleth?"



"Bocah ini bukan bocah manusia biasa. Riyan Klaint, aku takkan melupakan nama itu."



"Hehehe, kita beruntung pemuda ini datang di saat yang tepat."



"Ya, sudah waktunya kita pergi."


__ADS_1


Mereka berdua pun terkekeh saat membicarakan permbicaraan tersebut. Mereka masih memandangi Riyan tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, sambil mengobrol. Walau begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat menyerang manusia itu secara diam-diam menggunakan cara pengecut.



"Setelah lukanya sembuh, aku akan memintanya untuk membunuh kita. Aku sudah telalu lama di dalam dungeon ini sendirian."



"Ya, aku juga merasa seperti itu."



Luctas mengangkat wajahnya dan melihat ke langit-langit dungeon yang ia ciptakan sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia merasa sangat lega dan gembira mengetahui sebentar lagi ia pergi dari dunia fana ini.



"Sungguh, 'mereka' benar-benar mengerikan."



***



Selang beberapa jam sesudah usainya pertarungan, akhirnya Riyan terbangun dari pingsannya. Ia langsung mendorong tubuhnya ke atas dan duduk di alas tempat ia berbaring. Ketika matanya terbuka, Riyan mendapati bahwa dirinya sedang berada di sepetak kamar kecil yang cukup kotor dan berantakan. Sedetik kemudian, ia menyadari apa yang menjadi tempat duduknya. Ya, sebuah kasur empuk nan kusam.



"Dimana ini?"



Petanyaan tersebut secara otomatis terlontar dari bibirnya. Sebelum pingsan, ia berada di ruangan tak berisi, kecuali singgasana yang terbuat dari batu. Tapi saat siuman, ia berada di dalam kamar yang tidak ia ketahui milik siapa. Ia pun dilanda kebingunan dan penasaran. Di saat itu juga, sesosok bayangan masuk ke dalam kamar yang ia tempati.



'Ini... undead!?'



Melihat sosok bayangan yang merupakan monster undead berjenis zombie, sontak Riyan menjaga jarak darinya. Tapi sangat di sayangkan, tiba-tiba rasa sakit menyerang setiap sel tubuhnya sehingga membuatnya terdiam tidak bergerak. Menyadari kondisi badannya yang tak memungkinkan untuk bertarung, ia mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya pada zombie tersebut.



Namun, monster undead itu meletakkan sebuah nampan yang di atasnya terdapat sebutir pil dan segelas air minum di meja. Niat Riyan untuk meluncurkan [Mana Burst] menghilang dalam sekejap ketika sang zombie keluar dari kamar setelah menunaikan tugasnya.



'Apa yang terjadi? Kenapa monster sepertinya tidak menyerangku yang sedang lemah ini? Undead pula.'



Menurut buku, undead adalah monster liar yang menyerang semua makhluk hidup yang ada dihadapannya. Karena hal tersebut, Riyan kebingungan dan kepalanya dipenuhi pikiran aneh. Sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu yang seharusnya ia pikirkan sejak tadi.



"Jangan-jangan kamar ini adalah milik Luctas, lalu undead itu adalah sihirnya."



Ia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, tapi apalah dayanya yang tidak bisa bergerak akibat cedera. Ia mengerang ketika berniat untuk berdiri ataupun menggerakkan badannya, terutama kaki. Menyadari hal itu, ia terpaksa pasrah dan merebahkan dirinya di kasur, tapi kewaspadaannya sama sekali tidak diturunkan.



Debu-debu terlihat beterbangan sementara dirinya tengah berbaring mengistirahatkan tubuhnya. Riyan tahu seberapa parah cedera yang diterima oleh raganya, karena ia sudah melihatnya sendiri. Selain itu, ia mampu merasakan gangguan aliran mana di bagian-bagian tertentu yang dapat diartikan kerusakan fisik maupun pada mana, tentu saja kasus kali ini adalah kerusakan fisik.



"Oh, sudah siuman?"



Mendengar suara tersebut, Riyan langsung membuka matanya yang mulai terpejam dan menoleh ke arah pintu. Di sana terdapat undead berpenampilan kakek tua, yang tak lain adalah Luctas. Meskipun disebut pintu, yang ada di sana hanyalah rangka pintu dan dua helai kain guna menutupi keadaan kamar layaknya pintu.



Riyan kembali berbaring sambil menghela nafas lega tanpa membalas ucapan Luctas saat melihat undead tersebut memasuki kamar. Tidak mempermasalah hal itu, Luctas menghampirinya dengan membawa pil dan segelas air minum yang dibawa oleh zombie tadi.



"Hei, bangun dan minumlah. Ini adalah sisa pil penyembuh milikku di waktu aku masih hidup."



Luctas menyodorkan kedua tangannya yang penuh pada Riyan. Pemuda tersebut menuruti perkataannya dan bangkit lalu meminum pil penyembuh. Sesaat kemudian, Riyan merasa tubuhnya menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya.



"Jangan merasa senang dulu. Pil itu tidak terlalu berpengaruh pada cedera parah seperti patah tulang atau semacamnya, melainkan lebih condong ke status nyawa dan luka tusukan. Butuh waktu lama dan jumlah banyak agar tulang-tulangmu bisa tersambung kembali sepenuhnya."



"Ya, aku mengerti."



Riyan mengangguk pelan menyetujui penjelasan Luctas. Sesuai perkataan Luctas, cedera patah tulang Riyan bukanlah di kaki saja, tapi beberapa tulang rusuk juga patah dan tulang selangka kirinya retak. Ia mengerti bahwa cedera seperti ini bukanlah hal yang bisa sembuh seketika.



"Ngomong-ngomong, bisa aku meminta imbalanku?"



"Ha? Imbalan?"



"Tentu saja. Aku sudah mengalahkan hewan panggilanmu itu, bahkan sampai terluka parah seperti ini. Sebenarnya kau juga tidak mengatakan apapun soal pertarungan yang tiba-tiba ini, wajar jika aku meminta imbalanku sesegera mungkin. Lagipula, seharusnya memang tak ada pertarungan. Bagaimana kalau aku mati? Imbalanku takkan bisa kudapatkan, dan kau melanggar ucapanmu sendiri."



Mendapat balasan panjang kali lebar dari Riyan, Luctas terdiam tidak bisa berkata apapun untuk membela dirinya. Selang beberapa detik, ia baru menyadari apa yang disampaikan oleh Riyan. Ia pun menyesali perbuatan dan perkataannya. Di sisi lain, Riyan menyunggingkan sebuah senyum yang meninggalkan kesan jahat.



"Yang penting sekarang kau harus beristirahatlah dulu. Soal imbalan itu pasti akan kuberikan."



"Kupegang ucapanmu, pencipta labirin."



Setelah itu, Riyan menetap di dalam kamar tersebut hingga cederanya pulih. Memang memakan waktu yang cukup lama, tapi setidaknya tubuhnya dapat bergerak seperti sedia kala. Untungnya Luctas masih menyimpan peralatan dan perlengkapannya sewaktu masih hidup dulu, jadi penyembuhan Riyan waktu yang dibutuhkan tidak sampai sebulan.

__ADS_1


__ADS_2