Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
23. Hewan Iblis yang Malang


__ADS_3

Di tengah situasi hidup dan mati menghampiri Siel, Daruth, para petualang yang tersisa, serta budak-budak, pemuda berambut hitam bercorak putih datang meminta air minum dengan wajah polos, seakan-akan tidak mengerti keadaannya. Karena tindakannya tersebut, pemuda itu, Riyan Klaint, merebut seluruh perhatian dalam sekejap, bahkan hewan iblis yang ganas pun berpaling kepadanya.


   'S-siapa pemuda ini? Kenapa ia meminta air minum di saat seperti ini!? Apa ia tidak melihat hewan iblis yang ada di sini!?'


Bergumam dalam hatinya, Siel membelalakkan matanya melihat Riyan yang masih mengatur nafas, begitu pula Daruth, petualang yang tersisa, serta para budak. Di sisi lain, ada satu budak yang menatap Riyan seolah merasa kagum, meski ia meringkuk ketakutan bersama teman-teman budaknya di balik kandang berjeruji besi.


   "Apa kalian memiliki air minum yang dapat dibagi? Aku berlari kemari secepat mungkin dari jarak yang cukup jauh hanya untuk meminta sedikit air minum karena bekalku sudah habis."


   "E-eh? T-tapi bukankah l-lebih baik kamu melihat s-si-situasinya terlebih dahulu?"


Mendapat balasan berupa pertanyaan yang tak ia duga, dahi Riyan mengkerut. Siel terkejut melihat pemuda yang baru saja ia temui ini mengerutkan dahi pada dirinya tanpa memikirkan kehadiran hewan iblis yang seharusnya berada di jangkauan penglihatannya.


Sambil mendenguskan udara dari kedua lubang hidungnya, Riyan memasang ekspresi datar dan mengalihkan pandangannya kepada seekor monster bertubuh rusa, berkaki kuda, serta berkepala serigala yang sekujur punggungnya dipenuhi oleh kristal ungu gelap. Alisnya sedikit terangkat mengetahui wujud monster tersebut, namun ia kembali menatap Siel.


   "Jadi, apa kau ingin aku membereskan monster itu sebelum meminta air?"


   ""Eh?""


Dalam situasi normal, mungkin mereka akan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar kalimat yang keluar dari seorang pemuda bertubuh kecil tersebut, tapi sayangnya saat ini nyawa mereka sangat terancam. Riyan memiliki tubuh kecil dan terlihat lemah, walau tampangnya sekarang sedikit lebih seram dari sebelumnya, sehingga orang-orang akan meremehkannya begitu melihat dirinya, terutama ketika menantang lawan super kuat seperti ini.


   'Memangnya bisa apa anak ini?'


   'Tubuhnya kecil dan tidak kelihatan kuat sama sekali.'


   'Yang ia miliki hanyalah wajah yang sedikit seram.'


Ketika Daruth dan Siel terdiam melihat Riyan, ketiga petualang lainnya yang masih hidup meremehkan Riyan dalam hati. Wajar saja, dengan penampilan yang terbilang lemah, siapa yang tidak meremehkannya? Terutama bagi petualang yang sering terlibat sikap saling merendahkan dan menghina.


   "Kal—"


   "Kalau kau bisa mengalahkannya, akan kuberi 20 keping koin emas!"


Belum sempat Siel menyelesaikan kalimatnya, Daruth menyela lebih dulu secepat kilat. Mendapati dirinya disela oleh teman lamanya tersebut, Siel merasa sedikit kesal dan melirik dengan sorot mata tajam, meski Daruth pura-pura tidak melihatnya.


   "Tapi aku bisa mendapatkan air minum, kan?"


   "Te-tentu saja!!"


Daurth berteriak secara refleks mendengar balasan yang sedikit tak masuk akal dari Riyan. Namun, Riyan tidak peduli. Ia menarik Garantia dan Glayster dari punggungnya bersamaan, lalu membentuk posisi bertarung teknik dua pedang yang sedikit menekuk lutut dan merendahkan kedua senjatanya.


   "[Appraisal]"


---


Nama : Bleidfyl


Ras : Monster Hybrid, Hewan Iblis


Kelas : Penghancur


Level : 54


Nyawa : 9797/9800


Mana : 1272/1300


Kekuatan Fisik : 1730


Kekuatan Sihir : 1590


Ketahanan : 3400


Atribut : Api, Kegelapan


Skill : Fireball, Fire Breath, Raise Strength, Flaming Coat, Comprehension, Auto-Counter, Owl Vision, Sense, Summon Imp, Steel Skin


---


Seperti biasa, Riyan mengerahkan [Appraisal] untuk memastikan kekuatan musuh yang ia hadapi. Hal ini ia lakukan agar dapat mengatasi perbedaan status dan kekuatan apabila ia lebih lemah dari lawannya, tapi tentu saja apa yang ia lakukan ini sangatlah wajar. Walaupun begitu, kelihatannya ia mendapatkan lawan yang kurang lebih sepadan dengan dirinya.


   "Akhirnya, setelah sekian lama tidak bertarung cukup serius."


Sambil mengatakan itu, tanpa sadar ia memasang senyum mengerikan. Siel dan lainnya terkejut saat melihat perubahan ekspresi pemuda berambut hitam bercorak putih tersebut. Tapi, di saat yang sama pula, tiba-tiba saja mereka merinding. Apa yang menyebabkan mereka merinding adalah benturan hawa membunuh yang dahysat dari hewan iblis dan Riyan.


Perlu kalian ketahui, selama di dalam labirin Hexaphilia sisi kemanusiaan Riyan terkikis secara perlahan akibat terlalu sering membunuh dan mengalami kesendirian. Karena tekanan dan beban yang ia pikul selama dua bulan di labirin sendirian, mentalnya berubah dari seorang yang lumayan peduli dengan sekitar, menjadi seorang pembunuh berhati dingin. Itulah alasannya mengapa ia dapat dengan mudahnya membunuh, memutilasi, dan mengambil organ-organ dalam monster, yang bahkan sebagian besar orang jijik melihatnya.


Dengan hawa membunuh yang dahsyat, perhatian hewan iblis bernama [Bleidfyl] itu berpindah kepada Riyan. Meski ia adalah monster, skill [Comprehension] yang dimilikinya membuat ia jauh lebih cerdas dari monster pada umumnya. Ia merasakan hawa membunuh dan ancaman yang jauh lebih besar dari orang-orang di depannya, karena itu ia memutuskan untuk menghabisi apa yang lebih berbahaya.


Grrr!


[Bleidfyl] mendekati Riyan selangkah demi selangkah agar Riyan ketakutan dan lari, tapi sayangnya hal itu takkan terjadi. Sebaliknya, Riyan balas mendekat bersama kedua pedangnya, Glayster dan Garantia yang ia genggam. Entah mengapa, jubah cokelat tuanya masih ia kenakan meski akan bertarung. Mungkin ia lupa?


Graaw!


Hewan iblis tersebut pun menendang tanah dan menerjang ke arah Riyan sekuat mungkin, sehingga menaikkan debu dan menghancurkan tempat yang ia pijak tadi. Mengikutinya, Riyan juga melompat, namun ia melompat ke kanan agar kereta terbelakang yang tadinya dipenuhi petualang tidak rusak.

__ADS_1


Dalam kurang dari dua detik, Riyan telah berjarak sekitar 20 meter dari [Bleidfyl] yang tengah berada di tempatnya berdiri tadi. Kecepatan yang mengagumkan dari keduanya membuat para penonton, Siel dan lainnya, tercengang tidak percaya melihat apa yang baru saja mereka saksikan.


   'Hm, sepertinya kecepatan yang kemarin memang karena [Overload], meski aku tidak serius.'


Menyadari kecepatannya tanpa menggunakan [Overload], Riyan sedikit terkejut. Seperti yang dikatakannya, ia belum serius dalam mengerahkan kecepatan tercepatnya. [Overload] memang meningkatkan kekuatan fisiknya hingga sekitar satu setengah kali lipat, tapi sewaktu melewati penjaga labirin kemarin, ia tidak berlari secepat mungkin. Kelihatannya ia tak sadar bahwa ia berlari kemari secepat mungkin karena ingin meminta air minum.


Grrr!!


Mengetahui mangsanya tidak tertangkap, hewan iblis itu menoleh ke arah Riyan dengan tatapan ganasnya. Ia terlihat sangat marah ketika menyadari ia tak berhasil menerkam Riyan dalam satu serangan. Kelihatannya monster yang satu ini sangat tidak terima ada yang berhasil lolos dari terkamannya. Monster yang pemarah.


GRAA!


[Bleidfyl] tersebut membuka rahangnya selebar mungkin, kemudian menyemburkan api ke arah Riyan. Skill yang sama persis seperti [Chimera], [Fire Breath], nafas api. Menurut sebuah buku yang berisi pengetahuan tentang monster-monster, skill ini adalah skill yang paling umum dan paling sering dijumpai di kebanyakan monster.


   "[Mana Slash], [Mana Shiled]"


Sambil mengayunkan Glayster di tangan kanannya lalu menancapkan Garantia ke tanah, Riyan mengerahkan kedua skill tersebut untuk memberikan sedikit perlawanan. Kekuatan sihir Riyan lebih kuat dibandingkan kekuatan fisiknya, jadi ia akan lebih cenderung menyerang dan bertahan menggunakan sihir atau skill, meski kekuatan fisiknya itu memang jauh di atas angka normal.


Syaat! Zoaarr!!


Dengan menggunakan [Mana Slash] sebagai penghambat kecepatan api, Riyan merunduk berlindung di belakang perisai biru yang tercipta dari skill [Mana Shield]. Bukannya apa, ia hanya ingin mengurangi risiko terluka karena status nyawanya yang lebih sedikit dibanding lawannya, walau status ketahanannya tidak bisa diukur dengan akal sehat manusia. Agar mengurangi tingkat konsumsi mana, Riyan mengecilkan ruang lingkup [Mana Shield] sehingga ia harus merunduk.


   'Jadi, apa yang bisa kulakukan sekarang?'


Sambil menanyakan itu dalam hatinya, ia berusaha mencari cara untuk menyerang seefektif mungkin. Karena sudah terlanjur bertahan dengan posisi yang tak menguntungkan, ia harus mencari solusi lain.


   'Apa aku harus menggunakan [Holf]? Tidak tidak, skalanya terlalu kecil. Hm? Bagaimana kalau itu?'


Merenung memikirkan cara menyerang yang efektif di belakang [Mana Shield], Riyan mendapat sebuah ide yang cukup bagus. Tanpa membuang waktu, ia memasukkan Glayster ke dalam sarungnya kembali, lalu mengkonsentrasikan mana di tangan kanannya.


   "[Mana Manipulation], [Holf]"


Dalam beberapa saat, terciptalah sebuah bola mana tak berwarna seukuran bola basket. Tak berwarna, bukan berarti tidak terlihat. Dengan mata yang cukup jeli, bola itu dapat dilihat dari gelombang cahaya benda yang ditembusnya, mirip seperti panas matahari yang menerjang aspal. Meski begitu, bagi orang yang tidak jeli maka akan sulit melihatnya.


Berbeda dari campuran [Mana Burst] dan [Holf] yang sebelumnya ia gunakan untuk melawan Moarleth di ruang peristirahatan Luctas Hadwin, labirin Hexaphilia, yang menyebarkan ruang hampa udara seperti ledakan, kali ini ia menahan penyebaran ruang hampa udara dari sihir [Holf] dengan [Mana Manipulation] sehingga membentuk bola hampa udara sempurna.


Mendapati teknik yang ia kembangkan berhasil, Riyan melompat ke atas keluar dari kurungan [Fire Breath] dari [Bliedfyl] sekaligus mencabut Garantia dari tanah, lalu melepas [Mana Shiled]. Para penonton terkejut begitu melihat Riyan yang melesat tinggi ke udara, sekitar 10 meter dari permukaan tanah. Untuknya yang memiliki kekuatan fisik yang mengerikan, hal ini bukanlah hal yang sulit baginya.


Di saat ia hendak mendarat di tanah, tiba-tiba sebuah bola api melesat ke arahnya. [Fireball] dari [Bliedfyl], itulah yang melesat kepada Riyan. Sayangnya, hal yang mengejutkan terjadi. Para penonton dan hewan iblis itu sendiri terkejut melihat kejadian yang sangat langka. Apa itu?


   "Oh, benar-benar bekerja."


Sambil mencetuskan kalimat tersebut, Riyan menapakkan kedua kakinya di atas tanah dengan tenang, sedangkan [Fireball] yang tadi menyerangnya telah musnah tanpa jejak. Inilah yang membuat Siel dan lainnya, tak terkecuali [Bleidfyl] terkejut. Ya, bola hampa udara.


   'Api takkan terwujud jika tidak ada oksigen.'


Oksigen sangat berpengaruh pada proses pembakaran tersebut. Tidak ada oksigen, tidak ada api. Memanfaatkan hukum kimia tersebut, Riyan berhasil menciptakan teknik penangkal api yang mungkin sebelumnya belum ada di dunia ini. Hanya dengan melewati bola hampa udara, [Fire Breath] yang merupakan api akan langsung musnah. Ngomong-ngomong, dalam sihir maupun skill, media pembakaran dalam atribut api adalah mana tentu saja.


   "Mustahil!!"


   "Ba-bagaimana bisa!?"


Menyaksikan [Fireball] dari [Bleidfyl] menghilang begitu saja tanpa jejak, Siel, Daruth, para budak, serta para petualang yang masih hidup terbelalak seketika. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut melihat hal ini? [Fire Breath] dari seekor hewan iblis saja sudah sangat mengerikan, apalagi [Fireball] yang kekuatannya terpusat pada satu titik.


Tak menghiraukan ocehan dari mereka, Riyan berjalan pelan mendekati sang hewan iblis yang terus menyerangnya menggunakan [Fireball] berkali-kali. Sayangnya, ketika dalam jarak sekitar satu meter dari Riyan, semua bola api tersebut musnah layaknya dilahap oleh sesuatu yang tak terlihat.


Beberapa saat kemudian, [Bleidfyl] tersebut menghentikan serangan apinya. Alih-alih menyerang menggunakan [Fireball] maupun [Fire Breath], kali ini hewan iblis itu menggunakan skill [Summon Imp] miliknya. Di bawah kakinya tercipta lingkaran sihir merah berdiameter sekitar tiga meter, lalu keluarlah monster-monster kerdil dari tanah yang berada di ruang lingkup lingkaran sihir-nya.


[Imp] adalah iblis atau lebih tepatnya iblis tingkat terendah yang biasanya menjadi budak bagi para ras iblis. Mereka mirip seperti goblin, hanya saja penampilan mereka lebih kurus dan pendek, serta warna kulitnya yang cokelat kemerahan. Jika dibandingkan dengan Riyan, [Imp] hanya memiliki tinggi sampai di pinggangnya. Meski dapat memanggil [Imp], hewan iblis bukanlah ras iblis, mungkin skill ini adalah asli miliknya atau ada faktor lain yang tak diketahui.


Ada sekitar enam [Imp] yang dipanggil oleh [Bleidfyl] dan keenam monster kerdil tersebut segera berlari ke arah Riyan. Memang [Imp] hanyalah iblis tingkat terendah yang menjadi budak, tapi menurut buku mereka cukup merepotkan dalam jumlah banyak. Maka dari itu, Riyan kembali mengerahkan [Appraisal] untuk melihat seberapa kuatnya pasukan kecil [Imp] ini.


---


Nama : Imp


Ras : Iblis


Kelas : Umum


Level : 20


Nyawa : 600/600


Mana : 12/12


Kekuatan Fisik : 400


Kekuatan Sihir : 9


Ketahanan : 20


Atribut : Kegelapan


Skill : Nail Scratch

__ADS_1


---


Mengetahui status [Imp], Riyan ingin tertawa, sayangnya ia tak memiliki waktu untuk itu. Meski statusnya rendah, kekuatan fisik serta kecepatannya bukanlah hal yang patut diremehkan. Kekuatan mereka hampir dua kali lebih kuat dari [Cave Goblin] dan kecepatan mereka kira-kira secepat kelinci berlari. Benar informasi yang disampaikan oleh buku, mereka cukup merepotkan jika jumlahnya banyak.


Tapi...


Zraaatt!!


Dalam sekejap, tubuh keenam [Imp] tersebut terbelah dua oleh [Mana Slash] dari Riyan yang telah mencabut dan langsung mengayunkan Garantia dengan cepat. Saking cepatnya, entah kenapa [Bleidfyl] tersebut tidak bisa merespon dan akhirnya serangan jarak jauh Riyan mengenainya telak.


Graaaoo!!


Meraung kembali, hewan iblis itu memperlihatkan reaksi yang sangat kesakitan, seakan-akan terkena serangan pemusnah. Mendengar aumannya, Riyan segera mengerahkan [Appraisal] untuk mengetahui dampak serangan [Mana Slash].


---


Nama : Bleidfyl


Ras : Monster Hybrid, Hewan Iblis


Kelas : Penghancur


Level : 54


Nyawa : 9056/9800


Mana : 1272/1300


Kekuatan Fisik : 1730


Kekuatan Sihir : 1590


Ketahanan : 3400


Atribut : Api, Kegelapan


Skill : Fireball, Fire Breath, Raise Strength, Flaming Coat, Comprehension, Auto-Counter, Owl Vision, Sense, Summon Imp, Steel Skin


---


   'Wow, serangan dari Garantia cukup efektif. Yah, mungkin karena efeknya juga sih.'


Sambil bergumam dan mengamati [Bleidfyl] yang masih terlihat kesakitan, Riyan melihat satu-satunya senjata yang ia genggam. Memang perbedaan kekuatannya pasti akan sangat signifikan dengan Glayster, tapi ia tetap menyimpan Glayster sebagai senjata utamanya, karena efek yang dimiliki.


---


Nama : Garantia


Jenis : Senjata/Pedang


Kekuatan : 370


Efek : Setiap serangan pada iblis dan undead akan bertambah 20%


Material : Logam scafal, kayu ayuta, permata suci


---


Mengetahui status Garantia, ia sedikit terkejut. Status kekuatan Garantia yang terlihat oleh [Appraisal] sangatlah luar biasa jika dibandingkan dengan pedang-pedang koleksi di istana Alivonia. Sejauh yang ia lihat, pedang terkuat di istana adalah milik Faleon, dengan status kekuatan sekitar 290 disertai efek mengurangi konsumsi mana sebesar 50%, namanya Pestras. Pestras juga merupakan salah satu dari pedang suci yang cukup terkenal.


   'Ini sih bukan pedang suci lagi, mungkin pedang legenda lebih cocok.'


Sebenarnya sejak menerima Garantia dari Luctas, Riyan belum pernah melihat seberapa kuat status pedangnya, maka dari itu ia terkejut begitu mengetahui seberapa besar kekuatan pedang yang ia genggam sekarang.


Berdasarkan pengetahuan yang ia dapat dari buku di perpustakaan istana Alivonia, pengelompokan senjata di landasi oleh status kekuatan senjata tersebut. Senjata umum biasanya memiliki kekuatan sekitar 4-80 poin ke atas dan tak memiliki efek sama sekali. Senjata spesial diisi oleh senjata-senjata yang berkekuatan 81-150 poin dan yang telah diisi efek. Sedangkan senjata berkekuatan 151-250 poin adalah senjata kelas atas yang biasanya dimiliki oleh bangsawan, harganya pun sangat mahal.


Di atas senjata kelas atas terdapat senjata suci sekelas dengan Pestras, mereka harus mempunyai kekuatan sekitar 251-350 poin untuk dapat dimasukkan ke dalam golongan ini. Senjata legenda, tingkatan senjata yang berada di atas senjata suci. Status kekuatan senjata dalam kelompok ini mencapai 351-450 poin, yang berarti Garantia adalah salah satunya.


Namun, masih ada senjata yang lebih kuat dibandingkan senjata legenda. Senjata ini sangat langka dan sedikit menurut buku. Sampai sekarang, hanya tiga buah dari mereka yang berhasil ditemukan dan ditelusuri. Senjata yang berada di kelompok ini disebut sebagai senjata dewa, karena kekuatannya memang sangat besar, seperti dewanya para senjata.


Syarat yang diharuskan agar dapat masuk ke dalam golongan ini adalah harus memiliki status kekuatan sebesar 450-700 poin. Perbedaan yang besar itulah yang membuat senjata-senjata tersebut dikatakan sebagai dewanya senjata. Tapi, kelompok ini hanyalah senjata yang dapat digenggam oleh seorang individu, diluar itu masih ada satu kelompok lagi, yakni senjata pemusnah.


Dikatakan di dalam buku, hanya ada tiga senjata pemusnah di dunia ini. Senjata ini dapat menghancurkan satu kerajaan besar seperti Alivonia hanya dengan satu serangan. Menurut cerita, ketiga senjata ini diciptakan oleh sebuah kerajaan dan diberi kekuatan langsung oleh para dewa. Untungnya, ketiga senjata itu bukanlah senjata normal yang dapat dibawa kemana-mana, mereka berupa senjata raksasa yang bahkan digambarkan lebih besar dari sebuah benteng kecil.


Senjata ini masih diperdebatkan keberadaannya karena belum ditemukan satu bukti pun yang mengklarifikasi kebenarannya, sehingga banyak yang menganggap ketiga senjata pemusnah tersebut hanya dongeng belaka. Deen, Ream, dan Liose, itulah nama dari senjata pemusnah.


   'Sepertinya Garantia harus kusimpan sebagai senjata rahasia dalam menghadapi iblis dan hewan iblis. Jujur saja, aku tidak ingin menarik perhatian dengan pedang legenda ini, terutama jika aku berhasil membunuh iblis dan mendapat julukan 'pembunuh iblis' kemudian terkenal, aku tak tahu harus kemana.'


Sambil mengucapkan itu dalam hatinya, Riyan kembali mengarahkan perhatiannya kepada sang hewan iblis yang terlihat sangat marah kali ini. Merasa terancam, [Bleidfyl] mengaktifkan [Flaming Coat] sehingga membuat seluruh bagian punggung hingga kaki terbakar api kuning kemerahan. Walau terbakar, parameter nyawanya takkan berkurang sedikit pun, karena [Flaming Coat] adalah salah satu skillnya dan tidak bersifat merugikan.


Graaa!!


   "Hah, sepertinya sudah waktunya permainan ini selesai."


Melontarkan kalimat tersebut, Riyan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke satu-satunya lawan yang ia hadapi. Ia mengkonsentrasikan mananya di telapak tangan, lalu membentuk bola hampa udara seukuran kerikil kecil, butuh perjuangan untuk menciptakan yang kecil ini. Tidak ingin membuang lebih banyak waktu, Riyan melesatkan bola hampa udara yang tercipta dari [Mana Burst] dan [Holf] yang pernah ia gunakan melawan Moarleth.

__ADS_1


Dengan cara yang sama dan tak disadari, serangannya tersebut sukses memasuki paru-paru [Bleidfyl]. Selang beberapa detik kemudian, sang hewan iblis itu meledak begitu saja tanpa tanda-tanda sebelumnya. Organ-organ dalam dan darah dari hewan iblis tersebut pun berceceran dimana-mana, bahkan sebagian besar cipratan darahnya merubah warna kereta kuda dari cokelat kayu, menjadi merah darah.


Menyaksikan apa yang baru saja terjadi, Siel, Daruth, para budak, dan petualang yang masih hidup tidak dapat berkata apa-apa saking terkejutnya. Hewan iblis yang begitu kuatnya sampai-sampai kesatria hebat pun kesulitan menanganinya, hanya dikalahkan oleh seorang pemuda dengan santainya. Di sisi lain, Riyan tersenyum puas atas kemenangan pertamanya di luar labirin.


__ADS_2