
"Tuan, sudah sampai belum?"
"Belum."
"Sekarang sudah sampai?"
"Belum."
"Sudah?"
"Belum."
"Kalau sekarang?"
"Belum."
Saat ini Riyan dan Noel tengah berjalan menuju sebuah gua yang kemungkinan besar di diami oleh Gigant Serpent, salah satu monster yang sedang diincar oleh pasangan majikan dan budak ini. Gigant Serpent adalah monster berwujud ular raksasa bersisik ungu, bermata merah, memiliki sepasang taring besar yang dapat di sembunyikan, dan mempunyai racun yang mengerikan.
Monster ini menyandang tingkat kelas C dan memiliki tingkat keberbahayaan sebanyak lima tingkat, menurut serikat petualang. Dengan tingkat keberbahayaannya yang berada di tingkat lima, bagi petualang kelas E seperti Riyan dan Noel seharusnya tidak mengambil permintaan ini. Mengapa? Tentu saja karena berbahaya.
Kebanyakan petualang kelas E hanya memiliki tingkat keberbahayaan satu tingkat, yang berarti kekuatan serta kemampuan mereka sangatlah rendah. Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa kasus pada segelintir orang yang ingin menjadi petualang tapi tingkat berbahaya yang dimilikinya tak ada sama sekali. Ya, dengan kata lain nol.
Seiring bertambahnya kekuatan dan kemampuan seseorang, maka tingkat keberbahayaannya akan semakin tinggi, begitu pula tingkatan kelasnya. Namun ada yang berbeda pada Riyan. Benar, tingkat keberbahayaan dan kelas yang ditunjukkan oleh kartu petualangnya sama sekali tak seimbang.
Hal ini bukanlah semacam bug seperti di dalam game, tapi apa yang terjadi pada Riyan adalah hal yang wajar. Kebanyakan petualang akan bertambah kuat ketika menghadapi berbagai permintaan dari serikat petualang untuk meningkatkan levelnya, tapi sayang sekali, Riyan tidak melalui proses itu. Riyan sudah kuat sebelum mendaftar di serikat petualang, itulah satu-satunya penjelasan logis mengenai hal ini.
Yang membuat Riyan lemah di minggu-minggu awalnya di dunia ini adalah skill [All Zero]-nya, yang sekarang telah berubah menjadi [All Three]. Namun anehnya, yang membuatnya menjadi sekuat ini juga adalah skill tersebut. Sebuah skill yang merugikan pemiliknya, tapi juga menguntungkan pemiliknya, hal yang sangat langka.
Kembali ke poin utama.
Tingkat keberbahayaan makhluk hidup dapat diklasifikasikan melalui status maupun levelnya, namun kebanyakan yang digunakan adalah statusnya seperti serikat petualang. Mungkin ada beberapa tempat yang menggunakan besarnya level seseorang, contohnya organisasi-organisasi tertentu.
Tingkat keberbahayaan tiap kelas monster biasanya dibagi dari tingkatan kelasnya yang telah ditentukan oleh serikat petualang. Misalnya, Gigant Serpent yang merupakan monster tingkat kelas C yang juga memiliki keberbahayaan sebanyak 5 tingkat. Hal ini dipengaruhi oleh sistem pengkategorian serikat petualang dalam memilah seberapa berbahayanya tiap jenis monster.
Monster yang mempunyai tingkat keberbahayaan satu akan dikategorikan ke dalam tingkat kelas E. Seiring bertambahnya tingkat kelas mereka, tingkat keberbahayaan juga akan ditambahkan satu per kelasnya. Jika monster tingkat kelas E memiliki tingkat keberbahayaan satu, maka monster tingkat kelas D berisikan monster bertingkat keberbahayaan dua dan tiga, dan begitulah seterusnya. Setiap tingkat kelas bertambah satu tingkatan keberbahayaan seekor monster.
Tingkat keberbahayaan seseorang juga mempengaruhi kelasnya di serikat petualang, sama seperti monster. Kalau soal Noel dan Riyan, tingkat keberbahayaan mereka belum diketahui oleh pihak serikat petualang, karena itulah kelas mereka di sistem organisasi tersebut masihlah di tingkat terendah, walaupun sebenarnya tidak cocok dengan kemampuan mereka.
Benar, jika serikat petualang mengetahui tingkat keberbahayaan pasangan majikan dan budak ini, mereka pasti akan mengangkat Noel dan Riyan menjadi petualang kelas D dan S dalam sekejap tanpa memerlukan banyak pertimbangan, terutama Riyan. Dengan tingkat keberbahayaannya, ia tidak bisa diragukan lagi untuk dinaikkan menjadi kelas S.
"Tuan, apa tuan tidak lelah?"
"Sama sekali. Kenapa memangnya? Kau sudah lelah?"
"T\-tidak, bukan itu. K\-kita sudah berjalan lebih dari satu jam, manusia biasanya pasti sudah lelah."
Dahi Riyan mengerut begitu mendengar jawaban dari Noel. Ia menatap budaknya yang ada di samping kanannya dengan tatapan cukup tajam. Noel tetap tersenyum membalas tatapan tuannya.
"Apa aku terlihat seperti manusia biasa?"
"Habisnya kalau dari penampilan luar saja, tuan memang tak berbeda dari manusia lain sih."
"Begitu."
Riyan kembali memutar lehernya menghadap ke depan memperhatikan jalan setapak di hadapan mereka. Ekspresinya tetap datar, sangat berbeda dari Noel yang terlihat senang. Mengapa Noel terlihat begitu senang padahal permintaan yang diambilnya cukup sulit bagi dirinya? Tentu saja karena permintaan ini adalah misi pertamanya sebagai petualang sekaligus pertarungan pertamanya bersama Riyan.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di tempat yang dimaksud, gua yang dimana Gigant Serpent bersarang di dalamnya. Permintaan yang mereka ambil adalah sebuah misi penaklukkan, membunuh seekor Gigant Serpent yang bersarang di sebuah gua di hutan sebelah timur kota Tladga.
"Noel, kita akan masuk ke dalam sana. Perkuat \[High Sense\] dan \[Owl Vision\]\-mu."
__ADS_1
"B\-baik."
Mendapat perintah dari Riyan, Noel segera memperkuat [High Sense] dan [Owl Vision]-nya seperti perkataan tuannya. Untuk berjaga-jaga, Riyan juga menguatkan [Sensei] dan [Owl Vision]-nya mengikuti Noel. Berhubung gua yang akan mereka masuki belum diketahui secara pasti apa saja yang berada di dalam sana, tak ada salahnya mengantisipasi penyerangan, bukan?
Mereka menapakkan langkah kaki memasuki gua dihadapan mereka dengan langkah ringan. Meski terlihat tenang, di lubuh hatinya Noel sangat bersemangat dan ingin sekali menerobos masuk dengan suara keras. Tapi jika ia melakukan itu, Riyan pasti akan marah.
***
Di tengah perjalanan memasuki gua yang diduga sarang Gigant Serpent, Riyan dan Noel sempat beberapa kali di serang oleh monster-monster berlevel rendah. Meski dikatakan rendah, kenyataannya Noel cukup kesulitan dalam melawannya. Yah, itu karena dipandang dari sisi Riyan yang memiliki level tinggi.
"Tuan, boleh aku bertanya satu hal?"
"Apa itu?"
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan di depannya, Riyan menanggapi pertanyaan Noel.
"Kenapa tuan ingin pergi ke pegunungan Yoranidia?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Riyan sedikit tertegun dan langkahnya terhenti. Otomatis, Noel pun ikut menghentikan langkahnya di samping tuannya.
"Aku ingin berkunjung ke kampung halamanmu."
"Eh?"
Noel sedikit tersentak mendengar jawaban dari Riyan. Langkahnya terhenti ketika mendapat jawaban yang mengejutkan dari tuannya tersebut. Siapa yang menyangka bahwa seorang pemilik budak ingin berkunjung ke kampung halaman budaknya sendiri? Hal itu sangat aneh, terlalu aneh bahkan untuk seseorang yang dipanggil dari dunia lain.
Noel hanya diam termenung di belakang, sedangkan Riyan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Menyadari langkah Noel berhenti, Riyan menoleh ke belakang dengan ekspresi datarnya.
"Hei, sedang apa kau? Mau berlama\-lama di tempat lembab ini?"
"Ti\-tidak!"
Di sadarkan oleh Riyan dari lamunannya, Noel segera berjalan cepat menyusul tuannya yang ada di depan. Hatinya sungguh berdebar-debar ingin cepat bertemu dengan para teman-teman dan keluarganya yang ada di sana. Bukan hanya itu, kali ini ia juga membawa-lebih tepatnya di bawa-oleh seseorang yang ia kagumi sebagai tuan sekaligus kesatria.
"Noel!"
Menyadari bahaya mengancam Noel dari belakang, Riyan langsung membentangkan tangan kirinya ke arah sosok tersebut dan mengerahkan beberapa [Mana Bullet] yang segera meluncur ke depan demi melindungi Noel.
Blaarr!!
Sebuah ledakan kecil memenuhi lorong gua akibat benturan dari [Mana Bullet] milik Riyan dan sosok setinggi empat meter tadi. Noel yang tak mengetahui apapun tentu saja terkejut ketika melihat tuannya menyerang ke arahnya-yang ternyata di arahkan ke belakangnya-dan mendengar suara ledakan keras memasuki kedua telinga serigalanya yang peka terhadap suara. Otomatis ia menutup telinganya dengan tangannya.
'Bisa\-bisanya ada monster yang tidak terdeteksi oleh \[Sense\]\-ku dan \[High Sense\] milik Noel yang merupakan seorang beastkind.'
Tidak merasa hal itu cukup untuk menghabisi sososok tersebut, Riyan menarik Glayster dari punggungnya dan membentuk kuda-kuda bertarung. Ia meningkatkan kemampuan [Sense] dan [Owl Vision] menggunakan mananya sehingga kedua efek skill itu dapat beberapa kali lebih kuat dari biasanya. Ia benar-benar bersiaga.
Tak cukup sampai sana, Noel yang sudah pulih dari rasa keterkejutannya juga menarik Welsher dari pinggang dan memasang kuda-kuda, berharap bisa sedikit berguna bagi tuannya. Ia memegang Welsher dengan siap siaga sambil meningkatkan kewaspadaannya.
Selang kurang lebih sepuluh detik, asap yang dihasilkan dari ledakan [Mana Bullet] mulai menghilang dan menampakkan sosok makhluk yang secara spontan di serang oleh Riyan untuk melindungi budak beastkind-nya. Sayangnya, persiapan bertarung yang mereka utamakan ternyata tidak berguna.
""Eh?""
Sosok yang hendak menyerang Noel dari belakang secara diam-diam sudah tumbang tak bernyawa di atas lantai batu gua yang dingin nan lembab ini. Noel terlihat sangat terkejut, sedangkan Riyan tetap mempertahankan ekspresi datarnya tanpa ada reaksi sama sekali.
'Ah, benar juga, status kekuatan sihirku jauh di atas rata\-rata orang lain.'
Setelah beberapa saat kebingungan mengapa sosok tersebut bisa tumbang hanya karena beberapa [Mana Bullet], ia sadar atas statusnya. Meski levelnya tak jauh berbeda dari Faleon, seluruh status kecuali parameter nyawanya sangatlah berbeda, bagaikan langit dan bumi. Riyan jauh lebih kuat daripada Faleon, terutama pada status pertahanan.
"Tuan, bukankah monster ini adalah Gigant Serpent\-monster yang kita cari untuk menyelesaikan permintaan dari serikat petualang?"
Perhatian Riyan teralih kepada Noel yang sudah mendekati dan memeriksa mayat makhluk tersebut. Berwujud ular raksasa, bersisik ungu, bermata merah, dan memiliki sepasang taring tajam. Dengan ciri-ciri itu, Riyan dapat memastikan bahwa monster yang baru saja ia kalahkan tak lain dan tak bukan adalah Gigant Serpent.
Di mayat Gigant Sepent tersebut terdapat beberapa luka bakar dan cabikkan karena efek ledakan dari [Mana Bullet]. Riyan tidak terlalu terkejut melihat kenyataan yang terbentang di hadapannya, mengingat status kekuatan sihirnya berada di atas 2000 poin. Di sisi lain, Noel sedikit terkejut mengetahui kondisi mayat monster itu dapat terluka hingga separah itu.
Gigant Serpent dikenal dengan kulitnya yang cukup kuat sehingga kebanyakan sihir dan skill sihir tak mempan terhadapnya. Namun, apa yang terjadi di depannya sungguh berbeda dari apa yang di bayangkannya. Skill sederhana yang Riyan ciptakan dari [Mana Manipulation]-[Mana Bullet]-saja bisa menghancurkan kulit Gigant Serpent, apa yang akan terjadi jika tuannya mengerahkan skill sihir yang lebih mengerikan lagi?
'Seperti yang diduga dari tuan, kekuatannya benar\-benar mengerikan.'
Di dalam hati, Noel mengatakannya dengan penuh kagum dan bangga, namun ekspresinya saat ini lebih terlihat ketakutan dan terkejut. Jika saja ia melanggar atau melakukan sesuatu yang membuat tuannya tidak senang, ada kemungkinan bahwa ia bisa berakhir seperti Gigant Serpent barusan. Bukankah ia terlalu paranoid?
Riyan datang mendekati Noel yang masih memeriksa mayat Gigant Serpent. Ketika ia sampai di mayat monster tersebut, ia memotong kedua taring yang panjangnya mencapai lengan manusia menggunakan Glayster yang masih digenggamnya. Noel yang melihat itu cukup kebingungan dan hendak bertanya kepada tuannya.
"Tuan, untuk apa taring Gigant Serpent itu?"
__ADS_1
"Hm? Ini sebagai bukti bahwa kita telah berhasil menaklukkan Gigant Serpent sesuai permintaan."
"Oh, jadi semua itu harus ada buktinya, ya. Baiklah, akan aku ingat!"
Riyan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Noel. Setelah mengikat kedua taring monster tersebut di punggung Noel, mereka segera melesat meninggalkan gua yang mereka tempat ini. Meski tidak dalam kecepatan penuh, Noel tetap bersusah payah mengimbangi lari tuannya itu. Di lihat bagaimana pun, tuannya memang benar-benar monster.
***
Sesampainya mereka di gedung serikat petualang, Riyan dan Noel langsung beranjak menuju loket resepsionis dan meletakkan dua taring Gigant Serpent yang Noel bawa. Melihat hal ini tentunya sang resepsionis terkejut. Mengapa? Karena Gigant Serpent merupakan monster dengan tingkat kelas C dan tingkat keberbahayaannya berada di tingkat lima.
Untuk dua orang petualang tingkat kelas E yang baru saja mendaftarkan diri, tentu saja membuat seisi gedung serikat petualang heboh. Di antara kehebohan ini, hanya Riyan dan beberapa orang yang terlihat datar dan tak senang. Beberapa orang yang ingin mendekati mereka dan berniat mengucapkan selamat, langsung diberikan hawa membunuh dahsyat oleh Riyan. Mereka pun mundur tanpa basa-basi dan hal itu membuat seisi serikat bungkam.
"I\-imbalannya sebesar ti\-tiga keping perak."
Sang resepsionis menyodorkan tiga keping perak kepada Riyan yang kemudian diambilnya dan di masukkan ke dalam saku. Sebagai tambahan, resepsionis meminta kartu petualang Riyan dan Noel agar keduanya dapat naik tingkat kelas menjadi C atau lebih. Menuruti sang resepsionis, pasangan budak dan tuan ini memberikan kartu petualang mereka.
"I\-ini!?"
Ketika melihat kartu petualang yang dimiliki Riyan, si resepsionis terkejut setengah mati. Matanya terbelalak dan rahang bawahnya menggantung, membuka mulutnya yang lebar seperti kehilangan bautnya. Ia menjerit begitu mengetahui tingkat keberbahayaan yang dimiliki oleh pemuda berambut hitam bercampur putih ini.
Sontak saja seluruh perhatian di dalam gedung serikat tertuju kepada sang resepsionis. Mengabaikan semua tatapan yang diberikan, si resepsionis meminta maaf dan membungkuk pada Riyan berkali-kali. Ia benar-benar tidak menduga bahwa pemuda yang terlihat lemah di hadapannya ini merupakan satu dari sedikit petualang yang bertingkat kelas S.
"Maafkan saya! Saya sungguh minta maaf!"
"Tidak perlu dipikirkan, selesaikan saja dengan cepat jangan membuang waktu kami."
"B\-baik!"
Segera setelahnya, si gadis resepsionis itu langsung berlari menuju lantai atas melalui tangga. Entah apa yang ia lakukan, tapi Riyan dibuat kesal karena harus menunggu lagi. Untuk menghabiskan waktu, akhirnya ia duduk di sebuah kursi bersama Noel yang ikut duduk di sampingnya.
Riyan memesan beberapa jenis makanan dan minuman, tentu saja Noel juga disuruh memesan apa yang ia inginkan. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang dan Riyan segera melahapnya. Noel memesan satu porsi makanan, tapi tuannya lebih dari lima porsi. Apa itu normal?
Berhubung gedung serikat petualang terlalu besar, maka selain tempat untuk menerima dan mengambil permintaan serta bayarannya serikat petualang biasanya membuka restoran yang bisa dikunjungi oleh berbagai kalangan. Namun, restoran di dalam gedung serikat petualang ini di dominasi oleh para petualang, sehingga masyarakat biasa takut dan jarang berkunjung kemari.
"Hei kau, bocah ubanan."
Dari samping mereka terdengar suara berat yang ditujukan kepada Riyan. Menyadari hal itu, Riyan dan Noel menoleh dan melihat sumber suara yang memanggilnya. Terlihat sesosok pria tampan berambut hijau panjang, mengenakan zirah besi ringan di beberapa bagian tubuhnya, dan sepasang pedang yang menempel di punggungnya. Di belakangnya juga terdapat beberapa orang yang kelihatannya merupakan rombongannya.
"Kau memanggilku?"
"Berengsek! Lancang sekali kau memanggil tuan Lexis seperti itu!"
Balasan Riyan membuat rombongan di belakang pria yang bernama Lexis tersebut menarik masing-masing senjata dan menghunuskannya kepada Riyan. Melihat hal ini, seisi gedung petualang mendadak panik-tak terkecuali Noel yang terlihat ketakutan. Di sisi lain, satu-satunya yang tetap tenang di dalam bangunan ini hanyalah Riyan dan Lexis.
Sebelum sempat menyerang Riyan, Lexis mengangkat tangan kirinya dan memerintahkan rombongannya mundur. Tentu saja rombongan itu menuruti perintah Lexis, meskipun dengan berat hati. Meski begitu, Riyan tetap memasang ekspresi datarnya.
"Kudengar ada pendatang baru di serikat petualang ini dan mereka adalah seorang bocah berambut hitam dan putih bertampang lemah, sedangkan satunya merupakan gadis beastkind jenis serigala yang bulu dan rambutnya berwarna putih. Itu kalian, kan?"
"Benar. Lalu memangnya kenapa?"
"Kurang aj\-"
Sebelum rombongan di belakangnya menarik senjatanya lagi, Lexis mengangkat tangannya sekali lagi untuk menghentikan pergerakan mereka. Ia menatap Riyan dengan tatapan tajam yang cukup mendalam. Sayangnya, Riyan sama sekali tak bergeming. Itu membuat Lexis menaikkan alisnya.
"Sepertinya mulutmu perlu diberi pelajaran sopan santun terhadap orang di atasmu, ya?"
Mendengarnya, Riyan sedikit bereaksi. Tak perlu bertanya, ia mengerahkan [Apprasial]-nya kepada Lexis. Setelah beberapa saat memperhatikan layar status yang diperlihatkan oleh salah satu skillnya, wajahnya kembali datar dan mengalihkan pandangannya ke segelas kopi yang ia pesan, kemudian menegaknya.
Hal ini membuat Lexis dan rombongannya naik darah hingga ke puncak ubun-ubun-hampir meledak. Untungnya, ucapan Lexis segera di tanggapi oleh Riyan yang berdiri dan mendekati pria berambut hijau panjang ini. Kelihatannya Riyan juga sedikit tertantang dengan pria di depannya ini.
"Kelihatannya kau sedikit berbeda dari monster\-monster lemah yang pernah kulawan selama ini. Boleh saja, hibur aku sebaik mungkin."
"Kalau begitu, mari kita pergi ke halaman belakang gedung ini. Aku akan meminta izin ketua serikat ini."
Setelah pernyataan itu, Lexis dan rombongannya berbalik pergi meninggalkan Riyan dan Noel. Riyan pun kembali duduk dan menghabiskan makanan dan minuman yang ia pesan, lalu membayarnya tanpa ada rasa cemas sama sekali. Di pihak Noel, ia mengerutkan dahinya khawatir kepada satu-satunya tuan yang ia miliki
__ADS_1