Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
11. Kabar Duka


__ADS_3

Melihat tubuh Riyan yang jatuh ke jurang bersama si monster ganas dan reruntuhan lantai, Tifania berteriak histeris, diikuti oleh murid-murid lainnya. Mata mereka terbelalak hebat melihat Riyan mengorbankan nyawanya sendiri jatuh bersama sang [Chimera] hanya untuk menolong mereka.



   "RIYAN!!"



Tak kuasa berdiam diri, akhirnya Tifania berlari ke tepi jurang, tempat dimana Riyan terjun bebas. Air mata terurai di udara begitu dirinya menapakkan langkah secepat mungkin. Tidak ada yang dapat merespons tindakan Tifania, kecuali Rizu. Ia mengerahkan sihir [Root Binding], sebuah sihir yang dapat mengikat lawannya menggunakan akar tanaman, untuk menjegal Tifania. Alhasil, Tifania terjatuh dengan gaya lucu.



Jika situasi memungkinkan, semua murid pasti akan tertawa, tapi saat ini mereka tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.



Sesaat kemudian, Tifania tersadar bahwa terdapat dua buah akar tanaman yang melilit kakinya dan membuatnya jatuh. Walau begitu, ia tidak peduli. Ia merangkak berusaha untuk melepaskan diri dari lilitan akar tanaman hijau yang dikendalikan oleh Rizu sambil berkali-kali memanggil nama laki-laki yang baru saja menyelamatkan sekelompok pahlawan.



   "Riyan! Riyan! Riyan! Riyan! Riyan!"



Karena Gilbert tidak bisa bergerak, Johan berjalan dan menghentikan usaha sia-sia yang dilakukan oleh sang gadis. Ketika melihat ekspresi Tifania saat ini, matanya kembali terbelalak. Air mata gadis itu mengalir dengan derasnya menggenangi lantai batu, dan tangannya diulurkan sampai batas maksimal hendak meraih tepi jurang tersebut.



Johan yang melihat kondisi Tifania sekarang, mulai mengerutkan wajah, ia menahan air yang perlahan merembes keluar dari kelopak matanya. Lalu, ia berjongkok dan menggenggam pundak kiri Tifania. Saking histerisnya, Tifania tidak bisa merasakan genggaman Johan sama sekali.



   "Tifania..."



   "RIYAAAN!!"



Johan tak dapat berbuat apa-apa untuk menenangkan seorang gadis yang saat ini tengah meraung-raung memanggil nama Riyan. Di sisi lain, Gilbert merasa lemas menyaksikan kejadian yang mengejutkan mentalnya tersebut. Tubuhnya membeku layaknya batu. Mungkin mati rasa adalah penggambaran yang paling tepat untuknya.



   'Dia... mengorbankan dirinya sendiri? Untuk kami? Riyan?'



Hatinya tidak siap menerima kenyataan kejam ini. Bagi seseorang yang menyandang kelas pahlawan, ia mengerti akan konsekuensi ini, tapi batinnya sama sekali tak menyangka bahwa korban akan benar-benar jatuh. Pikirannya menjadi kacau perlahan-lahan.



   "Uwaaa!!"



Di saat suasana mencengkam itu, sebuah jeritan datang dari belakang. Sontak saja, para murid yang masih berada di lorong labirin itu terkejut dan menoleh. Ketika mata mereka melihat ke dalam lorong bagian belakang mereka, terlihat Rei bersama beberapa murid lainnya tengah berlari secepat mungkin seperti melarikan diri dari sesuatu. Mereka sungguh ketakutan.



   "Slime!! Ada segerombolan besar slime dari depan!!"



Mendengar itu, para murid yang tadinya berada di situasi ketakutan, sekarang menjadi panik, bahkan Gilbert pun cukup terkejut. Memang benar, dari arah dimana mereka berlari, terdapat gumpalan-gumpalan cairan kental dengan berbagai warna yang melompat-lompat mendekat. Ukuran mereka tidak terlalu besar, hanya sebatas dispenser dan tinggi setengah meter.



Meski begitu, para murid terlihat ketakutan. Setelah bertempur melawan monster mengerikan yang tersesat dari lantai lima, [Chimera], kini mereka harus menghadapi segerombolan besar slime yang tiba-tiba datang. Graham, Hendra, Rizu, serta beberapa murid lainnya dengan sigap berlari ke belakang untuk melawan gerombolan slime warna-warni itu.



   'Tadi [Chimera], sekarang slime?! Dalam jumlah besar pula?! Apa yang sebenarnya terjadi!?'



Sambil mengucapkan itu di dalam hati, Rizu menyiapkan tongkat sihirnya untuk mengerahkan beberapa sihir demi menahan mereka, walau hanya sesaat. Slime di dunia ini tidaklah selemah yang ada di dalam permainan RPG, mereka jauh lebih mengerikan dari itu. Mengapa disebut mengerikan? Itu karena tubuh mereka yang berbentuk cairan.



Dengan tubuh cairan kental seperti itu, slime hanya bisa diserang menggunakan sihir. Bila diserang menggunakan kekuatan fisik, maka slime tersebut biasanya akan bertambah kuat, bukannya bertambah lemah. Serangan fisik yang menembus tubuh cairnya itu tidak akan melukainya sama sekali, karena begitulah sifat benda cair.



   "[Feuer]!"



Bersama kata tersebut, tongkatnya mengeluarkan sebuah tembakan bola api yang langsung melesat lurus menuju gerombolan slime di depan. Salah satu sihir dasar, [Feuer]. Sihir ini merupakan sihir tingkat terbawah dari sihir api, yang hanya dapat memanggil kobaran api. Tapi kelihatannya Rizu telah mengubah api yang seharusnya keluar dalam bentuk kobaran api, menjadi sebuah bola api berukuran bola tenis.



Boom!



Ledakan kecil terdengar, tapi serangan itu kelihatannya tidak mempengaruhi mereka yang memiliki jumlah mengerikan. Jika ditelusuri, mungkin jumlah mereka akan mencapai 100, atau bahkan lebih. Slime-slime tersebut terus melompat maju tanpa menghiraukan serangan dari Rizu barusan. Gadis itu terlihat kesal mengetahui sihirnya tidak terlalu berpengaruh.



   "Sial, bahkan sihir Rizu pun tak dihiraukannya. Gilbert, bagaimana ini?!"



Melihat serangan Rizu tidak mempan, Graham menanyakan itu pada Gilbert yang tengah berusaha berdiri dibantu oleh Layla. Ia terlihat masih terhuyung-huyung, tapi saat ini semuanya melihat ke arahnya, kecuali Tifania yang pingsan karena kelelahan. Sorot mata para murid sangat berharap padanya.



Ia menegakkan tubuhnya dan memandang ke depan, walau suasana hatinya agak runyam. Sebagai seorang pemimpin, terutama pemimpin para pahlawan dari dunia lain, ia tidak boleh memperlihatkan sisi lemahnya lagi. Ia masih syok dengan pengorbanan Riyan, tapi ia harus bisa melupakan kejadian untuk sesaat dan memusatkan pikiran kepada keselamatan mereka sendiri.



   "Dengarkan aku, semuanya!"



Gilbert menaikkan volume suaranya hingga para murid terkejut. Karena slime adalah monster dengan gerakan lambat, ia merasa ia harus membangkitkan semangat teman-temannya untuk menghadapi makhluk-makhluk lendir itu.



   "Aku tahu kalian merasa takut, panik, waswas, khawatir, dan lain sebagainya, tapi bukan saatnya untuk itu."



Ia memutuskan untuk berpidato sebentar guna menyingkirkan ketakutan para murid.



   "Seperti yang kalian saksikan tadi, Riyan telah mengorbankan nyawanya dengan gagah berani untuk membawa [Chimera] tadi mati di jurang di belakangku."



Mendengar kabar itu, para murid yang baru saja tiba di tempat mereka karena kejaran dari slime terkejut setengah mati. Mata mulai membulat, keringat menetes, tubuh bergemetar, dan pikiran kosong, itulah reaksi mereka ketika mengetahui apa yang mereka lewatkan selama ini.



   "Kita semua tahu bahwa Riyan adalah orang brengsek, kita tahu itu. Tapi, orang itu rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan kita! Demi kita yang setiap hari menjauhinya! Demi kita yang setiap hari mengusiknya dengan berbagai perkataan-perkataan buruk! Demi kita yang setiap hari mengasingkannya di dalam kelas! Bahkan sampai sekarang, sampai di dunia lain pun, kita masih melakukan hal-hal itu kepadanya!"



Gilbert menyuarakan pidatonya sekeras mungkin, diikuti emosi yang secara tidak sadar perlahan mengalir keluar melalui setiap kata dari bibirnya. Para murid tertegun mendengar ucapan Gilbert, lalu mulai menitikkan air mata tanda penyesalan serta kekesalan. Bahkan di ujung kedua mata Gilbert pun terlihat setitik air yang mengapung.



   "Aku tahu aku tidak berhak berbicara seperti ini, tapi ini adalah tanda penyesalanku. Aku menyesal mengabaikannya. Aku menyesal menyebutnya sebagai orang brengsek. Aku menyesal tidak menghiraukannya. Aku menyesal... atas segala perbuatan buruk yang telah kulakukan padanya."



Sambil mengucapkan itu, air mata Gilbert turun mengaliri pipinya yang kemudian jatuh ke lantai. Kepalanya sedikit tertunduk, menandakan penyesalan mendalam. Para murid yang tengah mendengarkan pidatonya itu bereaksi dengan reaksi yang sama dengan pimpinan mereka. Sesaat kemudian, Gilbert mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya.



   "Maka dari itu, untuk nyawa yang telah ia korbankan demi menyelamatkan kita, para pahlawan tidak becus ini, kita harus selamat. Tidak ada yang boleh tertinggal, semuanya harus keluar dari labirin tanpa korban lebih dari ini!"



Ia mencabut pedang, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas sambil menutup pidatonya. Para murid menjawabnya dengan balasan bersemangat, setelah mengusap air mata mereka. Satu persatu, mereka mengambil senjata yang mereka bawa dan membalikkan badan, menghadap ke kerumunan slime menjijikkan itu.



   "Terobos!!"


__ADS_1


   ""Uuuooo!!""



Menuruti arahan Gilbert, mereka semua maju tanpa gentar. Formasi telah diubah selama berjalan maju ke arah gerombolan slime. Para pemilik tameng berada di tempat terdepan, senjata jarak dekat berupa pedang, tombak, serta lainnya di belakang mereka, sedangkan murid-murid yang berbakat dalam sihir berada di belakang berkonsentrasi dan pengguna panah mengalirkan mana ke dalam busur, lalu menarik talinya.



Pertempuran kembali berlanjut, kali ini melawan gerombolan lendir hidup.



***



Beberapa menit setelah nekat menerobos sekelompok slime, Gilbert dan yang lain akhirnya terpojok. Sebenarnya slime bukanlah apa-apa bagi mereka dalam kondisi normal, tapi saat ini para murid di selimuti rasa gundah dan takut yang luar biasa karena tidak bisa melewati sekelompok lendir hidup itu. Selain itu, kekuatan mereka juga banyak berkurang karena bertempur melawan monster tersesat yang berasal dari lantai kelima.



Dengan nafas yang terengah-engah, mereka terhimpit oleh sebuah dinding dan sekerumunan monster yang berasal dari lantai dua itu. Karena Tifania kehilangan kesadarannya, Johan berlari sambil membopongnya di pundaknya. Statusnya cukup untuk mengangkat seseorang yang memiliki berat seperti Tifania.



   "Sialan, mereka tak ada habisnya."



Mengeluhkan itu, Gilbert menyiapkan pedangnya dan mengalirkan mana ke dalamnya. Beberapa detik kemudian, ia menebaskan pedangnya ke udara mengerahkan salah satu skillnya, [Slash]. Hanya sekali tebas, sekitar 3-4 slime langsung terbunuh, tapi dengan cepat digantikan oleh slime yang ada di barisan belakangnya.



   "[Appraisal]"



Karena penasaran atas kekuatan slime, ia mengerahkan skill penilaiannya untuk mengetahui seberapa kuat sebenarnya musuh yang mereka lawan kali ini.



---



Nama: Green Slime



Ras: Monster Lendir



Kelas: Umum



Level: 34



Nyawa: 530/530



Mana: 65/65



Kekuatan Fisik: 170



Kekuatan Sihir: 210



Ketahanan: 400



Atribut: Air



Skill: Acid Arrow, Acid Slime




---



Melihat status salah satu slime yang ada hadapannya, Gilbert mendadak panik. Bukan karena status kekuatan fisik ataupun kekuatan sihir, tapi ia terkejut karena kemampuan khusus dan ketahanan yang dimiliki slime-slime ini.



   "Status ketahanannya terlalu besar untuk orang biasa, sulit untuk maju jika hanya aku yang dapat menghancurkannya dengan mudah."



Sambil mengeluhkan itu, Gilbert mendecakkan lidahnya karena kesal. Sebagai seorang pahlawan dan salah satu yang terkuat di antara mereka, ia memiliki status besar, tapi ia tak yakin jika teman-temannya dapat mengikutinya membunuh para monster berlendir ini satu persatu.



   "Gilbert, pengguna tameng bersedia membersihkan jalan."



   "Hah?"



Ketika Hendra menyampaikan itu, Gilbert terkejut. Karena terlalu tegang, ia sendiri tidak memperhatikan kondisi para murid yang ada di belakangnya. Ia menoleh ke teman-temannya yang memiliki tameng besi besar, mereka tersenyum penuh percaya diri. Seketika itu juga, tergambarlah sebuah rencana di kepala Gilbert.



   "Hendra, berapa murid yang memakai tombak?"



   "Hm, kurang lebih ada empat orang."



   "Bagaimana dengan penyihir yang sekelas dengan Rizu atau Tifania?"



   "Selain dua itu, mungkin ada tiga orang. Kenapa kau menanyakan itu?"



Gilbert terdiam tak menjawab pertanyaan Hendra. Matanya terpejam dan otaknya menyusun formasi paling efektif untuk keluar dari labirin Hexaphilia ini. Sesaat kemudian, mata terbuka dan kembali melihat pengguna tameng. Ada enam orang, termasuk Yushu yang juga pengguna tombak.



   'Jika rencana ini berhasil, kita pasti bisa keluar dari labirin dalam 10 menit.'



Sambil menggumamkan itu, Gilbert berjalan menuju para pengguna tameng dan teman-temannya yang ada di belakang, lalu menyampaikan rencananya itu, sementara garis depan diambil alih oleh Graham, Hendra, Rizu, dan Corona. Memang ada beberapa yang tidak paham dengan rencana Gilbert, tapi ketua para pahlawan itu menjelaskan rencananya menjadi lebih sederhana.



   "Apa kalian mengerti peran kalian masing-masing?"



   ""Ya!""



   "Bagus. Lakukan apa yang kusampaikan!"



   ""Siap!!""



Bersama seruan itu, semua murid yang mendengarkan rencana Gilbert langsung berpencar dan menuju posisi mereka masing-masing. Para pengguna tameng maju ke tempat paling depan dan membentuk barisan ke samping. Di belakangnya, para pengguna tombak menyusul dan menyelipkan senjata mereka disela-sela tameng. Untuk Yushu, ia memegang tombaknya sendiri. Setelah itu, barisan pengguna sihir juga ikut di barisan paling belakang.

__ADS_1



Semua murid terlihat bingung, tapi Graham, Hendra, dan Johan tersenyum senang. Rizu yang mengerti, langsung mencari posisinya dan bergabung dengan para penyihir. Di sisi lain, Gilbert, Graham, Hendra, dan Johan melompat keluar dari barisan, lalu bersiap menghabisi gerombolan slime yang mengepung mereka sejak 10 menit lalu itu.



   "Semuanya, masuk ke dalam barisan! Kita akan menerobos!"



Mendengar arahan Rizu, seluruh murid yang tersisa langsung memenuhi barisan belakang. Memang butuh waktu untuk menyempurnakan formasi, tapi Gilbert tidak bisa menunggu lebih lama lagi.



   "Jalan ke depan dengan kecepatan konstan! Langkah tetap terjaga!"



   ""Ya!!""



Sambil menyerukan suaranya, Gilbert menjejakkan kakinya dan melompat ke depan menebas slime yang ada di depannya menggunakan [Slash]. Skill bisa dikatakan sebagai sihir, bisa juga tidak. Skill membutuhkan mana untuk mengerahkannya, sama seperti sihir. Bahkan jika ada seseorang yang memakai pedang biasa, lalu mengerahkan skill dengan tebasan langsung, slime dapat terluka. Inilah alasan mengapa Gilbert selalu menggunakan [Slash].



Tanpa mengenal mundur, mereka terus maju menerobos gerombolan lendir hidup menjijikkan itu. Gilbert dan ketiga orang lainnya yang berada di luar formasi, mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk membersihkan slime sebanyak mungkin. Ada beberapa yang lolos, tapi monster itu langsung disambut oleh kerasnya tameng dan sihir dari murid-murid di belakang. Tifania yang pingsan itu dibopong oleh Layla dan Rizu.



Setelah sekitar 5 menit, mereka bertemu Faleon dan kedua jenderal Alivonia di lorong. Kedua pihak cukup terkejut ketika melihat satu sama lain, khususnya kerumunan murid yang masih berada di dalam formasi. Tentu saja, Faleon dan kedua saudaranya itu langsung menghampiri mereka sambil membereskan para slime yang mengganggu.



   "Gilbert! Bagaimana keadaan kalian?!"



   "Kami baik-baik saja."



Sesampainya Faleon di barisan mereka, Gilbert dan ketiga murid lainnya jatuh berlutut kehabisan tenaga dan mana. Mereka menghabiskan terlalu banyak mana untuk menebas setiap slime yang ada, akhirnya mereka jatuh. Faleon menghampiri Gilbert lalu memberinya sebuah pil hijau, sedangkan Faizal dan Fileza terus bergerak menghabisi slime yang tersisa.



Gilbert memakannya, lalu mananya bertambah sekitar 20 poin. Kemudian Faleon membagikan pil yang sama kepada Graham, Johan, dan Hendra untuk dimakan. Pil tersebut adalah pil penambah mana, terbuat dari tanaman herbal khusus penghasil mana.



   "Jenderal, ada kabar buruk yang harus kusampaikan padamu."



   "Apa itu?"



Mendengar jawaban langsung dari Faleon, secara tidak sadar, Gilbert menundukkan kepalanya. Wajahnya dipenuhi ekspresi kegelisahan hebat yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Melihat tampangnya, Faleon menjadi khawatir, enggan rasanya untuk menanyakan hal itu.



   "Baiklah, mari kita keluar dari labirin ini dulu, lalu bicarakan semuanya yang mulia."



   "Baik."



Gilbert menarik tangan Faleon yang diulurkan untuk membantunya berdiri. Gilbert dan Faleon memimpin semuanya keluar dari labirin mematikan tersebut, Faizal dan Fileza menjaga dari belakang. Karena kekuatan dari ketiga jenderal itu masih di atas para pahlawan, otomatis mereka harus menjaga aset-aset berharga kerajaan.



Saat Gilbert bertanya kenapa mereka kembali masuk ke dalam labirin, penyebabnya adalah salah satu bola kristal yang berada di luar berubah menjadi warna hitam. Faleon memutuskan untuk langsung terjun ke dalam begitu melihat warna kristal berubah. Gilbert merasa khawatir dan takut. Ia bingung bagaimana menjelaskan ini kepada Alestein. Salah satu teman mereka tewas, hanya demi mereka.



Di sisi lain, Faleon menjadi waswas ketika tidak melihat wujud Riyan sekali pun. Walau begitu, ia percaya bahwa ia hanya tertipu dengan hawa keberadaan laki-laki yang tipis itu. Faleon pun membuang segala pikiran negatif tentang Riyan jauh-jauh dan melangkahkan kaki menuju istana.



***



Saat ini para murid kembali ke kamarnya masing-masing, kecuali Gilbert yang sedang berlutut satu kaki di hadapan Alestein melaporkan semua yang terjadi di dalam labirin Hexaphilia.



   "Begitu... aku mengerti."



Mendengar kabar mengejutkan dari Gilbert, Alestein benar-benar syok, termasuk seluruh prajurit yang berada di ruang raja, tentu saja Faleon dan kedua saudaranya juga. Faleon tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Ia segera turun dari posisi semula di samping kanan Alestein, dan berdiri di depan Gilbert.



   "Gilbert, benarkah itu?"



Pemuda berambut pirang tersebut hanya mengangguk dengan tampang sedih menjawab pertanyaan sang jenderal. Faleon tak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi jawaban Gilbert. Hatinya bergejolak, perasaan sakit datang menerjangnya. Tangannya mengepal kuat. Kemudian, ia melangkah pergi meninggalkan ruangan raja tanpa berkata sepatah kata pun.



   "Kakak!"



   "Hentikan, Fileza. Biarkan dia sendiri."



Ketika Fileza hendak menyusul Faleon, dirinya dihentikan oleh Alestein sehingga tubuhnya benar-benar terhenti. Ia menoleh ke Alestein dan menatap dengan tatapan bingung bercampur sedih.



   "T-tapi..."



   "Dia perlu waktu. Orang itu merasa jauh lebih bersalah dibandingkan kalian semua."



Gilbert yang sempat mendengar penggalan kalimat terakhir itu terkejut, tapi ia tidak meminta penjelasan lebih lanjut. Ia merasa tidak pantas untuk memintanya setelah semua yang ia lakukan kepada Riyan.



   "Kalau begitu, yang mulia, saya undur diri."



   "Ya, baiklah. Tenangkan dirimu dan teman-temanmu, Gilbert."



   "Baik."



Setelah itu, ia berdiri dan berjalan keluar menyusul Faleon. Ia melangkah lurus menuju kamarnya tanpa terganggu oleh suara sedikit pun. Kesal, amarah, bingung, sedih, kecewa, semua perasaan itu bercampur aduk di dalam hatinya.



Di sisi lain, Remia yang baru diberitahukan berita duka tersebut oleh salah satu prajurit utusan Faleon, jatuh berlutut di lantai dapur. Air matanya langsung menerobos keluar begitu mendengar kematian Riyan melalui telinganya sendiri.



Sebenarnya, sejak menampar Riyan tempo hari, gadis pelayan ini merasa bersalah. Ia berkali-kali ingin meminta maaf, tapi tidak berani. Ketika ia meneguhkan hatinya untuk meminta maaf, Riyan dan rombongan pahlawan telah pergi menuju labirin Hexaphilia. Karena alasan itulah, ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Riyan, lalu meminta maaf atas perlakuan kasarnya. Sayangnya, saat rombongan pahlawan kembali, mereka hanya membawa kabar duka tentang Riyan.



Dapur dipenuhi teriakan histeris Remia. Para staf dapur juga sedih, tapi tidak sampai seperti gadis pelayan itu. Yang dapat mereka lakukan hanyalah berusaha menenangkan Remia untuk mencegah suara lebih keras lagi.



Di sebuah lorong istana yang sepi, Faleon menyadarkan punggungnya di dinding dan perlahan-lahan jatuh terduduk di lantai. Tangannya berdarah, akibat kepalan yang terlalu keras tadi. Ia menundukkan kepala, air matanya setitik demi setitik runtuh membasahi keramik.



   'Ini semua salahku. Aku yang paling tahu tentang kemampuannya, tapi aku juga yang paling memaksakan dirinya. Jika saja aku tidak menyuruhnya pergi, maka hal seperti ini... hal seperti ini...'

__ADS_1



Di tengah kegelapan yang menyelimuti lorong, Faleon, sang jenderal besar kerajaan Alivonia, menangis seorang diri. Sekuat apapun seseorang, jika yang terserang adalah hatinya, maka ia takkan bisa menahannya, bahkan seorang pahlawan besar sekalipun.


__ADS_2