Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
25. Laporan Labirin Hexaphilia


__ADS_3

Di dalam labirin Hexaphilia, sekelompok pemuda-pemudi berpenampilan gagah dan anggun tengah menghadapi seekor monster bersisik hitam kecokelatan raksasa, [Collision Lizard]. Berbeda dengan [Collision Lizard] yang pernah Riyan lawan, yang satu ini lebih lemah dari [Chimera]. Tiap lantai labirin bisa memiliki monster yang sama, tapi tentu saja kekuatan, kemampuan, serta statusnya berbeda jauh.


"Rizu! Layla!"



""Ya! [Niflheim]!!""


Menuruti perintah, kedua gadis yang berada di bagian belakang formasi kelompok mengerahkan sihir dengan tongkat sihir yang mengulur ke depan. Lingkaran sihir selebar ban mobil terbentuk dalam sekejap, lalu mengeluarkan hembusan angin dingin yang diikuti salju dan es tepat ke arah sang kadal raksasa. Tubuh dan keempat kaki [Collision Lizard] itu membeku seketika begitu terhantam terpaan angin dingin tersebut.


[Nifleheim] adalah salah satu sihir tingkat tinggi yang cukup langka dikalangan penyihir. Mengapa? Untuk menggunakan sihir ini, seseorang harus memiliki atribut es. Selain langka, [Nifleheim] juga diberkahi kekuatan pembeku yang luar biasa. Saking dinginnya, bahkan lahar pun dapat di dinginkannya dalam sekejap.


Graaa!!


"Corona!"



"[Decrease]!"


Craang!


Sambil mengayunkan tongkat sihirnya, seorang gadis manis bersurai biru sepinggang mengerahkan skill unik yang hanya dimiliki oleh dirinya kepada [Collision Lizard], musuh yang mereka hadapi saat ini. Di saat itu juga, sekelompok pemuda berzirah lengkap dengan pedang dan segala persiapan segera menerjang sang musuh.


""Mati!!""


Duaarr!!


Di waktu yang bersamaan, hampir seluruh petarung jarak dekat menghantamkan serangan terkuat mereka kepada lawan mereka sekuat mungkin di titik yang sama. Saking kuatnya, akibat serangan tersebut monster kadal raksasa yang mereka hadapi terhempas ke dinding dan menimbulkan getaran raksasa.


[Collision Lizard] yang sedari tadi diserbu berbagai sihir dan senjata tajam, tumbang tak bergerak di lantai labirin. Sisiknya yang tadinya memiliki warna hitam kecokelatan, sekarang telah berubah menjadi merah karena simbahan darahnya sendiri. Leher, kepala, punggung, serta perutnya sudah tidak terlihat layaknya [Collision Lizard] pada umumnya.


"Huft, kita berhasil."



"Ya, sudah lama kita tak mengalami kesulitan seperti ini."


Setelah memastikan bahwa monster kadal itu benar-benar mati, pemuda berambut merah dan pemuda yang memiliki rambut kuning pirang bercakap-cakap mengenai pertempuran yang sudah lama tidak mereka rasakan. Mereka adalah Johan dan Gilbert, dua dari kelompok pahlawan dari dunia lain yang dipanggil Alestein kurang lebih empat bulan lalu.


Benar, jika Gilbert dan Johan berada di dalam labirin Hexaphilia, maka para pahlawan lainnya otomatis juga bersama mereka berdua. Tifania, Rizu, Layla, dan lainnya menghela nafas mendengar kepastian [Collision Lizard] yang mereka hadapi tadi telah mati dari Johan. Tentu saja, mereka belum terbiasa dengan monster-monster kuat di lantai keempat ini, wajar kalau mereka khawatir.


"Biar kusembuhkan kalian. [Area Heal]!"


Mengerahkan salah satu skillnya, Tifania menyembuhkan semua orang yang terluka akibat pertempuran melawan [Collision Lizard] barusan. Memang bukan hanya Tifania seorang yang memiliki atribut dan kelas penyembuh, tapi ia adalah satu-satunya yang mempunyai skill penyembuh yang mencangkup lingkup luas sehingga ia lebih diandalkan.


Di lantai, tercipta sebuah lingkaran sihir putih yang berdiameter 20 meter dan Tifania sebagai pusatnya. Muncul cahaya putih kelap-kelip dari lingkaran sihir putih tersebut di tempat semua yang terluka. Beberapa detik setelahnya, kelap-kelip dan lingkaran sihir [Area Heal] milik Tifania menghilang, bersamaan dengan pulihnya parameter nyawa mereka semua.


"Terima kasih, Tifania."



"Kau benar-benar penyelamatku!"


Disoraki teman-temannya, Tifania yang sedikit tersipu malu, kemudian duduk di tengah-tengah Rizu dan Layla yang tengah beristirahat. Berbeda dengan lainnya, Tifania tidak mengerahkan banyak energi maupun mana dalam pertempuran kali ini. Mengapa? Gilbert menyuruh Tifania untuk fokus pada sihir penyembuh daripada menyerang seperti teman-teman penyihirnya karena kekuatan penyembuhnya adalah yang terkuat di antara mereka. Selain itu, Faleon juga menyarankan hal yang sama.


Lagipula, walaupun Faleon tak menyarankannya dan Gilbert tidak menyuruhnya, Tifania tetap akan berfokus pada sihir penyembuhnya daripada sihir untuk menyerang. Kebanyakan penyihir beratribut penyembuh tidak memiliki status yang memumpuni sebagai penyihir penyerang, tapi Tifania berbeda. Walaupun dirinya adalah penyihir penyembuh, ia juga dapat berubah menjadi penyihir penyerang karena statusnya mencukupi hal tersebut.


---


Nama : Tifania Raenhill


Ras : Manusia


Kelas : Penyembuh


Level : 77


Nyawa : 8600/8600


Mana : 2200/2300


Kekuatan Fisik : 80


Kekuatan Sihir : 1600


Ketahanan : 680


Atribut : Cahaya, Penyembuh


Skill : Appraisal, Heal, Area Healing, Angel Bless, Magician Disciple, Magic Transfer, Life Boost, Holy Aegis, Sacred Halberd, Licht, Purgatory, Summon Knight : Heavenly Knight, Light Devour, Angelic Armor, Undead Purification


---


Selain status kekuatan sihirnya yang jauh di atas rata-rata penyihir penyembuh, Tifania juga memiliki beberapa skill dan sihir yang dapat digunakan untuk menyerang. Hal ini bukan hanya dikarenakan levelnya yang cukup tinggi, melainkan hasil latihannya yang cukup keras. Semenjak kejadian jatuhnya Riyan ke dalam jurang gelap di lantai dua, Tifania berlatih sangat keras demi menemukan tubuh Riyan di dasar jurang tersebut.


Awalnya Gilbert, Tifania, dan beberapa orang lainnya ingin turun ke dalam jurang menggunakan tali, tapi sayangnya tak ada yang tahu kedalaman serta dasarnya sehingga mereka mengurungkan cara itu. Karena alasan ini juga, Tifania berlatih keras. Tidak ada jalan pintas baginya untuk menyelamatkan ataupun mengembalikan tubuh Riyan, yang mungkin ditemui, ke bumi sebagaimana mestinya.


"Tifania, tujuanmu ikut masuk ke dalam labirin untuk mencari Riyan, kan?"



"Ya."



"Kenapa kamu begitu dekat dengannya? Bukan maksudku menjelekkan dirinya, tapi kamu juga belum mengetahui apa-apa tentang Riyan. Misalkan Riyan benar-benar orang yang mengacaukan ruang guru itu, apa kamu masih ingin berteman dengannya?"



"Riyan bukan orang yang seperti itu!"


Tanpa sadar, Tifania berteriak menjawab pertanyaan dari Rizu. Sontak saja, seluruh kelompok pahlawan yang hadir di sana terkejut, tak terkecuali Rizu dan Layla. Bukan hanya teriakannya, Tifania juga jarang sekali mengeluarkan suara keras seperti barusan. Terakhir kali ia berteriak sekencang ini adalah ketika kejadian jatuhnya Riyan ke dalam jurang.


Beberapa saat kemudian, Tifania tersadar atas teriakan lantangnya tersebut, lalu kembali terdiam tanpa ada yang dapat membalasnya. Berdasarkan apa yang dijelaskan jenderal besar Alivonia, Faleon Hazefaith, perkara ruang guru yang menjadi alasan mengapa Riyan dijauhi hanyalah kesalahpahaman belaka. Karena tidak mengetahui hal ini selama lebih dari setahun, mereka tak bisa menilai seperti apa sebenarnya sosok asli dari Riyan Klaint.


"Riyan bukan seperti yang kau pikirkan, Rizu."



"T-tapi kita belum ta—"



"Lalu, kenapa dia menyelamatkan kita dengan mengorbankan nyawanya sendiri!?"

__ADS_1


Sebelum Rizu menyelesaikan perkataannya, Tifania segera menyela secepat kilat. Ucapan Tifania membuat Rizu teringat bagaimana Riyan jatuh ke jurang dan dikatakan telah mati. Semua pahlawan lainnya yang berada di lantai ini ikut mendengarkan pembicaraan mereka, walaupun sama sekali tak berani menyanggahnya.


Dengan segala apa yang diterima Riyan dari teman-teman kelasnya, ia tidak berniat balas dendam sama sekali, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk terjun bebas bersama [Chimera] ke dalam jurang agar teman-temannya bisa selamat. Hal ini membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa mengenai Riyan yang dapat dikatakan masih misteri.


"Kenapa kau sangat yakin padanya, Tifania?"


Tifania cukup terkejut mendengar pertanyaan Rizu yang diajukan kepada dirinya. Selang beberapa detik, Tifania menunjukkan ekspresi paniknya dan bingung apa yang harus dikatakannya. Namun setelah berhasil mengatasi rasa panik dan bingung yang menyambar pikirannya, ia menarik dan menghembuskan nafas berat, lalu memberitahu Rizu alasan mengapa ia percaya pada Riyan.


"Sebenarnya, saat hari pertama masuk SMA, aku hampir diperkosa di gang sepi."


Apa yang dikatakan Tifania adalah benar adanya. Karena jarak rumah dan sekolahnya cukup dekat, ia memutuskan untuk berjalan kaki hingga ke tempat tujuan. Sayangnya, ketika ia hampir tiba di sekolah, muncul beberapa preman yang menyekap dan membawanya ke sebuah gang yang jarang dilewati orang.


Di sana, preman-preman itu mengikat tubuh Tifania menggunakan tali dan mulutnya disumpal sebuah kain kotor sehingga ia tidak bisa melawan maupun berteriak meminta tolong. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar gang, mereka mulai menggeranyangi tubuh gadis berambut cokelat pirang tersebut. Karena ingin menikmatinya, mereka meraba-raba tubuh Tifania terlebih dahulu sebelum masuk ke acara utamanya.


Sepuluh menit sejak tubuhnya disentuh secara tidak hormat, Tifania mulai kehilangan harapan dan pasrah atas takdirnya ini. Ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan sekelompok preman yang garang itu, apalagi dalam keadaan terikat. Tapi di saat ia hampir pasrah total, sebuah batu melayang ke salah satu kepala preman itu dan teriakan laki-laki bergema di gang.


Tentu saja hal ini membuat para preman itu terkejut bukan main. Kebanyakan dari mereka segera berlari ke arah suara teriakan berasal untuk mengejar pemilik suara. Hanya tersisa dua preman yang terus meraba tubuh Tifania tanpa kewaspadaan sama sekali. Tak lama kemudian, dua preman tersebut jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran seketika. Tifania yang melihat dua preman itu pingsan tanpa alasan jelas merasa lega sekaligus kebingungan.


Tiba-tiba saja, tali yang mengikatnya juga terlepas. Begitu mengetahui tali yang mengikat tubuhnya terlepas, sekali lagi Tifania terkejut. Karena tidak melihat siapapun yang berada di sekitarnya, ia merasa sedikit ketakutan, menyangka ia tengah dibebaskan oleh hantu. Perlu diketahui, Tifania takut pada hantu.


Tapi saat ia hendak berteriak ketakutan, seorang pemuda berambut hitam yang mengenakan seragam dan nama sekolah yang sama sepertinya, muncul di hadapannya dengan jari telunjuk ditempatkan di depan bibir mengisyaratkan Tifania untuk diam. Setelah merapikan seragamnya, Tifania keluar dari gang dan mengikuti pemuda tersebut hingga mencapai sekolah, tanpa memberitahukan siapapun mengenai hal ini.


"Apa yang menolongmu itu adalah Riyan?"



"Ya. Aku tak tahu apakah ia lupa atau tidak, yang jelas ia adalah penyelamatku. Jujur saja, kalau aku tidak ditolong olehnya waktu itu, aku takkan bisa ceria selama di sekolah."


Sambil menatap lantai labirin penuh kesedihan, Tifania mengakhiri ceritanya yang hanya didengarkan oleh Rizu dan Layla, sahabat terdekatnya. Bukan karena pahlawan lainnya tidak ingin mendengarkan, tapi Tifania sendiri yang mengecilkan suaranya sekecil mungkin sampai yang dapat mendengarnya hanyalah Rizu dan Layla.


"Riyan telah menyelamatkanku dari preman-preman itu tanpa mengharapkan imbalan apapun, kenapa aku tidak mempercayainya?"


Rizu dan Layla yang mendengar ucapan Tifania itu tertegun begitu mengetahui alasan mengapa Tifania selalu memperhatikan Riyan. Di kelas, Tifania sering melihat ke arah Riyan tanpa ada yang mengetahuinya, kecuali Rizu dan Layla. Pandangan mata itu cukup sulit untuk diikuti, wajar jika tak ada yang tahu bahwa selama ini Tifania memperhatikan Riyan.


'Hm, dia menyukai Riyan, ya?'


Menggumamkan itu dalam hatinya, Rizu mulai paham kenapa Tifania sampai pingsan saat melihat Riyan jatuh ke jurang tepat di depan matanya. Mungkin secara sadar atau tidak sadar, Tifania telah jatuh cinta terhadap Riyan Klaint yang telah menyelamatkan dirinya dari pemerkosaan sekitar setahun lalu itu. Layla kelihatannya juga memikirkan apa yang dipikirkan Rizu, itu terlihat dari ekspresinya yang tersenyum masam.


"Baiklah, istirahatnya cukup, kita lanjutkan ke lantai berikutnya."



""Oke!!""


Bersama seruan Gilbert, para pahlawan lainnya berdiri dan menjawabnya dengan bersemangat. Sebenarnya, hanya sekitar sepuluh sampai empat belas orang saja yang ikut masuk ke dalam lantai keempat ini, termasuk Tifania, Rizu, Layla, Gilbert, dan Johan, karena sisanya masih belum berani masuk akibat kejadian Riyan sekitar tiga bulan lalu. Kejadian tersebut memberi pelajaran dan trauma bagi para pahlawan sebelumnya.



Di istana kerajaan Alivonia, yang berlokasi tepat di tengah kota Lasfile, di halaman terdapat para pahlawan yang tengah berlatih bersama prajurit lainnya, berhubung mereka tak ikut masuk ke dalam labirin. Daripada membuang-buang waktu tanpa melakukan apapun, mereka memutuskan untuk berlatih agar status serta kemampuannya meningkat.


"Heaah!!"


Wussh!


Di halaman belakang, terlihat Faleon yang mengayunkan pedang kayunya menebas udara secara horizontal. Karena pengaruh status, kemampuan, serta tekadnya yang kuat, satu tebasan dari pedang kayunya itu menciptakan badai kecil di sekitarnya. Seperti yang diharapkan dari seorang jenderal besar, jabatannya bukan sekedar nama saja.


Air keringat mengalir menuruni setiap tonjolan ototnya yang besar dan keras itu adalah bukti bahwa walaupun telah menerima jabatan tinggi dari Alestein, raja Alivonia, Faleon tetaplah salah satu kesatria hebat yang diakui lima kerajaan. Nama Faleon Hazefaith cukup dikenal di kalangan kesatria, bangsawan, bandit, bahkan iblis.


"Baiklah, latihan hari ini cukup sampai di sini saja."


Ia berjalan mendekati tempat duduk yang tersedia, lalu duduk dan mengusap keringatnya menggunakan handuk kecil yang dibawakan oleh seorang pelayan. Selesai mengurus tubuhnya yang basah akan keringat, Faleon menghirup dan menghembuskan nafas berat.


---


Nama : Faleon Hazefaith


Ras : Manusia


Kelas : Kesatria, Kesatria Suci


Level : 100


Nyawa : 13020/13020


Mana : 1230/1230


Kekuatan Fisik : 1100


Kekuatan Sihir : 150


Ketahanan : 760


Atribut : Api, Cahaya


Skill : Sword Master, Holy Sword, Holy Eraser, Mana Blast, Vixion Slash, Rotation Slash, Self-Healing, Power Booster, Slash, Destruction Slash, Sacred Halberd


---


Seperti yang ditampilkan, status dapat dipengaruhi oleh latihan dan kerja keras, tidak bergantung pada tingkatan level. Memang level sangat mempengaruhi status, tapi sistem kenyataan tak bekerja seperti sistem dalam game. Di dunia ini, level dan status dapat ditingkatkan dengan latihan secara rutin. Sama halnya seperti Riyan mendapatkan skill, kebiasaan tetap juga bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan status.


Di balik itu, banyak orang yang lebih memilih membunuh sesama makhluk hidup agar level serta statusnya naik lebih cepat. Selain latihan, membunuh merupakan salah satu cara untuk meningkatkan level dan status, bahkan cara ini lebih cepat dibanding latihan. Pernah mendengar istilah pengalaman adalah guru terbaik? Ya, hal ini adalah dasar dari sistem status di dunia ini.


Berbeda dengan dunia yang sebelumnya di huni Riyan dan kawan-kawan, dunia ini memberikan kemampuan belajar melalui pengalaman jauh lebih cepat kepada seluruh makhluk hidup, tak terkecuali bayi sekali pun. Pertanyaannya, mengapa ketika pertama kali Gilbert dan lainnya melakukan pengukuran status, level yang mereka miliki adalah nol?


Itu karena mereka baru saja datang ke dunia ini, sehingga mereka tak memiliki pengalaman apa-apa untuk meningkatkan level. Sama halnya seperti bayi yang baru lahir ke dunia, mereka tak tahu apa-apa mengenai dunia ini, sehingga sistem status dunia memberi status yang sesuai. Tetapi, berhubung mereka berasal dari dunia lain, yang dikatakan lebih kuat dari manusia di dunia ini, maka status mereka bukanlah status pada umumnya.


"Kakak."



"Hm? Oh, ada apa, Fileza?"


Sambil menegak minuman yang telah ia siapkan di samping tempat duduk, ia menoleh ke arah gadis yang datang dari kanannya. Fileza Hazefaith, seorang wanita berambut ungu kemerahan, adik kandung Faleon Hazefaith, kakak dari Faizal Hazefaith. Cantik nan anggun, namun mematikan, itulah salah satu ciri khas satu-satunya jenderal wanita kerajaan Alivonia.


"Gilbert dan lainnya telah kembali, mereka ingin melaporkan apa yang mereka lihat di lantai lima labirin Hexaphilia."



"Hoo, hebat juga ya mereka."


Menerima kabar menggembirakan dari Fileza, Faleon segera bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki lorong istana yang mengarah ke ruang raja, setelah mengenakan pakaian kesehariannya. Takkan nyaman jika harus memakai zirah full-plate-nya seusai latihan, tubuh manusia juga perlu istirahat.


Beberapa menit kemudian, Faleon sampai di ruang raja yang di sana terdapat Alestein yang duduk di singgasananya, beberapa prajurit penjaga, serta para pahlawan yang berdiri menunggu kedatangan sang jenderal besar. Tentu saja, Faleon tidak ingin Gilbert dan lainnya menunggu lebih lama lagi, ia segera berjalan dan berdiri di samping kanan raja.


"Jadi, apa yang ingin kalian laporkan?"

__ADS_1


Pertanyaan tegas dari Alestein membuat para pahlawan segera menegakkan badan dan menjawabnya. Apa yang mereka lihat di lantai lima labirin Hexaphilia bukanlah hal yang penting, tapi tetap saja harus dilaporkan. Lantai kelima penuh dengan [Chimera], [Heavy Kobold], [Collision Lizard], dan [Albtraum Troll]. Keberadaan monster-monster kuat ini membuat Gilbert dan lainnya terdesak, lalu memutuskan mundur setelah kehabisan mana.


"Lalu satu lagi, yang mulia, jenderal."



"Apa itu?"


Untuk sesaat, Gilbert terdiam dan ragu untuk melaporkannya, tapi apapun yang ia lihat di dalam lantai lima sana, harus dilaporkan. Mengapa? Tentu saja agar mereka dapat membuat strategi dan persiapan yang lebih matang. Tujuan Alivonia dan para pahlawan ini pertama-tama adalah menaklukkan labirin Hexaphilia.


"Terdapat banyak retakan-retakan yang menjulang dari bagian terbawah dinding ke langit-langit. Jumlah dan besar retakan tersebut lebih banyak di lantai dibanding yang menjalar ke langit-langit."


Mendengar hal ini, Faleon dan Alestein sama-sama terkejut. Terakhir kali Faleon dan prajuritnya memeriksa ke sana, sekitar empat bulan lalu, mereka tak menemukan retakan-retakan seperti yang dilaporkan Gilbert. Faleon mulai memasang ekspresi masam bercampur sedikit rasa takut.


'Retakan itu belum pernah ada sebelumnya.'


Bonus


---


Nama : Gilbert Arkbell


Ras : Manusia


Kelas : Pahlawan


Level : 79


Nyawa : 10790/10790


Mana : 1090/1090


Kekuatan Fisik : 999


Kekuatan Sihir : 340


Ketahanan : 840


Atribut : Cahaya, Penguatan, Api


Skill : Appraisal, Comprehension, Sword Disciple, Power Booster, Slash, Rotation Slash, Vixion Slash, Auto-Counter, Destruction Strike, Body Reinforce, Amplifier, Brace Howl, High Sense, Holy Slash, Fire Breath, Fireball, Sacred Inferno, Flaming Coat, Raise Strength


---


Nama : Johan Krifas


Ras : Manusia


Kelas : Pahlawan


Level : 79


Nyawa : 10540/10540


Mana : 1010/1010


Kekuatan Fisik : 920


Kekuatan Sihir : 210


Ketahanan : 980


Atribut : Tanah, Api


Skill : Appraisal, Stone Wall, Fire Breath, Mad Mud, Rock Golem, Stell Coat, Earth Bind, Summon Monster : Sand Crawler, Carnivorus Dessert, Summon Monster : Flame  Falcon, Throwing Dagger, Owl Vision


---


Nama : Rizu Almizu


Ras : Manusia


Kelas : Penyihir


Level : 75


Nyawa : 8570/8570


Mana : 1990/1990


Kekuatan Fisik : 105


Kekuatan Sihir : 1780


Ketahanan : 700


Atribut : Alam, Es, Air


Skill : Appraisal, Nature Control, Forest Fotress, Animalia, Birth of Trees, Gwerid, Eis, Gleyster, Icy Lance, Icy Bullet, Frost Rain, Freezing Drain, Wasser, Aqua Disk, Water Canon, Waterball, Sharp Arrow Rain, Spread


---


Nama : Layla Fanlan


Ras : Manusia


Kelas : Pemanggil


Level : 71


Nyawa : 7870/7870


Mana : 1600/1600


Kekuatan Fisik : 120


Kekuatan Sihir : 1500


Ketahanan : 690


Atribut : Es, Pemanggil


Skill : Appraisal, Mana Regeneration, Eis, Gleyster, Icy Lance, Icy Bullet, Frost Rain, Freezing Drain, Summon Monster : Goblin, Summon Monster : Lizardman, Summon Undead, Summon Undead : Skeleton


---

__ADS_1


__ADS_2