
Setelah berhasil mengalahkan [Bleidfyl], sang hewan iblis yang membantai para petualang yang disewa Daruth, Riyan dapat minum sepuasnya. Saat Riyan minum dengan tenang, Daruth, Siel, para budak, dan petualang yang masih tersisa terheran-heran terhadap pemuda satu ini.
'Siapa anak ini? Kenapa ia bisa mengalahkan seekor hewan iblis semudah itu, yang bahkan petualang yang kusewapun habis dalam sekejap?'
'Apa ia seorang kesatria yang sangat hebat sampai bisa membunuh hewan iblis tanpa luka sedikitpun?'
Terlalu asik meminum air, Riyan tak mengidahkan satupun rasa penasaran mereka semua yang begitu terlihat. Sebenarnya Riyan sadar atas hal ini, tapi ia lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu karena pasti akan merepotkan. Meski hanya ditatap, ia merasa sedikit terganggu. Mengapa? Alasannya sederhana, ia tak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Puas membasahi kerongkongannya yang kering bagaikan padang pasir, Riyan pun mengembalikan botol air minum yang telah habis ia tengak pada Daruth. Saat Riyan mengembalikannya dalam keadaan kosong, Daruth merasa kesal dan ingin sekali berkata kasar padanya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia adalah penyelamat bagi mereka disaat-saat kritis. Apapun yang terjadi, sudah sewajarnya bila seorang penyelamat diperlakukan dengan baik.
"Huah, segarnya!"
''Telat!!''
Entah mengapa, tiba-tiba mereka merasa kesal mendapat reaksi lambat dari penyelamat mereka. Bagi Riyan sendiri, ia memang sengaja memberi reaksi tersebut agar perhatian mereka teralih dari rasa tegang dan penasaran atas dirinya, sehingga ia bernafas sedikit lebih leluasa. Yah, setidaknya untuk beberapa saat.
"Permisi, maaf jika saya lancang, apakah anda seorang kesatria hebat?"
Karena terlalu penasaran dan tidak bisa membendung rasa tersebut, seorang budak dari balik jeruji besi melontarkan pertanyaan itu kepada Riyan. Semua orang yang hadir di sana terkejut terhadap pertanyaan yang tiba-tiba mencuat di tengah ketegangan ini, terlebih lagi asalnya dari seorang budak yang bahkan seharusnya tak memiliki hak untuk berbicara jika tidak diizinkan. Mendengar itu, Riyan segera menoleh dan berjalan mendekati budak yang bertanya padanya tadi.
Saat berada di depan kandang para budak, Riyan mengangkat kedua alisnya begitu melihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Apa itu? Diantara seluruh budak yang menjauhi Riyan hingga titik terjauh, ada seorang budak yang menggenggam jeruji besi menggunakan kedua tangannya menatap Riyan dengan matanya yang berbinar-binar. Yang lebih mengejutkan lagi, budak tersebut adalah seorang gadis beastkind.
Beastkind adalah salah satu ras dari sekian banyak makhluk hidup di dunia ini. Mereka juga merupakan salah satu ras yang mempunyai banyak kemiripan dengan ras manusia. Berbeda dengan manusia, ras beastkind memiliki ciri khas yang menandakan beastkind jenis apakah dia. Contohnya, jika ia adalah beastkind jenis kucing, ciri-cirinya adalah telinga kucing diatas kepala, ekor yang mencuat di bawah pinggul, dan terkadang kumis kecil pun juga tumbuh.
Gadis budak beastkind yang tengah menatap Riyan dengan penuh kekaguman itu adalah beastkind jenis serigala. Hal ini membuat Riyan terkejut sekaligus terdiam. Memang ia telah mengetahui adanya ras manusia setengah hewan di dunia ini, tapi ini adalah pertama kalinya ia melihat ras tersebut secara langsung.
Gadis budak itu memiliki rambut, telinga, serta ekor tebal berwarna putih, mata ungu, serta tubuh langsing yang nyaris sempurna, ditambah ukuran dada yang cukup mengesankan. Sayangnya, dalam keadaannya yang sekarang ia tidak dapat dikatakan cantik. Mengapa? Hal tersebut tak bisa terlihat karena tertutup berbagai kotoran di sekujur tubuh dan pakaian lusuh ala budak yang ia kenakan.
'Jadi, seperti inikah gadis setengah hewan yang sering kali muncul di novel-novel fantasi?'
Sambil menggumamkan itu dalam hatinya, Riyan memasang ekspresi datarnya begitu pandangan mata mereka bertemu. Berbalik 180 derajat dari Riyan, si gadis beastkind ini benar-benar gembira menatap seorang pemuda yang baru saja menyelamatkan hidup seluruh orang yang ada di sini.
"Noel, jaga bicaramu!!"
Beberapa detik kemudian, Siel tersentak dan segera membentak si budak yang kelihatannya bernama Noel karena tidak sopan terhadap Riyan. Mendengar peringatan dari sang pedagang budak, Noel pun tersadar atas tindakannya yang memang kurang sopan. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dari jeruji besi, lalu bersujud kepada Riyan dengan posisi seadanya.
"M-maafkan s-saya, s-s-saya tidak be-bermaksud kurang so-sopan."
Noel segera meminta maaf sedalam mungkin saat ia kembali sadar bahwa dirinya adalah seorang budak. Ia sempat kehilangan kendali atas dirinya sendiri ketika melihat Riyan bertarung melawan hewan iblis tadi. Untungnya Siel bukanlah orang yang terlalu keras pada budak sehingga ia tak langsung dipukul atau rasa sakit fisik lainnya seperti pedagang dan pemilik budak pada umumnya.
Siel langsung berlari mendekati Riyan, lalu menundukkan tubuhnya sedikit dan ikut meminta maaf. Sebagai seorang pedagang budak, tindakan serta perilaku budak-budak yang ia jual adalah tanggung jawabnya, maka ia juga harus meminta maaf atas perbuatan budaknya. Di sisi lain, Riyan kebingungan dengan kedua orang ini.
'Kenapa mereka meminta maaf?Apa mereka berbuat salah padaku?'
Tanpa mengerti aturan dan dan sistem hukum perbudakan di dunia ini, Riyan menanyakan itu dalam hatinya disertai rasa penasaran yang cukup dalam. Daruth dan petualang yang masih hidup merasa diabaikan oleh mereka dan mulai kesal, tapi mereka tak menunjukkannya secara terang-terangan karena tidak ingin membuat Riyan, orang yang menyelamatkan mereka dari serangan hewan iblis ini, marah.
Setelah Siel menjelaskan panjang kali lebar tentang peraturan perbudakan, Riyan akhirnya mengerti mengapa Noel dan Siel meminta maaf padanya. Riyan mengetahui adanya perbudakan di dunia ini, tapi ia sama sekali tidak tahu seperti apa sistem serta hukum yang mengikat semua itu. Di sisi lain, Noel memasang raut wajah sedih karena merasa bersalah.
Riyan yang tetap berekspresi datar seperti biasanya walau mengetahui sistem dan hukum perbudakan itu, membuat Siel sedikit terkejut. Riyan cukup sering mendapati beberapa orang di Lasfile yang mengenakan kalung hitam khas budak di lehernya, bahkan ada seorang pedagang budak yang berkunjung ke istana sambil membawa selusin budak yang dirantai untuk ditawarkan kepada Alestein.
"Aku mengerti. Jadi, kau adalah pedagang budak yang ingin menjual mereka ke kota lain, lalu ikut bersama rombongan ini agar merasa aman?"
"Y-ya, begitulah."
Siel mengangguk menjawab pertanyaan yang tak bisa ia hindari dari Riyan. Namun apa dayanya yang memang sedang kekurangan biaya untuk menyewa petualang yang dapat menjaganya serta budak-budaknya hingga mencapai tempat tujuannya. Keluar dari kota dan melakukan sebuah perjalanan tentu akan berisiko tinggi di dunia ini karena terdapat banyak monster liar dan penjahat yang siap menyerang. Dalam keadaan terjepit itu, Siel bertemu Daruth di Lasfile.
"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Sebelum menanyakan nama orang lain, bukankah lebih baik mengenalkan dirimu sendiri terlebih dahulu?"
Mendapat balasan tajam dari Riyan, Siel tak bisa berkata apa-apa selain merasa malu. Daruth dan para petualang sempat terkejut mengingat mereka juga belum mengetahui siapa nama penyelamat mereka ini.
"N-namaku Siel, Siel Ravensel."
"Yah, aku sudah tahu sih."
Sebelum memperkenalkan diri, Riyan mengerahkan [Appraisal] terlebih dahulu kepada Siel sehingga ia mengetahuinya tanpa perlu perkenalan. Di saat itu juga, Siel memasang ekspresi penuh kebingungan mengapa Riyan mencetuskan kalimat tersebut.
---
Nama : Siel Ravensel
Ras : Manusia
Kelas : Pedagang
Level : 7
Nyawa : 80/80
Mana : 20/20
Kekuatan Fisik : 55
Kekuatan Sihir : 20
Ketahanan : 60
__ADS_1
Atribut : Angin
Skill : Fast Counting, Throwing Knife, Slave Seal, Chain
---
Riyan tidak terkejut begitu melihat status milik Siel yang tentu saja jauh lebih rendah darinya, meskipun lebih kuat dari dirinya dulu. Untuk seorang manusia biasa yang memiliki kelas umum, status yang dimiliki Siel cukup wajar diantara orang-orang dewasa lainnya. Riyan mengangguk kecil mengetahui mengapa ia menjadi seorang pedagang budak. Ya, itu karena keberadaan skill [Slave Seal].
[Slave Seal] merupakan sebuah sihir atau skill yang dapat memberikan tanda budak kepada seseorang. Ketika seseorang terkena sihir atau skill ini, ia akan menjadi budak sang pengguna. Kemampuan skill ini luar biasa dan termasuk jajaran sihir dan skill yang cukup langka, tapi tentu saja ada batasan tersendiri yang tidak bisa dilanggar oleh pengguna ketika ingin menggunakannya.
Biasanya, batasan bagi para pengguna [Slave Seal] ini berupa level. Semakin tinggi level orang yang ingin ia ubah menjadi budak darinya, maka semakin sulit juga tanda budak melekat kepada target. Dalam kasus Siel, ia dapat mengikat seseorang yang berada sepuluh level di atasnya dengan mudah, selebihnya adalah hal yang sangat sulit atau bahkan mustahil baginya.
Selain memberikan tanda budak sebagai bentuk kontrak, [Slave Seal] juga bisa menghilangkan atau memindahkan tanda budak dari seseorang. Karena itulah, [Slave Seal] adalah skill atau sihir yang cocok bagi para pedagang budak tanpa harus menggunakan alat sihir.
Seperti namanya, alat sihir merupakan sebuah benda yang memiliki kekuatan sihir. Bagaimana bisa kita mengetahui kandungan sihir pada benda? Tentu saja menggunakan sihir sejenis [Appraisal] yang dapat menilai apapun. Benda yang memiliki efek pada statusnya adalah alat sihir, contohnya Glayster dan Garantia, kedua senjata Riyan itu adalah salah satu dari alat sihir.
"B-bagaimana bisa?"
"Aku mempunyai skill penilai."
Siel, Daruth, dan para petualang cukup terkejut mendengar jawaban Riyan, sedangkan para budak mengunci mulutnya dan berusaha tak mendengar percakapan mereka. Mengapa mereka terkejut? Yah, kabar tentang pahlawan yang dipanggil dari dunia lain oleh kerajaan Alivonia telah tersebar luas ke penjuru dunia, dan juga rumor setiap pahlawan memiliki [Appraisal].
"J-jadi, apakah kau adalah salah satu kelompok pahlawan dari dunia lain yang dipanggil raja Alestein?"
"Dipanggil dari dunia lain, ya. Kelompok pahlawan, dulunya."
""Apa!?""
Mereka semua kembali terkejut dan sontak berteriak histeris begitu mengetahui pemuda yang berada diantara mereka ini adalah salah satu dari kelompok pahlawan dari dunia lain yang dipanggil oleh Alestein, dulunya.
"M-mustahil!"
"Ti-tidak bisa dipercaya!"
Bersamaan kedua kalimat tersebut, dua dari petualang yang tadi duduk di samping Daruth, sekarang serentak berdiri dan mencabut pedangnya secara bersamaan. Mereka menghunuskan pedang mereka ke arah Riyan tanpa basa-basi. Melihat itu, Daruth dan lainnya kembali terkejut, kecuali Riyan yang tetap duduk tenang di samping Siel.
"Ada apa?"
"Penipu! Tuan Daruth, orang ini adalah seorang penipu yang menggunakan nama kelompok pahlawan Alivonia untuk memeras anda!"
"Itu benar!"
"Tenanglah, kalian berdua. Tuan pahlawan bukanlah penipu, aku tahu."
"Darimana anda bisa tahu?"
"Aku seorang pedagang. Kalau aku semudah itu tertipu oleh penipu, sudah pasti aku takkan membawa kereta kuda yang penuh dagangan berharga ini, kan?"
Mendengar balasan dari Daruth, kedua petualang itu terlihat goyah terhadap perkiraan mereka tentang Riyan yang merupakan seorang penipu. Siel mengangguk dan tidak mengatakan apapun yang mendukung pernyataan Daruth, karena ia juga seorang pedagang. Pedagang yang mudah tertipu adalah pedagang yang bodoh.
Karena itu, kedua petualang tersebut pun kembali duduk di kereta kuda bersama petualang satunya yang tidak ikut memprotes. Riyan hanya memasang wajah datar seperti biasanya, ia tidak peduli apa yang mereka katakan padanya, sebab ia cukup sering menerima hinaan dan cacian dari orang lain.
"Maafkan aku atas ketidaksopananku, tuan pahlawan."
Sambil sedikit membungkuk, Siel kembali meminta maaf kepada Riyan. Di sisi lain, orang yang diminta maaf olehnya tengah kebingungan kenapa wanita pedagang budak ini meminta maaf terhadap dirinya. Sesaat kemudian, Riyan teringat bahwa pahlawan yang dipanggil dari dunia lain memiliki otoritas setara dengan para bangsawan. Di saat yang sama, ia memasang raut masam.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku bukanlah salah satu dari kelompok pahlawan yang kalian sebut itu."
""Eh?""
Siel, Daruth, dan lainnya kembali dibuat terkejut. Ekspresi mereka terlihat lucu mendengar Riyan bukanlah salah satu pahlawan. Di sisi lain, Riyan merasa kesal karena sepertinya mereka bermasalah dengan pendengaran.
"Ke-kenapa? Kenapa anda melepaskan gelar pahlawan anda?"
"Aku tak mau berurusan dengan mereka lagi. Cukup sampai sini saja pembicaraan tentangku, aku takkan mau menjawab lebih dari ini."
""B-baik.""
Siel dan Daruth menjawab Riyan secara refleks karena tekanan yang dikeluarkan oleh Riyan. Ketiga petualang yang duduk di kereta kuda juga merasakan tekanan yang membuat keberanian mereka menciut sehingga mereka tidak berani berkata apa-apa.
"Oh ya, ini adalah rahasia kecil, jadi jangan pernah sekali-sekali membicarakan ini di hadapan orang lain. Kalian bisa menebak apa yang terjadi jika kalian melakukan itu, kan?"
Dengan sedikit hawa membunuh dan tekanan berat, Riyan mengancam seluruh orang yang ada di sana. Mereka semua hanya mengangguk pelan disertai ketakutan yang berkecamuk akibat ancaman tersebut. Tentu saja, siapa yang tidak takut terhadap ancaman dari seseorang yang dapat membunuh seekor hewan iblis semudah menjentikkan jari?
Setelah itu, Riyan menerima 20 keping koin emas dari Daruth sesuai yang dijanjikan. Tentu saja Riyan menerimanya dengan senang hati, siapa yang tak senang menerima uang? Besar pula. Lalu, karena hari juga sudah mulai gelap, mereka memutuskan untuk mendirikan kemah disekitar agar dapat beristirahat setenang mungkin, tentunya sesudah Riyan mengenalkan dirinya.
__ADS_1
Di tengah kegelapan malam, Riyan, Daruth, Siel, dan para petualang berkumpul di sekitar api unggun sambil melahap makan malam yang telah disiapkan oleh beberapa budak. Memasak, mencuci, dan membersihkan adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki budak untuk melayani tuannya di masa yang akan datang, paling tidak itu menurut Siel.
Berbeda dari pedagang budak pada umumnya, Siel memperlakukan budak-budak miliknya lebih manusiawi. Terkadang kebanyakan pedagang budak akan menelantarkan para budaknya begitu saja, tapi Siel lebih memilih melatih mereka sehingga dapat membantu tuannya di masa depan. Selain itu, dengan memiliki keterampilan atau kemampuan yang biasanya tidak dimiliki budak, harga mereka juga sedikit lebih mahal dibanding budak lain.
"Siel, ya?"
"Hm? Ada apa, tuan Riyan?"
"Berapa harga budak beastkind serigala itu?"
Siel terdiam seketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Riyan. Ia sedikit terkejut saat ia mengingat apa yang ingin ia berikan kepada Riyan sebagai imbalan atas tindakannya yang menyelamatkan nyawanya dan para budaknya.
"Ah, s-soal itu, saya ingin memberikan seorang budak kepada anda sebagai imbalan karena telah menyelamatkan nyawa saya dan para budak ini."
Kali ini giliran Riyan yang terdiam. Ia tidak pernah berpikir kalau Siel juga ingin memberikan imbalan seperti Daruth, walau dalam bentuk budak. Jika dipikir lagi, imbalan berupa budak adalah hal yang wajar bagi pedagang budak. Tapi, Riyan mengatakan hal yang tak terduga kepadanya.
"Aku tanya, berapa harganya?"
"Eh?"
"Aku tanya, berapa harganya?"
Menanyakan pertanyaan yang sama sampai tiga kali, itu membuat Riyan sedikit kesal. Tapi, sebagai seorang pelanggan, ia harus bersabar agar mendapatkan harga yang murah. Benar, Riyan ingin membeli budak beastkind serigala putih tersebut sebagai pelanggan, berhubung ia bingung terhadap uang yang ia pegang saat ini. Menurut Riyan, 37 keping koin emas dan 8 keping koin perak sudah terlalu banyak baginya.
"De-delapan belas keping koin emas."
Setelah mengetahui harganya, Riyan segera merogoh sakunya dan mengambil 18 keping koin emas, lalu diberikan kepada Siel. Sang pedagang budak itu terkejut bukan main dan mulai salah tingkah ketika Riyan memberikan 18 keping koin emas tanpa tawar menawar terlebih dahulu. Tanpa mempedulikan reaksi Siel, Riyan berjalan mendekati kandang yang mengurung para budak di dalamnya.
Di sana, cukup banyak budak-budak yang tertidur beralaskan jerami dan sehelai selimut besar. Noel dan beberapa budak beastkind lainnya masih terjaga dari tidur karena harus mengawasi keadaan sekitar agar mengurangi risiko penyergapan dari monster maupun penjahat. Layaknya binatang, para beastkind memiliki indra dan insting yang setara dengan jenisnya. Untuk Noel yang merupakan beastkind berjenis serigala, indra penciuman dan pendengarannya sangatlah tajam.
"Hei, serigala putih yang di sana."
"Hm?"
Merasa dirinya dipanggil, Noel segera menoleh ke arah Riyan. Untuk sesaat, Noel terkejut ketika yang memanggil dirinya adalah Riyan, pemuda yang telah menyelamatkan rombongannya ini. Untungnya, ia tidak melompat dan dapat bersikap layaknya budak pada umumnya.
"Siapa namamu?"
"N-Noel..."
Tepat setelah Noel memperkenalkan diri, Riyan mengerahkan [Appraisal] kepada si gadis serigala itu dan melihatnya secara teliti. Ia tidak terlalu terkejut mengetahui status milik Noel yang cukup tinggi, itu karena beastkind memiliki status yang sedikit lebih tinggi dari ras manusia. Tapi, yang membuatnya terkejut adalah skill-nya.
---
Nama : Noel Luwolf
Ras : Beastkind
Kelas : Pembunuh
Level : 12
Nyawa : 140/140
Mana : 80/80
Kekuatan Fisik : 130
Kekuatan Sihir : 70
Ketahanan : 80
Atribut : Air, Tanah
Skill : High Sense, Auala Vave, Valea Vae, Owl Vision, Sneak, Throwing Dagger, Image Armor, Silent, Howling
---
'Oh, statusnya lebih bagus dari yang kuduga.'
Riyan merasa senang begitu melihat kolom skill-skill milik Noel yang menjadi dasar kelas pembunuhnya. Kelas pembunuh membutuhkan kelincahan, kecepatan, serta kemampuan menyelinap seperti kelas pencuri. Bedanya, kelas pembunuh dikhususkan untuk bertarung, sedangkan kelas pencuri lebih sering memilih lari daripada bertarung.
[High Sense] : evolusi [Sense]. Skill ini memiliki kepekaan sepuluh kali lipat dibandingkan [Sense].
[Throwing Dagger] : skill yang memperkuat lemparan pisau pemilik.
[Sneak] : skill yang mengurangi hawa keberadaan sang pengguna.
[Image Armor] : skill yang memungkinkan membuat sebuah zirah menggunakan mananya dalam durasi tertentu.
[Howling] : skill ini memungkinkan sang pemilik mengeluarkan sebuah gelombang misterius yang menarik perhatian hampir semua jenis monster.
Secara perlahan-lahan, sebuah senyuman tersungging di bibir Riyan karena budak yang ia beli sangat berguna baginya dalam pertarungan. Dengan menggunakan [Image Armor] dan [Howling] bersamaan, Noel dapat membuat monster di sekitar berkumpul sekaligus menahannya, lalu Riyan bisa menghabisi mereka dalam waktu yang sama. Ditambah [Auala Vave] dan [Valea Vae] yang pada umumnya dimiliki [Dark Rabbit], Noel bisa mengantar monster ke arah Riyan.
"Noel, aku membelimu, ikutlah denganku."
__ADS_1
"Eh?"
Mendengar ucapan pemuda yang ada dibalik jeruji besi, sang gadis serigala tersebut membelalakkan matanya karena terkejut, diikuti rasa senang dan tidak percaya. Hembusan angin malam yang seharusnya membuat setiap makhluk menggigil, bagi Noel itu adalah angin yang menghangatkan diri serta hatinya.