
Duaaghh!!
Braakk!
Terkena tebasan dari gelondongan kayu, Riyan terhempas ke dinding labirin. Ia jatuh berlutut sambil membelakangi, sang monster. Benar, ia masih hidup, dan saat ini pemuda tersebut sedang berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Untunglah ia berhasil menghindari serangan dari troll yang memberi kematian pasti.
'Aku berterima kasih kepadamu, jenderal Faleon, karena telah melatihku sehingga dapat menghindari serangan mematikan ini.'
Sesaat setelah berdiri, ia segera menendang lantai dan menjauh dari makhluk menjijikkan itu.
Bagaimana ia bisa selamat? Itu karena di detik-detik terakhir, insting bertahan hidupnya bangkit dan mengalahkan rasa takut di dalam dirinya. Dengan refleksnya yang cukup bagus, ia segera membalikkan badan untuk menangkis serangan langsung menggunakan pedang yang masih berada di sarungnya.
Merasa cukup jauh, Riyan berhenti dan menarik pedangnya dari punggung, lalu membentuk kuda-kuda bertarung. Keringat dinginnya masih mengalir deras, ketakutan juga menguasai tubuhnya, tetapi demi bertahan hidup di lantai keenam labirin ini, mau tidak mau ia harus bertarung sekali lagi.
'Aku tidak tahu seberapa besar dampak dari serangan tak langsungnya tadi, tapi kabar baiknya aku masih hidup. Baiklah, mari abaikan itu dulu, sekarang aku harus bertarung.'
Sambil menjaga konsentrasinya terhadap sang troll, Riyan mengambil pil penambah status berwarna biru dan menelannya sehingga statusnya berlipat ganda. Ia menarik nafas banyak, lalu menghembuskannya kuat-kuat agar tidak panik. Ia tahu bahwa dirinya sangatlah tidak layak berada di lantai ini, tapi bagaimanapun juga Riyan Klaint harus hidup.
Ia merendahkan tubuhnya, lalu melesat secepat mungkin menuju lawan berbadan besarnya. Troll memang memiliki pertahanan mengerikan, tapi status tersebut berbanding terbalik dengan refleks dan kepintarannya yang luar biasa rendah. Karena itu Riyan memanfaatkan kelemahan troll sebagai letak keunggulannya.
'Kalau kecepatanku tetap seperti ini dan ditambah [Distract], dalam pertarungan jangka waktu lama akulah yang akan menjadi pemenangnya.'
Ketika berada di jarak 2 meter, monster tersebut kembali mengayunkan senjata kayunya ke arah Riyan, tetapi ia dapat menghindarinya. Melihat respons serta gerakan dari lawannya, Riyan sedikit terkejut, kemudian menyadari bahwa [Albtraum Troll] berbeda dengan rasnya. Seperti yang telah ia baca di buku, troll jenis ini memiliki kepintaran dan refleks di atas kebanyakan rasnya.
"Cih, sepertinya ini akan sangat merepotkan."
Menggumamkan itu, ia mengambil batu kerikil dari bawah, lalu melemparnya ke belakang troll tersebut sambil mengaktifkan [Distract]. Begitu lawannya menoleh ke belakang akibat skill pengalihnya, Riyan mengangkat tangan kirinya yang kosong dan mengarahkannya ke depan, lalu berkonsentrasi.
"[Mana Burst]!"
Sesegera mungkin, selagi perhatiannya teralih, Riyan langsung menyerang. Serangan mana langsung melesat lurus dari tangannya dengan target kepala.
Blaarr!
Ledakan dari [Mana Burst] milik Riyan begitu kecil, jauh berbeda dari yang sebelumnya. Itu dikarenakan mananya yang kurang mencukupi. Walaupun parameter mananya bertambah hingga menyentuh angka 75, ia hanya menggunakan 15 poin untuk serangan ini. Mengapa? Alasannya berhemat.
[Albtraum Troll] sangat berbeda dengan [Chimera] yang memiliki respons cukup lambat, refleks mereka setara dengan manusia yang telah berlatih bela diri selama 2 tahun. Keadaan ini sangat sulit baginya yang kalah di semua aspek. Skill yang dapat ia andalkan saat ini hanyalah [Mana Burst], [Distract], dan [Mana Slash]. Karena inilah Riyan mengurangi penggunaan mana berlebih.
Asap kelabu tipis terlihat di wajah troll tersebut, tapi sayangnya monster itu tak roboh, bahkan berlutut saja tidak. Di saat yang sama, ia membeku. Kelihatannya ia terkena syok atau stun. Melihat kesempatan ini, tanpa ragu-ragu, Riyan menendang lantai dan melesat ke arah lawannya.
Ketika jaraknya mencukupi, ia langsung mendorong pedangnya menusuk perut sang monster sedalam-dalamnya. Ia tahu bahwa hanya inilah kesempatan yang ia punya untuk mencuri mana dari makhluk tersebut, maka dari itu ia tak membuang kesempatan maupun waktu.
Zleebb!
GROO!!
Tiba-tiba merasakan sakit di daerah perutnya, sang troll pun mengaum keras disertai rasa penderitaan atas tusukan dari manusia yang seharusnya menjadi mangsanya. Riyan yang mendengar aumannya tersebut panik seketika. Ia mencabut pedangnya dan melompat ke belakang sejauh mungkin.
Ia mendarat di lantai yang berjarak beberapa langkah dari lawannya. [Albtraum Troll] itu memegang perutnya sambil terus meringis kesakitan seakan-akan berharap untuk tidak merasakan sakitnya luka terbuka di perutnya. Sesaat kemudian, ia memandang ke depan hendak memastikan keberadaan si manusia, tapi sayang sekali, mangsanya telah menghilang dari pandangannya.
"[Mana Burst]!"
Blaarrr!!
__ADS_1
Dari atas, Riyan menembakkan [Mana Burst] kecil kepada sang monster, lebih tepatnya ke kepalanya. Ia tahu bahwa semua troll itu pada dasarnya hanyalah makhluk tak berakal yang sangat bodoh, lebih bodoh dari udang. Pada kenyataannya, [Albtraum Troll] tidaklah sebodoh yang tertulis di buku, troll jenis ini sedikit lebih pintar. Ya, hanya sedikit.
Selain bodoh, troll juga tidak memiliki kemampuan untuk menjaga konsentrasi dan cepat panik. Riyan memanfaatkan kesempatan saat makhluk jelek itu menunduk ke bawah melihat luka di perutnya, dan melompat setinggi-tingginya agar dapat mengecoh sekaligus membuat panik lawannya. Benar saja, troll tersebut panik dan tidak mengetahui dimana mangsanya berada. Padahal hanya dengan menaikkan dagunya kurang lebih lima derajat, Riyan dapat terlihat.
NGOOAA!!
Troll itu kembali berteriak mengeluarkan rasa sakit yang ia terima. Di sisi lain, Riyan sama sekali tak goyah dan terus maju mengikuti gravitasi yang menariknya jatuh ke bawah menuju sang monster. Karena lompatannya tadi, tubuhnya bergerak ke depan, mengarah ke lawannya. Bukannya takut ataupun panik, matanya terlihat semakin fokus. Pedangnya ia angkat sampai sejajar dengan bahu kanan, lalu menunggu saat yang tepat.
"Sekarang! [Mana Slash]!"
Zraatt!!
Ketika merasa cocok, ia mengayunkan pedangnya sambil mengerahkan salah satu skill penyerangnya sekuat tenaga. Tebasan itu memotong segala sesuatu yang berhadapan langsung dengannya, termasuk...
Zrrss!
...kepala [Albtraum Troll], salah satu monster penjaga lantai keenam labirin Hexaphilia.
Zraakk!
Riyan mendarat sempurna di belakang lawannya sambil menyeret langkah sehingga menaikkan debu yang terdapat di lantai. Ia langsung membenahi posisi berdirinya, lalu memasukkan pedangnya ke dalam sarung yang berada di punggungnya setelah membersihkan darah si wajah jelek tersebut.
Beberapa saat kemudian, kepalanya jatuh ke lantai, diikuti oleh tubuhnya yang besar dan cucuran darah nan deras layaknya air mancur kecil. Untungnya badan makhluk itu jatuh ke depan, bukannya ke belakang menimpa Riyan yang tengah kelelahan.
"Hah... hah... hah... Hampir saja... Jika pertarungan berlanjut lebih lama lagi, aku yang akan kalah."
Sambil mengucapkan itu, Riyan tertunduk sambil terengah-engah akibat efek pil penambah status yang baru saja habis. Karena itu pula, staminanya berkurang drastis tanpa peringatan sedikit pun. Ia tersenyum perkiraan waktunya tidak meleset.
Setelah memastikan tak ada monster yang mendekat dan nafasnya mulai tenang, ia memutar kepalanya ke belakang melihat tubuh sang [Albtraum Troll] yang telah tidak bernyawa.
"Sama sekali tak bisa dipercaya. Aku baru saja mengalahkan monster tingkat tinggi? Sungguh keajaiban."
Melihat mayat makhluk itu sekali lagi, ia kembali mengatakan 'mustahil' di dalam hatinya berkali-kali. Bagaimana tidak? Seseorang sepertinya, berstatus paling rendah di antara semua manusia, berhasil membunuh seekor monster berlevel tinggi seperti [Albtraum Troll]. Yah, walau awalnya ia memang sudah tahu bahwa sekuat apapun status makhluk hidup, jika bagian vitalnya lumpuhkan, bahkan dewa pun takkan bisa bertahan.
Riyan pun menghela nafas lega karena berhasil selamat. Baginya, ini adalah sebuah keberuntungan. Entah bagaimana caranya, ia sendiri tidak terlalu paham dengan sistem yang ada di dunia ini. Sistem di dunia ini memakai sistem yang mirip permainan RPG, tetapi aturannya sama seperti dunia nyata. Contohnya jika lehernya di tebas, maka seseorang atau seekor monster akan langsung mati.
"Ngomong-ngomong, apa ada perubahan pada statusku, ya?"
Penasaran dengan itu, Riyan membuka statusnya sendiri dan memperhatikannya secara seksama. Saat membukanya, reaksi pertama yang ia keluarkan adalah terkejut. Kenapa? Alasannya karena perubahan status yang signifikan.
Riyan pun terdiam ketika melihat statusnya. Ia menutup layar hologram yang menampilkan statusnya itu sebentar, kemudian membukanya lagi untuk memastikan apakah ada kesalahan semacam error atau bug. Tapi saat ia membukanya, tak ada perubahan dari statusnya yang ia lihat beberapa detik lalu.
"Apa ini!?"
***
Beberapa hari setelah jatuhnya Riyan ke dalam jurang di labirin akhirnya Tifania bangun dari pingsannya. Mungkin karena syok yang bercampur hilangnya tenaga, gadis itu tak sadarkan diri selama beberapa hari. Mendengar kabar kematian Riyan dari Rizu dan Layla yang menemaninya sepanjang waktu, gadis berkelas penyembuh ini meraung-raung sambil mengucurkan air mata di pangkuan kedua sahabatnya.
Gilbert dan Johan yang berada di luar, hanya terdiam tak berdaya mendengar tangisan seorang gadis. Tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk meredakan tangisan Tifania itu. Gilbert merasa bersalah, karena tidak cukup kuat sebagai seseorang berkelas pahlawan yang seharusnya melindungi semua orang, terutama teman kelasnya sendiri. Johan pun juga merasa bersalah, mengingat dirinya mengabaikan Riyan sedemikian rupa.
Bagi mereka, yang bertanggung jawab atas kematian Riyan adalah diri mereka sendiri, atas ketidakmampuan mereka menghadapi monster [Chimera] tersebut, padahal mereka adalah salah satu yang terkuat di antara murid-murid yang dipanggil dari dunia lain.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Layla membuka pintu dan keluar dari kamar, meninggalkan Tifania kepada Rizu. Hal ini tentu saja membuat Gilbert dan Johan terkejut setengah mati, tapi mereka dapat mengatasi itu. Karena khawatir, Gilbert pun bertanya kepada Layla.
"Bagaimana keadaan Tifania, Layla?"
"Saat ini ia kembali tertidur karena terlalu banyak menangis."
"Apa itu tidak apa-apa?"
Johan menyela dengan tampang dan nada yang sama khawatirnya seperti Gilbert.
"Ya, kurasa tidak apa-apa. Kita harus sabar menunggu apa kata hatinya. Jika ia menolaknya, maka kita tak bisa memaksakan dirinya untuk menerima ini. Bagaimanapun juga, Riyan adalah teman kita yang setiap hari belajar bersama di sekolah."
Kedua laki-laki tersebut mengangguk yakin menanggapi ucapan Layla. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang. Jika ini menyangkut hati nurani seseorang, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu, kecuali dirinya sendiri. Mereka menyerahkan Tifania kepada Rizu, salah satu sahabat terdekatnya.
Di tempat lain, Remia melakukan tugasnya seperti biasa sambil memendam rasa sakit yang ia terima dari penyesalan atas kabar kematian satu-satunya teman yang ia miliki. Penyesalan yang begitu dalam, atas perlakuannya kepada Riyan pada hari terakhir mereka bersama. Tetes demi tetes air mata jatuh ke dalam tempat cucian, menyatu dengan genangan air di dalamnya.
Seminggu setelah hari dimana Riyan jatuh ke dalam jurang demi menyelamatkan kelompok pahlawan dari dunia lain, dibuatlah sebuah makam dengan batu nisan di atasnya, untuk mengenang bahwa Riyan Klaint pernah hidup.
Makam tersebut terletak di bawah pohon glendia, pohon besar nan rindang yang sering dikunjungi oleh Riyan di waktu-waktu senggangnya, tak jauh dari istana, hanya berjarak sekitar 70 meter. Di sana diadakan upacara penghormatan akhir tertinggi ala kerajaan, lalu disusul nyanyian-nyanyian duka. Seluruh penghuni istana hadir di sana, termasuk Tifania dan Remia. Mereka menangis di sana.
Seusai upacara pemakaman, Tifania dan Remia berdoa di depan batu nisan. Mereka berdua meminta maaf atas semua kesalahan yang telah mereka lakukan terhadap Riyan sehingga menyakiti hatinya. Remia adalah yang terakhir kembali dari makam, karena benar-benar menyesal atas perbuatannya.
***
Beberapa hari setelah acara pemakaman digelar, Faleon mengumpulkan seluruh murid-murid di sebuah ruangan, dengan izin Alestein. Bukan hanya murid-murid, Remia pun di suruh ikut masuk ke dalamnya. Karena tidak ada kursi, mereka semua duduk di lantai, termasuk Faleon juga.
"Hari ini, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian, tentang Riyan."
Sambil tertunduk menatap lantai dengan ekspresi sedih, Faleon mengucapkan itu selantang mungkin sehingga dapat didengar oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Ia menarik nafas, lalu menghembuskannya seakan-akan berat untuk mengatakannya.
"Aku tahu ini melanggar janjiku terhadapnya, tapi kalian berhak untuk mengetahuinya. Tidak, biar kuralat, kalian harus mengetahuinya."
Sekali lagi, Faleon mengarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Ia tahu bahwa ia telah berjanji, tapi janji tersebut telah hilang karena kematian salah satu pihak.
"Di hari itu, di hari dimana ia mengobrak-abrik ruang guru di dunia kalian, itu bukan salahnya."
Mendengar itu, seluruh murid yang hadir di sana terkejut, termasuk Remia. Awalnya Remia memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya menjadi alasan Riyan dijauhi teman-temannya, tapi ia bertanya kepada Faleon tentang itu. Mengetahui alasannya, gadis pelayan tersebut sama sekali tak percaya.
"Maaf, jenderal, apakah anda juga telah di cuci otak olehnya?"
Rei mengangkat tangannya ke atas dan menanyakan itu dengan senyum masam. Seketika itu juga, semua perhatian teralih kepadanya sehingga membuat nyalinya menciut seperti seekor ayam di tengah sekelompok serigala lapar.
"Apa aku terlihat seperti seseorang yang bisa dicuci otak oleh seorang berstatus serendah dirinya?"
Mendengar pertanyaan balik dari Faleon, Rei sama sekali tidak bisa membalas. Sang jenderal hanya menghela nafas, melihat banyaknya dari para pahlawan ini sama sekali tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Kemudian, Faleon menceritakan semua yang diceritakan oleh Riyan sewaktu di perpustakaan dulu. Selanjutnya, hari dimana Tifania ingin memberitahukan hal ini kepada Gilbert, Johan, Layla, dan Rizu, tetapi disangkal oleh Riyan sendiri. Ia mengatakan alasan mengapa Riyan menyangkal ucapan Tifania, lalu saat dimana hanya tinggal mereka berdua, Riyan menangis.
Tifania dan Remia, sontak mengeluarkan air mata sederas-derasnya. Tak hanya mereka, hampir semua dari para murid menangis. Mereka sama sekali tidak bisa membalas apa yang dikatakan oleh Faleon sedari tadi, karena ekspresinya yang benar-benar melukiskan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam.
"Jadi... semua yang ia lakukan ini... demi kami?"
__ADS_1
Tifania berusaha mengusap dan menghentikan aliran air matanya, menanyakan itu sambil tersedu-sedu. Faleon hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Tifania tersebut. Pada akhirnya, semua murid menyesal atas segala perlakuan buruk mereka terhadap sang laki-laki yang mereka anggap telah menjadi almarhum.