
Fajar telah menyising, ayam berkokok keras, kegelapan mulai sirna. Dari ufuk timur, melalui antara celah-celah pepohonan hutan yang rimbun di sebelah jalan, sinar mentari berusaha menerobos masuk menyerang kelopak mata beberapa orang yang sedang tertidur di atas rerumputan hijau.
Di tengah padang rumput, disimbahi kehangatan mentari pagi, aroma khas yang mengunggah selera makan bertebaran di udara segar. Seorang wanita berpenampilan jubah yang menutupi seluruh badan berwarna hijau gelap tengah mengaduk kuali menggunakan sendok kayu besar.
Dengan sendok kayu tersebut, ia menciduk sesendok sup dan mencicipinya, memastikan bahwa makanan yang ia masak sepenuh hati itu enak. Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah dari raut khawatir, menjadi senyum kebahagiaan.
'Kurasa ini sudah cukup.'
Selesai memasak, Siel meletakkan sendok kayu di atas kuali dalam keadaan horizontal, kemudian berjongkok hendak mematikan api merah yang digunakannya. Ia mengeluarkan sebuah tabung kaca kecil seukuran korek api dari sakunya, lalu membuka tutupnya dan mendekatkannya ke api. Saat itu juga, api yang tadinya berkobar bebas layaknya burung-burung beterbangan di udara, lenyap dihisap tabung kaca tersebut hingga tersisa bara merah menyala.
"Hoo... ternyata ada alat sihir seperti itu juga, ya? Aku baru tahu."
"Kyaaa!!"
Mendengar suara dari belakangnya secara tiba-tiba, spontan saja Siel menjerit karena terkejut. Tak hanya teriakan keras yang keluar dari bibirnya, tubuhnya juga secara refleks bergerak ke depan menuju kuali dan bara api yang masih sangat panas. Tapi, tepat sebelum badannya menabrak kuali, gerakannya terhenti.
"Hei, jangan bergerak tiba\-tiba."
Tidak bisa membalas, Siel pun memutar lehernya untuk memastikan siapa pemilik suara di belakangnya tersebut. Ketika ia menoleh, matanya bertemu dengan manik hitam kelam seorang pemuda bernama Riyan Klaint. Riyan yang menahan ujung tudung jubah ala penyihir Siel itu segera menariknya menjauh dari hadapan kuali panas.
"Te\-terima kasih."
"Tak usah dipikirkan."
Membalas ucapan terima kasih Siel dengan nada yang cukup dingin dan terlihat tidak mempedulikannya, Riyan berjalan mendekati kuali berisikan sup buatan Siel. Ia mengambil sendok kayu yang ada di sana dan mencicipi kuah makanan yang menjadi sarapan mereka pagi ini. Mengecap beberapa kali, Riyan menunjukkan wajah datarnya seperti biasa tanpa memberi komentar satu pun.
Setelah mengicipi apa yang akan ia makan pagi ini, Riyan berjalan meninggalkan Siel yang saat ini masih terduduk diam di tanah karena tarikan Riyan. Ia kebingungan terhadap pemuda berambut hitam bercampur putih bernama Riyan Klaint yang sama sekali tidak bisa ia deteksi. Meski ia hanyalah seorang manusia biasa tanpa memiliki kemampuan khusus selain [Slave Seal] dan [Chain], seharusnya ia masih bisa merasakan kehadiran seseorang, tapi ia sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan Riyan.
Mengabaikan Siel yang kebingungan, Riyan berhenti tepat di depan jeruji besi yang mengurung para budak-budak dagangan Siel. Di sana ada beberapa budak yang sudah bangun, tapi ada beberapa pula yang masih terlelap di dalam mimpinya sendiri. Tak perlu repot-repot memperhatikan mereka semua, Riyan hanya memfokuskan pandangannya ke arah gadis beastkind jenis serigala berambut putih, Noel, budak barunya.
'Bukankah dia budak yang sangat hebat? Tuannya sudah bangun, tapi dia sendiri masih molor!?'
Menggumamkan kalimat tersebut dalam hatinya bersama rasa kesal, tanpa ia sadari di pelipisnya muncul urat biru yang membengkak. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini Riyan langsung mengeluarkan emosinya tanpa berpikir panjang. Tapi, begitu melihat nyenyaknya Noel berenang di alam mimpi, perasaan kesalnya sedikit demi sedikit menurun dan akhirnya menghilang.
Senyum masamnya terbentuk begitu mengingat Noel salah satu dari beberapa budak yang berjaga pada malam hari. Jika ia bangun jauh lebih siang daripada budak-budak lainnya, itu adalah hal yang wajar. Mungkin karena tidak terbiasa tidur larut, Noel masih terlelap dalam mimpinya. Berbeda dengan Riyan yang dulu harus selalu berjaga di lantai terdalam labirin Hexaphilia hingga membuatnya terbiasa terjaga pada malam hari.
'Baiklah, untuk hari ini biarkan ia tidur lebih lama.'
Sambil mengatakan hal itu dalam hati, Riyan membalikkan badannya dan berjalan ke arah Siel yang kini telah bangkit dari duduknya. Sang wanita pedagang budak tersebut kembali dibingungkan oleh Riyan yang kembali kepadanya. Sesampainya di depan Siel, Riyan berhenti dan menunjuk tabung kaca berisikan kobaran api kecil yang digenggam Siel.
"Alat sihir apa yang di tanganmu itu?"
Walaupun Riyan bertanya disertai wajah datarnya, sebenarnya ia sangat penasaran dengan alat sihir tersebut. Ia belum pernah membaca ataupun melihat alat sihir yang mirip korek api praktis itu. Menghisap dan menyimpan api, alat ini lebih baik daripada korek api sekali pakai. Jika alat ini dapat mengeluarkannya lagi, maka kegunaannya sangat luar biasa.
"I\-ini korek api, alat sihir yang bisa menyimpan dan mengeluarkan api."
Karena Riyan tiba-tiba menanyakan itu, Siel menjawabnya dengan sedikit gugup, entah apa yang merasukinya. Mengetahui hal tersebut, Riyan sedikit terkejut. Bukan hanya menyimpan api, tapi juga mengeluarkannya kembali ke tempat yang ditunjuk. Meski begitu, ekspresi Riyan sama sekali tidak berubah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Riyan mengambil tabung kaca berisikan kobaran api yang disebut korek api dari tangan Siel, lalu melihatnya secara teliti. Tepat dibawah kobaran api kecil tersebut, terdapat sebuah gambar berupa beberapa bangun datar seperti lingkaran, segitiga, dan persegi yang disatukan dan berwarna merah darah.
'Ternyata begini cara kerja alat sihir. Dengan menggunakan lingkaran sihir yang cukup rumit, mereka dapat memasukkan sebuah sihir ke suatu benda. Tapi, kenapa harus memakai darah?'
__ADS_1
Karena Riyan melihat lingkaran sihir itu berwarna merah pekat seperti darah yang telah mengering, ia menyimpulkan bahwa lingkaran sihir tersebut menggunakan darah sebagai wadah sihir yang dimasukkan. Selain itu, Riyan juga pernah membaca kegunaan dan cara membuat suatu alat sihir dari buku, tapi ia tak terlalu memahaminya jika tak melihatnya secara langsung.
Menurut buku yang ia baca, darah adalah media yang ampuh untuk dijadikan wadah bagi sihir pada alat sihir. Sebenarnya tinta tulis juga dapat digunakan, tapi kelihatannya kurang bagus kalau dibandingkan dengan darah, terutama darah penyihir. Selain itu, di dunia ini tinta dan alat tulis lainnya merupakan barang yang cukup mahal karena mesin cetak belum ditemukan. Kebanyakan catatan dan buku-buku di dunia ini adalah peninggalan dari masa lampau yang ditulis ulang sekaligus diperbanyak.
"Aku mengerti. Terima kasih."
Puas mengamati alat sihir tabung kaca tersebut, ia mengembalikannya kepada Siel, kemudian meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Di pagi hari yang dingin ini, Siel hanya bisa terbengong kebingungan akibat Riyan yang tiba-tiba datang, mengejutkan, menyelamatkan, menanyai, lalu meninggalkannya begitu saja. Ekspresinya saat ini terlihat seperti kepompong yang telah ditinggalkan oleh sang pemilik.
***
"Hoaamm..."
Di bawah sinar terik matahari yang menyengat, kereta lima kereta kuda milik Daruth dan Siel bergerak normal, tak cepat maupun lambat. Karena petualang yang bertugas menjaga kuda di kereta terbelakang tewas dikunyah oleh [Bleidfyl] kemarin, Riyan terpaksa menggantikan posisinya bersama Noel. Sekarang mereka berdua tengah duduk di ujung kereta budak paling belakang secara bersampingan.
"Berhenti menguap. Kau sudah bangun lebih siang dariku, tak ada alasan bagimu untuk mendapat jatah tidur lebih lama."
"B\-baik."
Mendapat teguran keras dari Riyan karena menguap, Noel tertunduk merasa bersalah. Sebagai seorang budak, tidak seharusnya ia tidur lebih lama dan bangun lebih lambat dari tuannya sendiri, dan Noel tak menerapkan tata krama yang ia pelajari ini dari Siel. Hal ini membuat ia merasa bersalah, meskipun Riyan tidak menegurnya.
Memang Riyan dan Noel belum melakukan ritual penjalinan kontrak antara budak dan pemilik, tapi Riyan telah membayar harganya tepat di depan wajah Siel. Noel tidak bisa membantah maupun menolak apa yang telah terjadi, sehingga ia menerimanya saja. Meski begitu, ia sama sekali tak keberatan, bahkan dalam hatinya ia cukup senang.
"Berhubung kau telah menjadi budakku, ceritakan padaku bagaimana bisa kau sampai menjadi budak di tangan Siel?"
Ketika Riyan mengeluarkan kalimat pertanyaan itu dari bibirnya, Noel terkejut. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah karenanya.
"E\-eh!? Ke\-kenapa tiba\-tiba!?"
"B\-baik..."
Akibat perintah dari Riyan yang belum resmi menjadi tuannya, Noel pun menceritakan pengalamannya bagaimana sampai ia menjadi salah satu budak yang kini berada di tangan pedagang budak, Siel.
Awalnya ia adalah salah satu dari beastkind jenis serigala di suku Taring Utara yang bertempat tinggal di dekat pegunungan Yoranidia, barisan gunung yang terdapat di sebelah utara Alivonia dan Ilivania, tapi ia dijual kepada seorang pedagang budak. Memang beastkind merupakan ras yang memiliki fisik kuat dan handal dalam berburu, sayangnya pada waktu itu mereka sama sekali tidak bisa melawan.
Keadaan itu disebabkan oleh seorang iblis yang datang ke wilayah mereka. Iblis itu datang kepada mereka dengan tujuan merampas seluruh harta yang ada di desa. Tapi, meskipun seluruh harta di desa itu sudah diberikan kepadanya, sang iblis tidak merasa puas, sehingga ia meminta lebih. Seperti yang kalian ketahui, ras iblis merupakan ras terkuat sekaligus terkejam di muka bumi ini, sangat jarang sebuah desa berpopulasi sedikit berani melawan.
Tak menerima hal ini, anak kepala suku, yang terkuat di sukunya, menentang dan menantang si iblis. Tentu saja aksinya ini mendapat protes dari penduduk desa karena ia adalah anak sekaligus penerus kepala desa, banyak yang tidak setuju. Tetapi, ia tidak menghiraukan seluruh protes mereka dan berniat bertarung mengalahkan sang iblis.
Sayangnya, sesaat setelah pertarungan dimulai, anak kepala suku itu langsung ambruk di tanah organ tubuh yang terpisah-pisah dan berceceran disertai cairan merah menghiasi pemandangan. Seluruh anggota geraknya, kedua kaki dan tangannya tiba-tiba terpotong menjadi tiga bagian secara mengenaskan, begitu pula kepalanya.
Melihat kejadian mengerikan itu, mereka tidak bisa membuang lebih banyak korban lagi dengan menantang sang iblis tersebut. Karena ia sangat serakah, iblis itu memerintahkan para penduduk suku Taring Utara untuk menjual anak-anak mereka dan memberikan uang itu kepadanya. Tentu saja banyak yang melawan, tapi tindakan itu sia-sia sehingga menimbulkan korban lebih banyak lagi.
Karena tidak sabar, iblis itu mengambil setengah anak-anak desa dan menjualnya ke seorang pedagang budak terdekat, setelah menghabisi para penduduk yang berani melawan dirinya. Noel adalah salah satu dari setengah anak-anak yang diambil dan dijual sebagai budak secara paksa.
Semua itu berlangsung sekitar sepuluh tahun lalu, ketika Noel masih berusia sekitar enam tahun dan tak terlalu mengerti betapa mengerikannya ras iblis, yang berarti usia Noel sekarang adalah enam belas tahun. Melalui perjalanan yang panjang dan mengerikan sebagai seorang budak, Noel memiliki banyak pengalaman mengerikan. Mulai dari siksaan, hukuman, ditelantarkan, hampir semuanya pernah ia rasakan.
Meski di dunia ini terdapat sistem perbudakan yang legal dan terdapat hukumnya, kebanyakan para pemilik budak tidak pernah mematuhinya. Dari kelima hukum budak, mereka hanya menepati hukum ketiga, surat kepemilikan budak. Namun ajaibnya, sangat jarang pemerintah lima kerajaan besar mendapati kasus ini, sehingga mereka berpikir para budak hidup di bawah perlindungan hukum budak yang mereka ciptakan, tanpa mengetahui apapun.
Dua tahun lalu, Noel dilempar keluar dari rumah pemiliknya dan tidak diperbolehkan masuk hanya karena memecahkan sebuah piring. Sebelum itu, pemiliknya telah memerintahkannya untuk tidak bisa pergi jauh dari rumah, sehingga Noel hanya dapat berdiam diri bersandar di tembok.
__ADS_1
Di malam harinya, Siel menemukan Noel dan bertanya-tanya kepadanya tentang apa yang terjadi pada dirinya. Karena ia menganggap dirinya hanyalah seorang budak, ia menceritakan alasan mengapa ia berada di luar seperti gelandangan. Mendengar ceritanya, Siel merasa kasihan padanya, lalu mengetuk pintu si pemilik rumah berniat ingin membawa Noel.
Setelah malam berlalu, Siel dan Noel pergi dari rumah tersebut berjalan menuju kota tempat komunitas pedagang budak yang menjadi tempat bernaungnya Siel. Di dunia ini terdapat beberapa komunitas pedagang budak untuk mempermudahkan para pedagang budak mencari tempat strategis, menghindari masalah, serta mendapat keamanan yang terjamin.
Negosiasi Siel dan si pemilik Noel itu berjalan dengan lancar karena Siel ingin membeli Noel, sedangkan si pemilik memang sudah berniat menjualnya ke pedagang budak terdekat. Dalam waktu singkat, mereka mencapai mufakat dan Noel menjadi milik Siel dengan harga 15 keping koin emas.
Awalnya Noel takut dan sangat tertutup terhadap Siel, tetapi karena perlakukan Siel jauh lebih baik daripada pemiliknya sebelumnya, Siel berubah menjadi lebih terbuka dan riang. Meski ia hanyalah seorang budak yang diperjualbelikan, ia merasa nyaman bawah pengurusan Siel, pedagang budak wanita yang sangat jarang ditemukan.
"B\-begitulah ceritanya bagaimana saya bisa sampai ke tangan tuan."
"Tidak usah formal. Kau boleh memanggilku tuan atau tuan Riyan, tapi gunakan bahasa sehari\-harimu, aku tak begitu suka keformalan."
"Ba\-baik..."
Noel hanya tertunduk ke bawah mendapat teguran dari tuan barunya yang belum resmi. Memang ia dapat membantahnya saat ini, tapi ia takkan bisa melakukan hal itu. Mengapa? Pertama, kekuatan serta kemampuan Riyan yang telah ia lihat ketika melawan [Bleidfyl] kemarin membuatnya sedikit takut kalau saja dirinya membantah. Kedua, rasa hormat dan kagum terhadap Riyan karena kemampuan tempur hebat yang dimilikinya.
Bagi beastkind jenis serigala, terutama suku Taring Utara, kemampuan tempur sangat dijunjung tinggi di sana. Meski posisi kepala desa akan diturunkan melalui keturunan, para penduduk Taring Utara bisa saling memperebutkannya dengan cara berduel. 'Yang kuat akan berdiri di atas yang lemah', itulah semboyan dari nenek moyang mereka.
'Hm, pegunungan Yoranidia, ya? Itu arah yang berkebalikan dari benua Tendo yang sedang kutuju.'
Sambil melamun, Riyan menggumamkan itu dalam pikirannya. Ia merasa tidak ada kebohongan sedikit pun di setiap kata yang keluar dari bibir Noel saat bercerita tentang dirinya. Ia juga merasa sedikit kasihan pada Noel yang diculik lalu dijual menjadi budak oleh seorang iblis, sehingga ia berpikir untuk pergi ke pegunungan Yoranidia yang ada di sebelah utara Alivonia.
Selain arah yang berbanding terbalik, jarak dan waktu yang harus ditempuh juga bukan main-main. Memang tak sejauh jarak Alivonia dengan benua Tendo, tapi medan salju di sekitar pegunungan Yoranidia cukup berat bagi seekor kuda. Jika Riyan ingin memutar balikkan arah perjalannya sekarang juga, mungkin ia akan tiba di desa Taring Utara sekitar tiga sampai empat hari lagi.
'Hm, apa sihir \[Transportal Gate\] yang ada di labirin Hexaphilia juga ada di permukaan? Ataukah sihir itu sudah hilang karena termakan waktu?'
Ketika memikirkan cara pergi ke pegunungan Yoranidia yang tak memakan waktu terlalu lama, Riyan teringat sihir yang pernah ia gunakan saat detik-detik terakhir dirinya di dalam labirin. [Transportal Gate], sebuah sihir yang dapat memindahkan seseorang dari suatu tempat ke tempat lain hanya dalam sekejap mata. Istilah kerennya adalah teleportasi.
Walaupun Riyan sudah membaca banyak buku di perpustakaan istana, tapi ia belum pernah melihat ada satu buku pun yang menyinggung sihir tersebut. Sebenarnya ia sendiri kebingungan sewaktu Luctas menyebutkan nama [Transportal Gate], tapi ia tahu seketika saat dijelaskan fungsi sihir itu.
Rasa penasarannya yang kuat mendorong dirinya bertanya kepada Siel yang berada di kereta kuda di depannya dengan cukup keras.
"Hei, Siel, apa di dunia ini ada sihir yang bernama \[Transportal Gate\]?"
"\[Transportal Gate\]? Ya, tapi sihir itu sihir yang sangat sangat langka. Biasanya hanya petinggi ras elf yang dapat menggunakannya secara langsung. Jika kau ingin menggunakannya, alat sihir \[Transportal Gate\] yang terdekat mungkin ada di kota pelabuhan, Tladga. Kau bisa memakai jasa mereka dengan biaya enam koin emas pulang pergi."
'Bukankah itu sangat mahal?'
Urat ungu tipis tiba-tiba muncul di bagian pelipis kanan Riyan begitu mendengar kalimat terakhir Siel. Mungkin baginya enam keping koin emas adalah biaya yang murah, tapi tidak untuk Riyan yang baru saja membeli Noel yang seharga 18 koin emas. Saat ini ia hanya memegang uang sebanyak 19 koin emas dan 8 koin perak di kantongnya.
Jika ia memutuskan untuk pergi ke pegunungan Yoranidia menggunakan sihir tersebut, uangnya pasti akan habis dalam sekejap pula. Riyan adalah tipe orang yang berpikir terlebih dahulu dan menyimulasikan kejadian apa yang akan datang setelah ia mengambil keputusan, ia adalah orang yang sangat berhati-hati.
Setelah rasa penasarannya terpuaskan, Riyan kembali mengalihkan pandangannya ke belakang, memandang jalan tanah yang diapit hamparan padang rumput luas, meski ada sebuah hutan besar di sebelah kanan, lalu memejamkan mata. Ia memikirkan apa akibat jangka pendek dan jangka panjang yang akan terjadi kalau saja ia mengambil keputusan untuk pergi ke desa suku Taring Utara, kampung halaman Noel.
Beberapa saat kemudian, ia membuka matanya dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Mata hitam yang memandang lurus ke depan, rambut hitam bercampur putih yang berkibar diterpa angin, aura samar yang begitu kuat, sosok pemuda ini entah mengapa sangat menarik perhatian Noel, sang beastkind serigala.
'Baiklah, kita coba saja.'
__ADS_1