Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
16. Penguasa Labirin


__ADS_3

Seperti biasa, Riyan mengerjakan apa yang menjadi rutinitas hariannya, yakni menjelajahi lantai keenam labirin Hexaphilia. Hampir setiap hari ia keluar dari guanya untuk mencari jalan keluar, tetapi sampai sekarang belum ada petunjuk mengenai hal tersebut. Saat kembali, ia pasti selalu menyeret satu atau lebih mayat monster, besar maupun kecil.



Tapi hari ini, ia menemukan sebuah kejanggalan yang tak pernah ia temukan.



"Glay, kau tahu pintu apa ini?"



Tidak ada suara yang menjawab pertanyaannya. Dihadapannya terdapat dua daun pintu besar setinggi 4 meter dengan corak yang menggambarkan kematian. Riyan tak mengenali pintu ini karena tidak ada data tentang pintu yang lebih cocok di sebut gerbang tersebut di dalam buku yang memuat berbagai pengetahuan dan informasi labirin Hexaphilia.



Ia hanya memandang gerbang di depannya dengan wajah rumit. Otaknya dipenuhi oleh segala kemungkinan yang dapat terjadi ketika memasuki ruangan dibaliknya. Setelah beberapa lama, ia mendapat empat kemungkinan.



'Pertama, pintu tersebut adalah pintu yang bisa mengembalikanku ke dunia asalku. Kedua, terdapat sebuah ruang rahasia yang mungkin saja merupakan tempat peristirahatan terakhir Luctas Hadwin, pendiri labirin ini. Ketiga, tempat tersegelnya seekor monster yang sangat kuat seperti bos atau semacamnya. Keempat, pintu keluar.'



Keempat perkiraan itu muncul di otaknya secara bergiliran. Karena tak ada petunjuk, ia tidak bisa memilih salah satunya untuk di yakini. Walaupun di pikirannya ada empat kemungkinan, tetapi hatinya memiliki dua pilihan, masuk dan memeriksanya atau membiarkan pintu yang mungkin berisikan ruangan tersebut, tertutup hingga dirinya siap.



Menurutnya, persentase kemungkinan yang paling tinggi adalah kemungkinan ketiga, tempat tersegelnya seekor monster yang teramat kuat. Riyan bukanlah orang yang berpikiran pendek yang langsung menerjang masuk tanpa persiapan, ia memikirkan segala perkiraan yang dapat terjadi.



"Yah, besok saja. Toh, aku juga merasa lelah karena seharian menjelajahi labirin dan membunuh monster-monster ini."



Sambil mengatakan itu, ia menengok ke belakang. Di sana terlihat berbagai macam tubuh monster yang sudah tak bernyawa dan diikat menggunakan tali. Alasan mengapa Riyan melakukan perburuan berskala besar adalah eksperimen. Ia mengambil organ dalam dari makhluk yang telah ia taklukkan, lalu mengalirkan sejumlah mana ke dalamnya untuk melihat apa reaksinya. Jika berguna, maka ia akan terus melakukan perburuan berskala besar terhadap jenis monster tersebut. Jika tidak, maka sebaliknya.



Ia pun berbalik dan berjalan kembali menuju guanya, tentu saja mayat-mayat monster itu juga ia bawa. Agar tidak berat, ia menyeret mereka dengan kasar, seakan tak peduli bagaimana kondisinya. Karena itu mayat, tidak ada alasan untuk mempedulikannya. Sesampainya di gua, ia segera memisahkan setiap organ para monster, lalu dagingnya di asapi agar lebih awet.



Sudah cukup lama sejak ia jatuh ke lantai keenam labirin Hexaphilia ini sendirian, ia mulai berpikir tentang dunia luar. Sebelumnya ia hampir tidak pernah memikirkannya, karena otaknya terus bekerja agar bisa bertahan hidup di kondisi lantai yang mengerikan. Rantai makanan di sini pun ikut kacau akibat banyaknya monster-monster unik campuran.



Kadal raksasa menjadi mangsa monster berkaki empat, sedangkan mereka akan menjadi makanan dari kelalawar gua. Dan yang lebih mengerikannya, Riyan pernah melihat seekor monster jenis katak, melahap seorang goblin utuh. Pada awal ia jatuh kemari, sering sekali nyawanya hampir melayang karena kejaran dari makhluk-makhluk mengerikan tersebut, tetapi dengan skill [Distract] miliknya, ia berhasil kabur dari setiap pemburu.



"Hm, bagaimana keadaan Tifania dan lainnya, ya? Aku cukup khawatir."



Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tumpukan kulit yang telah menjelma menjadi kasur kecil. Di samping kanannya terdapat api unggun yang di atasnya terdapat daging-daging monster yang telah digantung menggunakan tali.



Sambil melamun menatap langit-langit gua, ia mengira-ngira apa yang sedang Tifania dan lainnya lakukan di istana. Mungkin mereka kembali menjalankan latihan rutin mereka setiap hari, tanpa mencemaskan apapun. Tiba-tiba, ia mengingat tindakan Gilbert untuk terakhir kalinya, saat detik-detik penentuan. Mengingat hal tersebut, dahi Riyan mengerut sesaat, lalu tersenyum.



'Gilbert, sepertinya ia tak sebenci itu padaku.'



Puas melamun, ia pun bangkit duduk dan mengangkat daging monster yang ia asapi dengan panik, karena bau yang tak sedap mulai tercium. Ketika di angkat, bagian yang paling dekat api terlihat bertekstur keras dan berwarna hitam, dengan kata lain gosong. Secara tidak sadar, ia menggantungnya terlalu pendek sehingga menyebabkan daging tersebut gosong. Karena perutnya mulai bersuara, mau tak mau ia harus memakannya.



***



Keesokan harinya, sesudah mengisi perut, ia langsung berangkat menuju pintu raksasa yang ia temui kemarin. Di dalam labirin sangatlah gelap, hampir tidak ada cahaya sedikit pun yang menyelinap masuk. Sebaliknya, di luar sangatlah terang karena matahari sedang mencapai titik tertingginya, berbanding terbalik 180 derajat. Untunglah berkat [Owl Vision], Riyan dapat melihat dalam kegelapan sejelas mungkin.



"Hm... aku masih agak ragu, walau seluruh perlengkapan telah kubawa."



Sambil menatap pintu raksasa yang berada di hadapannya, ia bergumam. Tidak seperti biasanya, kali ini ia membawa semua yang ia perlukan di tas selempang yang dulunya jubah. Pakaiannya masih sama setelah dua bulan lebih jatuh ke lantai ini, hanya saja dibalutkan kulit-kulit monster yang ia jahit sehingga menjadi zirah kulit sederhana.



Dari segi penampilan, Riyan memang terlihat sangat tidak layak, karena banyaknya jahitan di bajunya, tapi ia tak peduli. Ia lebih mementingkan status pertahanan yang didapatkan dari hasil keterampilan tangannya tersebut. Jika dilihat menggunakan [Appraisal], maka akan seperti ini.



---



Nama : -



Jenis : Zirah/Kulit



Pertahanan : 410



Efek : -



Material : Kulit [Minotaur], benang [Wild Gwinwydd]



---



Memang status pertahanan yang diberikan oleh zirah tersebut tak seberapa dibandingkan dengan status pertahanan milik Riyan, tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Lagipula, untuk menghindari segala kemungkinan yang berefek negatif, ia harus mempersiapkan semuanya sematang mungkin, apalagi kali ini ada kemungkinan ia akan bertarung melawan bos monster lantai ini.



Kemudian, ia maju ke mendekati pintu hingga berjarak kurang lebih setengah meter. Tangan kanan ia angkat dan diletakkan di salah satu daun pintu tersebut. Ia mulai menegangkan otot-ototnya dan mendorong agar ia dapat melewati pintu yang terlihat seperti gerbang itu.



Selang beberapa detik, pintu terbuka sedikit demi sedikit dan ia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam. Ketika berhasil melewati gerbang pintu yang tertutup rapat, Riyan langsung melihat ke sekeliling untuk memeriksa apa yang ada di sana. Tak butuh waktu lama, ia menyadari jika dirinya sedang berada di sebuah ruangan yang cukup luas.



Seketika itu juga tiba-tiba tempat obor di sekeliling ruangan tersebut menyemburkan api besar, lalu menciut hingga sesuai wadahnya yang mungkin hanya sebesar nampan restoran. Akibat api yang tiba-tiba menyala itu, sontak Riyan menutup matanya karena tak terbiasa dengan cahaya terang. Beberapa saat setelahnya, ia membuka matanya kembali sambil berkedip berkali-kali untuk membiasakan.



Tapi, ketika matanya terbuka, ia melihat sebuah singgasana yang terbuat dari batu, terletak di ujung ruangan. Terdapat sesosok makhluk yang terlihat mirip seperti manusia sedang duduk di sana. Hati Riyan yang melihat itu langsung bersorak gembira dan ingin menghampirinya, tetapi berkat skill [Sense] miliknya, ia merasakan sesuatu yang janggal dari seseorang tersebut. Aura kematian kental mengelilingi tubuh sosok itu.



"Ho, ada yang berhasil masuk sampai kemari?"



Mendengar suara dari arah depan, Riyan langsung menggapai gagang [Glayster] yang ada di punggungnya dan membentuk kuda-kuda sekokoh mungkin. Walau begitu, ia tak memusatkan seluruh konsentrasinya ke makhluk yang menyerupai manusia di depannya, karena ada kemungkinan seekor monster akan menyerangnya dari arah lain ketika sedang lengah.



Suara tersebut terdengar gemetar seperti suara seorang kakek tua renta, tetapi terdengar sangat jelas, hal ini membuat Riyan bersiaga tanpa banyak berpikir. Kemudian, sosok yang terlihat seperti manusia itu bangkit berdiri dari singgasananya, lalu berjalan pelan mendekati Riyan. Riyan segera mencabut pedangnya dari punggungnya dan bersiap untuk pertarungan, karena aura  kematian dari sosok dihadapannya ini.



'Undead kah?'

__ADS_1



Semakin dekat, wajah sosok menyerupai manusia itu telah terlihat akibat siraman cahaya obor, dan tebakan Riyan ternyata tidak salah. Terdapat banyak luka-luka besar yang melubangi daging busuk di wajahnya, sehingga terlihat tulang dan sebagainya. Lalu dada sebelah kanannya memperlihatkan tulang rusuk utuh, sedangkan dada bagian kirinya memiliki daging yang telah membusuk setelah sekian lama. Jika dijelaskan secara mudahnya, sosok ini adalah mereka yang disebut zombie.



"Wah, hari ini adalah hari keberuntunganku. Sudah lama sejak terakhir kali aku menjumpai manusia."



Zombie itu membuka rahangnya untuk mengeluarkan suaranya. Riyan pun terkejut setengah mati, bukan suaranya, tetapi kata-katanya. Ia pun melepas kuda-kudanya dan berdiri seperti biasa, tanpa mengendurkan kewaspadaannya tentu saja.



"Anu, apakah kau adalah undead yang dulunya manusia?"



"Hah? Bukannya sudah pasti? Apa kau tidak bisa memastikannya dari telingaku?"



Mendengar itu, matanya segera bergerak mencari sepasang telinga di sisi kanan kiri kepala sang undead yang di hadapannya tersebut, tapi sayangnya ia tak menemukannya.



"Maaf, tetapi kau sudah tidak memiliki telinga."



"Benarkah? Hm, aku lupa kalau sekarang aku adalah seorang undead."



'Orang ini lupa jika dirinya adalah undead? Aku tidak bisa berkata apa-apa tentang itu. Yah, paling tidak, aku mendapat teman bicara.'



Senyuman masam terbentuk dibibir Riyan ketika mendapat tanggapan positif dari sang undead. Ia memasukkan pedangnya ke sarungnya, lalu mendekati undead itu dengan langkah ringan tanpa takut, tetapi ia takkan melepaskan kewaspadaannya. Sebelum semakin mendekat, ia mengerahkan [Appraisal] kepada si undead tersebut.



---



Nama : Luctas Hadwin



Ras : Undead



Kelas : Raja, Pemusnah, Penguasa Labirin



Level : 865



Nyawa : 237800/237800



Mana : ∞/∞



Kekuatan Fisik : 970



Kekuatan Sihir : 13230




Atribut : Kegelapan, Petir



Skill : Summon Undead, Summon Undead : Army, Turn Undead, Undead Slave, Yin Release, Blackhole, Eye of Dark, Thunder Release, Thunder Storm, Comprehension, Anti Illusion, Sharp Nail, Intimidation, Black Rose, Freeze Gaze, Dark Knife, Thousand Hands, Shadow Golem, Thunder Golem, Thunder Bird, Thunder Storm, Thunder Branch, Black Spear, Identify, Dark Phantasm



---



Mengetahui status yang dimiliki oleh undead yang ada di hadapannya, langkah Riyan terhenti tiba-tiba. Ekspresinya luntur, wajahnya menjadi pucat pasi, tangan serta seluruh tubuhnya bergemetar hebat sambil mengeluarkan keringat dingin sedikit demi sedikit. Kemudian, ia menatap mata sang undead di hadapannya itu.



"Ada apa, nak?"



"Tidak, tidak ada apa-apa."



Si undead yang berpenampilan kakek tua tersebut hanya tersenyum. Dalam seketika, Riyan menjadi sangat tegang dan khawatir, disertai ketakutan yang luar biasa tentunya. Bagaimana tidak? Dengan status semengerikan itu, seseorang dapat menghancurkan sebuah kerajaan sendirian. Dan lagi, perbedaan status mereka lebih seperti surga dan neraka daripada langit dan bumi.



"Oh benar, namaku adalah Luctas Hadwin, pendiri labirin Hexaphilia ini. Salam kenal, Riyan Klaint."



Mendengar namanya terucap dari lawan bicaranya, Riyan langsung melompat menjauh sejauh mungkin dan kembali menarik [Glayster] dengan raut wajah kesulitan. Luctas tersebut hanya tersenyum melihat reaksi Riyan. Tentu saja, siapa yang tidak bereaksi seperti itu jika dihadapkan dalam situasi yang sama?



"Darimana kau mengetahui namaku?"



Dengan tatapan tajam, Riyan bertanya langsung pada intinya. Di sisi lain, Luctas tetap tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Sepuluh detik berlalu, belum ada jawaban yang di dapatkan oleh Riyan. Hal ini membuatnya kesal, tapi ia tak boleh betindak gegabah, mengingat selisih status mereka bagaikan semut dan gajah.



"Aku adalah penguasa labirin ini, aku mengetahui hampir segala sesuatu di sini. Yah, walaupun aku telah tertidur lebih dari tujuh belas abad sih."



Sebelum rasa penasaran Riyan semakin menjadi-jadi, Luctas memutuskan untuk menjawabnya terlebih dahulu. Tetapi, Riyan tak puas mendengar jawaban barusan, ia ingin lebih. Selama di dalam labirin ini, kepribadiannya mulai berubah perlahan, sehingga sifat serakahnya juga ikut berkembang.



"Jadi, apa urusanmu denganku, Luctas Hadwin, pencipta labirin?"



"Wah, seram seram. Jangan begitu dong, aku hanya ingin mengobrol dengan orang lain setelah kurang lebih 2 milenium lamanya."



Mendengar itu, Riyan tersentak. Mengetahui ada seseorang mengalami apa yang ia alami, bahkan jauh lebih lama darinya, sontak saja membuatnya terkejut. Ia menurunkan pedangnya, tapi tidak kembali memasukkannya. Hatinya melunak begitu mendengar pernyataan tersebut. Akhirnya ia mendesah pelan karena lawan bicara pertamanya setelah dua bulan adalah seorang undead, padahal ia mengharapkan manusia atau monster humanoid yang dapat berbicara bahasa manusia.



"Apa kau benar-benar hanya ingin berbicara padaku?"



"Hm? Jangan berat hati, aku tahu kalau kau juga ingin sekali berbicara dengan seseorang seperti saat ini."



Sambil melontarkan kalimat itu, Luctas melemparkan sebuah senyum hangat yang menjijikkan, jika bukan karena penampilan busuk undead-nya. Riyan hanya bisa menyerah dan melontarkan senyum masam. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk membalas ucapan lawan bicaranya.

__ADS_1



Luctas berbalik dan berjalan menuju singgasananya yang ia tinggalkan sementara, Riyan mengikutinya dari belakang, karena undead tersebut tak terlihat ada niat buruk, kecuali aura kematian kental darinya. Di sana Luctas duduk di atas kursi, sedangkan Riyan bersila di lantai. Mungkin ia sadar perbedaan kelas serta statusnya dengan pencipta labirin ini.



"Jadi, Riyan Klaint, coba ceritakan tentang dirimu dan bagaimana kau bisa sampai di lantai ini, padahal sudah sejak dua ribu tahun lalu labirin ini berdiri, tak ada yang berhasil menembusnya."



"Apa imbalannya?"



"Ha?"



Sang penguasa labirin pun terkejut mendengar balasan dari si manusia. Kelihatannya ia tidak menyangka akan dikenakan bayaran seperti itu. Wajahnya terlihat kebingungan, walau tak sepenuhnya.



"Imbalan?"



"Tentu saja, yang kau tanyakan ini adalah informasi pribadiku, masih ada kemungkinan jika kau adalah rekan bangsa iblis yang dikirim kemari untuk mencuri informasi kerajaan Alivonia."



Mendapat jawaban yang tak terduga, Luctas tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema ke sana kemari, karena pantulan dinding ruangan. Tidak ada apa pun di ruangan itu, selain singgasana yang diduduki oleh seorang undead dan nyala api obor di setiap sisi dinding.



"Menarik sekali! Baiklah, kuterima tawaranmu, anak muda!"



Suaranya makin keras sehingga membuat Riyan menonaktifkan [Sense]-nya. Sesaat kemudian, Luctas menghentikan tawanya yang masih berlanjut, lalu membuka rahang untuk berbicara.



"Akan kuberikan sebuah barang yang berguna untukmu."



"Apa itu?"



"Yah, kau akan tahu setelah menceritakan tentang dirimu."



Dalam hatinya, Riyan ingin menolak menceritakan segala tentang dirinya karena imbalannya tidak jelas. Tapi keinginan itu langsung hangus ketika mengingat seberapa besar perbedaan status mereka. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia tak menuruti ucapannya, maka dari itu kali ini ia mengalah. Kemudian, ia mulai menceritakan semua yang dapat ia ceritakan pada seorang undead yang ada dihadapannya.



***



"Hiks, sungguh menyedihkan."



"Hentikan, riwayat hidupku tak separah itu."



"Tidak! Ceritamu ini adalah salah satu cerita tersedih yang pernah kudengar!"



Ekspresi Riyan menjadi datar karena melihat reaksi berlebihan dari sang undead pencipta, sekaligus penguasa labirin ini. Desahan panjang terdengar dari celah bibirnya, mengeluhkan sifat lawan bicaranya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Luctas pikirkan. Mungkin ia hanya mengejek agar memancing kemarahan Riyan, lalu terjadi pertarungan. Sayang sekali, Riyan bukanlah orang bertemperamen tinggi dan pemikiran pendek.



"Ya sudahlah, mana imbalanku?"



"Aku benar-benar menangisi pengalaman hidupmu tahu!"



"Aku tak peduli."



Wajah Luctas berubah menjadi cemberut begitu dibalas oleh Riyan. Tapi karena tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya ia mengalah setelah di desak oleh Riyan beberapa kali. Walaupun telah hidup lebih dari dua milenium, entah mengapa sikapnya seperti anak kecil.



"Baiklah, aku akan memberikan barang yang akan kuberi sebagai imbalan atas informasi kehidupanmu itu, tapi..."



Sebelum menyelesaikan kalimatnya, ucapannya terhenti. Karena berhenti di tengah-tengah, Riyan pun semakin penasaran di buatnya. Ia bangkit dari singgasananya dan berjalan melewati Riyan yang duduk bersila di depannya. Sampai di titik tengah ruangan, ia berhenti, kemudian membalikkan badannya menatap Riyan.



"Aku ingin melihat kemampuanmu terlebih dahulu."



Ketika ia melengkapi kalimat yang tadi terhenti, tiba-tiba tubuh Riyan diterjang oleh tekanan super berat. Saking beratnya, ia tak mampu berdiri normal. Ia bangkit dengan mengerahkan lebih banyak tenaga dari biasanya. Tekanan berat tersebut berasal dari gabungan skill milik Luctas, [Intimidation] dan [Freeze Gaze].



Sesuai namanya, [Intimidation] adalah skill yang dapat mengintimidasi individu ataupun kelompok. Biasanya efek dari skill ini hanya bisa terasa sedikit, tetapi karena pengaruh status, [Intimidation] menjadi jauh lebih kuat dan efektif. [Freeze Gaze] merupakan skill yang mirip dengan [Intimidation], perbedaannya skill ini hanya dapat dikerahkan kepada individu seorang. Walau begitu, efeknya lima kali lebih besar dari [Intimidation].



Bulir-bulir keringat dingin menerobos keluar melalui pori-pori, dan mulai jatuh bebas ke lantai. Ketakutan dan berbagai perasaan negatif lainnya kembali menyelimuti Riyan. Tubuhnya hampir tidak bisa melawan tekanan yang diberikan Luctas, tapi ia tetap berusaha.



Dalam situasi mengerikan tersebut, Riyan memaksa diri untuk mengangkat suaranya. Diliputi ketakutan yang luar biasa, Riyan masih bisa mengucapkan sepatah kata, walaupun mungkin itu adalah kata-kata terakhirnya.



"Apa aku harus melawanmu?"



"Bukan aku, tapi 'dia'."



Sambil menjawab pertanyaan Riyan, ia mengangkat kedua tangannya ke depan dengan telapak yang mengarah lantai. Riyan dengan sigap mengambil pedangnya dan bersiap untuk menghadapi apa yang akan ia hadapi. Di sana tercipta sebuah lingkaran sihir raksasa berdiameter 10 meter bercahaya putih redup.



"Bangkitlah kau, pemangsa segala sesuatu di alam kematian. Datanglah, Moarleth!"



Dari lingkaran sihir tersebut, secara perlahan muncullah sesosok makhluk raksasa bersayap. Tubuhnya dilindungi sisik keras berwarna hijau yang beberapa bagiannya terlihat luka-luka terbuka hingga memperlihatkan lapisan di bawah kulit, matanya merah darah. Dadanya kosong, hanya terdapat tulang rusuk dan tulang punggung di dalam. Sayapnya robek di beberapa tempat sehingga memungkinkan malkhuk tersebut tak dapat terbang.






Melihat makhluk tersebut muncul dihadapannya, mata Riyan terbelalak dan rahangnya terbuka menggantung di udara. [Glayster] semakin erat ia genggam, saking takutnya.



'Naga undead!?'

__ADS_1


__ADS_2