
Setelah sekitar dua jam tertidur di bawah pohon karea lelah, Riyan memutuskan untuk bangun dan meneruskan perjalanannya menuju benua Tendo. Walau memiliki status yang luar biasa kuat, semua orang memiliki stamina yang terbatas, meski ia adalah pahlawan sekalipun. Sambil duduk dan menyandarkan punggungnya di batang pohon, ia melihat ke jalan tanah yang ia tapak barusan yang tak jauh dari tempatnya.
'Apa tidak ada payung di dunia ini? Panasnya bukan main, bisa mati karena kepanasan aku.'
Mengeluhkan itu dalam hatinya, Riyan menutup mata sesudah melihat uap panas yang mengamuk di sekitarnya. Dengan suhu udara yang begitu panas, keringatnya merembes keluar dari setiap pori-pori dan mulai membanjiri badannya, ditambah jubah berwarna gelap yang menyerap panas.
Di lantai terdalam labirin Hexaphilia, suhunya sangatlah rendah bagi orang yang tidak terbiasa hawa dingin. Untungnya, Riyan bisa beradaptasi dengan cepat sehingga terhindar dari kematian akibat hipotermia berkepanjangan.
(Catatan : Hipotermia : Suhu tubuh rendah)
Menyadari tenggorokannya mulai mengering kembali, ia mengambil tasnya dan mencari botol air minum yang telah terisi di kota Lasfile. Ketika ia mendapatkan botol tersebut, ia menariknya keluar dan segera meminumnya. Tapi, apa yang ia dapatkan hanyalah dua tetes air di bibirnya.
'Sudah habis? Kau bercanda?'
Ia terkejut begitu mengetahui bekal air minumnya telah habis tak tersisa. Saking terkejutnya, tanpa sadar Riyan memasang wajah aneh yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Mungkin karena di dalam labirin terdapat sebuah danau dengan volume air berkecukupan, Riyan tak memperkirakan jumlah air yang dikonsumsinya setiap hari, sehingga tidak sadar akan hal ini.
'Gawat, aku harus mencari sungai atau sumber mata air terdekat. Dalam cuaca super panas ini, tidak ada air sangatlah fatal. Aku tidak boleh beristirahat lebih dari ini, aku perlu air minum!'
Ia memberi semangat pada diriya sendiri dalam hati agar tubuhnya mengabaikan rasa lelah dan mulai berjalan mencari sumber air. Memang panasnya tidak seberapa jika dibandingkan gurun pasir, tapi Riyan terbiasa di lantai terdalam labirin yang bersuhu dingin selama sekitar tiga bulan. Oleh karena itu, ia tidak tahan terhadap panas. Ia membutuhkan waktu agar terbiasa dengan permukaan.
Riyan pun bangkit dari tempatnya duduk, lalu kembali berjalan menyusuri jalan menuju arah selatan. Walaupun tidak memiliki peta, tapi ia cukup yakin pada ingatannya yang mengatakan benua Tendo berada di sebelah selatan Alivonia, meski dirinya tak yakin berapa lama waktu yang harus ia tempuh demi mencapai tujuannya.
Di kota Lasfile, terdapat rombongan kereta kuda besar yang hendak keluar dari kota melalui gerbang barat. Di antara rombongan kereta kuda tersebut, ada dua kereta yang membawa kotak berjeruji besi besar mirip kandang di belakang. Lalu di dalam kandang itu, duduklah manusia-manusia berbaju lusuh yang lehernya dipasangi kalung hitam.
Benar, manusia yang berada di dalam kandang tersebut adalah budak. Di dunia ini, kegiatan perbudakan merupakan hal wajar dan dilegalkan oleh seluruh kerajaan. Meski dikatakan budak, ada hukum resmi tentang budak yang harus dipatuhi setiap pedagang dan pemilik budak.
Satu, budak harus diperlakukan secara manusiawi. Dua, makanan budak masih berupa makanan layak. Tiga, memiliki surat kepemilikan budak. Empat, budak tidak boleh menerima penyiksaan tanpa alasan jelas. Lima, budak tidak boleh disiksa sampai mati atau salah satu anggota tubuh atau indranya kehilangan fungsi.
Sebelum itu, budak terbagi menjadi beberapa kualitas. Pembagian kualitas budak tersebut dapat diketahui dengan kualifikasi budak.
Satu, budak harus memakai kalung budak di lehernya. Dua, bersedia menuruti setiap perkataan tuannya. Tiga, harus menerima seluruh perlakuan yang diperbuat oleh tuannya. Empat, mampu melindungi tuannya dari segala bahaya dan ancaman, walaupun mengorbankan nyawanya sendiri. Lima, dapat membantu seluruh kesulitan tuannya.
Ketika calon budak hanya memenuhi poin satu dan/atau dua, maka budak itu adalah budak kelas rendah. Lolos tiga poin, budak kelas biasa. Sedangkan yang lolos poin keempat dan/atau kelima adalah budak kelas tinggi.
Seperti itulah hukum dan kualifikasi budak resmi dari kelima kerajaan besar. Jika ada seorang budak yang tidak menuruti perkataan atau berniat menyakiti tuannya, ia akan menerima rasa sakit dari tanda budak di tubuhnya. Saat seseorang dijadikan budak, tubuhnya akan diberi sebuah tanda dengan sihir dan tanda tersebut adalah wujud ikatan kontrak antara si budak dan majikan.
Selain para budak dan pedagang budak, terdapat beberapa orang lainnya yang berada di kereta masing-masing. Dilihat dari angkutan yang mereka bawa, dapat diketahui bahwa rombongan kereta kuda tersebut adalah rombongan pedagang keliling. Meski kelihatannya rombongan, sebenarnya pemilik seluruh kereta kuda ini, kecuali dua kereta pedagang budak, hanya satu. Jika dijumlahkan, ada sekitar lima kereta yang berada di barisan, termasuk kereta pedagang budak.
Kereta kuda terdepan dan terbelakang adalah kereta yang mengangkut petualang yang disewa oleh sang pedagang keliling. Kereta kuda yang ada ditengah berisi benda-benda yang dijual olehnya, perhiasan dan batu mulia. Sepertinya pedagang keliling yang satu ini sangat kaya hingga menyewa beberapa petualang hingga memenuhi dua kereta kuda besar.
"Siel, karena kau sudah kuberi perlindungan dengan para petualang ini, paling tidak juallah satu budakmu padaku dengan diskon 90%."
"Aku tahu kalau kita sudah berteman sejak lama, tapi entah mengapa sifatmu yang satu ini tidak berubah sejak dulu, Daruth?"
"Utang dibalas untung! Itu motoku, hahaha!"
Sambil mengatakan itu, pedagang kaya yang bernama Daruth tertawa keras membalas Siel, pedagang budak yang menjadi bagian dalam perjalanannya. Daruth adalah seorang pedagang perhiasan keliling yang cukup terkenal atas kualitas barang dagangannya, sedangkan Siel seorang pedagang budak yang suka bersembunyi di balik gang-gang kota.
"Ayolah, kau harus memberi sedikit kompensiasi karena masalah keamanan yang terjamin ini. Pedagang budak juga cukup sering diincar oleh bandit, bukan? Maka kau harus membayar jasa kemanannya juga."
"Ya ya, nanti akan kuberi sekeping emas."
"Pelit banget! Kau tahu, seluruh petualang yang kusewa ini bernilai lima perak setiap kepalanya! Jangan pelit seperti itu dong!"
"Hah... tiga emas?"
__ADS_1
"Nah, begitu dong!"
'Orang ini mau memerasku ya!?'
Mengeluhkan itu dalam hatinya, muncul urat biru di pelipis Siel. Meski kesal, mau tidak mau ia harus membayarnya karena ia berada di bawah perlindungan para petualang yang Daruth sewa sebagai penjaga selama perjalanan mereka sampai ke kota Flerm, sebuah kota yang berjarak sekitar lima hari menggunakan kereta kuda dari Lasfile.
Lima hari lima malam, dalam waktu selama itu tidak ada yang dapat menduga kapan bahaya akan menerjang mereka. Siel pun mengalah demi keamanan dirinya serta budak-budak yang ingin dijualnya di sebuah kota yang berbeda dari tujuan Daruth.
"Ngomong-ngomong Siel, kenapa kau menjadi pedagang budak?"
"Kenapa? Mereka mudah di dapat dan untungnya juga besar. Budak dengan kualitas paling rendah saja bernilai tujuh emas, apalagi kualitas tertinggi, kau bisa kaya mendadak berkat satu orang saja."
Daruth mengangguk mendengar jawaban Siel yang mengunggah naluri bisnisnya. Sepertinya ia tidak sadar kalau perhiasan dan batu mulia yang terdapat di keretanya itu paling rendah senilai delapan keping perak.
"Darimana kau mendapatkan budak-budak ini?"
"Biasanya aku menemukan mereka berkeliaran di kota atau di alam liar dalam keadaan menyedihkan, tapi tak jarang juga ada orang tua yang menjual anaknya padaku demi membayar utangnya."
Sekali lagi, Daruth mengangguk atas penjelasan Siel. Kali ini, ekspresi tertariknya dilengkapi dengan jari kanan yang bermain di dagunya.
"Hm, sepertinya aku juga harus memulai bisnis budak nih."
"Hei, kau itu sudah super kaya! Jangan buat aku terlihat lebih menyedihkan lagi!"
Daruth pun tertawa ketika Siel berteriak melarangnya menjalankan bisnis budak. Sebagai seorang pedagang, Siel tidak ingin saingannya bertambah, terutama saat seorang super kaya yang hendak merubah bisnisnya menjadi pedagang budak. Di sisi lain, Siel mendengus kesal melihat teman lamanya itu menertawakan dirinya.
Meski berada di kereta yang terpisah, entah mengapa mereka bisa mengobrol dengan santainya tanpa mempedulikan jika suara mereka terdengar oleh sekawanan bandit atau monster terdekat. Mungkin karena adanya para petualang yang siap menjaga mereka dari serangan apapun, mereka tak mempedulikan itu sama sekali.
"Tuan Daruth, sepertinya kita kedatangan tamu."
Salah satu petualang yang berada di kereta terdepat pun berdiri dari tempat duduknya dan melaporkan situasi yang segera mereka hadapi dalam beberapa saat ke depan.
"Bandit atau monster?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
Di saat itu pula, kelima kereta kuda berhenti dan para petualang turun dari kereta yang ditumpanginya. Mereka mengambil senjata mereka masing-masing dan bersiap menghadapi bahaya dari sisi kanan mereka yang hanya terhampar padang rumput luas. Kebanyakan petualang yang disewa oleh Daruth memakai senjata dan petarung jarak dekat, tapi ada beberapa yang memakai sihir dan tongkat sihir sebagai senjatanya.
Selang dua puluh detik, terlihatlah sesosok makhluk berukuran cukup besar yang tengah berlari ke arah mereka. Semakin mendekat, semakin jelas pula sosok tersebut, dan semakin siaplah para petualang untuk menghabisi makhluk yang ada jauh di depan mereka. Tak lama kemudian, wujud sosok itu terungkap secara sempurna dan membuat para petualang terkejut.
"M-monster itu!?"
"Ke-kenapa? Kenapa ada monster itu di sini!?
Mereka panik seketika saat melihat wujud monster yang akan mereka hadapi. Tubuh mereka bergemetar karena takut, bahkan ada yang sampai jatuh dibuatnya. Walaupun tidak ada satupun dari mereka yang lari, tapi semua rasa takut di sana terkumpul menjadi satu dan membuat aura penuh ketakutan terasa dahsyat.
"He-hew-hewan iblis!!"
Mendengar itu, Daruth dan Siel, serta seluruh budak yang terdapat di kereta, tiba-tiba merasa takut dan panik yang luar biasa. Tentu saja, siapa yang tidak takut mendengar hewan iblis? Hewan iblis digadang-gadang memiliki kekuatan luar biasa yang bahkan kesatria hebat sekalipun kesulitan dalam menangani seekor saja.
Hewan iblis adalah ras monster yang telah terkontaminasi mana kotor. Kejadian ini mirip seperti monster yang telah mati, lalu menyerap mana sehingga menjadi undead. Berbeda dengan undead, hewan iblis menyerap mana atau energi kotor dari alam sekitar sehingga membuatnya menjadi seekor monster yang sangat sangat kuat.
"He-hei, para petualang sekalian, kalian bisa melindungi kami, kan?"
Daruth bertanya dari kursi kusir keretanya kepada petualang yang ia sewa untuk masalah kemananannya. Karena terlalu takut, para petualang tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang yang menyewa mereka. Di saat itulah, Daruth menyadari bahwa dirinya dan semua orang yang berada di rombongan ini akan segera mati.
__ADS_1
Grooaa!!
Raungan sang monster terdengar keras dari jarak sekitar 200 meter, membuat rasa takut mereka kembali bertambah dan bertambah. Meski begitu, ada beberapa petualang yang masih berdiri dengan senjata di tangan mereka menahan rasa takut. Perlu kekuatan mental yang sangat besar agar bisa tetap berdiri menghadapi kekuatan yang jauh diluar nalar.
"Hoi, petualang pengecut! Kalian sudah kusewa sebagai penjaga, jangan kalian lupakan itu! Kalau kalian bisa mengalahkan monster di depan sana, akan kuberi kalian masing-masing lima keping emas!"
Mendengar itu, para petualang yang tadinya terduduk di atas tanah karena terlalu takut, mulai bangkit dan semangat mereka tiba-tiba membara. Bagi petualang yang bertujuan mencari nafkah seperti mereka, nilai lima keping emas sangatlah besar. Dengan jumlah itu, mereka dapat hidup tenang selama lima bulan tanpa harus membahayakan nyawa mereka lagi ketika menyelesaikan permintaan perburuan monster dari pihak serikat. Tapi, sepertinya ada beberapa yang tidak termakan bujukan tersebut dan memilih bersembunyi di dalam kereta beratap tersebut.
"Lima keping emas, lima keping emas, lima keping emas!!"
"Minum bir sepuasnya!!"
Sambil meneriakkan itu ke langit, para petualang yang tadinya ketakutan, sekarang bersiap untuk menghadapi hewan iblis yang saat ini berjarak sekitar 40 meter dari tempat mereka berdiri. Di sisi lain, Siel hanya diam ketakutan meratapi nasib yang akan melahap dirinya hingga ke tulang-tulangnya, begitu pula para budak yang terkurung di dalam kandang di belakangnya.
Wujud si hewan iblis terlihat seperti makhluk bertubuh rusa, berkaki kuda, dan berkepala serigala, lalu terdapat berbagai kristal ungu gelap yang memenuhi punggungnya. Ukuran hewan iblis ini sekitar dua kali lebih besar dari kuda biasa. Walau tak terlalu besar, entah mengapa tanah dapat bergetar hebat, mungkin itu adalah salah satu sihir yang dimilikinya.
Kebanyakan hewan iblis adalah ras monster hybrid yang memiliki kekuatan di atas rata-rata monster pada umumnya. Ras monster hybrid terkenal sangat sulit dihadapi karena beberapa jenis makhluk hidup bergabung dalam satu badan, sehingga gerakan dan kekuatannya tidak bisa diprediksi, walau tak sesulit hewan iblis.
"Maju!!"
Salah satu petualang yang termakan bujukan uang Daruth berlari ke depan dengan gagah berani, diikuti beberapa petualang lain yang juga telah buta. Di sisi lain, mereka yang sadar dan waras, masih terdiam sekaligus terkejut melihat petualang yang buta karena uang.
'Apa para petualang ini tidak ada yang waras!? Hanya karena diingin-ingini uang, mereka langsung bersemangat melawan hewan iblis yang bahkan kesatria hebat saja kesulitan menghadapinya!?'
Sambil berteriak di dalam hatinya, Siel mengambil pedang pendek yang ia bawa di dekat kakinya untuk saat darurat. Memang ia bukanlah seorang kesatria, tapi di dunia ini senjata termasuk kebutuhan sekunder yang wajib dipenuhi setelah tiga kebutuhan primer terpenuhi agar dapat membela diri dari ancaman sekecil apapun.
Tidak memakan banyak waktu, seluruh petualang yang maju menghadapi hewan iblis tersebut, habis tanpa memberi perlawanan berarti. Ada sekitar tiga belas orang petualang yang maju membabi buta dan mereka semua tewas dalam keadaan mengenaskan. Beberapa kepalanya tercabik-cabik, perut dan dada bolong akibat tendangan sang musuh, lalu anggota tubuh seperti kaki dan tangan dimakan secara sadis. Selain itu, organ dalam manusia juga berceceran di sana sini.
Semua yang menyaksikan tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu, mau itu Daruth, Siel, ataupun tiga petualang yang masih tersisa. Mereka hanya terdiam melihat pembantaian sadis yang tidak sampai semenit dilakukan oleh si hewan iblis berkepala serigala, berbadan rusa, dan berkaki kuda ini.
Tiga petualang yang masih tersisa tetap berdiri di sisi kanan kereta, meski merasa sangat ketakutan. Mereka tahu bahwa petualang adalah profesi yang mempertaruhkan nyawa setiap kali bekerja, tapi sepertinya mereka tak menyangka kematian akan datang secepat ini.
Kemudian, sang hewan iblis tersebut tersadar bahwa masih ada mangsa yang dapat ia santap. Ia pun melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit mendekati kereta kuda yang ditumpangi Siel dan Daruth. Ketiga petualang yang tadinya berdiri ketakutan, celana mereka telah basah dikarenakan cairan sisa metabolisme mereka merembes keluar, dengan kata lain mereka sudah benar-benar pasrah.
"S-Siel, karena ini adalah s-saat terakhir kita, ad-ada yang ingin ku-kusampaikan padamu se-sejak dulu."
"Hu-huh? Apa i-itu?"
"M-maafkan aku! Du-dulu akulah yang s-sering mencu-curi pakaian d-da-dalammu!!"
"A-apa!? Di saat seperti ini, k-kau masih membicarakan hal i-itu!?"
"Paling tidak aku tak ingin mati dalam keadaan menyesal!!"
Perlu diketahui, Siel yang merupakan pedagang budak itu adalah seorang wanita cantik berambut ungu muda pendek setelinga dan bermata biru cerah. Meski berparas cantik, ia tak memanfaatkan kelebihannya tersebut untuk mencari uang dengan cara menjual tubuhnya, ia wanita yang cukup keras pada dirinya sendiri.
Mendengar pengakuan sekaligus penyesalan dari teman lamanya, Siel pun merasa sangat malu. Tetapi, rasa malu itu segera ditimbun oleh ketakutan yang luar biasa dari hewan iblis yang ada di sebelah kanan kereta kuda mereka. Semakin mendekat, hewan iblis tersebut menjilat moncongnya sendiri untuk membersihkan noda darah yang menempel.
Raut wajah putus asa tergambar jelas di wajah Siel dan seluruh orang yang ada di sana. Satu-satunya harapan mereka adalah keajaiban yang turun dari langit, misalnya saja seorang kesatria hebat datang menyelamatkan mereka. Sayangnya, mereka sudah terlalu jauh dari kota Lasfile untuk berharap akan mukzizat itu.
Siel pun menutup rapat matanya dan pasrah atas kehendak dewa.
'Habis... sudah...'
"Permisi, apa kalian memiliki air minum?"
Di tengah situasi mencengkam nan mengerikan tersebut, terdengarlah suara seseorang dari belakang kereta. Mereka semua yang ada di sana terkejut dan langsung menoleh ke arah datangnya suara itu, bahkan sang hewan iblis juga mengeluarkan reaksi yang sama. Ketika melihat ke belakang kereta yang ditumpangi Siel dan para budaknya, mereka terkejut.
__ADS_1
Di sana terlihat seorang pemuda berambut hitam yang tubuhnya diselimuti jubah bertudung berwarna cokelat tua mendekati hitam dan dipunggungnya terdapat dua buah pedang yang saling bertumpuk. Ia terlihat sangat lelah dan wajahnya mengeluarkan banyak keringat, lalu nafasnya juga cukup kacau akibat berlari sekencang mungkin.
Sosok pemuda berambut hitam yang ditutupi jubah cokelat tua tersebut tak lain dan tak bukan adalah Riyan Klaint, seorang pahlawan yang dipanggil dari dunia lain, yang berlari sekencang mungkin ketika melihat rombongan kereta kuda Daruth dan Siel demi meminta sedikit air minum.