
Sesudah menyelesaikan tugasnya membunuh Luctas, Riyan melakukan apa yang dikatakan oleh sang undead tersebut untuk terakhir kalinya dan melompat ke dalam sebuah lingkaran sihir yang tergambar di lantai, sehingga membuat dirinya berteleportasi ke pintu masuk labirin. Seketika itu juga, ia langsung keluar tanpa basa-basi, tapi matanya mengalami gangguan karena cahaya dalam jumlah banyak menyerang retinanya.
'Si-sial, aku melupakan hal ini.'
Akhirnya, ia memutuskan untuk berteduh di sebuah pohon yang ia lihat dengan samar-samar hingga matanya terbiasa. Ia duduk di bawahnya dan perlahan-lahan membuka matanya sedikit demi sedikit. Memang sangat memilukan, namun mau tidak mau ia harus melakukannya.
Setelah beberapa menit menyesuaikan diri, Riyan bangkit berdiri. Kemudian, ia berusaha berjalan menuju kota dan memperbaiki penampilannya yang kusam nan kumal itu. Sudah lebih dari dua minggu ia tidak mandi, jadi sadar ia harus segera menemukan penginapan atau pemandian umum agar dapat membasuh dirinya.
Ketika ia ingin mengambil langkah lebih, saat itu juga Riyan melihat seorang pria dan wanita yang duduk di sebuah meja. Tiba-tiba ia teringat kejadian saat dirinya jatuh ke dalam jurang yang menghubungkan lantai tiga dan lantai enam labirin Hexaphilia secara langsung. Lalu, ia sadar bahwa kalung yang dulu sempat dipinjamkan padanya dari pihak serikat sebelum memasuki labirin.
'Gawat, kalung itu hilang di dalam labirin. Nah, sekarang bagaimana?'
Sambil memikirkan rencana yang bisa membuatnya lolos, ia mengambil kotak pemberian Luctas dan membukanya. Di dalam sana terdapat beberapa pecahan kristal berwarna putih transparan. Ia terlihat kebingungan pada pecahan kristal tersebut, sebenarnya apa gunanya? Seketika itu juga, ia mendapat inisiatif untuk menukarkannya dengan uang, berhubung ia tidak memiliki uang sama sekali. Selain pedang suci dan sekotak pecahan kristal, tidak ada hal lainnya yang ia dapatkan dari Luctas.
Beberapa saat memikirkan rencana meloloskan diri dari kedua penjaga labirin, ia menemukan satu cara yang cukup ampuh. Sebenarnya ia tak ingin menggunakan cara ini karena merepotkan, tapi ia harus bisa kabur dari tagihan kalung tersebut. Selain itu, ia juga berusaha agar dirinya yang masih hidup tidak diketahui keberadaannya.
Riyan menyimpan kotak berisi pecahan kristal putih ke dalam tas selempannya, lalu mengambil sebuah batu dari tanah. Ia dan kedua penjaga itu berjarak sekitar 40 meter lebih dan hawa keberadaan Riyan sangatlah kecil, sehingga ia tidak disadari.
Kemudian, ia mengambil ancang-ancang untuk melempar batu yang ada ditangannya sekuat mungkin. Hidungnya menarik nafas sebanyak-banyaknya, lalu mulai mengayunkan lengan kanan.
'[Throwing Stone]! [Distract]!'
Wussh... Jdaar!!
Ketika ia melemparkan batu tersebut, tiba-tiba sebuah ledakan kecil terdengar di hutan belakang penjaga labirin. Mendengar ledakan itu, mereka yang ada di sana terkejut, tak terkecuali Riyan sendiri. Kedua penjaga labirin segera menengok ke belakang karena terkejut. Melihat kesempatan besar ini, Riyan mengabaikan ledakan barusan dan mengaktifkan [Overload], lalu menendang tanah melesat ke depan.
Wussh!
Alhasil, Riyan berhasil meloloskan diri dari para penjaga labirin tanpa diketahui. Memang ada angin yang tersisa dari hasil larinya, tapi mereka tak menyadarinya karena memeriksa ledakan di hutan belakang. Mungkin kedua orang itu mengira bahwa ledakan tersebut berasal dari seseorang yang bertarung dengan seekor monster kuat, sehingga mereka meninggalkan pos penjagaannya dan memeriksa asal ledakan.
Menyadari rencananya berhasil tanpa kendala, Riyan pun menghentikan larinya. Saat ia berhenti, ia menyadari kalau ia telah berlari lebih dari 100 meter dalam durasi kurang dari 5 detik. Riyan cukup terkejut dengan kemampuannya sendiri, tapi ia teringat jika ia telah membunuh musuh yang levelnya jauh melebihi dirinya, ditambah ia mengerahkan [Overload].
'Tak kusangka kecepatanku bertambah sejauh ini. Apa mungkin levelku naik secara drastis akibat membunuh Luctas?'
Dengan pertanyaan yang melayang dipikirannya, ia mengangkat tangan kirinya dan membuka status untuk memuaskan sekaligus menjawab rasa penasaran dan pertanyaannya sendiri. Ketika layar status hologram dari gelang besinya muncul, ia kembali terkejut, tetapi ekspresinya sangat datar.
---
Nama : Riyan Klaint
Ras : Manusia
Kelas : Penduduk
Level : 127
Nyawa : 2340/2340
Mana : 3600/3600
Kekuatan Fisik : 1430
Kekuatan Sihir : 2600
Ketahanan : 4200
Atribut : Hampa, Kegelapan
Skill : Appraisal, All Three, Distract, Analyzer Eye, Mana Manipulation, Comprehension, Auto-Counter, Mana Shield, Mana Burst, Mana Slash, Owl Vision, Sense, Mana Bullet, Stealth, Throwing Stone, Silent
---
'Wow... perubahan yang sangat drastis.'
Riyan terdiam menatap layar statusnya sendiri sambil mengatakan itu dalam hatinya. Melihat statusnya yang berbeda jauh dari sebelumnya, ia hanya bisa takjub dengan apa yang ia dapat. Karena ia telah membunuh Luctas yang memiliki level lebih dari 800, level dan statusnya naik secara signifikan. Tapi ada yang aneh.
'Atribut kegelapan? Darimana ini? Dan juga, kalau Luctas berlevel 800, seharusnya aku memiliki level sekitar 400 ke atas. Apakah ada yang salah?'
Kebingungan dengan statusnya sendiri, otak Riyan mulai bekerja keras dalam memikirkan hal tersebut. Ada dua kemungkinan yang berhasil ia temukan. Satu, karena levelnya terlalu besar, sebagian levelnya berubah menjadi atribut kegelapan. Dua, atribut kegelapan adalah pemberian Luctas sebelum ia mati dan hasil dari membunuh Luctas memang hanya sedikit.
__ADS_1
Meskipun ada dua kemungkinan yang terpikirkan olehnya, Riyan tidak bisa memilih salah satunya untuk dipercayai karena bukti yang kurang. Riyan adalah orang yang selalu berbicara dengan bukti, walau memang kadang juga berbohong.
'Ah, biarkanlah, toh statusku juga melebihi Faleon.'
Karena tak bisa memilih, ia menyerah dan mensyukuri apa yang ia dapatkan dari membunuh undead penguasa labirin yang telah hidup lebih dari dua milenium. Ia puas akan hal tersebut, bahkan terlalu puas. Menjadi lebih kuat agar bisa bertahan hidup, itu adalah salah satu tujuannya berburu monster di dalam labirin selama ini.
Setelah menerima kenyataan dan mengabaikan alasan, Riyan pun melangkahkan kakinya menuju daerah ibukota Alivonia. Ia membutuhkan beberapa barang layak seperti tas, jubah, celana, bahkan pil penyembuh untuk bekalnya dalam perjalanan menuju benua Tendo agar tidak bertemu teman-teman kelasnya.
***
Sesampainya di kota, Riyan langsung berjalan menuju toko pakaian. Ia perlu membeli jubah guna menutupi identitasnya jika salah satu teman sekelasnya datang kemari membeli keperluan. Ia berjalan seperti orang biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat sekitar. Walau hawa keberadaannya sangatlah tipis, ada saat-saat dimana Riyan dapat disadari, contohnya saat tak sengaja menabrak seseorang tentu saja.
"Selamat datang!"
Begitu masuk ke dalam toko, ia disambut oleh seorang pria macho berbadan besar dan kekar. Dari bentuk badannya ini, dapat disimpulkan ia adalah mantan seorang petualang atau semacamnya, tapi sayangnya ada satu hal yang akan mengganggu setiap orang yang berkujung kemari, termasuk Riyan.
'Waria!?'
Ya, itulah yang mengganggu. Dari segi badan, bagus, namun dari segi penampilan secara keseluruhan semua orang pasti akan merasa jijik, kecuali beberapa golongan tertentu. Riyan yang melihat penyambutnya terkejut, tapi wajahnya tetap datar seperti biasa. Bagaimana ekspresinya datarnya bertahan, itu masih misteri.
"Wah, pelanggan yang muda dan tampan!"
'Orang ini membuatku jijik. Kurasa aku akan pindah ke toko lain.'
Sesudah mengatakan itu dalam hati, Riyan bergegas membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mendengar maupun menjawab sang waria penjaga toko tersebut. Si penjaga merasa kecewa terhadap Riyan yang hendak pergi, tapi rasa kecewanya segera lenyap saat kejadian selanjutnya.
Ketika Riyan menggenggam gagang pintu, ia melihat seseorang yang familiar dari kaca toko. Pemuda tampan, berambut merah gelap, dan bermata hitam, mengenakan zirah besi full-plate berwarna putih serta jubah ungu dipundaknya sedang melintas di depan toko. Di kanan dan kirinya terdapat beberapa gadis yang sama sekali tak dikenal oleh Riyan.
'Johan? Sedang apa ia di sini?'
Sambil menanyakan itu dalam hatinya, ia segera mengurungkan niatnya pergi. Ya, pemuda berambut merah itu adalah Johan, salah satu dari kelompok pahlawan yang dipanggil dari dunia lain. Melihat hal ini, Riyan berbalik mengarah ke si penjaga tanpa menatap matanya, lalu melangkahkan kakinya mencari sebuah jubah bertudung yang tak mencolok. Tentu saja hal ini membuat sang waria penjaga toko senang.
"Tuan pelanggan, apa yang anda cari?"
"Jubah bertudung. Apa ada?"
"Oh, mereka ada di sebelah sini."
Si waria memandu Riyan ke bagian jubah, Riyan pun mengikutinya tanpa protes. Sesampainya di sana, terdapat berbagai macam jubah dengan warna yang bermacam-macam pula. Ada jubah yang mirip pahlawan, jubah yang menutupi seluruh tubuh, jubah pendek sebelikat, dan sebagainya.
Riyan mencari jubah bertudung yang memiliki warna umum dan tak mencolok, namun ia cukup kesulitan. Mengapa? Karena semua jubah yang tersedia adalah jubah-jubah penarik perhatian dan memiliki warna cerah, sehingga menarik perhatian. Ia menghembuskan nafas berat mengetahui apa yang ia cari ternyata tidak ada.
"Apakah ada jubah bertudung dengan warna yang tak mencolok?"
"Hm? Kalau mereka ada di atas."
Sambil menunjuk dan menengadah ke langit-langit, si waria menjawab Riyan. Riyan juga ikut melihat ke atas, ke arah yang ditunjuk. Tergantung jubah-jubah biasa berjejer di langit-langit sana. Melihatnya, Riyan merasa kesal terhadap sang waria karena dipermainkan, sekaligus pad dirinya sendiri yang tak teliti memperhatikan.
Tanpa membalas, Riyan melihat satu persatu jubah-jubah tersebut dari bawah. Beberapa saat kemudian, ia memilih sebuah jubah bertudung berwarna cokelat tua mendekati hitam. Ia pun memberitahu sang waria tentang pilihannya, lalu waria tersebut mengambilkan jubah pilihannya.
"Harganya 5 keping perunggu. Tidak apa-apakah, tampan?"
'Jijik!'
"Ya, tidak masalah."
Tanpa memperpanjang waktu lebih banyak, Riyan pun menjawabnya dengan jawaban positif secara singkat. Ia ingin sebisa mungkin tidak berbicara kepada waria satu ini karena ia merasa jijik ketika mendengar suara wanita yang dibuat-buat itu, lalu penampilannya juga. Baju ketat merah muda yang membiarkan perut terbuka, serta celana pendek hitam yang juga sama ketatnya.
"Baiklah, mari ke meja kasir."
Si waria berjalan menuju meja kasir dengan hati riang, diikuti Riyan dari belakang. Saat berjalan, pandangan Riyan tertarik oleh sebuah tas selempang cokelat yang terbuat dari kulit. Ia berpikir sudah saatnya untuk mengganti tas selempang yang dulunya jubah di punggungnya. Ia pun berjalan ke arah tas tersebut, lalu mengambilnya dan membawanya menuju meja kasir, kemudian meletakkannya di atas sana.
"Hm? Apakah anda juga ingin membeli ini, tampan?"
'Bisa kau hentikan mimik dan suara itu? Aku ingin muntah."
"Ya."
Sang waria hanya mengangguk menyetujui dan mulai menghitung semuanya. Riyan tidak memiliki uang, tapi ia memiliki beberapa pecahan kristal berwarna putih pemberian Luctas yang pasti bernilai cukup tinggi. Meskipun tak yakin berapa nilainya, ia harus mengambil risiko untuk mengetahuinya.
__ADS_1
"Semuanya 1 keping perak dan 6 keping perunggu, tampan."
Riyang menghiraukan kata tambahan dari si waria penjaga toko itu dan mengambil kotak berisikan pecahan kristal. Ia mengambil satu pecahan kristal dan menyodorkannya pada sang waria. Si waria penjaga toko tersebut pun terkejut dengan apa yang diberikan oleh Riyan.
"Apa ini bisa membayarnya?"
"Darimana kau dapatkan ini, tampan?!"
Riyan tersentak mundur mendapati lawan bicaranya mendekat ke wajahnya hingga berjarak 3 centimeter. Secara refleks, tubuh Riyan pasti akan langsung merespon menggunakan tangan kanan yang di dorong maju, tapi untunglah ia berhasil menahannya di saat-saat terakhir.
"D-di labirin Hexaphilia."
"Labirin? Aku tidak tahu kalau labirin itu terdapat kristal ini."
Riyan terlihat bingung mendengar ucapan sang waria. Ia tidak tahu apa-apa mengenai kristal berwarna putih yang ia genggam ini, wajar jika ia kebingungan. Daripada terus tidak tahu apapun, ia menanyakan tentang pecahan kristal putih ini.
"Ada apa? Apa harganya mahal?"
"Yah, jika dibandingkan kristal lain tidak juga sih, hanya saja warnanya menarik mataku."
'Hei, kalau menarik matamu, berarti kristal ini cukup bernilai, kan?'
Setelah percakapan itu, si waria penjaga toko menjelaskan nilai kristal putih kepada Riyan. Pecahan kecil yang ia genggam bernilai sekitar 5 keping perak, itu jumlah yang sangat banyak bagi orang minimalis dalam memenuhi kebutuhannya. Rakyat jelata biasanya menghabiskan biaya sekitar 4 keping perak setiap bulannya agar dapat bertahan hidup.
Dunia ini mengenal lima jenis mata uang, yakni koin besi, perunggu, perak, emas, dan platinum. Setiap 10 keping besi, nilainya sama dengan 1 keping perunggu. Lalu 10 keping perunggu sama dengan 1 keping perak, dan seterusnya. Dilihat dari jumlah pecahan kristal putih yang dimiliki Riyan, ia mempunyai uang sebanyak 6 keping emas.
'Lumayan juga. Saat ini aku tidak memerlukan pakaian tambahan apapun. Hm, sepertinya aku juga butuh baju ganti.'
Sambil mengatakan itu dalam hati, Riyan melihat ke arah bajunya yang terlihat kusam dan kotor. Ia merasa kecewa, tapi ekspresinya tidak berubah. Jika dipikir-pikir, mengenakan zirah kulit [Minotaur] yang tak enak dipandang itu memberi kesan curiga pada orang lain. Akhirnya ia pun mengambil sebuah baju abu-abu, rompi cokelat, dan celana hitam.
***
Selesai berbelanja di toko pakaian, Riyan segera mencari penginapan terdekat karena matahari semakin condong ke barat. Nampaknya ia keluar dari labirin hari telah menjelang tengah hari sehingga waktu yang tersedia baginya untuk bersiap berangkat menuju benua Tendo tak banyak. Ia berharap ada kereta yang akan berangkat ke suatu tempat di benua Tendo, karena sebisa mungkin ia ingin menghemat tenaga.
Sekitar 10 menit kemudian, Riyan melihat sebuah penginapan dan langsung memasukinya. Penginapan itu terlihat cukup bagus dan terawat, lalu biayanya mungkin sedikit tinggi. Tapi sepertinya Riyan tak mempedulikan hal tersebut dan masuk layaknya orang terburu-buru.
"Selamat datang di penginapan kami!"
Ketika masuk, ia disambut oleh seorang wanita berambut biru cerah dari meja resepsionis. Riyan menghembuskan nafas lega karena kali ini ia tidak berhadapan dengan seorang waria seperti di toko pakaian sebelumnya. Ia segera melanjutkan langkahnya menuju wanita tersebut.
"Apakah anda ingin menginap ataukah menikmati hidangan di restoran kami?"
"Menginap."
"Berapa lama anda akan menetap?"
"Semalam saja."
"Baik, biayanya 3 keping perunggu."
Riyan segera mengambil sekeping perak dan memberikannya kepada sang wanita, lalu menerima kembaliannya sesaat kemudian bersama sebuah kunci yang terdapat angka 12. Mungkin angka itu adalah kamar nomor 12 yang merupakan kamar yang disewa Riyan. Tanpa banyak basa-basi, ia pun segera pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kamar nomor 12, Riyan membuka gembok yang mengunci kamar tersebut untuk keamanannya. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk ke dalam sambil membawa masuk gemboknya. Wanita resepsionis tadi sempat mengingatkan kalau gemboknya harus dibawa masuk agar dapat dikunci dari dalam.
Setelah mengunci pintu, Riyan meletakkan semua barang bawaannya di atas kasur yang tersedia, lalu membaringkan tubuhnya yang lelah. Ia ingin memejamkan matanya dan langsung tidur, tapi ia melewatkan dua bagian penting. Ia bangkit lagi, lalu pergi keluar kamar dan mencari pemandian, berhubung tidak ada kamar mandi di dalam kamar.
Mengetahui ada pemandian air panas di belakang, Riyan pun berjalan ke tempat dimana pemandian air panas itu berada. Sudah dua minggu sejak terakhir ia mandi, wajar jika ia ingin membasuh tubuhnya secepat mungkin. Pemandian air panas ampuh untuk mengatasi rasa lelah, mendengar hal ini tentu saja Riyan menjadi bersemangat.
Tiba di pemandian air panas, ia langsung memasuki bak besar yang terbuat dari kayu dan batu tersebut. Seluruh otot-ototnya yang tegang sejak jatuh ke lantai keenam labirin Hexaphilia lemas seketika. Rasa hangat dan kenyamanan ini memberikan relaksasi yang sangat memanjakan dirinya setelah lebih dari tiga bulan berjuang bertahan hidup di dalam labirin. Ia menganggap hal ini sebagai hadiah atas kerja kerasnya.
"Mandi dengan air panas benar-benar nikmat, berbeda dari danau dingin yang ada di sana."
Berendam di air panas, wajahnya mengungkapkan perasaan nyaman dan menikmati. Ekspresinya yang jarang keluar itu, sekarang nampak sangat puas. Lega rasanya dapat keluar dari labirin dan mendapatkan hal seperti ini, itulah yang ada dipikirannya. Akhirnya, ia berendam selama lebih dari satu jam untuk memanjakan tubuhnya.
--------------------------------------
Author
Mungkin chapter ini adalah yg terakhir ane terbitkan di Mangatoon sebelum ane hapus, jadi jika ada pembaca yg masih ingin melanjutkan membaca silahkan berkunjung ke lapak sebelah (wattpad) dengan judul dan nama author yg sama
__ADS_1
Alasan : kelihatannya pihak Mangatoon tidak senang dengan keberadaan saia, jadi kemungkinan saia hentikan saja updatenya