
“Terima kasih atas bantuannya.”
“Tak usah dipikirkan. Lagipula, ini belum cukup untuk membalas jasamu.”
Setelah kurang lebih seminggu menunggangi kereta kuda bersama, Riyan dan Noel akhirnya berpisah dari sang pedagang budak wanita tersebut. Meski Siel tidak mengantar mereka sampai ke kota pelabuhan, Tladga, Riyan merasa perjalanannya bersama Siel sudah cukup untuk menghemat waktu dan tenaga. Jika saja Riyan benar-benar berjalan kaki sepenuhnya hingga kota itu, mungkin ia akan tiba di sana kurang lebih empat hari lagi.
Ngomong-ngomong, mereka diturunkan di sebuah persimpangan yang membelah jalan. Satu menuju kota pelabuhan, Tladga, dan satunya menuju kota yang menjadi tujuan Siel saat ini.
Walaupun ekspresi Riyan sangat datar, ia mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalamnya. Menumpang di kereta kuda dengan bayaran menjaganya, itu cukup adil, karena bagi Riyan yang statusnya jauh di atas kesatria biasa, monster-monster yang menghalangi jalan mereka terlalu mudah dan lemah.
Sebaliknya, Noel merasa sedikit berat hati untuk meninggalkan Siel dan teman-teman budaknya yang selama ini telah berbaik hati kepadanya. Waktu dua tahun yang ia habiskan bersama Siel dan teman-teman budaknya sangatlah luar biasa jika dibandingkan pengalamannya menjadi budak selama 10 tahun. Karena hal ini, tentu saja ada rasa keberatan, kebimbangan, dan kesedihan di hati Noel.
“Noel, apa kau tidak akan mengucapkan salam perpisahan kepada Siel yang telah merawatmu dengan baik dan teman\-temanmu?”
Di saat Noel merunduk ke bawah menatap tanah, ia tersadar dari segala lamunannya ketika Riyan memberikan pertanyaan tersebut secara mendadak. Noel segera menaikkan dagunya, memandang lurus wajah Siel dan para budak lainnya, lalu berjalan mendekati mereka. Manik ungunya terlihat berkaca-kaca, seakan tengah menahan air mata yang berusaha memberontak.
Ia ingin mengucapkan selamat tinggal, tapi tidak bisa. Bukannya tidak bisa, ia hanya tak tahu bagaimana caranya mengatakan selamat tinggal kepada orang-orang yang telah merawatnya dengan baik selama dua tahun ini. Semenjak diculik oleh iblis dan dijual sebagai budak, yang bahkan ia sendiri tidak sempat berpamitan kepada keluarganya, ia tak pernah mengatakan selamat tinggal sekalipun.
Salah, bukan tidak tahu, ia lupa bagaimana caranya.
“Nyo\-nyonya Siel... teman\-teman... aku... aku... tidak tahu harus... berkata apa...”
Kebingungan dengan apa yang ingin ia katakan, Noel kembali menunduk menatap tanah, hanya saja kali ini setetes demi setetes air matanya jatuh tertarik gravitasi. Kesedihan dan kebahagiaan, kebebasan dan keterikatan, mau dan tidak mau, semua perasaan tersebut bercampur dalam diri Noel saat ini. Kebimbangan dan keraguan adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan isi hati gadis beastkind jenis serigala ini.
“Kalian semua sangat baik kepadaku... selama dua tahun terakhir. Aku... ingin pergi bersama tuan Riyan, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan kalian. Kalian adalah orang yang selama ini baik kepadaku, selain keluargaku yang mungkin saja sudah di alam lain.”
Mendengar kalimat terakhir Noel, Siel dan budak lainnya tiba-tiba merasa murung. Noel sudah menceritakan bagaimana masa lalunya sebelum menjadi budak kepada mereka, wajar jika mereka murung seketika.
“Aku... tak tahu harus berkata apa.”
Noel hanya bisa tertunduk menangis, diikuti perasaan sedih dari teman-teman budaknya yang selama ini menemani dan bermain bersamanya. Banyak pertemuan yang dialami olehnya, tapi setiap pertemuan pasti ada perpisahan, pernyataan tersebut tidak bisa dibantah.
Melihat Noel yang terus menangis, Riyan melangkahkan kakinya mendekati dan menepuk pelan kepala gadis beastkind berjenis serigala itu beberapa kali. Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja ia melakukan hal tersebut tanpa alasan, membuat semua orang di sana terkejut, termasuk Noel sendiri. Kemudian, Riyan menoleh ke Siel dan para budak lainnya tanpa melepaskan tangannya dari kepala Noel.
“Kalian tak perlu khawatir, aku takkan memperlakukannya seperti budak\-budak lainnya. Dia akan kuanggap sebagai teman seperjalananku, hanya itu. Aku akan menjaganya.”
Diam beberapa detik, bibir Siel membentuk sebuah lengkungan manis begitu mendengar perkataan Riyan barusan. Di matanya, Riyan adalah sosok manusia yang tak bisa ditebak, tapi kali ini ia mendapat sebuah kepastian. Manik hitam Riyan terlihat sangat yakin dan takkan mengingkari ucapannya sendiri. Sorot mata itulah yang membuat Siel puas saat ini karena bisa mengetahui apa yang terjadi pada Noel ke depannya nanti.
“Ya, pastikan kau menjaganya, Riyan Klaint.”
Setelah mengucapkan itu, Siel memecut tali kudanya dan berjalan meninggalkan Riyan dan Noel di persimpangan. Para budak berteriak dan melambaikan tangan mereka kepada Noel untuk mengucapkan selamat jalan. Di sisi lain, Noel hanya bisa menangis dengan kedua telapak tangannya yang mengepal erat.
Namun, lama-kelamaan ia juga tidak tahan.
“Terima kasih, semuanya!”
Sambil terus menangis, Noel meneriakkan seutas kalimat tersebut diikuti lambaian tangannya sebagai balasan. Ia benar-benar bersyukur telah diambil oleh Siel dan sekarang, ia bebas berkelana dengan majikannya yang baru, seorang pemuda kuat yang berasal dari dunia lain, Riyan Klaint. Ngomong-ngomong, Riyan sudah melepas tangannya dari kepala Noel.
Menanggapi balasan Noel terhadap para budak, Riyan tersenyum tulus. Tak ada yang melihat senyuman tulus itu. Memang Riyan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan diri, tapi ia juga mempunyai hati layaknya manusia. Ia bisa tersenyum di saat senang, menangis di saat sedih, marah di saat tertentu, dan lain-lain.
Selang semenit kemudian, Sial dan para budak telah menghilang di telan jalanan menurun. Hal itu juga membuat Noel berhenti berteriak dan melambaikan tangannya, tetapi tangisannya belum berhenti, meski sudah mulai mereda. Mereka adalah teman-teman terbaik yang Noel miliki sejak awal ia menjadi budak hingga saat ini, dan Noel sangat menghargai mereka.
“Tuan, maafkan aku karena telah menangis.”
Noel mengusap air matanya secepat mungkin tidak ingin memperlihatkan wajah menangisnya kepada Riyan. Sayang sekali, itu semua terlambat. Riyan sudah melihat seperti apa wajahnya saat sedang menangis, tapi ia menganggapinya hanya dengan senyum kecil nan tulus.
Ketika Noel tengah menghapus air matanya, Riyan kembali menepuk lembut kepala sang gadis beastkind berjenis serigala itu. Noel sempat tertegun mendapati tangan tuannya sekali lagi berada di kepalanya, tapi sayangnya Riyan segera menarik tangannya. Itu membuat Noel sedikit kecewa.
Namun...
“Ayo pergi, Noel.”
Sambil mengatakan itu pada budaknya, Riyan melangkahkan kakinya menyusuri jalan ke arah kota pelabuhan, Tladga, mendahului Noel. Untuk beberapa detik, Noel tertegun, tapi ia segera kembali ke alam sadarnya.
“Ya!”
Ia menyusul Riyan dengan senyum manisnya dari belakang, sedangkan Riyan masih tersenyum senang. Mendapat teman seperjalanan yang setia, itu sudah cukup menyenangkan baginya. Sebagai informasi tambahan, mereka berdua sudah melakukan kontrak segel budak.
***
Setelah seharian berpisah dari Siel dan para budak, akhirnya Riyan dan Noel bisa melihat gerbang masuk kota pelabuhan, Tladga. Seharusnya butuh waktu setidaknya satu hari untuk tiba di sana tanpa menggunakan alat transportasi apapun, tapi kedua orang ini berbeda. Riyan mengerahkan [Overload] dan berlari seperti biasa, sedangkan Noel menyusulnya dari belakang dengan [Auala Vave], disertai hembusan nafas tak teratur nan berat.
__ADS_1
“Tu\-tuan... tu\-tunggu aku...”
“Staminamu sedikit sekali ya, Noel.”
“A\-aku tak sehebat tuan!”
Mendengar rengekan budaknya, Riyan memelankan langkah kakinya. Meski Noel terlihat sangat lelah dan kehabisan nafas, Riyan sendiri tidak berniat untuk berhenti dan menunggunya. Mengapa? Tentu saja hal tersebut hanya akan membuang waktu. Riyan adalah orang yang menghargai waktu, ia ingin menyelesaikan apapun secepat mungkin.
“Kalau kau ingin mengikutiku, paling tidak tingkatkan staminamu.”
“B\-baik!”
Setelah mengatakan itu, Riyan melanjutkan ritme langkahnya yang sebelumnya ia ubah dan meninggalkan Noel di belakang. Ekspresi Noel menjadi rumit dan terkesan lucu ketika Riyan kembali ke kecepatannya tadi. Ia merasa sedih, tapi ia tidak berkecil hati sampai menyerah di tengah jalan, ditinggalkan pemiliknya yang baru.
“Aku harus berjuang, demi tuan Riyan. Ia percaya padaku, jadi aku harus menjawab kepercayaan yang telah ia titipkan padaku.”
Sambil menyemangati dirinya sendiri dalam hati, ia terus berlari mengejar tuannya yang sudah hampir tak terlihat oleh kedua manik ungunya. Walaupun tidak secepat sebelumnya, sekarang Noel lebih bisa mengatur nafas dan staminanya perlahan-lahan pulih. Seperti yang diharapkan dari seorang beastkind, staminanya memang jauh dari ras lainnya.
Setelah beberapa menit berlari sendirian, akhirnya Noel sampai di depan gerbang masuk kota pelabuhan, Tladga. Ia berhenti tepat di jalan masuk dengan kedua tangan bertumpu di lutut dan nafas yang tak karuan. Meski menggunakan [Auala Vave] yang menyedot mana, itu takkan mengurangi tenaga yang dikeluarkannya untuk berlari.
Sepuluh detik kemudian, ia menengadahkan kepalanya dan mulai mencari keberadaan tuannya, sayang matanya tak menemukan tanda-tanda dari Riyan. Sambil terus mengatur nafas, ia merasa ditinggalkan oleh tuan barunya yang sedari tadi memang meninggalkannya saat sedang berlari menuju kemari.
‘Tuan... apakah dia akan meninggalkanku di sini? Setelah aku mulai percaya kepadanya?’
Menanyakan itu dalam hatinya, air mata Noel mulai menetes sedikit demi sedikit. Ia tidak percaya, orang yang baru saja ia percayai menjadi tuannya pergi meninggalkannya di tempat asing yang sama sekali tak dikenalinya. Ia merasa kecewa, frustasi, dan putus asa. Ia tidak menyangka bahwa dirinya dibeli hanya untuk ditinggalkan.
“Oh, ternyata kau sudah sampai.”
Mendengar suara tersebut, Noel tersentak dan segera menoleh ke sumber suara itu. Ia memutar lehernya dan melihat ke belakang, di sana berdiri seorang pemuda berambut campuran hitam putih tengah menegak botol air minum yang terbuat dari organ dalam monster, yang tak lain dan tak bukan adalah tuan barunya, Riyan Klaint. Ia memandang tuannya dengan mata yang masih mengucurkan air mata.
“T\-tuan Riyan...”
Tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Riyan, Noel langsung melompat mendekati tuannya menutup jarak. Riyan yang memperhatikan tingkah laku Noel hanya bisa terkejut dan kebingungan. Ia tak mengerti mengapa satu-satunya budak dan teman seperjalanan yang ia miliki menangis dan tiba-tiba mendekatinya.
“Noel?”
“Tuan... tidak akan meninggalkanku, kan?”
“Hah? Kenapa aku membelimu kalau ingin meninggalkanmu?”
Mendengar jawaban tersebut, seketika itu juga Noel melompat dan memeluk Riyan. Tidak tahu apa yang terjadi, Riyan hanya membiarkan gadis beastkind itu memeluk dirinya. Setelah beberapa saat, akhirnya Noel menyudahi pelukannya.
Air mata yang masih tersisa di mata dan pipinya, perlahan ia hapus. Ia menyunggingkan senyum manisnya hingga membuat Riyan sedikit terkesima. Tidak seperti Riyan yang mulai tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya karena tekanan dalam labirin, sepertinya hatinya mulai terbuka sedikit demi sedikit, dibuka oleh budaknya sendiri.
“Ayo masuk, kita beli perlengkapan dulu.”
“Ah, i\-iya!”
Tidak tahan melihat senyum Noel yang terlalu terang, Riyan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kota. Noel menyusul dari belakang dengan tampang berseri-seri. Ia sangat senang melihat tuannya yang selalu terlihat tenang dan pendiam, memperlihatkan wajah rumitnya yang hampir tidak pernah diperlihatkan.
***
Riyan dan Noel saat ini tengah berjalan-jalan di kota pelabuhan di penghujung selatan benua Lidian, Tladga. Untuk apa? Membeli perlengkapan tempur untuk Noel. Meski statusnya cukup luar biasa, tanpa perlengkapan akan sulit menghadapi lawan, bahkan bandit sekalipun. Lalu, Riyan kelihatannya tidak mau repot melindungi Noel terus menerus.
Di tengah jalan, mata para orang-orang tertuju pada mereka, terutama sang gadis beastkind jenis serigala itu. Wajahnya manis dan cantik, lalu baju lusuhnya juga sedikit memperlihatkan kemolekan tubuhnya, terutama ekor berbulunya yang terus bergoyang kiri kanan gelisah tak kuasa diperhatikan banyak orang. Ia mengikuti Riyan dari belakang sambil menundukkan kepala.
“Oi oi, lihat! Ada orang yang memiliki budak beastkind di sini!”
Dari sebuah lorong pemisah antar bangunan, terdengar sebuah teriakan yang tak mengenakkan. Riyan segera menoleh ke arah lorong tersebut dan melihat siapa yang berteriak dengan nada menghina barusan. Di dalam lorong itu, terdapat lima orang pemuda bersenjata duduk di kotak-kotak kayu yang terdapat di sana.
__ADS_1
‘Premankah?’
Kelima pemuda tersebut berjalan keluar dan mendekati Riyan bersama Noel. Mereka melihat Riyan dengan tampang sombong dan remeh. Itu bukan hal yang baru bagi Riyan, karena ia sudah sering mendapat pandangan itu setiap hari. Tatapan intimidasi sekarang bukanlah apa-apa baginya, hanya sekedar angin lewat.
“Oi bocah, budakmu boleh juga, aku ingin mengambilnya.”
Sambil mengatakan itu, pimpinan mereka yang seorang pemuda berambut pirang mencolok dan mata biru itu melihat Noel dengan sorot mata cabul, diikuti oleh teman-temannya. Sontak saja Noel segera bersembunyi di belakang Riyan, menghindari tatapan tak sopan dari gerombolan pemuda bersenjata ini.
“Hei, kami tidak akan menyakitimu, manis. Kami hanya ingin memberimu perlakukan yang lebih baik dari orang ini. Pakaian lusuhmu akan diganti dengan pakaian mewah, kotoran\-kotoran yang ada di tubuhmu akan kami bersihkan. Tapi sebagai gantinya, kau harus menuruti apa yang kami ing—”
Buaak!! Braaakk!!
Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Riyan memukul wajahnya dan membuatnya melayang menabrak dinding suatu bangunan. Semua yang melihat itu, baik warga maupun rekan-rekan pemuda tadi, terkejut. Tak ada yang menyangka bahwa pemuda yang kalah jumlah ini berani melawan.
Tentu saja ia berani melawan. Mau seberapa banyak ayam berkumpul, jika lawannya adalah seekor singa yang lapar nan ganas, mereka takkan bisa menang.
“Brengsek, beraninya kau melawan kami, Black Dust!”
‘Black Dust?’
Sambil berteriak, salah satu dari empat pemuda itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke bawah sekuat mungkin, ke arah ubun-ubun Riyan. Di wajahnya terlihat jelas senyuman mengerikan yang mengharapkan lawannya dihadapannya mati. Namun, senyuman tersebut berubah ketika apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Craakk!!
Riyan mengangkat tangan kirinya dan dalam sekejap mencengkram bilah pedang gerombolan pemuda yang memanggil diri mereka ‘Black Dust’. Belum sempat ia terkejut, bilah pedang tersebut telah hancur diremas oleh laki-laki berambut hitam bercorak putih ini. Lalu, Riyan melemparkan serpihan-serpihan besi yang ada di tangannya ke arah dua orang lainnya.
Jrasss!!
“”Uwaaa!!!””
Seketika itu juga dua orang yang menjadi sasaran Riyan menjerit sekeras mungkin. Serpihan-serpihan besi pedang yang dilemparkan tadi mengenai mata mereka sehingga rasanya pasti akan amat sangat menyakitkan.
Tak menunggu lama, Riyan menjejakkan kaki kirinya ke tanah hingga permukaan tempat ia berdiri sedikit retak dan melayangkan lutut tepat ke arah siku pemuda yang menyerangnya menggunakan pedang.
Kraaakk!!
“Uaaaghhh!!”
Bersamaan terdengarnya suara tulang patah, teriakan lantang pemuda tersebut menghiasi suasana jalan kota Tladga yang bisa dikatakan cukup ramai. Terganggu dengan suara jeritan dari tiga orang pengganggu ini, Riyan mendaratkan pukulan di pemuda depannya, lalu segera berpindah ke dua pemuda yang tengah menjerit kesakitan akibat serpihan pedang yang tertancap di matanya, kemudian memukul perut mereka juga.
Kraak! Kraak! Kraaak!!
Dalam sekejap, satu orang menghantam dinding bangunan menyusul temannya yang pertama tadi dan dua orang terhempas sekitar 70 meter di tengah jalan. Sebagian warga yang melihat kejadian ini berteriak histeris, tapi ada sebagian juga yang tetap tenang menganggap kejadian ini sudah biasa dimata mereka.
Pembunuhan, kekerasan, pertarungan, duel, kematian, kerusakan bangunan atau perabot, senjata tajam, sihir dan skill yang merusakkan barang-barang orang lain, semua hal itu sudah biasa di dunia ini. Tak heran jika ada yang terlihat tenang atau bahkan menikmati hal-hal seperti ini.
“Kau tak melawan?”
Melirik ke pemuda terakhir, Riyan memberi tatapan intimidasi nan menakutkan. Pemuda tersebut tidak bisa menjawab, ia hanya menggelenggkan kepalanya karena diserang rasa ketakutan yang luar biasa. Namun Riyan tak peduli akan hal itu, ia tetap mendekati anggota Black Dust yang tersisa di sana.
“Jawab, apa itu Black Dust?”
Disertai rasa takut yang luar biasa, pemuda berambut cokelat bersenjatakan pisau kecil itu menjelaskan semua yang ia tahu tentang Black Dust, walaupun terbata-bata. Setelah beberapa lama, akhirnya Riyan mengerti apa yang dimaksud Black Dust.
Black Dust adalah sebuah organisasi gelap yang cukup terkenal di dunia bawah. Organisasi ini biasanya menerima pekerjaan-pekerjaan kotor, melakukan jual-beli ilegal, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pasar gelap. Mereka memiliki anggota-anggota yang cukup banyak dan tersebar di seluruh dunia. Sebagai tambahan, mereka memiliki kekuatan yang membuat lima kerajaan besar tak berani menyentuh mereka.
Black Dust mempunyai pasukan khusus yang bisa dikatakan berlevel tinggi. Menurut rumor, semua orang yang berada di pasukan khusus memiliki level diatas 80 dan status mereka juga jauh di atas rata-rata. Hanya dengan kelompok beranggotakan sepuluh orang, mereka dapat menghabisi seekor hewan iblis.
“Baiklah, terima kasih atas informasinya. Pergi bawa teman\-temanmu sekarang.”
“B\-b\-baik!!”
Puas mendapat informasi yang belum ia ketahui, Riyan melepaskan pemuda tersebut. Ia merasa senang dan suasana hatinya menjadi lebih baik. Bukannya khawatir karena telah menghajar anggota Black Dust, Riyan terlihat sama sekali tidak mempedulikannya. Mungkin saja ia menyimpulkan bahwa lima orang tadi adalah Black Dust gadungan.
Setelah semuanya beres, Riyan kembali ke tempat Noel yang terlihat sedikit ketakutan. Yah, itu wajar karena Riyan menghajar empat orang lainnya tanpa ampun. Bisa saja ia menerima perlakuan yang sama, itulah yang membuatnya takut. Namun, semua itu lenyap seketika.
“Kenapa kau melamun? Ayo cepat kita cari perlengkapan untukmu, sebelum malam tiba.”
Sambil mengucapkan itu, Riyan menepuk kepala Noel beberapa kali, lalu berjalan mendahuluinya, sama seperti yang ia lakukan di gerbang masuk. Noel termenung untuk beberapa saat, lalu berjalan menyusul tuannya. Walaupun ia masih khawatir pada dirinya di masa depan jika berbuat salah, ia memilih untuk berharap agar Riyan tak melakukannya semengerikan tadi.
__ADS_1