Tale Of Unknown : Hero From Zero

Tale Of Unknown : Hero From Zero
12. Di Kegelapan


__ADS_3

Di dalam labirin, di sebuah dasar jurang, yang diselimuti kegelapan, sebuah suara terdengar. Suara tersebut berupa erangan yang berasal dari manusia. Benar, manusia hidup. Tak bisa terbayang, bagaimana bisa seorang manusia dapat bertahan hidup setelah jatuh dari jurang dengan ketinggian seperti itu?



"Dimana... ini?"



Sang manusia akhirnya membuka mata dan perlahan bangkit dari tidurnya. Ia merasakan sakit di punggungnya, tapi ia tidak tahu apa itu, yang ia keluarkan hanyalah erangan kesakitan. Riyan Klaint, seorang remaja yang merupakan pahlawan dari dunia lain, adalah, identitas dari sang manusia tersebut.



Riyan memandang ke sekeliling, tetapi yang ia dapat hanyalah kegelapan semata, bahkan ia sendiri tak tahu apakah ia membuka matanya atau tidak karena saking gelapnya. Setelah bangkit dan duduk bersila, ia mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya lagi. Riyan hanya mengerang sekecil mungkin, karena ia tahu bahwa saat ini dirinya masih berada di dalam labirin Hexaphilia.



Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu mereda dan Riyan menjadi sedikit tenang. Ia menghela nafas berat sambil membuka matanya sekali lagi, kali ini matanya cukup terbiasa dengan kegelapan yang disediakan oleh labirin.



Ia menengadahkan kepalanya ke atas, ia dapat melihat sepercik cahaya dari lubang dinding bekas ia terjatuh. Jika dikira-kira, mungkin berjarak sekitar lebih dari 200 meter dari tempat dimana ia duduk saat ini. Ia tersenyum masam mengetahui tubuhnya masih utuh setelah terjun bebas dari ketinggian itu.



'Aku penasaran, bagaimana aku bisa selamat dari ketinggian mengerikan seperti itu?'



Sambil terus menanyakan itu di dalam hatinya, ia merasakan ada sesuatu yang empuk dan lembut sedang ia duduki, mirip kasur. Karena bingung sekaligus penasaran, ia menengok ke bawah dan menekan-nekan apa yang ada di bawahnya. Saking gelapnya, ia tak bisa melihat sama sekali, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksanya dengan [Appraisal].



---



Nama : Chimera [Mati]



Ras : Monster Hybrid



Kelas : Penghancur



Level : 76



Nyawa : 0/38000



Mana : 0/7800



Kekuatan Fisik : 1300



Kekuatan Sihir : 970



Ketahanan : 790



Atribut : Kegelapan, Ledakan, Api



Skill : Dark Force, Gale Burst, Fire Breath



---



Melihat apa yang skill-nya tunjukkan, Riyan langsung melompat turun dan mendarat di lantai, kali ini matanya dapat melihat di dalam kegelapan cukup jelas. Ia memasang kuda-kuda tangan kosong, walau mengetahui monster itu telah mati. Riyan cukup waspada karena ia tahu ketika seekor monster mati, ada kemungkinan untuk mereka berubah menjadi undead, monster yang tak memiliki energi kehidupan.



Undead adalah salah satu dari sekian banyak ras monster. Ras ini memiliki ciri luka-luka besar di badan sampai yang hanya tulang saja, daging busuk, bau yang tak mengenakkan, serta mana yang tak terbatas. Biarpun memiliki mana tak terbatas, undead tidak mempunyai kekuatan sihir yang tinggi untuk melukai makhluk hidup. Selain itu, jika seekor monster berubah menjadi undead, maka statusnya akan naik satu setengah kali lipat atau lebih.



Riyan menghela nafas sedikit lalu memungut pedangnya yang terletak tak jauh darinya. Pedangnya tidak mengalami kerusakan sedikit pun, ia bersyukur atas hal itu. Ia takut jika satu-satunya senjata yang ia miliki rusak seperti pedang murahan yang daya tahannya rendah.



'Ngomong-ngomong, statusku bagaimana?'



Sebenarnya Riyan tidak terlalu mementingkan statusnya, tapi ia tetap penasaran. Setelah menelan pil penambah status sebelumnya, ia berharap efeknya masih tersisa. Karena itu, ia mengecek statusnya dari gelang besi di tangan kirinya.



---



Nama : Riyan Klaint



Ras : Manusia



Kelas : Penduduk



Level : 21



Nyawa : 36/36



Mana : 25/25



Kekuatan Fisik : 0 (+4)



Kekuatan Sihir : 0 (+6)



Ketahanan : 0 (+12)



Atribut : Hampa



Skill : Appraisal, All Zero, Distract, Nothing Eye, Mana Manipulation, Comprehension , Auto-Counter, Mana Shield, Mana Burst, Mana Slash



---



Melihat parameter mananya, ia terkejut. Levelnya naik dan parameter mananya berubah, dari harusnya 5 poin, menjadi 25 poin, melebihi parameter nyawanya. Jika itu hanya level, ia masih wajar, tapi parameter mananya naik juga? Semenjak dipanggilnya ia dan para murid-murid ke dunia fantasi ini, status parameter mananya tidak pernah naik sekalipun. Karena kedua hal tersebut, ia berpikir sambil mengerahkan [Comprehension] semaksimal mungkin untuk mencari jawabannya.

__ADS_1



"Ada dua kemungkinan, antara beberapa persen efek penambah status yang mungkin menjadi permanen, dan efek samping akibat terlalu banyak menyerap mana."



Hanya dua kemungkinan itu saja yang di pikirannya saat ini. Perlu diketahui, Riyan telah berulang kali menghisap mana dalam skala besar dari [Chimera], lalu secara tidak sadar, tubuhnya menyesuaikan kondisi tersebut. Tapi yang menjadi pertanyaannya, kenapa baru sekarang berubahnya?



'Yah, abaikan itu dulu, yang terpenting... sekarang aku berada dimana?'



Sekali lagi, ia menanyakan di kepada dirinya sendiri yang sama sekali tidak tahu dimana, kecuali di dalam labirin, itu terbukti dari bangkai [Chimera] yang lehernya tertancap pilar batu runcing. Sepertinya Riyan tidak sadar jika sebenarnya ia jatuh di atas tubuh monster itu berselisih sekitar 10 cm dengan pilar batu tersebut. Sungguh, laki-laki ini sangat beruntung.



***



Karena tidak tahu jalan, tempat, maupun arah, akhirnya Riyan berjalan ke depan. Matanya telah terbiasa, ia dapat melihat jalan yang ada di depannya. Dengan pedang di punggung, serta jubah baru yang terbuat dari kulit [Chimera], ia berjalan sambil menajamkan kelima indranya.



Kulit monster itu sangat keras dan kuat, cocok untuk jubah pelindung. Selain kulitnya, Riyan juga mengambil beberapa gigi taringnya sebagai senjata cadangan, beberapa potong daging untuk dimakan, lalu bola mata yang telah dicincang menjadi beberapa potongan yang lebih kecil. Apa gunanya bola mata? Menurut Riyan, itu bisa digunakan sebagai umpan monster-monster lain, berhubung statusnya sangatlah rendah.



Setelah kira-kira 20 menit berjalan, Riyan merasakan kakinya kehilangan tenaga. Ia segera duduk di sebuah batu untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ketika sadar dari pingsannya, ia sadar jika staminanya tidak pulih seperti semula, karena itulah ia mengurangi gerakan yang tak diperlukan.



'Cih, ini akibatnya kalau terlalu memaksakan tubuh, hah...'



Ia menghela nafas bersamaan selesainya keluhan di hatinya. Alasan kenapa stamina Riyan tidak kunjung pulih adalah pil penambah status yang ia telan terakhir kali. Jika pil penambah status sebelumnya memiliki warna biru, maka yang ini berwarna merah darah. Efeknya memang tidak sampai merusak tubuhnya, tapi Riyan kehilangan seluruh tenaganya. Untungnya, ia langsung pingsan dan efek pil tersebut terlepas.



Selain itu, sebelumnya Riyan juga telah kehilangan banyak energi ketika berduel dengan monster mengerikan yang bernama [Chimera]. Ia benar-benar memaksakan tubuhnya, semua itu demi keselamatan hidupnya dan teman-temannya.



"[Anda mendapatkan skill]"



Saat ingin memejamkan mata sejenak, tiba-tiba ia mendengar suara, tentu saja matanya terbelalak seketika. Riyan yang mendengar suara tersebut langsung mengecek statusnya dengan tampang sedikit kebingungan. Ia tahu bahwa suara itu berasal dari gelang besi yang ia kenakan untuk memberitahukan dirinya tentang terciptanya skill baru.



'Kenapa kata-katanya berubah? Biasanya "menciptakan", tapi sekarang "mendapatkan". Apa ini artinya aku mendapatkan skill? Yang benar saja.'



Menurut buku yang telah ia baca, skill dapat diciptakan, tapi tak bisa didapatkan. Karena inilah ia terkejut begitu mendengar suara tersebut. Sejauh ini, yang dapat menciptakan skill hanyalah Gilbert, Tifania, Hendra, Rizu, serta Riyan. Mereka dapat melihat sebuah skill atau sihir, lalu menirunya. Jika berhasil, ada dua kemungkinan, yaitu menjadi skill atau sihir.



Ketika murid-murid yang lain berhasil mengerahkan sihir, kelima orang ini berhasil menciptakan skill. Setiap skill berasal dari sihir, tetapi kualitas skill berada di atas sihir aslinya. Tapi anehnya, seorang laki-laki berstatus rendah, yang lebih layak dipanggil sampah, dapat menciptakan skill.



Tentu saja Faleon terkejut mengetahui Riyan menciptakan skill, lalu pada akhirnya jenderal tersebut melatihnya sebisa mungkin. Entah kenapa, pemberitahuan "menciptakan" skill milik Riyan berubah menjadi "mendapatkan".



'Eh?'



Saat melihat status dari gelang besi di tangan kirinya, Riyan terkejut. Di kolom skillnya terdapat sebuah skill baru yang belum pernah ia lihat.



[Owl Vision] : skill yang meningkatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan penglihatan.




"Apa yang baru saja terjadi padaku?"



Sambil membelalakkan matanya, ia menanyakan itu kepada kegelapan yang ada di sekitarnya. Ia berpikir sebentar, lalu melihat ke sekeliling dengan seksama dan teliti. Beberapa saat kemudian, ia sadar akan sesuatu yang berbeda darinya.



'Mataku dapat melihat di kegelapan... dengan jelas?'



Ya, itulah sedikit perbedaan dari dirinya yang sebelumnya. Matanya seperti telah terbiasa melihat di kegelapan selama lebih dari satu tahun. Ia kembali memeras otaknya untuk memikirkan apa yang menjadi faktor kemunculan skill tersebut. Hanya dalam 5 detik, ia telah mendapat jawaban atas pertanyaan yang membuatnya bingung.



'Mungkinkah, jika kita melakukan suatu kegiatan yang berulang-ulang, lalu tubuh kita menyesuaikan dan menjadi kebiasaan, sebuah skill baru akan muncul?'



Ia memegang ujung dagunya serta menganggukkan kepalanya naik turun berkali-kali. Menyadari akan hal tersebut, Riyan menjatuhkan nafas berat bersamaan nafas berat yang ia keluarkan dari dalam dadanya. Ia tidak mengira bahwa ada cara seperti ini untuk mendapatkan sebuah skill. Kalau saja ia mengetahui metode ini, maka ia pasti akan memperoleh skill yang melimpah, dalam hal kuantitas.



Setelah beristirahat cukup lama, sekitar 30 menit, akhirnya tenaganya pulih dan ia melangkahkan kakinya kembali menyusuri lantai labirin yang penuh dengan kegelapan ini. Ia meningkatkan kewaspadaannya setinggi mungkin agar dapat mencegah serangan kejutan dari seekor monster. Namun, jika posisinya diketahui oleh monster, ia masih dapat melarikan diri menggunakan [Distract] dan potongan bola mata [Chimera].



Beberapa bagian [Chimera] memiliki suatu aroma khusus yang dapat menarik perhatian monster lain bila dialirkan sedikit saja mana, salah satunya adalah bola matanya. Riyan mengetahui hal ini karena membaca berbagai buku pengetahuan di perpustakaan istana.



Buku yang ia baca kebanyakan adalah tentang pengendalian mana, cara memakai sihir, pengetahuan ekonomi dan politik dunia, sejarah, serta lain sebagainya. Kalau harus dijumlahkan, mungkin pengetahuan tentang dunia ini yang ia miliki sudah setara dengan seorang bocah berumur 7 tahun.



Saat tengah berjalan sedikit santai, ia mendengar sebuah suara batu yang terpantul serta gesekan benda tumpul, arahnya dari depan. Ia segera mencari tiang batu yang dapat digunakan sebagai persembunyian. Secara kebetulan, di sisi kirinya terdapat tiang batu kecil sesuai kriterianya. Ia langsung bersembunyi dibalik tiang batu tersebut dan memperhatikan mulut dari lorong kecil yang merupakan asal suara itu.



Sekitar setengah menit kemudian, terlihatlah sosok makhluk berbadan besar yang memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter, berwarna hijau pucat kehitaman, kepala kecil, wajah jelek, kulitnya bersisik, dan tangan serta kaki yang tak terawat. Makhluk tersebut membawa sebuah gelondongan kayu yang mungkin saja sebagai senjatanya.



'Itu... Troll? [Albtraum Troll]?'





(Gambar hanya pembantu)



[Albtraum Troll], salah satu monster mengerikan yang pernah ia baca di buku. Memang tak semengerikan [Chimera], tetapi mereka lebih kuat dari wyvern. Riyan sedikit ketakutan melihat monster itu berjalan ke arah darimana ia datang, tapi ia berusaha tetap tenang dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.



Karena tak memiliki informasi apapun tentang sosok monster di depannya, Riyan mengerahkan [Appraisal] agar mengetahui seberapa kuat sebenarnya makhluk tersebut. Melihat status yang tertampil, Riyan terkejut tanpa mengeluarkan suara.



---



Nama : Albtraum Troll



Ras : Troll

__ADS_1



Kelas : Mimpi Buruk



Level : 71



Nyawa : 18700/18700



Mana : 60/60



Kekuatan Fisik : 560



Kekuatan Sihir : 40



Ketahanan : 1900



Atribut : Hampa, Ledakan



Skill : Knock Swing, Strike Quake, Blast of Bat, Stone Crusher



---



'Mengerikan, status ketahanannya. Kalau seperti ini, aku takkan bisa melukainya sama sekali, walau parameter nyawanya memang jauh lebih sedikit dibanding [Chimera].'



Riyan terlihat ketakutan mengetahui seberapa mengerikannya status pertahanan dari sosok yang berada di dekatnya itu. Keringat dingin sedikit demi sedikit timbul di daerah wajahnya dan mulai berjatuhan setetes demi setetes. Jika membandingkan status Riyan dengan status [Albtraum Troll] ini, benar-benar seperti langit dan bumi—tidak, malah lebih layak diumpamakan sebagai surga dan neraka, kecuali parameter mana serta kekuatan sihirnya.



Sang monster mulai mendekat, keringat Riyan pun jatuh semakin banyak. Ia mengatur nafasnya sebaik mungkin agar tidak terdengar. Biasanya monster di dalam labirin memiliki indra yang jauh lebih tajam daripada makhluk hidup pada umumnya.



Setelah berjarak sekitar 7 meter dari Riyan, langkah troll itu berhenti sehingga Riyan terkejut. Dengan segera, ia menahan nafasnya untuk memberi bukti bahwa tidak ada dirinya di labirin ini. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, troll tersebut berjalan mendekati tiang batu tempatnya bersembunyi.



Melihat monster itu berjalan mendekat, sontak Riyan semakin takut. Ia berusaha setenang mungkin dan berpikir bagaimana caranya keluar dari situasi berbahaya seperti ini. Sesaat kemudian, ia mendapatkan ide. Ia mengambil potongan bola mata [Chimera] dari sakunya, lalu mengalirkan sedikit mana ke dalamnya dan melemparkannya sejauh mungkin sambil mengerahkan [Distract].



Mencium aroma dari potongan bola mata yang dilempar Riyan, troll itu langsung mengubah langkahnya sehingga menjauh dari tiang batu. Mengetahui cara ini berhasil, Riyan melepas dan menghirup udara sebanyak mungkin, lalu berlari tanpa suara secepatnya menuju lorong tempat darimana troll itu datang.



Berhasil mencapai lorong tersebut tanpa diketahui, Riyan melepas nafas lega dan kekhawatiran yang berlebih. Tentu saja, melihat monster berstatus seperti itu, siapa yang tak ketakutan? Ia duduk bersandar di dinding lorong sambil menarik nafas perlahan.



'Sebenarnya, aku berada di lantai ke berapa?'



Ia terlihat penasaran dan diselimuti rasa waswas. Di sekitarnya terdapat tiang-tiang batu kecil dan besar, menempel di lantai maupun di langit-langit. Memang tidak ada cahaya sedikit pun, tapi Riyan dapat melihat sekelilingnya dengan jelas berkat skill barunya, [Owl Vision].



"[Appraisal]"



Saking penasarannya, ia mengerahkan [Appraisal] kepada dinding lorong labirin untuk mengetahuinya. Memang tidak ada tertulis di buku bahwa jika mengerahkan skill tersebut ke dinding labirin dapat mengetahui lantai berapa itu, tapi ia hanya mencoba-coba sambil berharap.



---



Nama : Dinding Labirin Hexaphilia (Lantai 6)



Umur : 2000 tahun



Pencipta : Luctas Hadwin



---



'Eh?'



Riyan cukup terkejut melihat status dinding yang terlihat oleh skillnya. Ia lebih terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya berada di lantai paling dasar labirin, yakni lantai 6. Seketika itu juga, sedikit demi sedikit harapan untuk hidupnya hilang. Ya, harapannya mulai sirna mendapati ia, yang merupakan makhluk hidup terlemah di dunia, jatuh di bagian terdalam yang belum pernah dijamah oleh siapa pun.



Plak!



Di saat itu pula, ia menampar kedua pipinya bersamaan untuk mengusir berbagai pikiran negatif yang mulai berdatangan menghampiri dirinya, akibatnya kepercayaan diri serta harapannya tidaklah hilang sepenuhnya. Ia menghembuskan nafas lega setelah itu dan bangkit berdiri diikuti oleh senyumnya.



'Aku dapat melewati semua ini. Aku akan mencari tangga menuju lantai atas agar bisa selamat.'



Ia kembali melangkah dengan penuh keyakinan. Riyan tidak terlalu yakin bahwa ia dapat keluar dari labirin ini sendirian hidup-hidup, tapi setidaknya ia mau berusaha sekuat tenaga. Ngomong-ngomong, jubahnya yang sebelumnya, ia gunakan sebagai tas dengan cara diikat kedua ujungnya di belakang punggung untuk membawa daging-daging [Chimera].



Belum ada sepuluh langkah, ia mendengar suara derapan kaki besar nan kasar, seperti sesuatu sedang berlari kencang, ia juga merasakan guncangannya melalui kakinya. Riyan terkejut menerima getaran dan suara ini. Ia langsung menoleh ke belakang untuk memastikan, karena suaranya berasal dari sana.



Ketika ia menoleh, matanya terbelalak, mulutnya sedikit membulat, ketakutannya pun kembali menyeruak merasuki pikiran serta hatinya. Keringat dingin juga mulai merembes keluar dari seluruh pori-pori kulit yang ada di tubuhnya, lalu menetes satu persatu ke lantai.



'Sial, habislah aku.'



Menggumamkan itu dalam hati, Riyan sama sekali tidak bisa bergerak karena perasaan takut dan pasrah telah menguasai setiap ototnya sehingga tak mau mengikuti perintah dari otaknya. Ingin lari, tapi tidak dapat lari. Ingin bergerak, tapi tidak dapat bergerak. Ingin selamat, tapi tidak dapat selamat.



Apa yang ia lihat sekarang adalah [Albtraum Troll] yang ia temui beberapa menit yang lalu, sedang berlari ke arahnya sambil menyeret gelondongan kayu sebagai senjatanya. Karena tubuhnya yang besar, larinya menjadi lambat, tetapi tetap stabil. Mata Riyan dan troll itu bertemu, sehingga menyebabkan auman dari monster tersebut keluar.



Sekitar 10 detik kemudian, Riyan yang tak bisa bergerak itu telah memasuki jangkauan serang dari senjata makhluk jelek itu. Troll tersebut langsung mengayunkan kayunya dari kanan secara horizontal menuju sisi kiri Riyan yang sama sekali tidak memiliki pertahanan. Sontak saja, Riyan menutup matanya karena ketakutan. Di balik itu, ia tersenyum masam.



'Kematian yang tertunda, ya? Tak buruk juga.'


__ADS_1


Duaaghh!!


__ADS_2