
Dua bulan telah berlalu semenjak terjatuhnya Riyan ke dalam jurang, yang berhubungan langsung dengan lantai 6. Hampir seluruh bagian dari tubuh serta kepribadiannya berubah. Badannya menjadi sedikit lebih tinggi, otot-ototnya membengkak sehingga terlihat jelas dari balik baju, bahkan statusnya juga.
Dengan pedangnya, ia memisahkan kepala seekor [Heavy Kobold] dari tubuhnya dalam satu tebasan. Suara jatuh dan kematian terdengar jelas di telinga Riyan. Berhasil menyelesaikan perburuan pada hari ini, ia menyarungkan senjatanya ke dalam sarungnya, lalu mengambil pisau yang terbuat dari taring [Chimera] untuk memotong daging makhluk yang terlihat seperti anjing besar yang berjalan layaknya manusia.
[Kobold] adalah salah satu ras monster yang berpenampilan seperti anjing, tetapi memiliki tubuh yang persis seperti manusia, hanya sedikit lebih besar. Berbeda dari ras [Kobold] pada umumnya, badan [Heavy Kobold] beberapa kali lebih besar dan seluruh statusnya berada jauh di atas rata-rata.
"Sepertinya makan malam telah siap. Baiklah, selamat makan."
Setelah menguliti dan memotong dagingnya, Riyan langsung melahapnya tanpa ragu-ragu. Memang menjijikkan bagi makhluk hidup modern seperti dirinya memakan daging mentah, tetapi hal ini harus ia lakukan demi mempertahankan hidupnya. Untuk minum, ia menemukan sebuah danau kecil di lantai itu pada hari keempat. Sebelumnya, ia harus meminum darah dari setiap makhluk yang ia bunuh.
Dalam dua bulan ini, ia telah melalui masa-masa yang mengerikan. Walaupun statusnya berubah, tetap saja ia kesulitan bertahan hidup sendirian, apalagi lantai ini dipenuhi oleh monster-monster berkelas penghancur dan mimpi buruk, wajar jika ia memakan daging mentah agar bisa bertahan hidup. Lagipula, ia tidak bisa membuat api karena tak ada ranting atau kayu satu pun yang dapat dibakar.
Penampilan Riyan berubah drastis, terutama di bagian rambutnya. Sedikit demi sedikit, rambutnya mulai memutih karena terus ditekan oleh stres dan rasa kesepian. Benar memutih, tapi itu hanya di beberapa tempat saja. Saking kesepiannya, bahkan ia pernah beberapa kali berbicara dengan pedangnya dan mayat monster.
"Huaa, kenyang kenyang."
Sambil memukul perutnya beberapa kali, ia melontarkan kata-kata tersebut sesantai mungkin. Meskipun santai, ia tetap mengaktifkan [Sense]-nya guna mendeteksi adanya monster lain di dekatnya. Dengan skill ini, ia menjadi lebih awas terhadap sekitarnya.
[Sense] adalah sebuah skill pasif yang didapat oleh Riyan karena terus waspada terhadap lingkungannya. Kelima indranya semakin kuat dalam mendeteksi hawa keberadaan makhluk hidup maupun undead. Skill ini benar-benar cocok bagi seseorang sepertinya yang selalu bersembunyi di balik bayangan, lalu menerkam mangsanya layaknya seekor harimau.
Merasa kenyang, rasa kantuk mulai menyerangnya. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke pinggiran danau, tempat dimana ia menetap sekarang. Ketika sampai di pinggiran danau, ia melihat beberapa [Cave Goblin] hendak meminum air dari danau. Melihat hal tersebut, Riyan langsung menarik pedangnya dan membunuh mereka satu persatu, kemudian menguliti kulit mereka.
Menurut Riyan, kulit dari makhluk hidup sangatlah hangat dan nyaman, jika dibandingkan dengan lantai batu yang keras. Ia mengumpulkan kulit agar dapat membuat semacam alas tidur yang empuk seperti kasur. Sekalipun dulunya ia hanyalah seorang anak SMA biasa, ia tahu bagaimana cara bertahan hidup pada saat darurat, melalui insting.
Selesai mencuci kulit [Cave Goblin] yang ia kumpulkan di danau, ia memasuki sebuah gua yang sangat kecil, bahkan tidak cukup seseorang masuk ke dalam sepenuhnya jika berdiri. Ia masuk dengan cara merayap, saking kecilnya mulut gua tersebut. Di dalam, terdapat kulit-kulit monster yang ia bawa dan dijadikan karpet atau alas tidur.
Benar, gua itu adalah rumahnya. Sebagai seorang manusia biasa, ia harus bertahan hidup memakai apa yang tersedia di alam.
Ia meletakkan kulit [Cave Goblin] dan segala perlengkapan bertarungnya di dinding gua, lalu berbaring di atas karpet sambil memandang langit-langit batu gua. Ia berpikir, bagaimana caranya keluar dari labirin Hexaphlia. Pada akhirnya, ia menyerah dan akan berkeliling lantai ini sekali lagi.
"Status."
---
Nama : Riyan Klaint
Ras : Manusia
Kelas : Penduduk
Level : 51
Nyawa : 265/380
Mana : 79/345
Kekuatan Fisik : 360
Kekuatan Sihir : 490
Ketahanan : 980
Atribut : Hampa
Skill : Appraisal, All Five, Distract, Deviser Eye, Mana Manipulation, Comprehension, Auto-Counter, Mana Shield, Mana Burst, Mana Slash, Owl Vision, Sense, Mana Bullet, Stealth, Throwing Stone, Silent
---
Ia mendesah begitu melihat statusnya yang naik secara drastis dari yang sebelumnya sangat sangat lemah, menjadi sangat sangat kuat. Terdapat banyak skill baru di kolom skillnya, dan itu semua berkat [Deviser Eye] miliknya.
__ADS_1
Setelah berhasil mengalahkan [Albtraum Troll] di hari pertamanya mendarat di lantai keenam ini, levelnya berubah menjadi level 25. Ketika levelnya menyentuh angka tersebut, skill [All Zero] dan [Nothing Eye] miliknya berevolusi, menjadi seperti yang tertera di layar hologram statusnya.
[Deviser Eye] : evolusi [Nothing Eye]. Skill ini menaikkan persentase untuk mendapatkan sebuah skill dari kemampuan yang sering digunakan oleh pemiliknya.
[All Five] : evolusi [All Zero]. Skill ini mengalikan semua status pemiliknya sebanyak lima kali, kecuali level.
Dengan kedua skill yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui dan dianggap merugikan, Riyan telah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat daripada dirinya dua bulan lalu. Ia berhasil melewati seluruh tantangan yang disediakan oleh labirin Hexaphilia ini menggunakan kekuatannya sendiri.
Sekilas [All Five] memang terihat curang, tetapi itulah skill yang dimiliki Riyan. Mengalikan seluruh status, kecuali level, lima kali lebih kuat, hal tersebut cukup mengerikan bagi orang biasa. Di sisi lain, Riyan sama sekali tak mempermasalahkan skillnya, bahkan ia bersyukur telah menjadi lebih kuat. Ia dapat bertahan hidup hingga hari ini berkat skill [All Five] miliknya.
Skill baru lainnya yang terpampang di layar hologram statusnya adalah berkat [Deviser Eye] dan segala kemampuan yang sering ia asah dan gunakan. Seperti yang tertera di bagian penjelasan, [Deviser Eye] adalah sebuah skill yang memungkinkan pemiliknya mendapatkan sebuah skill.
[Sense] : skill yang mempertajam seluruh indra sang pemilik.
[Mana Bullet] : skill yang membentuk mana yang dikeluarkan dari tangan atau jari menjadi peluru.
[Stealth] : skill yang dapat menyamarkan hawa keberadaan.
Skill ini mirip seperti [Distract], hanya saja [Stealth] dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Jika [Distract] hanya mengalikan perhatian lawan dalam sesaat, maka skill ini bisa dipakai sampai parameter mana habis.
[Throwing Stone] : skill ini memperkuat lemparan batu pemilik.
[Silent] : skill yang dapat mengurangi suara yang ditimbulkan oleh sang pengguna.
Dengan berbagai macam skill hebat ini, Riyan dapat bertahan hidup sampai sekarang. Ia benar-benar kesulitan pada awalnya, tetapi Riyan telah terbiasa hidup bersama kematian yang selalu siap menjemputnya, kalau saja ia membuat kesalahan fatal.
Setelah memeriksa statusnya, kelopak matanya perlahan-lahan menutup karena berbagai kegiatan yang ia lalui hari ini. Karena tidak mengetahui apakah siang atau malam di luar labirin sana, ia tidur ketika ia rasa kantuk atau lelah menyerangnya. Tak lama kemudian Riyan terlelap masuk ke dalam pulau kapuknya yang tidak ada apa-apa selain mimpi buruk serta pikiran-pikiran menakutkan.
***
Seperti biasanya, hari ini Riyan mencari makanan dengan memburu monster-monster terdekat sambil menjelajahi lantai terakhir labirin tersebut. Untuk air minum, ia sudah mempersiapkan di wadah tersendiri. Ia mengambil lambung seorang goblin, kemudian mencucinya hingga aman, lalu menjadikannya sebuah tempat air agar mudah dibawa kemana-mana dan tidak repot mengambil dari danau setiap kali ingin minum.
Gruu...
"Glay, kita istirahat dulu, aku mulai lapar."
Mendengar lonceng yang berdentang dari perutnya, Riyan pun berhenti berjalan dan duduk di lantai, menyandarkan punggungnya di dinding. Ia membuka tas kain yang dulunya merupakan jubah, dan mengambil beberapa daging yang telah ia potong kecil-kecil, lalu mlai melahapnya satu persatu. Selain daging, tas kain lusuh tersebut juga digunakan untuk membawa beberapa material yang bisa dijual ketika berhasil keluar dari labirin Hexaphilia ini.
Ngomong-ngomong, Glay adalah nama dari pedang yang Riyan bawa. Karena nama [Glayster] terlalu panjang untuk disebutkan, maka ia menyingkatnya agar mudah diucapkan. Setidaknya, Riyan berbicara kepada pedang atau mayat monster enam kali sehari. Jika tidak, mungkin ia bisa gila dan akhirnya menyerah, lalu bunuh diri.
Bisakah kalian bayangkan bagaimana kondisi Riyan saat ini? Sendirian tanpa lawan bicara selama dua bulan, bahkan manusia berpengalaman pun akan menjadi gila kalau saja mentalnya tak kuat. Riyan berhasil bertahan sejauh ini juga berkat pedang dan berbagai mayat monster yang telah ia bunuh, walau kebanyakan disebabkan oleh raungan para makhluk-makhluk asli penghuni lantai enam labirin.
"Daging [Dark Rabbit] memang yang terbaik."
Sambil mengatakan itu, mulutnya kembali melahap potongan daging mentah yang berada digenggamannya. Daging [Dark Rabbit] tersebut adalah sisa buruannya pagi tadi. Ia membunuh sekitar tiga sampai empat [Dark Rabbit] untuk bahan makanan dan material yang dapat di jual.
[Dark Rabbit] adalah seekor monster langka yang hanya dapat ditemui di beberapa tempat saja. Makhluk itu berbentuk seperti kelinci pada umumnya, berbulu hitam, serta bermata merah bercahaya. Walau parameter nyawa dan daya serangnya sedikit, tetapi kelincahan dan skillnya berbanding terbalik.
Jika dikira-kira, kelincahan yang dimiliki monster satu ini enam kali lipat dari kelinci biasa. Selain itu, salah satu skillnya, [Auala Vave], adalah yang paling merepotkan. [Auala Vave] merupakan sebuah skill yang dapat memungkinkan mempercepat langkah kaki sekaligus memperkuat otot kaki sehingga membuat penggunanya akan sangat cepat.
Ada satu lagi yang merepotkan, yakni [Valea Vae], skill yang dapat meningkatkan kelincahan secara drastis. Kalau memakai skill atau sihir ini, kelincahan pengguna akan jauh meningkat selama beberapa menit, tergantung dari jumlah mana yang dimiliki tentu saja. Ketika [Auala Vave] dan [Valvea Vae] digabungkan, persentase pelarian seseorang akan berubah dari 'mungkin' menjadi 'pasti'.
Entah bagaimana, Riyan berhasil menangkap dan membunuh monster secepat sekaligus selincah itu. Jika dilihat dari skill yang ia miliki, kemungkinan ia menggunakan [Silent], [Stealth], [Mana Shield], dan [Auto-Counter].
Saat [Silent] dan [Stealth] dipakai secara bersamaan, akan mustahil keberadaan penggunanya diketahui, apalagi Riyan memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis. Lalu ia menggunakan [Mana Shield] untuk mengurung sang kelinci, dan memakai [Auto-Counter] yang dapat balas menyerang dengan sangat cepat ketika dirinya diserang oleh lawannya. Dan akhirnya, ia berhasil membunuh [Dark Rabbit] yang langka itu.
Walau dikatakan langka, [Dark Rabbit] cukup sering ditemui oleh Riyan di lantai keenam ini. Memang bulu monster tersebut sangatlah hitam hingga hampir mustahil bagi seseorang dapat menyadarinya di kegelapan, tetapi Riyan menggunakan [Sense] dan [Owl Vision] secara terus menerus untuk mencegah monster lain mendekat.
__ADS_1
"Oke, perut sudah kenyang, tenaga juga pulih. Ayo kita lanjutkan perjalanan mencari jalan keluar, Glay."
Sang pedang hanya menjawabnya dengan keheningan. Riyan bangkit dari duduknya dan kembali melangkahkan kakinya melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti. Setiap hari ia selalu berjalan mengintari lantai keenam labirin untuk mencari jalan keluar. Tapi, sejak dua bulan kedatangannya, ia tak pernah melihat ruangan atau lorong lain selain yang ada di peta pikirannya.
Karena telah berkali-kali mengintari lantai ini, ia hafal dengan seluruh daerahnya sehingga tak mungkin ia tersesat. Bahkan, tempat dimana munculnya monster-monster seperti [Albtraum Troll], [Cave Goblin], [Heavy Kobold] pun ia tahu. Kemampuan mengingatnya juga meningkat berkat [Comprehension], sehingga ia dapat mengingat semua itu.
Beberapa menit berjalan, Riyan berhenti di ruangan yang sepertinya tidak asing. Di ujung sana terdapat sebuah peti harta kecil yang dapat memikat seorang petualang. Riyan mengambil batu dari lantai, lalu melemparkannya ke peti tersebut memakai skill [Throwing Stone]. Alhasil, peti yang dilempar menggunakan batu itu penyok di bagian tutupnya.
Selang sekitar tiga detik kemudian, bagian tutup peti itu terbuka seperti rahang dan bergerak mendekati Riyan dengan cara melompat-lompat, terdapat gigi-gigi tajam di rahangnya. Melihatnya, Riyan tersenyum kecil karena tertarik pada hal yang baru ia lihat. Monster peti kecil, ia belum pernah melihat monster jenis ini di buku. Semakin penasaran, ia menggunakan [Apprasial] untuk melihat status makhluk tersebut.

(Sumber : google)
---
Nama : Fierce Chest
Ras : Monster Mutan
Kelas : Umum
Level : 22
Nyawa : 39/39
Mana : 16/16
Kekuatan Fisik : 60
Kekuatan Sihir : 24
Ketahanan : 102
Atribut : Hampa
Skill : Cuddio
---
Mengetahui status monter bernama [Fierce Chest] yang ada dihadapannya, Riyan tertawa. Kotak harta tersebut memiliki level yang lumayan, tetapi statusnya benar-benar sampah. Jika dibandingkan dengan Riyan yang dulu, status mereka hampir sama.
"Ya ampun, ternyata ada monster sampah seperti dia di lantai mengerikan ini, bisa-bisanya."
Sambil bergumam, ia mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya ke kotak hidup yang semakin mendekat padanya, lalu mengerahkan [Mana Bullet]. Seketika itu juga, monster kotak yang menjadi lawannya hancur lebur hingga tersisa kepingan-kepingan kayu tak berguna.
Karena status Riyan meningkat drastis, monster selemah itu pasti akan langsung mati. Tidak ingin material monster yang ia bunuh sia-sia, Riyan memungut pecahan-pecahan kayu untuk dibawa ke gua tempatnya tinggal. Untuk apa? Dengan adanya kayu, ia dapat membuat api unggun.
"Jika seperti ini, harusnya aku menggunakan pedang, bukannya skill. Hah, betapa bodohnya aku."
Ia memungut pecahan kayu yang bisa ia ambil, lalu menyimpannya di kantong karena ukurannya kecil.
"Oke, Glay, buruan kita hari ini adalah [Fierce Chest]!"
Menemukan monster yang terbuat dari kayu, semangatnya tersulut. Selama dua bulan ini, ia hanya menggunakan jubah yang ia ambil dari kulit [Chimera] sebagai penghangat, wajar saja jika ia bersemangat untuk menemukan monster bertubuh kayu. Selain itu, ia juga bisa membakar daging-daging yang ia kumpulkan dari para monster yang telah ia bunuh.
Akhirnya, ia pergi dengan semangat sambil menggenggam Glay di tangannya. Ia mencari ruangan yang mirip dan langsung memasukinya, lalu menebas monster kotak harta jika ada. Di perjalanan kembali ke gua, ia berhasil membunuh lebih dari 20 [Fierce Chest] dan mengambil seluruh kayunya.
Sejauh ini, [Fierce Chest] ternyata memiliki sebuah inti di dalam tubuhnya yang membuatnya dapat bergerak. Jika inti tersebut dihancurkan, maka selesai sudah hidup mereka. Riyan juga mengambil gigi-giginya agar dapat digunakan sebagai senjata dalam keadaan darurat. Ia tidak tahu kapan [Glayster] akan hancur, maka dari itu ia harus bersiap-siap sedini mungkin.
__ADS_1
Sesampainya di gua, Riyan membuat api unggun dari kayu bekas [Fierce Chest] dan sepasang batu api. Ia langsung membakar daging [Dark Rabbit] di atas [Glayster]. Karena besi adalah penghantar panas yang bagus, ia mengunakan senjatanya sebagai wajan penggorengan. Cukup kreatif, bukan?