Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
21. Luar Labirin (bagian 2)


__ADS_3

Setelah istirahat semalaman ditempat yang layak, sekaligus mengisi perut dengan makanan nikmat dan bergizi, Riyan bangun dari tidurnya yang nyenyak. Sejak jatuh ke dalam lantai keenam labirin Hexaphilia, ia jarang sekali tidur pulas karena pikirannya selalu dihantui keberadaan berbagai monster kuat di sana. Tentu saja hal ini termasuk kepuasan baginya.


Sebelum pergi mencari kereta yang hendak pergi menuju benua Tendo, ia menyempatkan diri untuk sarapan agar tidak lemas di perjalanan nanti. Mungkin ia juga perlu membeli beberapa bahan makanan, berhubung benua Tendo sangatlah jauh dari ibukota Alivonia ini. Jika dikira-kira, mungkin membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua sampai tiga minggu.


'Penampilanku sudah tak ada masalah, sekarang hanya tinggal persiapan terakhir.'


Sambil mengunyah sarapan porsi jumbo yang isinya sedikit daging dan limpahan sayur, ia menggumamkan itu dalam hatinya. Perlu diketahui, Riyan adalah orang yang cukup terencana. Jika ingin melakukan sesuatu, ia pasti akan berpikir apa manfaat dan untung bagi dirinya. Ia mendapat banyak pengetahuan dan pelajaran di dalam labirin, bahkan sebelum bertemu Luctas.


Sesudah menyelesaikan sarapannya, Riyan bangkit berdiri dan membayar makanannya sebesar 3 keping besi di meja resepsionis. Ia tidak begitu mengerti tentang besarnya sistem uang di dunia ini, tapi ia menurut pada hukum saja. Tanpa mempedulikan itu, ia segera pergi dari penginapan tersebut.


Riyan berjalan menuju sebuah toko serba untuk membeli beberapa pil penyembuh dan pil penambah mana. Sebenarnya ia tak membutuhkan pil penambah mana, tapi tidak ada yang tahu kejadian apa yang telah menunggu di masa depan. Misalnya Glayster, pedang pemberian Faleon patah, ia harus mulai mengkonsumsi pil penambah mana sebagai penggantinya.


"Selamat datang di toko kami!"


Ketika masuk ke dalam toko, ia disambut oleh seorang pria kurus berpakaian biasa dari meja kasir. Mendengar sambutan si penjaga toko, Riyan menghela nafas. Kelihatannya ia mengalami ketakutan berlebih terhadap waria akibat kejadian di toko pakaian kemarin. Walaupun tak terjadi apa-apa, entah mengapa ia merasa sangat waswas.


"Apa yang anda cari, tuan?"



"Pil penyembuh dan pil penambah mana."



"Ah, mohon tunggu sebentar."


Sang penjaga pun berjalan ke sebuah rak yang terletak di belakangnya. Karena pil penyembuh dan pil penambah mana adalah hasil olahan dari tumbuhan khusus, mereka tidak boleh diletakkan bercampur dengan barang-barang biasa. Benda khusus seperti itu cukup langka dan mahal bagi rakyat jelata, jadi kemungkinan dicurinya lebih tinggi.


Kemudian, sang penjaga toko kembali membawa sebuah kotak berukuran sedang yang isinya dibagi menjadi delapan bagian. Ujung kiri terdapat pil penyembuh biru muda, disebelahnya ada pil penambah mana hijau, pil penambah status biru, pil penambah status merah, pil fisik, pil sihir, pil pertahanan, dan pil kecepatan. Pil-pil tersebut memiliki kemampuan yang sesuai namanya.


Pil fisik dapat meningkatkan fisik seseorang untuk sementara waktu, pil sihir untuk sihir, dan seterusnya. Setiap pil mempunyai warna yang berbeda-beda agar dapat dibedakan. Pil fisik memiliki warna oranye mencolok, pil sihir berwarna putih, pil pertahanan cokelat tanah, dan warna kuning melambangkan pil kecepatan.


"Pil penyembuh, sedapatnya."


Menyatakan itu, Riyan menyodorkan sekeping emas dan yang ia terima dari waria penjaga toko pakaian. Sebelum pergi dari sana, ia sempat menukarkan dua pecahan kristal lainnya menjadi sekeping emas. Si penjaga toko terlihat sedikit terkejut, tapi ia segera mengambil sepuluh butir pil penyembuh dan diberikan pada Riyan.


'Jadi satu pil penyembuh ini seharga satu perak? Mahal juga.'


Riyan terdiam menatap kesepuluh pil biru penyembuh yang berada di genggamannya. Ia bertanya 'jika satu pil penyembuh saja semahal ini, berapa harga satu pil penambah status biru?' di dalam kepalanya. Rakyat jelata harus bisa membeli segala keperluan mereka untuk seminggu hanya dengan uang tersebut, itu cukup mahal.


"Apakah ada tambahan lagi?"



"Pil penambah mana, lima butir."



"Sekeping emas."



'Lebih mahal!?'


Mendengarnya, Riyan terserang syok ringan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa sebutir pil penyembuh mana senilai dua pil penyembuh. Kemudian, ia mulai membayangkan harga pil penambah status dari kedua benda tersebut. Memikirkannya, kepalanya mulai merasa pusing dan ia segera membuang hal-hal tak berguna itu.


Riyan mengambil satu pecahan kristal putih miliknya, lalu menyodorkannya kepada sang penjaga. Ia memang masih mempunyai uang, tapi lebih baik disimpan saja untuk membeli bekal dan biaya perjalanan. Ia tidak tahu harga pasar, maka dari itu ia harus menyiapkan berbagai persiapan di masa yang akan datang.


"I-ini!? Darimana anda mendapatkan kristal ini!?"


Si penjaga toko tiba-tiba meloncat dari tempatnya berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Riyan hingga berjarak sekitar 5 cm. Secara refleks, Riyan langsung mengambil langkah mundur.


"Dari labirin. Memangnya kenapa?"



"Labirin? Aku tidak pernah tahu kalau labirin itu terdapat kristal ini."


Sambil mengatakan hal itu, ia memasang wajah ala cendekiawan yang sedang berpikir, dilengkapi tangan kanan yang bermain di dagunya. Riyan mulai kebingungan dengan sikap lawan bicaranya, karena penjaga toko pakaian yang ia kunjungi sebelumnya menafsir pecahan kristal ini bernilai sekitar lima keping perak. Saat ia hendak bertanya, penjaga toko berbicara terlebih dahulu.


"Kristal ini adalah kristal bulan, mereka sangat dicari oleh para kolektor karena kelangkaannya."



"Kelangkaan?"



"Ya, kelangkaan. Krital bulan memiliki warna putih bersih, sama seperti bulan. Dalam ukuran sekecil ini, mereka dihargai sekitar satu keping emas."


Mendengar kata 'satu keping emas', otak Riyan kembali berpikir. Sudah menjadi kebiasaan untuknya berpikir dan menganalisis sesuatu yang ia dengar, entah mengapa. Mungkin faktor keturunan? Dulu, mediang ayah dan ibunya adalah seorang arkeolog yang gemar berburu benda-bend peninggalan. Sepertinya Riyan mewarisi rasa penasaran dan kebiasaan berpikir analitik mereka.


Tanpa basa-basi lebih lanjut, Riyan langsung menanyakan apa yang ia dengar dari sang penjaga, memastikan apa kemungkinan yang muncul di otaknya benar.


"Kemarin aku pergi ke sebuah toko pakaian dan penjaganya mengatakan bahwa kristal ini senilai lima keping perak."



"Sebentar, apa dia seorang waria?"



"Ya."

__ADS_1



"Ah, orang itu memang buta dalam hal seperti ini. Ia hanya menilai barang hanya berdasarkan ketertarikannya."


Mendengar hal tersebut, rasa kesal Riyan naik hingga mencapai puncaknya dan di pelipis kanannya muncul sebuah urat, menandakan ia sedang marah. Sang penjaga pun merasakan kemarahan Riyan, jadi ia mengambil inisiatif agar toko dan barang-barang jualannya tidak menjadi sasaran pelampiasan.


"Tenang saja, saya akan membayar kerugian anda yang ditimbulkan kakak saya."



"Kakak?"


Ia terkejut mengetahui waria di toko pakaian kemarin dan penjaga di toko serba ini adalah kaka beradik. Biasanya keluarga atau sanak saudara akan bekerja dalam mengelola satu tempat yang sama, tapi tampaknya hal ini tidak berlaku bagi kedua kakak beradik ini.


"Ya, orang itu adalah kakak saya. Kami memutuskan untuk mendirikan toko masing-masing sesuai kemampuan kami dan bersaing secara sehat. Walau begitu, sepertinya ia masih kesulitan dalam menilai harga pasar."



'Kenapa dia malah curhat?'


Sambil menggumamkan itu dalam hatinya, Riyan memasang ekspresi sedatar mungkin mendengarkan penjelasan sang penjaga. Meski tidak ada hubungannya, ia tetap mendengarkan agar mengetahui cara kerja masyarakat di dunia ini.


"Jadi karena itu, saya bersedia mengganti kerugiannya asalkan anda tidak balas dendam padanya."



"Ya, baiklah."



"Terima kasih atas pengertiannya."


Akhirnya, bukannya berkurang karena membeli pil penyembuh dan pil penambah mana, uangnya semakin bertambah akibat kesalahan yang dilakukan oleh sang waria penjaga toko pakaian. Riyan senang akan hal ini, tentu saja. Mendapat lebih banyak untung, siapa yang tidak senang?


Riyan menerima 17 keping emas dan 8 keping perak dari sang penjaga, lalu pergi setelah menyelesaikan urusannya dalam membeli pil penyembuh dan pil penambah mana. Selanjutnya ia pergi ke toko bahan makanan untuk membeli bekal selama perjalanannya menuju benua Tendo.



'Roti sudah, daging sudah, wortel sudah, kentang sudah. Kelihatannya ini cukup.'


Melihat ke dalam tas, Riyan memeriksa seluruh barang-barang yang ia perlukan. Sebenarnya ia tak perlu membeli makanan sebagai bekal karena ia dapat mencari buruannya sendiri, tapi ia ingin mengistirahatkan dirinya dari kegiatan tersebut untuk sementara.


Hal terakhir yang harus ia lakukan adalah menuju ke tempat jasa antar, mencari kereta kuda yang hendak pergi ke benua Tendo. Sebelumnya, Riyan telah menanyakan biaya jasa antar kereta kuda hingga ke benua Tendo dan perjalanan itu akan memakan biaya sekeping koin emas. Jasa antar kereta kuda kelihatannya sangat kaya dengan harga yang dipasang.


Sesampainya di sana, ia mendapati beberapa kereta kuda yang telah siap berangkat beserta barang-barang. Setiap kereta ditarik oleh atau empat ekor kuda agar kudanya tidak terlalu terbebani. Selain itu, kereta-kereta tersebut terdapat atap untuk melindungi penumpangnya dari sengatan sinar matahari dan hujan. Karena bergerak dalam jumlah sekitar tiga sampai empat, mungkin mirip seperti karavan para pedagang keliling atau suku yang berpindah-pindah.


Riyan segera memasuki gedung yang terdapat papan kecil bertuliskan Jasa Antar. Di dalam, banyak orang berseragam sibuk lalu-lalang mengangkuti barang-barang, begitu pula meja resepsionis yang dipenuhi barisan manusia-manusia yang tengah mengantri. Tak ingin menunggu lebih lama, ia pun ikut mengantri di barisan paling belakang.


"Permisi, aku ingin pergi ke benua Tendo."



"Eh? Benua Tendo?"



"Ya, benua Tendo."


Sang resepsionis terkejut mendengar tujuan Riyan. Ia terdiam untuk beberapa saat, tapi ia membersihkan tenggorokannya dan berbicara. Senyumnya terkesan sedikit dipaksakan karena sudah kewajibannya melayani tamu dengan senyum.


"Maafkan kami, tapi kereta terakhir yang pergi menuju benua Tendo telah berangkat beberapa jam lalu."


Kali ini giliran Riyan yang terkejut mendengar perkataan resepsionis. Meskipun begitu, ia tidak histeris atau berpikir yang tidak-tidak dalam sekejap. Ia tetap tenang dan memperlihatkan wajah datarnya.


"Kapan kereta menuju benua Tendo selanjutnya?"



"Sekitar seminggu lagi."



'Lama amat!'


Mengeluhkan itu dalam halnya, tanpa sengaja Riyan mengeluarkan senyuman masam. Bukan hanya senyumnya, tetapi suasana hatinya juga ikut menjadi masam. Seminggu bukanlah waktu yang sebentar baginya, ia ingin segera pergi dari Lasfile, ibukota kerajaan Alivonia ini. Ia juga tidak ingin melihat wajah teman-temannya lagi, terutama Shawn, murid yang mendorong dirinya karena terlalu takut dan panik dengan kedatangan seekor [Chimera] dulu.


Setelah mengucapkan terima kasih, Riyan memutuskan untuk keluar dari gedung Jasa Antar tersebut. Tidak ada gunanya ia mampir di gedung itu, lalu perbekalannya juga sepertinya takkan bertahan lama. Bahan-bahan mentah seperti daging dan sayur akan cepat busuk jika tidak diawetkan. Riyan merasa kecewa, namun ekspresinya tetap datar seperti biasa.


"Baiklah, mari kita coba berjalan kaki saja."


Ia mengatakan itu pada dirinya sendiri untuk menyemangati hatinya yang tengah bersedih. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang masuk di sebelah barat untuk memulai perjalanan beratnya menuju benua Tendo dengan berjalan kaki. Namun, saat menapak langkah keempat, Riyan terhenti.


"Woah, itu nona Tifania!"



"Nona Tifania? Siapa dia?"



"Kau tidak tahu? Ia adalah salah satu dari anggota kelompok pahlawan yang dipanggil dari dunia lain oleh yang mulia Alestein."


__ADS_1


"Oh, begitu."


Mendengar percakapan warga sekitar, Riyan segera mengalihkan pandangannya ke belakang. Di sana matanya mendapati seorang gadis cantik berambut cokelat pirang panjang dengan warna mata yang sama. Tubuhnya dibalutkan kemeja putih sederhana dan memakai celana rok pendek cokelat sekitar 10 cm di atas lutut, membuat semua orang yang melihatnya tersihir seketika. Ia membawa sebuah tongkat kayu sepanjang satu setengah meter dilengkapi batu biru di ujungnya.


Senyumannya begitu manis sehingga seluruh kaum Adam terpesona olehnya, bahkan beberapa wanita tidak luput dari kecantikannya. Riyan terdiam melihat penampilan Tifania yang semakin anggun dan cantik dalam tiga bulan ini. Perubahan Tifania dapat dikatakan cukup drastis bagi Riyan yang tidak melihat wujudnya dalam waktu yang cukup lama.


"N-nona Tifania, tolong tunggu saya!"


Di belakangnya menyusullah seorang gadis berusia sekitar 18 tahun berambut cokelat kehitaman berapakaian layaknya pelayan. Ia berlari dari belakang dengan nafas terengah-engah menyusul Tifania. Sekali lagi, Riyan terkejut melihat orang kedua tersebut.


"Remia, seharusnya kamu meningkatkan staminamu."



"S-saya adalah pelayan, bukan prajurit."



"Tetap saja, pelayan juga membutuhkan stamina yang tinggi untuk mengerjakan semua pekerjaan."



"Ugh..."


Benar, gadis yang menyusul Tifania adalah Remia, pelayan yang bekerja di bagian dapur istana kerajaan Alivonia. Penampilannya tak banyak berubah, hanya saja aura kedewasaannya mulai terlihat. Selain itu, sepertinya kemampuan sebagai pelayan juga berkembang.


'Untungnya aku sudah membeli jubah bertudung ini.'


Riyan menarik ujung tudungnya agar wajahnya sulit dikenali dari jarak jauh. Meskipun berada di antara kerumunan orang, ia mengambil tindakan yang lebih aman dengan menutup dirinya lebih rapat lagi. Walau Tifania dan Remia adalah orang yang selalu mendukungnya, kecuali insiden kebohongan dulu, ia tak ingin menjumpai mereka dalam waktu dekat atau bahkan tidak sama sekali.


"Kau sudah membeli bunganya, Remia?"



"Bunga untuk Riyan, kan?"



"Ya, kita harus berdoa padanya hari ini."



"Tenang saja, saya sudah membelikannya."



"Terima kasih."


Mendengar itu, Riyan termenung menatap kedua orang tersebut. Ia menjadi sedikit penasaran dengan apa yang dibicarakan Tifania dan Remia itu.


"Siapa itu Riyan? Apa dia kekasihnya?"



"Entahlah. Tapi ada sebuah rumor yang tersebar kalau salah satu dari pahlawan dari dunia lain itu mati di hari pertama masuk ke dalam labirin Hexaphilia."



"Heh, mati ya? Lemah sekali. Memangnya orang seperti itu pantas diberi gelar pahlawan?"



"Aku tidak tahu. Mungkin saja nona Tifania ingin berdoa kepada orang bernama Riyan itu di makamnya yang terdapat di istana."



"Kalau orang bernama Riyan itu adalah pahlawan yang hebat hingga dapat membasmi puluhan atau bahkan ratusan iblis, mungkin aku juga akan berdoa di depan makamnya, hahaha!"


Riyan yang mendengar itu hanya mengabaikan mereka tanpa mempedulikan ucapan terakhir salah satu warga tersebut. Ia telah mendapat cacian dan hinaan yang lebih besar dari ini, jadi akan konyol jika ia terbawa emosi dan langsung memberi pelajaran kepada orang yang menghinanya tersebut.


Ia berbalik dan kembali berjalan menuju gerbang masuk Lasfile untuk memulai perjalanannya. Walau hanya sendirian, ia tak merasa akan kesulitan karena ia jauh lebih kuat dibandingkan monster-monster dipermukaan yang lebih lemah dari [Minotaur] dan berbagai macam monster lantai enam labirin Hexaphilia lainnya.


Meski ia tahu bahwa dirinya akan kesepian lagi, ia menerima itu dan tetap berjalan seorang diri. Setidaknya ia harus pergi dari kota ini terlebih dahulu agar bisa terbebas dari kekhawatiran atas fakta bahwa dirinya masih hidup. Jika ia diketahui masih hidup, ada kemungkinan Alestein akan mengerahkan tim pencari agar dapat menemukan dirinya. Mengapa? Ia adalah salah satu dari pahlawan yang dipanggil dari dunia lain, sudah sewajarnya jika ia adalah aset berharga kerajaan.



Di tempat lain, di makam Riyan, Tifania dan Remia sedang berdoa di depan batu nisan.


'Riyan, besok kami para pahlawan akan kembali menantang labirin Hexaphilia setelah sekian lama. Kumohon, berilah kami perlindungan dan bimbinglah kami agar menemukan tubuhmu sehingga dapat dimakamkan sebagaimana mestinya.'


Setelah berdoa dalam hati, Tifania membuka matanya dan menatap nama 'Riyan Klaint' yang terpahat di batu nisan. Ia tersenyum lega bahwa ia akan masuk ke dalam labirin Hexaphilia sekali lagi untuk menyelesaikannya, sekaligus mencari tubuh Riyan.


"Remia, ayo kembali."



"Ah, iya."


Sesudah menyelesaikan doa masing-masing, mereka kembali ke asrama pahlawan di bagian istana. Mereka berjalan kembali tanpa mencurigai atau mengawasi sekitar karena yakin tidak ada yang dapat menerobos dinding istana. Selain itu, mereka juga tidak merasakan adanya tanda-tanda hawa kehadiran seorang pun di dekat mereka.


'Di sanakah, makamnya? Batu kecil yang menarik. Bergunalah bagiku, diriku yang telah mati.'


Meski begitu, ada seorang pemuda yang seluruh tubuhnya diselimuti jubah, berdiri di sebuah pohon tak jauh dari sana, sekitar 40 meter. Setelah puas menikmati pemandangan yang ia lihat sejak beberapa menit yang lalu, ia turun dari pohon dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2