Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
17. Pertarungan di Dalam Ruangan


__ADS_3

Melihat apa yang harus ia lawan muncul dari lingkaran sihir, Riyan terkejut. Di depannya berdiri monster mengerikan, seekor naga undead. Keringat dingin merembes keluar melalui pori-porinya, tubuhnya gemetar ketakutan, pikiran dan instingnya memperingatkan dirinya untuk lari secara bersamaan, akan tetapi raganya sama sekali tak bisa bergerak.



"Ada apa, anak muda? Takut?"



Luctas membuat ekspresi meremehkan sambil bertanya pada Riyan, tapi lawan bicaranya tersebut tidak sanggup berkata apa-apa selain membelalakkan kedua matanya. Jika dibandingkan, kedua status mereka sangatlah berbeda, walau tak seperti Luctas. Tetap saja, naga undead adalah musuh yang sangat sangat mengerikan.



Dalam pandangan umum, seekor naga saja bisa menghancurkan sebuah desa dalam sekejap, apa jadinya jika naga yang dibangkitkan melalui sihir hitam menjadi monster undead? Benar, kekuatannya akan berlipat ganda dari sebelumnya.



Serangan dari seekor naga biasanya harus ditangani setidaknya oleh pasukan elit yang jumlahnya kurang lebih dari 50 personil. Tapi seekor naga undead dihadapkan pada seorang manusia? Mungkin orang-orang yang mendengar cerita ini akan menyebutnya lelucon, tetapi nyatanya kejadian tersebut benar-benar terjadi.



"[Appraisal]"



Bukan karena penasaran atau semacamnya, Riyan hanya ingin mengetahui seberapa jauh jarak statusnya dengan sang naga undead itu. Memang sangat tidak pantas dirinya menghadapi naga undead yang ada dihadapannya, tapi ia tak bisa lari lagi. Ia telah ditantang langsung oleh si penguasa labirin, Luctas Hadwin. Jika ia lari, hidupnya akan berakhir tanpa basa-basi.



---



Nama : Moarleth



Ras : Undead



Kelas : Pelahap, Penghancur



Level : 442



Nyawa : 128500/128500



Mana : ∞/∞



Kekuatan Fisik : 7900



Kekuatan Sihir : 2600



Ketahanan : 7200



Atribut : Kegelapan, Api, Ledakan



Skill : Fire Breath, Dark Force, Gale Burst, Strengthen, Iron Scale, Dark Spear, Spear Claw, Sharp Scale, Death Song, Gain Aura, Black Sky, Evil Eye, Quake Stamp



---



'Apa-apaan ini? Kenapa ada monster tersembunyi sekuat ini di dalam labirin!?'



Mengetahui status sang lawan, Riyan menjerit dalam hati. Apa yang harus ia hadapi sekarang adalah lawan terkuat yang pernah ia temui. Matanya bertatapan langsung dengan bola merah darah milik sang naga, energi kuat yang berasal dari sana membuat Riyan tak kuasa memandangnya lebih lama. Ia segera memalingkan perhatiannya menuju ke Luctas yang tengah tersenyum, seolah-olah menikmati reaksi Riyan.



"Bagus, takutlah di hadapannya sang pelahap kematian! Dengan ini kau takkan bisa lari dari takdirmu, nak!"



Ia membentangkan kedua tangannya ke atas sambil meneriakkan kata-kata tersebut agar rasa takut Riyan semakin berkecamuk lalu akhirnya pasrah akan kematian di depannya. Sayang sekali, ucapan seringan itu tidak bisa membuat Riyan bergeming. Justru sebaliknya, semangatnya tiba-tiba bangkit.



"Kau mengatakan takdir, kek? Maaf, aku tidak percaya hal semacam itu."



Riyan mencabut [Glayster] dari sarungnya dan membentuk kuda-kuda bertarung layaknya kesatria. Entah mengapa, rasa takutnya menghilang seketika dan digantikan oleh semangat yang dahsyat. Bahkan Luctas pun sampai terkejut melihat perubahan Riyan hanya dalam waktu kurang dari semenit.



"Kau tak takut padanya, Riyan? Moarleth jauh lebih kuat darimu, kau tahu?"



Setia dengan caranya, Luctas berusaha merobohkan dinding mental Riyan, tapi tidak mempan.



"Aku tahu, tapi..."



Riyan memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali, kali ini sorot matanya disertai kepercayaan diri dan semangat berkobar. Ia menatap lurus ke bola mata sang naga undead, Moarleth.



"Kalau kau menyebut takdir, aku takkan kalah darinya!"



Sambil meneriakkan itu, ia menjejakkan kakinya menerjang ke depan. Ia menggunakan taktik tua, 'siapa duluan, dia yang menang'. Walau begitu, sepertinya taktik tersebut takkan berpengaruh pada makhluk yang satu ini. Ia lawan yang terlalu kuat, bahkan bagi seorang jenderal besar Alivonia, Faleon Hazefaith.



Riyan berlari sekuat tenaga, menembus udara yang menjadi penghalang baginya. Mendapati Riyan menuju ke arahnya, Luctas melompat ke atas dan mendarat tepat di kepala Moarleth. Meskipun target utamanya melarikan diri dari pertarungan utama, Riyan sama sekali tidak kebingungan atau terkejut. Sebaliknya, ia mengincar sang naga, bukan si pemanggil. Ia berlari lurus ke kaki besar tersebut.



"Makan ini! [Mana Slash]!"



Ia mengerahkan [Mana Slash] sebelum mencapai jarak 5 meter dari targetnya. Gelombang mana biru melayang menebas kaki Moarleth secara telak. Tetapi tak ada sesuatu yang terjadi, bahkan goresan sedikit pun tidak. Sepertinya status ketahanannya itu bukanlah sekedar angka belaka.



"Kuat juga, kalau begitu..."


__ADS_1


Riyan menendang lantai dan melompat mundur, lalu mengangkat tangan kirinya ke atas, mengarah ke kepala si naga.



"Bagaimana kalau ini!? [Mana Burst]!"



Laser biru melesat menuju mata Moarleth. Karena mata adalah organ dalam yang sulit di lindungi, itu akan menjadi sasaran empuk bagi musuhnya, apalagi ukuran tubuh yang besar itu membuat dirinya mudah di serang menggunakan serangan jarak jauh.



Blaarr!!



Sebuah ledakan terjadi, tapi serangan [Mana Burst] barusan tidak membuat kerusakan yang berarti. Dari sekian banyak, parameter nyawanya hanya berkurang sekitar 20 poin. Jika dibandingkan dengan [Chimera], kekuatan [Mana Burst] memang sudah berkembang jauh, tapi lawannya kali ini memiliki status ketahanan yang jauh di luar nalar.



'Cih, hanya berkurang sedikit. Bagaimana aku bisa mengalahkannya?'



Tanpa membuang lebih banyak waktu, ia segera menyiapkan serangan berikutnya. Menggunakan [Mana Manipulation], ia mengeluarkan mananya dari dalam tubuh dan membentuknya menjadi bola seukuran bola pingpong. Bola-bola mana tersebut melayang di sekitar tubuhnya, lalu tak lama kemudian meluncur membelah udara secepat kilat, menyambar target yang sama, yakni bagian sekitar mata.



Setelah melepas serangan bola mana itu, ia kembali menerjang ke depan, selagi sang naga sibuk dengan gangguan di matanya. Sejak awal Riyan memang tak berniat untuk menjadikan serangan tadi sebagai benar-benar serangan, melainkan pengalih perhatian agar dirinya dapat mendekat.



"Percuma saja, Riyan! Undead seperti kami bisa merasakan perasaan-perasaan negatif yang ada di dalam makhluk hidup, kau tak bisa menutupi pandangannya!"



"Sialan!"



Riyan menghindari seragan kaki depan naga yang hendak menendang dirinya. Untunglah ia berhasil menghindar, jika tidak nyawanya akan melayang dalam sekejap. Sekarang posisinya berada tepat di bawah dada Moarleth yang bolong memperlihatkan tulang rusuk serta organ-organ dalamnya. Walaupun sudah busuk, organ seperti jantung, hati, dan lambung masih dapat di kenali.



Seperti yang dikatakan Luctas, ras undead memiliki kemampuan khusus yang dapat merasakan energi negatif, [Negative Sense]. Sama dengan sihir, kemampuan belum tentu skill, tapi skill adalah kemampuan. Inilah alasan mengapa di status Luctas dan Moarleth yang diperlihatkan [Appraisal] tidak tertulis [Negative Sense].



"Kalau begitu..."



Riyan menancapkan pedangnya ke salah satu kaki depan makhluk bersayap tersebut, lalu menyerap mana sebanyak mungkin seperti biasa. Untuk mengembalikan mana yang ia gunakan di serangan sebelumnya, ia harus mencuri mana dari makhluk lainnya agar lebih cepat. Memang pada dasarnya mana dapat kembali secara perlahan, tapi di pertarungan yang sangat berat sebelah ini, ia harus merusak tubuhnya seperti dua bulan lalu, saat berduel mati-matian melawan [Chimera].



"Hm? Apa yang kau lakukan?"



Dari kepala Moarleth, Luctas menanyakan hal tersebut dengan ekspresi kebingungan. Ia tidak pernah melihat seseorang yang melawan naga, menusukkan pedangnya sedalam mungkin dan terus menggeggamnya. Lagipula, ia tidak tahu apa kemampuan [Glayster] yang dapat merebut mana dari musuh yang ditusuknya.



Riyan sama sekali tak menjawab pertanyaannya, tetapi ia menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyum. Tidak mengatakan sepatah kata pun sebagai petunjuk jawaban dari pertanyaan Luctas, ia mengangkat tangan kirinya ke atas tanpa melepas tangan kanannya dari gagang Glay. Ia memusatkan mana ke telapak tangan kirinya yang ia angkat, sekaligus membentuknya menjadi sebuah bola seukuran bola sepak.



'Pengontrolan mana macam apa ini? Energi sihirnya dikumpulkan sampai padat di satu tempat seperti itu, siapa dia sebenarnya?'



Luctas yang merasakan kekuatan dahsyat dari [Mana Manipulation] milik Riyan hanya bisa tercengang. Entah apa yang membuatnya hingga tercengang, tapi satu-satunya yang pasti adalah berkat bola mana yang Riyan ciptakan. Tak lama kemudian, ia tersenyum mengetahui Riyan memiliki kekuatan sedahsyat ini.




"[Mana Burst]!"



Sebuah ledakan besar menghantam dada kosong Moarleth, sekaligus mengguncangkan lantai labirin. Getarannya memang tak sekuat gempa bumi, tapi dapat membuat monster-monster di lantai tersebut melarikan diri mencari tempat aman melalui insting liar mereka. Sebodoh-bodohnya makhluk hidup, mereka pasti memiliki insting agar bisa selamat. Jika tidak, mereka sudah punah sejak lama.



Saking besarnya ledakan yang dihasilkan [Mana Burst], tubuh besar sang naga undead tersebut sampai terangkat untuk sesaat, kemudian jatuh menggetarkan labirin sekali lagi. Untungnya Riyan telah menyingkir dari bawahnya sehingga ia tak gepeng tertindih.



'Belum, aku belum selesai.'



Sambil menggumamkan itu dalam hatinya, Riyan mengaktifkan [Overload]. Tubuhnya mengeluarkan asap putih yang berasal dari efek teknik originalnya. Otot-ototnya menegang merasakan aliran mana yang menguatkan setiap sel di dalamnya. Ketajaman Riyan juga meningkat, berkat [Sense] dan [Owl Vision] yang digabungkan.



Di waktu yang sama, mata serta otaknya bekerja lebih cepat dari biasanya. Pandangannya berlarian ke sana kemari menyusuri tubuh besar Moarleth, lalu otaknya mengolah informasi yang ditangkap dan secepat mungkin mencari kelemahan dari hasil pengamatannya. Ia yakin bahwa monster semengerikan Moarleth bisa ditaklukkan hanya dengan sekali serang, apalagi serangan selemah itu.



Tak sampai 5 detik, ia pun menemukan titik lemah lawannya. Ia segera menendang lantai dan melesat ke kepala sang naga, lalu menghujamkan sebuah tusukan pada bola mata Moarleth sebelah kiri. Bahkan Luctas yang memiliki level dan status jauh berbeda dari Riyan, tidak bisa melihat pergerakan manusia tersebut.



"Grooaa!!"



Mendapat serangan tajam dari Riyan, Moarleth pun segera bangkit dari posisi terkaparnya di lantai dan meraung mengisi ruang-ruang dan lorong-lorong labirin dengan suaranya yang nyaring nan menyakitkan. Karena tidak menduga hal ini terjadi, Riyan terbawa naik ke atas bersama pedangnya yang masih ia genggam tanpa mencabutnya terlebih dahulu.



Luctas yang merupakan majikan Moarleth, secara teknis, pun terkejut hewan panggilannya tersebut meraung penuh kesakitan. Undead memang ras yang terbentuk dari makhluk hidup yang telah mati, tetapi bukan berarti mereka tidak dapat merasakan sakit. Mereka sama halnya seperti makhluk hidup lainnya, hanya saja mana mereka tak terbatas dan tubuh mereka telah membusuk.



Umumnya, undead tercipta dikarenakan tiga hal, yakni terserapnya mana ke dalam tubuh mati, dibangkitkan menggunakan sihir beratribut kegelapan, dan membuat dirinya sendiri menjadi undead dengan sihir kegelapan. Selain ketiga hal tersebut, ada juga beberapa kondisi tertentu terciptanya undead yang tak diketahui mengapa bisa terjadi, contohnya keinginan kuat dari seseorang yang sekarat untuk hidup.



Ketika seseorang mengalami keadaan dipertengahan hidup dan mati, keinginan dan harapan hidup mereka akan berpengaruh pada hal ini. Jika ia memiliki keinginan dan harapan hidup yang kuat, maka ia bisa hidup kembali dalam bentuk undead. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka orang tersebut akan benar-benar mati. Kondisi ini hanya berlaku saat sekarat, tidak untuk keadaan yang langsung mati.



"Aku belum selesai!"



Riyan tiba-tiba mengerahkan sejumlah besar mana kepada Glay menggunakan [Mana Manipulation], sehingga mengeluarkan aura berwarna biru transparan. Dengan aura tersebut, daripada mencabut pedangnya dari mata sang naga, ia lebih memilih untuk menggerakkannya secara horizontal hingga terlepas sambil menendang agar dapat menjauh.



"Graaaaa!!"



Ketika kedua kakinya mencapai tanah tanpa masalah, raungan kasar yang dapat memekakkan telinga kembali terdengar hingga mengguncangkan seluruh isi labirin. Sekali lagi, Luctas dikejutkan oleh tindakan pemuda ini. Ia tak pernah mengira bahwa Riyan mengerahkan serangan dalam posisi seperti itu, karena biasanya seorang kesatria akan langsung menarik pedangnya saat tertancap di suatu tempat.



"Belum! [Mana Burst]!"

__ADS_1



Dari tempatnya berdiri, Riyan segera mengangkat tangan kirinya dan meluncurkan beberapa bola mana berukuran sedang menuju Luctas yang berada di kepala sang naga. Sayangnya, Luctas telah mengetahui hal ini pasti terjadi cepat atau lambat. Undead tua itu segera mengangkat tangan kanannya dan mengerahkan salah satu skillnya.



"[Thunder Branch]"



Bzzztt!



Tanpa perlawanan, semua bola mana yang dikerahkan habis tak tersisa, dilenyapkan oleh skill beratribut petir dari sang penguasa labirin. Riyan yang menyaksikan hal ini hanya bisa tercengang, mengetahui bola mana berdaya hancur cukup kuat yang ia ciptakan lenyap begitu saja oleh undead tua tersebut.



'Sial, bagaimana caraku menang melawan dua pasangan undead yang terlalu mengerikan ini? Saat ini aku masih di level 66, sedangkan mereka berada di level 865 dan 442. Berarti bisa dikatakan, sekarang aku sedang menghadapi monster berlevel 1200-an.'



Walaupun memiliki [Comprehension], terkadang Riyan juga bisa memikirkan hal-hal konyol dan bertindak bodoh. Entah apa yang ia pikirkan saat ini sehingga tak takut akan kekalahan dan kematian, yang pasti ia tidak berniat untuk mati. Karena jika ia mati di labirin ini, tujuannya takkan tercapai.



'Hebat, bahkan mengerahkan serangan menggunakan mana murni secepat itu di levelnya, dia memang pantas mencapai lantai keenam ini.'



Di sisi lain, Luctas merasa kagum atas serangan [Mana Burst] yang dilancarkan Riyan sesaat tadi. Bibirnya menyunggingkan senyuman bersemangat menyaksikan kemampuan pemuda yang ada dihadapannya ini.



"Ayo, yang semangat, Moarleth!"



"Graao!"



Sinkronisasi hewan panggilan, setiap majikan dapat berkomunikasi dengan hewan panggilannya. [Summon Undead] adalah skill atau sihir khusus yang bisa memanggil ras monster undead yang telah dibangkitkan, dan hanya seseorang beratribut kegelapan sajalah yang memiliki kemungkinan untuk mempelajari skill atau sihir ini. Sistemnya sama seperti [Summon], sebuah sihir sekaligus skill yang dapat memanggil hewan panggilan yang telah dijinakkan.



Setelah tenang, Moarleth memandang Riyan sang manusia dengan mata kanannya, satu-satunya alat penglihatannya yang masih berfungsi. Naga undead tersebut tampak kesal tingkat tinggi mengetahui ada seorang manusia yang berhasil melukainya, bahkan merebut salah satu bagian dari indra terpenting bagi makhluk hidup maupun undead.



Tanpa basa-basi, Moarleth mengerahkan skill beratribut apinya, [Fire Breath]. Semburan nafas api itu mengarah langsung kepada Riyan yang tengah berdiri menantikan kesempatan. Menyadari kumpulan api sedang melesat ke arahnya, secara refleks ia melompat ke belakang untuk menghindar. Tapi percuma, sang naga hanya mengangkat sedikit dagunya dan serangan api tersebut kembali melesat menuju dirinya.



"Kalau tak bisa dihindari, maka bertahanlah. [Mana Shield]!"



Di depan Riyan terbentuk perisai berwarna biru transparan. Perisai itu menahan semburan api dari Moarleth sementara ia masih melayang di udara, menunggu kedua kakinya menyentuh lantai. Belum sempat mendarat, perisai mana milik Riyan mulai retak akibat kekuatan api lawannya. Sesaat kemudian, satu-satunya perisai yang ia miliki hancur hingga berkeping-keping.



'Si-sialan!'



Zooaarrr!!



Karena tak bisa menghindar, akhirnya Riyan pun terkena serangan telak dari sang naga undead, Moarleth. Saking kuatnya, bahkan pintu pembatas ruangan dan lorong lantai keenam labirin Hexaphilia ini hancur dibuatnya. Puas menyemburkan apinya, [Fire Breath] dihentikan olehnya dan suhu udara kembali normal.



"Moarleth, kau berlebihan! Lihatlah, Riyan terbakar sampai menjadi abu karena apimu! Lalu kau juga merusak pintu masuk yang keren itu! Ah, padahal aku belum pernah melihat pintu itu rusak sedikit pun!"



"Grrhh..."



"Ya, sebaiknya kau harus membantuku memperbaikinya, kalau tidak kau akan kuhukum."



Setelah mengancam hewan panggilannya, Luctas turun dari kepala Moarleth dan mendarat di lantai tanpa khawatir encoknya kambuh. Karena ia adalah undead, penyakit tulang seperti itu takkan mengganggu. Justru kebalikannya, tulang akan semakin kuat saat menjadi undead, terutama yang dulunya manusia.



"Ah, padahal setelah sekian lama bisa mengobrol, ternyata kebahagiaan memang hanya bertahan sesaat saja."



Sambil mengeluhkan akibat serangan berlebihan dari Moarleth, ia menghela nafas merasa kecewa. Padahal ia baru saja mendapat teman selama lebih 2 milenium berkutat pada kesendiriannya seorang, harus kehilangan satu-satunya manusia yang dapat ia ajak mengobrol. Ia menepukkan tangannya ke depan dada dan membungkuk memberi hormat.



"Terima kasih telah menghiburku di waktu yang sangat sebentar ini, Riyan Klaint."



Selesai memberi hormat, ia membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kakinya menuju singgasana yang sejak tadi kosong tak berpenghuni. Namun, beberapa langkah kemudian langkahnya terhenti begitu mendengar sebuah suara tak lazim dari arah pintu. Ia segera menoleh dan memperhatikan daerah pintu masuk yang hancur untuk memastikan, Moarleth pun melakukan hal yang sama.



Graakk!!



Tak diduga-duga, puing-puing runtuhan pintu masuk tersebut meledak, membuat kedua undead tersebut terkejut. Selang beberapa detik kemudian, terlihatlah sesosok makhluk yang dikelilingi aura kuat dan asap putih tengah berdiri tegak di sana. Mata Luctas secara otomatis terbelalak, lalu bibirnya perlahan-lahan melengkung membentuk senyuman.



"Aku... belum mati..."



Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Riyan Klaint, manusia yang dikira telah mati oleh Luctas. Ia berdiri bersama tubuhnya yang bersimbah darah merah dan luka-luka yang dapat dikatakan cukup parah. Walau menderita cedera parah, semangatnya sangat bertentangan dengan kondisi badannya.



"Petarungannya... masih berlanjut."



Ia mengangkat Glay menggunakan tangan kanannya dan membentuk kuda-kuda bertarung tanpa mempedulikan keadaan raganya. Luctas pun kembali bersemangat sehingga ia langsung melompat ke kepala Moarleth dan berniat melanjutkan pertarungan yang sangat tidak adil ini.



"Itu benar, Riyan Klaint. Pertarungan ini belum selesai!"



"Graaa!!"



"Ya, dan akulah yang akan menang..."



Tidak ada keraguan, rasa takut, maupun perasaan negatif lainnya yang terpancar dari Riyan. Hanya keyakinan, kepercayaan, tekad, dan keinginan untuk hidup yang berkobar dihatinya. Hal itu membuat Luctas terkejut bukan main. Lawannya setelah sekian ratus tahun ini adalah lawan yang benar-benar patut diperhitungkan.

__ADS_1


__ADS_2