
Satu bulan berlalu sejak Riyan menumbangkan Moarleth, tubuhnya pun telah pulih. Meskipun sembuh, Luctas melarangnya untuk beraktivitas berat seperti berburu monster, berlatih, atau semacamnya. Walau begitu, Riyan tidak mendengarkannya dan berlatih secara diam-diam.
Seminggu setelahnya, Riyan sembuh total dan mulai melakukan aktivitas rutinnya, yaitu berburu monster labirin. Sementara ia berburu, Luctas menyiapkan tungku untuk membakar daging monster yang akan segera datang. Dengan skill [Thunder Release] miliknya, ia dapat membuat api tanpa bersusah payah.
[Thunder Release] adalah skill atau kemampuan sihir yang telah berevolusi. Skill ini berasal dari sihir petir yang dimiliki Luctas dan hanya bisa didapatkan oleh pemilik atribut petir tentunya. Saat seseorang berlatih sangat keras hingga mencapai batasnya, atributnya akan berevolusi. Tetapi, hanya segelintir orang yang berhasil melakukannya, itupun dari masa ke masa.
Berbeda dengan sihir petir lainnya yang mengeluarkan petir berwarna biru, petir [Thunder Release] memiliki warna merah menyala. Dapat dikatakan warna merah pada petir ini adalah warna khas untuk pemilik atribut petir yang telah berevolusi. Selain warnanya, kekuatan sihir pemilik [Thunder Release] sangatlah dahsyat. Jika Luctas ingin, ia bahkan bisa menghancurkan sebuah kota dalam sekejap menggunakan salah satu sihir petirnya.
Untuk seseorang berumur lebih dari dua milenium, tingkat kekuatan dan status Luctas sangatlah wajar. Dunia ini tidak mengenal batasan pada level, tapi level tertinggi yang diketahui saat ini adalah level 400. Inilah alasan mengapa Luctas memilih berdiam diri di lantai terdalam labirin ciptaannya sendiri, karena ada perbedaan yang signifikan diantara dunia luar dan dunia bawah.
"Oi kek, aku membawa beberapa [Dark Rabbit]."
"Iya, cepat kuliti dan panggang di atas tungku sana."
Tidak membuang banyak waktu, Riyan segera menguliti hasil buruannya menggunakan pisau [Chimera]. Statusnya saat ini tak menghalangi dirinya untuk memotong dan memisahkan setiap organ monster yang ia bawa. Daripada seorang pahlawan, ia lebih terlihat seperti pedagang daging segar.
Beberapa menit kemudian, tugasnya selesai dan ia menaruh semua daging yang bisa dimakan di atas rak panggangan di tungku bakar. Karena tidak ada garam atau bumbu dapur lainnya, daging tersebut dibiarkan begitu saja tanpa apapun. Setelah itu, Riyan kembali mengeluarkan pisaunya dan mulai memotong kentang yang ia bawa dari gua tempat tinggalnya, lalu meletakkannya di atas panggangan juga.
Perlu diketahui, Riyan sudah memindahkan seluruh barang yang ada di guanya ke tempat ini. Tentu saja, ruangan tersembunyi milik Luctas ini jauh lebih nyaman jika dibandingkan guanya, wajar kalau ia pindah. Selain itu, ia juga membawa monster peliharaannya yang sangat berguna, [Cartoft Creadur], seekor monster humanoid yang dapat menghasilkan kentang hanya dengan mengkonsumsi air.
"Kakek tua, kapan imbalanku akan kau berikan? Aku sudah menunggu cukup lama."
"Ah itu, besok saja. Setelah membunuhku, kau akan mendapatkannya."
"Kau serius, kek?"
"Duarius."
Mendengar jawaban Luctas, Riyan termenung untuk sesaat, tidak percaya pada apa yang telinganya dengar. Selang beberapa detik, ia pun kembali sadar dan berjalan mendekati Luctas yang tengah duduk di reruntuhan pintu batu. Ia seperti sedang melamun, tapi otaknya sedang berpikir tentang dunia akhirat sebelum tiba di sana.
"Kenapa kau ingin aku membunuhmu?"
Sambil menanyakan itu, Riyan duduk di sampingnya menemani Luctas. Ia penasaran mengapa undead pencipta labirin berstatus mengerikan ini berniat mati secara terang-terangan. Di sisi lain, Luctas tersenyum sembari menghela nafas panjang nan lega.
"Aku sudah terlalu lama hidup sendirian di labirin ini. Aku ingin bertemu istri dan anakku yang ada di alam sana."
"Kau punya keluarga?"
"Tentu saja! Aku bukan jomblo sepertimu!"
Luctas menjawab pertanyaan dari Riyan dengan tegas dan keras sehingga Riyan terlompat karena saking terkejutnya. Jantungnya berdebar cepat akibat serangan mendadak dari Luctas, ia perlu menenangkan dirinya sebentar. Setelah mereda, Riyan kembali duduk di samping sang kakek undead tersebut.
"Aku memiliki seorang istri yang sangat cantik saat masih hidup."
'Wah, dia mulai curhat nih.'
Mendengar kalimat permulaan dari lawan bicaranya, Riyan menghembuskan nafas sambil mengeluh di dalam hatinya. Tapi ia menerimanya dengan lapang dada, karena mungkin ceritanya dapat memberinya inspirasi dan berbagai kejadian yang belum pernah ia baca di buku. Akhirnya, ia mendengarkan cerita pendek tentang kehidupan Luctas.
Dua milenum lalu, ada seorang pemuda biasa, bertampang biasa, serta kemampuan biasa. Rambut abu-abunya sangat mencolok dimata orang sekitar, sehingga sering dikucilkan. Selain rambutnya, mata cokelatnya juga terlihat seperti ikan mati, memberi kesan tak memiliki semangat hidup.
Pemuda tersebut adalah Luctas Hadwin kecil, yang saat ini telah menjadi seorang pencipta sekaligus penguasa labirin. Waktu itu ia hanyalah seorang bocah lemah tak berkemampuan apa-apa yang diremehkan semua orang, tapi tidak ada yang mengetahui bagaimana takdir akan bergulir.
Luctas lahir dalam keadaan yatim, di sebuah kerajaan kuno yang sekarang sudah musnah. Ibunya adalah seorang psk yang bekerja demi menghidupi kehidupannya, karena itulah Luctas terlahir tanpa ayah. Luctas mengetahui hal ini dan ia mulai bekerja sebagai petualang untuk mengurangi pekerjaan ibunya. Tetapi, ia sering dihajar, diperas, dihina, dan sebagainya karena rambut abu-abunya.
Meskipun hal buruk selalu menimpa dirinya, ia tak putus asa dan selalu menjalankan pekerjaannya sekaligus melatih diri sambil melawan monster-monster. Alhasil, ia dapat membebaskan ibunya dari pekerjaan kotor tersebut dan menjalani hidup biasa tanpa permasalahan berarti. Sampai akhirnya tiba saatnya.
Suatu malam, ibunya diperkosa dan dibunuh tepat di depan mata kepalanya sendiri. Ia dihajar habis-habisan oleh pelaku yang sama, lalu ditinggalkan begitu saja di rumahnya. Sejak saat itu, Luctas dituduh sebagai orang yang membunuh ibunya dan dijauhi lebih dari sebelumnya. Ia tidak terima dan berlatih keras untuk membunuh pembunuh ibunya.
Beberapa bulan kemudian, ia berhasil membalaskan dendam ibunya dan pergi dari kota kelahirannya. Ia pergi menuju ibu kota kerajaan dengan perasaan dan semangat kosong untuk merantau di sana. Di kota itu, ia tetap dikucilkan karena rambutnya yang berbeda, tapi prestasi yang mulai berjatuhan membuat orang-orang datang kepadanya, termasuk belahan jiwanya.
Seorang petualang cantik berambut pirang, datang padanya dan mengajaknya membuat kelompok. Awalnya Luctas menolak karena tidak percaya dengan siapapun lagi sejak ibunya meninggal, tetapi gadis tersebut terus mengajaknya siang dan malam tanpa henti hingga ia menerimanya.
Luctas menerima gadis itu sebagai anggota kelompoknya dengan syarat bahwa ia harus bersedia menjadi pengantinnya. Tentu saja sang gadis menyetujuinya secepat kilat disertai tangisan bahagia. Luctas sebenarnya tidak menduga jawaban positif darinya, tapi ia tak bisa menarik kata-katanya lagi. Pada akhirnya Luctas bertanggung jawab dan mereka menikah lalu memiliki anak dalam beberapa tahun ke depan.
Berbagai situasi bahaya datang di saat keadaan tak terduga, untungnya Luctas dapat menyelesaikannya. Pernah sekali ibukota kerajaan itu diserang oleh seekor naga merah yang luar biasa mengerikan, kemudian Luctas berhasil membunuh naga tersebut dan mendapat gelar kesatria dari raja. Ia pun terpilih menjadi salah satu pahlawan yang akan membunuh raja iblis.
Ia dan kelompok pahlawannya tidak berhasil membunuh raja iblis, tetapi paling tidak mereka berhasil menyegelnya di sebuah gunung berapi. Saat itu Luctas sedang sekarat dan akhirnya mengubah dirinya sendiri menjadi seorang undead. Diantara tujuh anggota kelompok pahlawan tersebut, hanya ia dan seorang lagi yang berhasil selamat.
Ia kembali ke rumahnya dan keluarganya pun menyambutya dengan bahagia, meskipun Luctas merupakan seorang undead. Selang beberapa bulan, identitasnya sebagai undead telah diketahui oleh penduduk dan kerusuhan untuk membunuhnya serta keluarganya dimulai. Sang raja yang awalnya tidak percaya, terpaksa memberi perintah agar membunuhnya setelah melihat buktinya sendiri. Waktu itu undead sangatlah tabu dan dibenci karena menurut mereka, undead adalah salah satu dari ras iblis.
Salah seorang pahlawan yang berhasil selamat dari pertarungan melawan raja iblis selain Luctas diperintahkan oleh raja untuk membunuhnya, dan ia menerimanya. Pahlawan itu memang menerima perintah raja, tapi tidak membunuh Luctas. Ia tahu bahwa Luctas terpaksa merubah dirinya sendiri menjadi undead karena ada keluarga yang tengah menunggu kepulangannya.
__ADS_1
Ia dan Luctas pun melakukan sandiwara dan pertarungan pura-pura demi meyakinkan penduduk kerajaan kalau mereka benar-benar bertarung. Selesai bersandiwara, Luctas membuat kubah raksasa yang terbuat dari campuran batu dan kristal, yang sekarang menjadi labirin Hexaphilia, sebagai tempat tinggalnya.
Luctas menitipkan istri dan anaknya kepada temannya itu untuk dirinya. Sang pahlawan pun menyetujuinya dan berhasil membujuk raja agar keluarga Luctas dibiarkan hidup. Sejak saat itulah, kehidupan abadi penuh kekosongan Luctas di dalam ruangan kosong labirin buatannya sendiri dimulai.
"Ya, begitulah kehidupanku dulu."
'Panjang banget! Kenapa tidak diperpendek saja!? 'Aku lahir dalam keadaan yatim. Ibuku seorang psk yang dibunuh oleh pembunuh. Aku berhasil membalaskan dendamnya dan pergi ke ibukota untuk merantau, lalu bertemu seorang gadis yang menjadi istriku di masa depan. Prestasiku semakin meningkat dan akhirnya diangkat menjadi pahlawan yang harus membunuh raja iblis. Karena sekarat, aku terpaksa mengubah diriku menjadi undead dan diburu oleh seluruh penduduk kerajaan, lalu akhirnya aku membangun labirin ini untuk persembunyianku,' selesai!'
Selesai mendengar kehidupan Luctas, Riyan pun mengeluhkan itu di dalam hatinya. Saking kesalnya karena terlalu panjang, Riyan meringkas keseluruhan cerita yang ia dengar dalam lima kalimat. Entah darimana, tiba-tiba saja ia meringkas semuanya menjadi satu paragraf.
"Jadi, kenapa harus besok dan tidak hari ini?"
"Mati juga butuh persiapan tahu."
Luctas segera membalas pertanyaan menyindir dari Riyan sambil memukul kepalanya pelan. Ia tidak mengerahkan tenaga saat memukul kepala Riyan, maka parameter nyawanya tak berkurang. Walau memiliki status mengerikan seperti itu, Luctas dapat mengendalikan tenaganya agar tidak melukai orang lain, seperti yang diharapkan dari seorang pahlawan di masa lampau.
Di sisi lain, Riyan hanya memasang wajah masam. Ia merunduk menatap batu-batu di lantai yang berserakan ke sana kemari makanan ayam, berpikir mengenai masa lalu Luctas. Ekspresinya semakin cemberut saat memahami ceritanya lebih dalam. Kemudian, ia berpaling dan melihat Luctas yang tengah menengadah memandang langit-langit labirin.
'Bukan hanya statusnya yang mengerikan, tapi hatinya jauh melebihi kekuatannya sendiri. Luctas Hadwin, kau adalah orang yang luar biasa.'
Ia tersenyum sambil menggumamkan itu dalam hatinya. Hatinya merasa lega mengetahui ada seseorang yang tahu bagaimana rasanya dikucilkan, sama seperti dirinya. Tidak hanya itu, ia juga sangat senang mendengarkan cerita sedih yang dibalut kebahagiaan tersebut. Ia mengerti seperti apa kesedihan dan kepedihan hati kakek undead ini.
***
Tanpa terasa, hari esok telah tiba. Seperti biasa, Riyan dan Luctas menghabiskan kentang bakar yang merupakan sarapan mereka setiap hari setelah bangun dari istirahat. Walau agak keras, mereka tetap memakannya karena hanya itu yang mereka punya sekarang. Kalau mau, Riyan dapat berburu monster dan mengubahnya menjadi makanan, tapi Luctas menolaknya. Mungkin karena hari ini adalah hari terakhirnya, ia tidak ingin membuat repot Riyan lebih jauh lagi.
Di selimuti rasa gelisah, berkali-kali Riyan menoleh melihat Luctas yang di wajahnya tergambar ekspresi puas menikmati potongan kentang keempatnya. Ia penasaran, Kenapa di hari terakhirnya ini Luctas nampak begitu tenang dan puas. Kemudian ia teringat cerita kehidupannya dan mengerti mengapa Luctas ingin cepat mati.
"Riyan, waktu itu kau mengatakan kalau kau adalah manusia dari dunia lain yang di panggil kemari untuk mengalahkan raja iblis, kan?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kalau begitu aku harus memberimu beberapa informasi yang kutahu mengenai iblis-iblis."
Mendengar jawabannya, Riyan sedikit termenung, tapi ia dengan cepat mengangguk mengiyakan sarannya. Di buku yang ia baca, informasi tentang iblis tidak mencukupi sehingga membuat manusia dan ras lainnya kewalahan. Mendapat persetujuan Riyan, Luctas pun menceritakan semua yang ia ketahui.
Iblis memiliki satu kerajaan yang diperintah mutlak. Kekuatan mereka jelas jauh lebih kuat dari manusia biasa. Populasi mereka tidak banyak dan terus mengalami penurunan karena kekuatan adalah yang utama bagi mereka. Namun, bukan itu yang membuat mereka ditakuti, melainkan skill pemanggil khusus.
Dahulu ada satu perang besar yang melibatkan seluruh ras yang saat ini disebut perang ras. Perang ini terjadi sekitar 3000 tahun lalu, dimana awal mula terjadinya karena semua kerajaan saling cekcok dan akhirnya menimbulkan peperangan besar. Di akhir pertempuran, yang berhasil mendominasi adalah iblis dan manusia, ras terkejam dan ras terbanyak.
Manusia adalah ras yang paling banyak populasinya di dunia ini. Meskipun memang ada beberapa ras lain, tapi sekitar 30%-40%-nya adalah manusia. Berbanding terbalik dengan iblis, mereka hanya sekitar 4%-6% dari totalnya. Walaupun sedikit, kekuatan mereka benar-benar tidak bisa diremehkan.
Iblis dibagi menjadi dua golongan, iblis biasa dan iblis elit. Iblis biasa merupakan yang kekuatannya masih bisa dikatakan wajar, sedangkan iblis elit sangat sulit atau bahkan mustahil untuk dikalahkan. Iblis elit tidak sebanyak iblis biasa, jumlah mereka tidak sampai dua puluh, termasuk raja iblis terkuat. Hanya orang-orang super kuat dari super kuat yang mampu mengalahkan para iblis elit tersebut.
"Entah kenapa, rasanya sedikit sulit untukku mencerna semuanya, meski memakai [Comprehension]."
"Begitulah pengetahuan."
Riyan yang mendengarkan penjelasan Luctas pun mengeluh. Ia paham tentang perbedaan iblis dengan manusia, tapi ia tak mengerti seberapa mengerikannya iblis-iblis jika dibandingkan manusia. Dari cerita yang ia dengar, menurutnya manusia dapat bertahan hingga sekarang karena kuantitasnya yang terlalu banyak sehingga membuat para iblis kerepotan dan mundur.
"Satu lagi, jika kau ingin membunuh raja iblis, kau harus mengumpulkan kesembilan batu permata yang menyegelnya dan menghancurkannya secara bersamaan."
Mendengar itu, Riyan terkejut. Matanya sedikit terbelalak begitu mengetahui bagaimana caranya membunuh raja iblis yang diramalkan akan bangkit tersebut. Wajahnya berangsur-angsur berubah, dari terkejut menjadi masam.
'Sepertinya akan merepotkan nih.'
Beberapa detik setelah mengeluhkan itu di dalam hatinya, tiba-tiba melintas di benaknya apa yang ia lupakan. Kali ini ekspresinya berubah dari masam menjadi lega.
'Benar juga, aku bukan bagian dari kelompok pahlawan itu lagi. Untuk apa aku melakukan hal merepotkan seperti mengumpulkan dan menghancurkan kesembilan batu permata penyegel yang bahkan letaknya masih misteri?'
Benar, ia bukanlah anggota dari kelompok pahlawan dari dunia lain yang dipanggil oleh Alestein. Ia adalah seorang penduduk biasa yang jatuh ke dalam jurang labirin dan dianggap sudah mati. Ia terlihat senang begitu mengetahui keuntungannya jatuh lantai ini.
"Ngomong-ngomong kek, sudah waktunya, kan?"
"Hm? Ah, benar. Aku lupa kalau kau ingin segera pergi dari sini."
Setelah menghabiskan kentang bakar sebagai sarapan, mereka berdua beranjak dari reruntuhan pintu dan berjalan menuju singgasana batu yang terletak tak jauh dari sana. Luctas duduk di singgasananya dan menarik nafas panjang bersiap menghadapi kematian, sedangkan Riyan tengah kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Apa tugasku sekarang, kek?"
"Menunggu barang yang kujanjikan padamu, lalu membunuhku."
__ADS_1
Luctas segera menjawab pertanyaan Riyan tanpa ragu. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari belakang yang merebut perhatiannya sehingga Riyan menoleh secara otomatis. Di belakangnya terdapat dua undead zombie yang membawa sebuah kotak dan sebilah pedang bersama sarungnya.
Kedua zombie tersebut mendekati Riyan dan menyerahkan barang yang mereka genggam padanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Setelah Riyan menerimanya, zombie itu langsung berubah menjadi abu karena keinginan Luctas. Penasaran, Riyan hendak bertanya kotak apa yang diserahkan padanya, tapi Luctas lebih dulu menjawab sebelum pertanyaannya dilontarkan.
"Di dalam kotak itu terdapat benda-benda sewaktu aku masih manusia. Dulu istriku sering datang kemari dan di akhir hidupnya, ia membawa semua peralatan yang membantuku di masa lampau."
Riyan mengangguk pelan mendapat jawaban yang ia harapkan. Mengetahui isi kotak tersebut, ia beralih ke sebilah pedang yang diserahkan kedua zombie tadi. Ia menarik pedang itu dari sarungnya dan mengamatinya dengan seksama. Besi perak mengkilat, gagang kokoh, pinggiran dan ujung yang terlihat sangat tajam, serta sebongkah kristal di persimpangan gagang dan bilahnya.
"Pedang suci, Garantia."
'Pedang suci? Ini?'
Riyan sedikit terkejut mendengar kata 'pedang suci' dari Luctas, tapi ia tidak pernah mengetahui pedang suci bernama Garantia, tak ada sepotong kalimat pun di buku yang menyinggung pedang ini. Ia mulai meragukan ucapan Luctas sambil melihat ke arah undead tua tersebut dengan tatapan tidak percaya.
"Kalau kau tak percaya, kau boleh membuangnya. Toh, pedang dan isi kotak itulah yang akan kuberikan padamu."
Luctas berkata demikian melihat tatapan Riyan. Ia bersikap seakan-akan tidak peduli, tapi di dalam hatinya ia tahu pasti Riyan takkan membuang pedang yang diberikannya dengan taruhan nyawanya sendiri. Sesuai dugaannya, Riyan menyarungkan pedang itu dan meletakkannya di samping Glayster.
"Sekarang yang harus kulakukan adalah membunuhmu kan, kakek tua?"
"Ya."
Riyan berjalan mendekati Luctas yang tengah duduk melemaskan tubuh di atas singgasana batunya. Kemudian, ia menarik Glayster dan menghunuskannya tepat ke arah dada kiri sang undead. Walaupun sudah mati, jantung undead tetap berfungsi untuk mengalirkan mana ke seluruh tubuhnya sehingga dapat bergerak, dan Riyan mengetahui hal ini.
"Ngomong-ngomong Riyan, setelah ini hancurkan dinding di belakangku. Di sana terdapat tempat yang berisikan sihir [Transportal Gate] yang dapat memindahkanmu langsung ke pintu masuk labirin ini di lantai satu sana."
"Baiklah, terima kasih telah memberitahukannya di saat-saat terakhir."
Riyan hanya membalas perkataannya dengan senyum kecil yang jarang ia tunjukkan selama hidupnya. Tanpa membuang waktu lebih banyak, Riyan mendorong Glayster masuk ke dalam dada Luctas, sang penguasa labirin Hexaphilia, hingga menembus sandaran batu singgasana. Luctas mengeluarkan erangan kecil dan darah berwarna hitam pekat, tapi ia membalas senyuman terakhir yang ia lihat.
Perlahan-lahan, retakan demi retakan terukir di tubuh Luctas, dari kaki menuju ke kepala, lalu berangsur-angsur berubah menjadi debu. Waktu demi waktu, kesadaran Luctas mulai menghilang dan akhirnya penglihatannya dipenuhi cahaya putih.
'Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Benar kan, Rudeus?'
Setelah mengucapkan itu di dalam hatinya, Luctas Hadwin pun pergi dari dunia ini sepenuhnya. Ia adalah undead yang kuat, baik, dan bijak yang menyayangi keluarganya lebih dari apapun. Akhirnya, kutukan yang ia kerahkan pada dirinya sendiri telah terangkat oleh seorang manusia muda bernama Riyan Klaint.
Di sisi lain, Riyan menutup matanya dan mengenang pengalaman berharganya selama berada di dalam labirin ini. Kemudian, ia menyarungkan Glayster sambil membuka kembali matanya. Tidak ada rasa sedih sama sekali yang terpancar dari sorot matanya, melainkan sebuah penghormatan tertinggi yang dapat ia berikan.
"Terima kasih, Luctas Hadwin, kau adalah undead yang hebat."
***
Di sebuah dimensi, di alam yang berbeda, berdirilah seorang manusia yang diselimuti cahaya putih. Ia membuka matanya dan sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengangkat dan melihat kedua tangannya secara seksama, tidak ada lagi kulit keriput maupun luka terbuka yang busuk di sana.
"Luctas!"
"Ayah!"
Mendengar seruan yang memanggil dirinya dari belakang, ia sontak menoleh ke sumber suara tersebut. Di sana terdapat seorang wanita cantik berambut pirang anggun dan gadis kecil yang memiliki warna rambut sama seperti wanita di sebelahnya. Melihat hal itu, matanya mengeluarkan air mata dan mulai mengalir membasahi pipinya, lalu segera melangkah mendekati mereka.
Tak butuh waktu lama, akhirnya ia mencapai tempat kedua orang tersebut berdiri. Ia disambut oleh pelukan rendah dari wanita dan gadis kecil itu sehingga membuatnya berlutut. Ia pun membalas pelukan keduanya disertai aliran air mata kebahagiaan.
"Terima kasih kalian masih menungguku, Hexana, Philia."
"Tugas seorang istri adalah menunggu kepulangan suaminya di rumah."
"Philia senang ayah telah pulang."
Luctas pun terdiam mendengar ucapan kedua lawan bicaranya. Tapi ia tidak mempedulikannya dan tetap tersenyum.
"Aku pulang, Hexana, Philia."
""Selamat datang, sayang/ayah.""
Sesudah sedikit melepas rindu, ia melepas pelukannya dan bangkit berdiri. Karena sudah tidak lama bertemu dengan gadis kecil yang merupakan anaknya tersebut, Luctas pun menggendong satu-satunya anak yang dimilikinya. Kemudian, ia berjalan menuju sebuah awan putih di depan ditemani istri dan anaknya.
"Hexana, apa nanti ada makanan? Aku lapar."
"Ada kok, banyak sekali. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Sambil berjalan, Luctas menceritakan seluruh pengalaman yang ia rasakan setelah istri dan anaknya tiada akibat kehancuran masal yang disebabkan oleh gempuran iblis pada ibukota kerajaan yang ditempatinya di masa itu. Ia juga menceritakan tentang Riyan, seorang pemuda yang menurutnya sangat luar biasa.