Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
8. Monster Lantai Lima, Chimera


__ADS_3

Sesosok makhluk raksasa dengan tubuh kambing, kepala serta kaki singa, dan ekor ular muncul mengganggu istirahat sekaligus makan siang para murid. Mata mereka terbelalak melihat makhluk tersebut berdiri di hadapan diri mereka.



'[Chimera]!? Bukankah [Chimera] itu merupakan monster dari lantai 5!? Kenapa makhluk itu muncul di sini!?'



Dengan mata terbelalaknya, Gillbert mengatakan itu dalam hati. Ia sungguh ketakutan melihat wujud sang [Chimera], salah satu monster yang harusnya dari lantai 5 labirin Hexaphilia ini. Tak ada yang menduga bahwa ada monster dari lantai 5 labirin ini, termasuk Riyan. Memang Riyan telah menduga jika kejadian ini akan datang, cepat atau lambat, tapi ia tidak memprediksi bahwa yang datang adalah [Chimera].



Labirin biasanya memiliki beberapa lantai yang memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda. Labirin Hexaphilia ini memiliki 6 lantai secara keseluruhan, saat ini para murid berada di lantai kedua yang memiliki monster yang cukup kuat dan pintar. Tidak seperti [Cave Goblin] sebelumnya, lantai ini kebanyakan dihuni oleh monster jenis [Kobold] dan [Furious Monkey].



Para murid terlihat ketakutan, tubuh mereka gemetar dan mengeluarkan keringat dingin yang mengalir deras. Riyan yang biasanya tetap tenang dan menganalisis keadaan dari belakang juga mulai merasa takut dan khawatir, walau tak separah yang lainnya. Mereka segera menyiapkan senjata yang mereka bawa sambil diselubungi perasaan takut.



"Semuanya, lari ke belakang! Kita harus keluar dari lantai ini!"



Begitu aba-aba bernada panik terucap dari Gilbert, para murid tersentak berlarian ke belakang, jalan yang mereka lalui sebelumnya. Riyan yang berada di barisan paling belakang agak terkejut melihat teman-temannya berlari ke arahnya.



"Pecundang, minggir!"



Bruukk...



Rei Shawnhold, salah seorang murid yang sering menindas Riyan, mendorongnya ke samping hingga membentur tembok karena menghalangi jalan. Otomatis Riyan mengerang kesakitan, lalu ia terduduk di atas lantai labirin. Parameter nyawanya berkurang hingga 14 akibat benturan tersebut. Sedangkan para murid berlarian dengan panik, Riyan terduduk di lantai tanpa ada yang mempedulikannya.



'Ukh... mereka selalu saja seperti ini, sialan.'



Sambil mengatakan itu dalam hati, ia berusaha bangkit berdiri dengan kedua kakinya. Ia mengusap kepala bagian belakangnya yang sedikit sakit karena terbentur tembok tadi. Memang tidak terlalu keras, tapi tetap saja Riyan adalah manusia biasa yang dapat merasakan sakit.



Saat ia bangkit, suara dan getaran yang ia rasakan tadi perlahan-lahan menghilang. Ia membuka matanya dan mendapati para murid lainnya telah lari seperti sekawanan semut yang sarangnya baru saja ditemukan. Riyan hanya menghela nafas berat dan kemudian berlari kecil menyusul mereka dari belakang.



Tapi saat melangkahkan langkah keempatnya, ia merasakan hembusan angin lembab yang menerjang pundak punggungnya. Seketika itu juga ia sadar bahwa sang monster belum pergi dari tempatnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati wajah singa sedang menatapnya bagaikan melihat seekor mangsa.



'Gawat...'



Bwoosshh!!



[Chimera] tersebut membuka rahangnya dan mengeluarkan nafas api yang diarahkan kepada Riyan. Riyan menyadari itu langsung menjejakkan kaki kirinya dan melompat ke kanan untuk menghindari api tersebut, tapi ia sadar jika dirinya takkan bisa menghindari serangan dari [Chimera] itu.



"[Mana Shield]!"



Begitu ia mengucapkan itu sambil mengangkat tangan kirinya mengarah kepada monster berkaki empat yang ada di belakangnya. Dalam sekejap, di depan tangan kirinya tersebut terbentuklah sebuah piringan transparan dengan warna biru samar. Piringan itu menahan semburan nafas api dari sang [Chimera], dengan kata lain itu adalah perisai.



Perisai tersebut adalah hasil pengembangan [Mana Manipulation] dari latihan Riyan bersama Faleon selama ini. Memang skill [Mana Manipulation] sangat merugikan karena dapat menghabiskan sejumlah besar mana secara terus menerus, tetapi keuntungannya, skill ini memampukan sang pengguna memanipulasi mananya sendiri secara bebas.



Membentuk mana menjadi suatu benda yang diinginkan adalah salah satu kemampuan dari skill ini, tapi jika terlalu lama dipertahankan, maka mananya akan berkurang sekitar 5 poin setiap detik. Karena inilah [Mana Manipulation] dikatakan sebagai skill yang merugikan penggunanya.



Sedetik kemudian, setelah Riyan keluar dari jangkauan nafas api makhluk tersebut, perisai mana itu menghilang seketika. Mana milik Riyan langsung terkuras habis begitu mengerahkan [Mana Manipulation]. Statusnya menunjukkan bahwa parameter mananya hanya memiliki 5 poin, yang artinya akan langsung habis begitu ia mengerahkan [Mana Manipulation].



'Sialan, langsung habis pula. Yah, jika masih ingin selamat hanya itu satu-satunya jalan. Mau tidak mau aku harus menggunakan seluruh manaku sekaligus. Hah...'



Sambil mengeluhkan hal itu di dalam hati, Riyan berdiri dengan tegak dan meraih gagang pedang yang ia bawa di punggungnya. Ia menarik pedang tersebut, menggenggamnya dengan kedua tangannya dan membentuk posisi rendah, kuda-kuda bertarung ala kesatria kerajaan yang telah ia pelajari dari Faleon sebelumnya.



Pedang itu masih terbungkus balutan perban putih. Ia tidak pernah membuka balutan tersebut sejak diberikan oleh Faleon, entah apa alasannya. Ia menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat, lalu memusatkan konsentrasi.



"Lepas."



Ssrrtt!



Hanya karena sepenggal kata, perban yang membungkus pedang itu terlepas sendiri seolah-olah menuruti apa yang diucapkan oleh Riyan. Faleon memberitahu Riyan perbannya akan terlepas dengan sendirinya jika pedang itu berada di tangan orang yang tepat. Awalnya Riyan bingung dan tidak percaya apa yang diucapkan oleh Faleon, tapi sekarang ia mengerti.



Melihat bentuk serta material dari pedang tersebut dengan skill [Appraisal], Riyan tersenyum. Ia merasa puas dan berterima kasih terhadap Faleon karena telah memberikan pedang ini kepada dirinya.



Sebuah pedang berbilah ganda, berwarna putih, tajam, ringan, serta nyaman di tangan. Gagangnya berwarna hitam pekat yang dibalut perban kecil. Bahan utama dari bilah pedang itu adalah tulang, tulang dari seekor naga. Ini terlihat dari skill [Appraisal] milik Riyan.



'Pedang ini sangat bagus, tak heran kenapa jenderal memilih pedang ini. Yang membuatku bingung, kenapa ia memberikan pedang sebagus ini kepadaku? Yah biarkanlah, syukuri apa yang ada dan gunakan sebaik mungkin.'



---



Nama : Glayster



Jenis : Senjata/Pedang



Kekuatan : 140



Efek : Mencuri mana dari musuh yang ditusuk



Material : Tulang naga, kain sihir, kayu ek



---



Riyan menjadi lebih percaya diri melihat status kekuatan dari pedang yang ia genggam itu. Status kekuatannya 100 kali lipat lebih kuat dari statusnya sendiri. Dengan ini, ia dapat mengalahkan monster-monster seperti [Cave Goblin], [Kobold], [Furious Monkey], [Wild Gwinwydd], dan monster lemah lainnya. Tapi [Chimera] berbeda dengan monster-monster itu, makhluk yang satu ini memiliki status yang jauh di atas mereka.



"[Appraisal]"



Sebelum bertarung, Riyan menggunakan skill [Appraisal] untuk melihat seberapa kuatnya status yang dimiliki oleh [Chimera] tersebut. Ketika ia mendapatkan hasilnya, ia terkejut. Matanya terbelalak tidak percaya apa yang ia lihat. Sesaat kemudian, ia tersenyum masam bersamaan dengan raut wajah kecut.



"Bukankah perbandingannya terlalu jauh? Apa tidak berat sebelah nih? Hah..."



---



Nama : Chimera



Ras : Monster Hybrid


__ADS_1


Kelas : Penghancur



Level : 76



Nyawa : 38000/38000



Mana : 7800/7800



Kekuatan Fisik : 1300



Kekuatan Sihir : 970



Ketahanan : 790



Atribut : Kegelapan, Ledakan, Api



Skill : Dark Force, Gale Burst, Fire Breath



---



Pertarungan antara Riyan dan [Chimera] ini benar-benar berat sebelah, sangat tidak adil. Seorang manusia terlemah melawan seekor monster berkelas penghancur, itu terlalu mengerikan.



"Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan melawan makhluk ini, tapi yah, akan kuusahakan semaksimal mungkin."



Sorot mata Riyan menjadi lebih tajam menatap mata [Chimera] tersebut. Dengan tubuh yang gemetar, ia berusaha menekan rasa takut yang menjalar ke setiap selnya. Tidak mungkin Riyan tak takut berhadapan dengan monster semengerikan ini yang bahkan Gilbert saja langsung berlari panik disertai ketakutan luar biasa.



[Chimera] itu terdiam menatap Riyan dari jarak sekitar dua belas meter. Makhluk tersebut berjalan pelan ke arahnya. Melihat itu, Riyan mengambil sesuatu dari saku kiri celananya dan langsung memakan sesuatu tersebut.



'Dengan pil penambah status ini, seluruh status dasarku dapat bertambah sebanyak 50 poin untuk sekitar lima menit. Setelah itu, statusku akan kembali seperti semula dan staminaku juga akan jauh berkurang. Aku harus bisa menyerangnya sebanyak mungkin sambil menghindari setiap serangan yang ia lancarkan.'



Apa yang baru saja dimakan oleh Riyan itu adalah pil penambah status. Seperti yang telah dijelaskan oleh Riyan, pil tersebut dapat menambah seluruh status dasar seseorang sebanyak 50 poin dalam durasi lima menit. Tapi setelah itu, stamina sang pengguna akan berkurang secara drastis dan tentu saja statusnya akan kembali seperti semula.



"Nah, ayo kita mulai pertarungan yang berat sebelah ini!"



Setelah mengucapkan itu, Riyan menjejakkan kakinya ke lantai dan menerjang lurus mengarah ke lawan yang ia hadapi saat ini. Melihat Riyan maju terlebih dahulu, sang [Chimera] pun menyambutnya dengan raungan yang memekakkan telinga.



***



Beberapa menit setelah para murid berlari secepat mungkin karena ketakutan, mereka menyadari bahwa sang [Chimera] tidak mengejar. Mereka sungguh senang akan hal itu, tapi hati mereka masih diliputi rasa kekhawatiran dan waswas jika ada [Chimera] lain yang mencapai lantai kedua ini.



""Hah... hah...""



Sambil menarik nafas sedalam-dalamnya, mereka duduk di lantai dan beristirahat sebentar. Gilbert dan Johan mengawasi keadaan sekitar agar kejadian yang sama tidak terulang lagi, Tifania, Layla, dan Rizu berusaha menenangkan teman-temannya dengan berbagai kalimat positif.



"Kenapa [Chimera] muncul di lantai ini!? Bukankah [Chimera] itu adalah monster yang ada di lantai kelima!?"



Mendengar itu, para murid memikirkan kembali kenapa [Chimera] tersebut dapat mencapai lantai kedua ini. Semuanya berpikir keras untuk memecahkan hal itu, tetapi tidak ada yang mendapat jawabannya, bahkan Gilbert.




Beberapa bulan lalu, Faleon bersama pasukan kerajaan datang ke labirin ini dengan perintah menaklukkannya. Faleon serta kedua saudaranya yang hampir sama kuatnya, lalu beserta pasukan kerajaan yang dapat dikatakan berkekuatan cukup, menerobos masuk sampai ke lantai 4 tanpa masalah serius.



Tapi begitu sampai di lantai kelima, mereka berhadapan dengan monster-monster kuat yang jauh di luar dugaan mereka, [Chimera] adalah salah satu monster tersebut. Mereka berhenti di tengah jalan dan mundur dengan seluruh personil yang tersisa. Lantai kelima memakan korban sebanyak 70% dari seluruh prajurit yang diutus oleh Alestein.



Setelah berhasil menenangkan teman-temannya, Tifania, Layla, dan Rizu duduk bersamaan bersandar di dinding labirin sambil menghembuskan nafas lega nan berat. Mereka tak menyangka menenangkan kerumunan orang yang sedang panik ternyata cukup melelahkan.



"Hah... tenang saja sulit sekali ya, mereka ini."



"Ahahaha, begitulah mereka."



"..."



Layla dan Rizu mengobrol untuk melepaskan penat mereka, tapi Tifania tidak, ia jelas sedang memikirkan sesuatu dengan keras. Ia menyadari ada sesuatu yang kurang dari para murid, entah apa itu.



"Tifania, ada apa?"



"E-eh!? A-a-apa?"



Tifania yang sedang memikirkan sesuatu itu terkejut ketika Rizu bertanya seperti itu. Karena panik, ia bingung akan menjawab apa.



"Wajahmu terlihat aneh lho."



"Ma-masa?"



"Oh, kau benar, Rizu. Tifania, kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang tak mengenakkan?"



"T-tidak, aku tidak apa-apa, ahahaha..."



Sambil tertawa masam, Tifania mengatakan itu. Mendengar jawaban sahabat mereka itu, Layla dan Rizu merasa lega. Mereka mungkin mengira bahwa Tifania masih sedikit ketakutan melihat kemunculan [Chimera] yang menyeramkan tersebut, tapi sebenarnya tidak. Tifania memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya sehingga membuat dirinya kebingungan.



Sementara para murid lainnya mengobrol satu sama lain menghilangkan suasana mencengkam beberapa saat tadi, Tifania memikirkan alasan kenapa [Chimera] itu tidak mengejar mereka, padahal dengan jarak seperti ini makhluk tersebut dapat dengan mudahnya menangkap, mencabik-cabik, serta memakan mereka.



'Kenapa [Chimera] itu tidak mengejar kami? Bukankah [Chimera] memiliki indera penciuman serta pendengaran yang sangat tajam? Apa alasannya berhenti?'



Saat ia memikirkan hal itu, secara tak sengaja ia melihat seorang laki-laki yang duduk terasing dari lainnya sambil meringkuk. Ia bangkit berdiri dan langsung berjalan mendekati laki-laki tersebut.



Begitu sampai, laki-laki itu terlihat sangat ketakutan seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Tubuhnya bergemetar hebat, tangan serta dahinya mengeluarkan keringat dingin yang mengalir deras ke bawah, matanya tergambar jelas rasa takut yang sangat. Tifania menepuk bahu sang laki-laki pelan dan bertanya kepadanya dengan suara lembut.



"Rei, kenapa kau meringkuk seperti itu? Tidak sepertimu yang biasanya saja. Ada apa?"



Laki-laki tersebut adalah Rei Shawnhold, salah satu penindas Riyan. Ia terkejut ketika Tifania menepuk dan menanyakan itu padanya. Wajahnya terangkat melihat mata cokelat milik Tifania. Ketakutannya sedikit menghilang hanya melihat gadis itu, tetapi ia langsung merunduk menatap lantai batu lagi. Tifania yang melihatnya itu kebingungan.

__ADS_1



"Hei, ada apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"



Kedua kalinya ditanya oleh Tifania, Rei semakin merundukkan kepalanya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya serta melihat mata Tifania. Sambil menghembuskan nafas, Tifania menegakkan tubuhnya yang membungkuk untuk memastikan keadaan Rei dan melangkah menjauh laki-laki itu.



"Kalau kau tak ingin mengatakannya, aku takkan memaksa. Toh, aku tidak memiliki wewenang seperti itu."



Bukannya marah atau semacamnya, Tifania adalah orang yang seperti itu. Jika seseorang tidak ingin memberitahukan sesuatu yang ia tanyakan, ia takkan memaksa. Tifania adalah gadis yang tidak suka memaksakan kehendak dirinya sendiri. Sangat jarang baginya meminta hal egois untuk dirinya sendiri, bahkan kepada keluarganya.



Mendengar itu, Rei yang tadinya terdiam, akhirnya mengalah dan mulai mengangkat suaranya dengan volume kecil.



"Aku... melihat..."



Dua kata terlontar dari mulutnya, membuat Tifania menghentikan langkahnya dan memalingkan matanya kepada Rei. Ia menunggu kata-kata selanjutnya untuk melengkapi kedua kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang padu. Beberapa detik kemudian, Rei melanjutkan ucapannya.



"Riyan... si pecundang itu... jatuh dan tak menyusul..."



Degh!



Kalimat yang tadinya terdiri dari dua kata tersebut sekarang telah lengkap, tapi Tifania mendengar suatu hal mengejutkan dari Rei. Tiba-tiba jantungnya berdegub kencang dan rasa waswas, takut, khawatir, serta perasaan-perasaan negatif lainnya menyerang pikirannya. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi hingga tangannya.



"I-itu bohong, kan?"



Tidak mempercayai ucapan dari Rei, Tifania bertanya untuk memastikan kalimat yang ia dengar. Menanggapi pertanyaan dari gadis itu, Rei kembali merundukkan kepalanya. Lalu, Tifania menyadari apa yang membuatnya tidak nyaman sejak tadi.



"Kenapa kau tidak mengatakannya lebih cepat!?"



Para murid dibuat terkejut oleh lengkingan teriakan milik Tifania yang hampir tidak pernah terdengar. Gilbert yang mendengar teriakan Tifania itu langsung berjalan mendekat dan langsung bertanya.



"Ada apa, Tifania?"



Tifania tidak menjawab, melainkan langsung berjalan ke tempat dimana ia meletakkan tongkat sihirnya dan mengambilnya. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya ke lorong yang mereka lewati barusan karena panik melihat [Chimera]. Gilbert terkejut dan langsung menarik tangan Tifania untuk menghentikannya.



"Tifania, apa yang kau lakukan?! Apa kau ingin berhadapan dengan monster mengerikan itu?!"



"Aku akan menyelamatkan Riyan..."



"Ha?"



Dalam seketika seluruh perhatian para murid tersita karena kalimat yang dilontarkan oleh gadis tersebut. Mereka kebingungan mendengar ucapan Tifania, bahkan Gilbert juga bingung dengan apa yang dikatakannya.



"Apa yang maksudmu, Tifania?"



Gilbert yang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Tifania bertanya dengan ekspresi bingung serta heran. Di saat Gilbert dan murid lainnya terheran-heran pada ucapan Tifania, Rei masih meringkuk ketakutan di lantai batu yang dingin.



"Kalian selalu saja seperti ini! Tidak pernah ada satu pun dari kalian yang pernah  mempedulikan Riyan! Tidak pernah menganggap bahwa dirinya itu ada di antara kita semua! Lalu karena itu, tidak ada satu pun dari kita yang sadar jika Riyan menghilang entah ke mana! Aku tidak mengetahui ini sebelumnya, apa kalian ada yang sadar akan hal ini!?"



Teriakan lantang dari Tifania membuat seluruh murid yang ada di sana membuka mata mereka lebar-lebar. Pandangan mereka saling bertatapan dan bergerak ke berbagai arah untuk membuktikan kata-kata Tifania. Beberapa saat kemudian, mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan Tifania adalah benar adanya.



Gilbert yang baru saja sadar akan hal ini mendadak diselimuti rasa takut dan khawatir. Tubuhnya mendadak gemetar, bulu kuduknya merinding, titik-titik keringat dingin menerobos pori-pori kulitnya secara perlahan.



GROOOAAAAAA!!!



Sebuah raungan keras yang bergema dari lorong ke lorong dan akhirnya mencapai telinga mereka. Mendengar raungan raksasa yang mengintimidasi tersebut, para murid kembali diselimuti ketakutan yang sangat. Bahkan Gilbert pun terlihat ketakutan.



Setelah itu, Tifania kembali melangkah dengan kakinya yang sempat terhenti karena ditahan oleh Gilbert tanpa mempedulikan raungan besar tersebut. Ia berjalan dengan perasaan kesal serta kesedihan yang tak tertahankan. Ia tidak mengerti, kenapa hilangnya keberadaan Riyan sampai tidak disadari oleh mereka semua, termasuk dirinya sendiri.



"Tunggu, Tifania!"



Gilbert segera meraih tangan Tifania sekali lagi untuk menghentikannya setelah berhasil menekan rasa takutnya sendiri. Tifania langsung berbalik dan hendak membentak Gilbert, tapi tindakan itu ia urungkan melihat wajah Gilbert yang tampaknya menyesal dan serius.



"Aku akan ikut denganmu. Walau aku yakin kita takkan bisa mengalahkan monster itu, tapi paling tidak kita dapat keluar dari labirin ini tanpa korban satu pun."



"Jadi, maksudmu kau ingin menolong Riyan bersamaku?"



"Ya. Walau aku membencinya, bukan berarti aku harus meninggalkannya begitu saja. Sebagai rekan kelasnya, aku takkan membiarkannya mati, biarpun orang itu adalah orang brengsek."



Mendengar ini, Tifania terkejut. Ia tahu jika Gilbert mulai membenci Riyan sejak Riyan membongkar rencananya yang sebenarnya, tapi ia tak menyangka kalau Gilbert masih memiliki keinginan untuk menyelamatkan orang tersebut. Ia sedikit senang bercampur haru, tapi tidak ada waktu untuk itu.



Setelah itu, ia melepas tangannya dari genggaman Gilbert dan berjalan kembali dengan punggung yang ia tunjukkan kepada seluruh murid. Langkahnya cepat, seperti seseorang yang sedang terburu-buru, karena itu memang benar.



"Ayo pergi."



"Ya."



"Tunggu!"



Saat Gilbert ingin menyusul, salah seorang murid menghentikan mereka berdua dengan suara lantang. Kedua murid tersebut langsung menoleh ke belakang. Ketika mereka menoleh, para murid lainnya telah berdiri sambil memegang senjata serta tongkat sihir mereka masing-masing dengan sedikit perasaan takut yang masih melekat pada diri mereka. Melihat hal itu, Tifania dan Gilbert terkejut.



"Kami memang membenci anak itu, tapi kami tidak sebenci itu sampai-sampai ingin membunuhnya. Riyan adalah salah satu dari kita, salah satu dari pahlawan yang dipanggil ke dunia ini. Meninggalkan rekan hanya karena lawannya terlalu kuat, itu tindakan yang sangat tercela untuk seorang pahlawan. Benar kan, Gilbert?"



Ucapan dari Johan membuat Gilbert dan Tifania terbelalak. Mengetahui tidak ada yang ingin meninggalkan seseorang, walaupun ia adalah orang yang terlemah dan tak berguna di antara mereka, mereka berdua tersenyum senang.



"Kalau begitu ayo cepat, kita selamatkan Riyan!"



""Ya!!""



Menjawab seruan Tifania, seluruh murid berlari secepat mungkin ke tempat dimana monster mengerikan, [Chimera] itu berada. Memang rasa takut dan waswas menyelimuti mereka, tapi setidaknya mereka memiliki seseorang yang dapat diandalkan di situasi seperti ini. Orang itu adalah... Gilbert.



Dengan posisi terdepan, Tifania berlari sekuat tenaga, lalu disusul oleh Gilbert dan murid lainnya dari belakang.

__ADS_1



'Bertahanlah Riyan, kami akan menolongmu!'


__ADS_2