
Saat ini, pasangan tuan dan budaknya, Riyan dan Noel, tengah berada di sebuah toko senjata. Sedang apa mereka di sana? Tentu saja untuk membeli senjata, memangnya untuk apa lagi? Selain membeli senjata yang cocok bagi Noel, Riyan merasa persenjataan yang dimilikinya masih kurang.
Glayster dan Garantia, senjata spesial dan senjata legenda yang ia pegang saat ini tidak membuat dirinya puas. Entah apa yang membuatnya menjadi serakah seperti ini, yang jelas sifatnya memang berubah drastis semenjak masuk ke dalam labirin Hexaphilia. Bukan hanya sifat dan sikapnya, tapi kekuatan serta statusnya juga meningkat drastis, bahkan melebihi Gilbert yang merupakan pahlawan diantara para pahlawan.
“Selamat datang! Apa yang ingin anda beli di toko senjata kecil milikku ini?”
“Pisau yang tajam dan kuat. Harga maksimal tiga keping koin emas.”
Sambil mengatakan itu kepada seorang pria tua kekar tak berambut yang berjaga di meja kasir, Riyan melemparkan tiga keping koin emas ke depan pria botak tersebut. Melihat seseorang yang dengan mudahnya melemparkan tiga keping koin emas, secara bersamaan pria botak itu dan Noel terkejut. Bagaimana tidak? Sekeping koin emas adalah biaya yang besar, apalagi tiga keping. Siapa sebenarnya dia yang melemparkan tiga keping emas begitu mudahnya?
“B\-baik, silahkan tunggu sebentar.”
Pria botak tersebut berjalan keluar dari meja kasir dan pergi ke rak-rak senjata bagian pisau setelah memasukkan tiga keping koin emas yang dilemparkan Riyan tadi ke laci meja. Sambil menunggu, Riyan berjalan-jalan menuju rak senjata untuk melihat-lihat senjata apa yang menarik dimatanya, sedangkan Noel berjalan mengikutinya.
Terkadang Riyan menoleh ke belakang melihat Noel, kemudian ia menyadari sesuatu. Benar, penampilannya belum berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Baju budak yang kusut nan kumal layaknya kain lap, serta tubuh yang dipenuhi debu dan kotoran, semua itu masih lengket pada Noel.
Ciri khas budaknya terlalu kelihatan.
“Noel, kapan terakhir kali kamu mandi?”
“E\-eh? Ke\-kenapa tuan menanyakan itu? A\-apa... b\-bauku begitu tercium hingga m\-me\-mengganggu tuan?”
“Tidak tidak, bukan mengganggu. Hanya saja penampilanmu sangat kotor sehingga terlihat jelas bahwa kau adalah budakku.”
“Be\-begitu, ya.”
Jawaban Riyan membuat Noel sedikit terkejut, tapi juga sedikit kecewa. Meski Riyan mengatakan tidak mengganggu, sebagai seorang wanita ia merasa bahwa daya tariknya berkurang. Namun, hal itu tak ia pedulikan karena satu-satunya yang ia pedulikan saat ini hanyalah berada di sisi tuannya.
Selama bisa berada di samping tuannya, ia tak peduli pendapat orang lain mengenai dirinya. Baginya, Riyan Klaint adalah salah satu orang yang berhasil menariknya dari lautan kegelapan selain Siel dan teman-teman budaknya. Tujuan hidupnya sekarang adalah melayani orang yang berada di depannya ini dengan segenap hati dan jiwa.
“Tu\-tuan, apa tidak apa\-apa membelikan senjata yang begitu mahal bagiku?”
“Agar dapat berguna dan bertahan hidup di dunia keras ini, kau harus memiliki senjata.”
“Tapi, bagaimana jika aku menyerang tuan dengan senjata itu?!”
Untuk sesaat, langkah Riyan terhenti. Noel yang mendapati tuannya berhenti melangkah itu sadar, ia mengatakan sesuatu yang salah. Ia segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dan mengambil satu langkah mundur menjauhi tuannya. Kenapa? Tentu saja ia takut.
Wajar jika ia takut pada Riyan setelah kejadian-kejadian sebelumnya. Membunuh hewan iblis dengan mudahnya tanpa kesulitan seperti monster tersebut bukanlah apa-apa, kemudian yang terakhir, sebelum mereka memasuki toko senjata ini. Kejadian dimana Riyan menghabisi empat orang yang mengaku sebagai anggota Black Dust, organisasi kuat yang bahkan lima negara besar tak ingin mengusiknya.
Di otaknya, Riyan Klaint adalah seorang tuan yang baik dan peduli terhadap budaknya, namun di saat yang bersamaan, ia juga bisa menjadi seorang makhluk tak berperasaan yang membunuh seseorang tanpa merasa ragu-ragu ataupun bersalah. Dua sifat yang sangat berbeda, berdiam di dalam tubuh dan pribadi yang sama. Itu cukup menakutkan ketika sifatnya berubah secara tiba-tiba.
“Dengan statusmu yang sekarang, kau takkan bisa melukaiku.”
Mendapat balasan dingin dari Riyan, Noel kembali terkejut. Meski sebagai budak yang telah terikat kontrak budak yang takkan bisa melukai tuannya, tetap saja ia tertegun mendengar ucapan Riyan. ‘Dengan statusmu yang sekarang, kau takkan bisa melukaiku’, artinya Noel yang sekarang tak cukup kuat untuk melukai Riyan.
“M\-mungkin ini terdengar lancang, tapi mengapa bisa begitu?”
“Status ketahananku 30 kalinya parameter nyawamu.”
“E—!?”
Sesaat sebelum berteriak, Riyan berbalik dan mendekap mulut Noel sehingga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Kenapa? Tentu saja agar tidak mengundang si penjaga toko tadi datang ke tempat mereka, bisa-bisa ia salah paham dengan apa yang kedua orang ini lakukan hingga berteriak.
Beberapa detik setelahnya, Riyan melepaskan dekapan telapak tangannya dari mulut Noel dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
“Diamlah, ini rahasia kita.”
Noel dengan cepat mengangguk mengkonfirmasi ucapan Riyan. Selain takut pada apa yang terjadi jika ia tak merahasiakan ini, ia juga memikirkan apa akibatnya. Status parameter nyawa Noel saat ini adalah 140 poin yang kalau dikali 30 hasilnya akan sama seperti status ketahanan Riyan, 4200 poin.
__ADS_1
Karena di dunia ini belum pernah terlihat status sebesar itu, jika status tersebut tersebar maka kehebohan akan terjadi dalam waktu dekat. Meski banyak orang yang menganggap itu hanya sekedar rumor, tetap saja rumor tidak terbukti kalau tidak dicoba secara langsung. Akan banyak orang yang memburu Riyan nantinya.
“Tuan, ini pisaunya.”
Suara si penjaga toko yang terdengar dari meja kasir membuat perhatian mereka berdua teralihkan. Noel menoleh ke arah meja kasir, melihat sang penjaga membawakan beberapa pisau yang kelihatannya menjanjikan. Gadis beaskind ini terlihat ragu-ragu begitu penjaga toko telah menunjukkan beberapa pisau seharga tiga keping koin emas.
“Sana pergi dan pilihlah sesukamu.”
Sambil sedikit mendorong pundak Noel, Riyan membalikkan badannya dan kembali berjalan untuk melihat-lihat senjata lain. Noel pun menuruti kehendak tuannya dan bergegas pergi menuju si penjaga toko yang telah membawa beberapa pisau.
Sementara menunggu budaknya memilih pisau, tentu saja Riyan juga ikut memilih senjata. Meski ia telah memiliki Glayster dan Garantia, bukan berarti senjata cadang tidak penting. Misalkan salah satu dari mereka tertinggal di suatu tempat atau tidak berada di genggamannya, Riyan masih bisa bertarung layaknya manusia.
Setelah kejadian hewan iblis yang memakan korban hingga tiga belas petualang tersebut ia menyadari sesuatu, dirinya terlalu kuat bagi manusia biasa. Selain statusnya, pedang spesial dan pedang legenda yang hebat juga ia miliki, hal itu membuatnya menjadi karakter overpower di dunia ini. Walaupun bukanlah yang terkuat, ia termasuk salah satu jajaran orang terkuat.
‘Mengumpulkan sembilan batu permata, lalu menghancurkannya di saat yang bersamaan, ya? Kedengarannya mudah, tapi sebenarnya sulit.'
Sambil memegang dagu, Riyan bergumam dalam hatinya mengenai ucapan mediang Luctas yang membahas pembunuhan raja iblis. Sembilan batu permata yang di dalamnya tersegel sembilan pecahan jiwa raja iblis terkuat, itulah yang harus dihancurkan agar raja iblis dapat dibunuh.
‘Walaupun begitu, dimana sebenarnya letak batu permata tersebut? Akan merepotkan harus mengelilingi dunia hanya karena mencari sembilan batu permata. Aku merasa kasihan pada mereka.’
Riyan menyunggingkan senyum masam kecil begitu memikirkan bahwa teman-temannya akan sangat kerepotan. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, mengelilingi dunia hanya untuk mencari sembilan permata yang bahkan lokasinya masih dipertanyakan? Siapa yang menginginkan tugas repot seperti itu?
Pada akhirnya, Riyan menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pikiran-pikirannya mengenai sembilan batu permata penyegel raja iblis terkuat tersebut. Kenapa? Tentu saja karena itu bukanlah kewajibannya lagi. Sekarang ia bukanlah seorang pahlawan terlemah yang diharuskan membunuh raja iblis, melainkan seorang manusia biasa yang memiliki kekuatan luar biasa.
“Huft, tapi paling tidak jika secara kebetulan aku menemukan salah satu batu permata itu, aku akan mengambilnya agar tak jatuh ke tangan yang salah.”
Mengambil salah satu pelindung lengan berbahan besi berwarna hijau gelap dari rak perlengkapan zirah, ia mengucapkan itu sepelan mungkin. Ia berpikir akan ada saatnya ketika ia bertemu kembali dengan kelompok para pahlawan Alivonia. Ketika saatnya tiba, ia akan menyerahkan batu permata yang ia temui secara kebetulan, lalu pergi meninggalkan mereka.
“Hm? Ini terbuat dari mithril, ya?”
Riyan membolak-balikkan pelindung lengan besi berwarna hijau gelap yang ia genggam. Apa yang ia katakan adalah benar. Pelindung besi tersebut terbuat dari mithril, salah satu logam terkuat nan langka di dunia ini. Hal itu dapat diketahui dari warna hijau mencoloknya.
Mithril di dunia ini merupakan logam yang sangat kuat, mahal, dan langka. Logam ini terbagi menjadi dua tipe, yakni tipe ringan dan berat. Tipe ringan mempunyai warna hijau mencolok seperti yang sekarang dipegang oleh Riyan, sedangkan tipe berat berwarna abu-abu mengkilat mendekati warna perak.
Biasanya senjata atau zirah yang terbuat dari mithril tipe ringan dimiliki oleh orang-orang pemilik kelas pembunuh layaknya Noel, sedangkan senjata atau zirah yang terbuat dari mithril tipe berat digunakan oleh para pemilik kelas kesatria atau pejuang. Kelas pembunuh memerlukan perlengkapan ringan karena skill dan status mereka cocok untuk gerakan cepat dan mengendap-endap, sedangkan kelas kesatria atau pejuang biasanya cocok sebagai penyerang utama di barisan terdepan.
Memang masih banyak kelas-kelas lainnya, tapi yang paling mencolok hanyalah tiga kelas ini. Yang jelas, secara garis besar para skill yang membutuhkan kelincahan atau kecepatan dan tak bertarung di depan secara langsung membutuhkan tipe ringan, sedangkan orang-orang yang berpusat pada kekuatan mutlak dan kemampuan bertarung jarak dekat akan memilih tipe berat.
‘Kira\-kira berapa harganya, ya?’
Untuk dirinya sendiri, ia tak memerlukan zirah keras dan mahal yang terbuat dari besi ataupun logam lainnya. Mengapa? Status ketahanannya saja jauh lebih tinggi daripada status kekuatan fisik Gilbert, sang pemimpin kelompok pahlawan Alivonia. Akan sulit baginya menerima kerusakan berarti pada parameter nyawanya.
Tapi, bukan berarti ia kebal terhadap siapapun yang memiliki status kekuatan fisik yang lebih rendah dari status ketahanannya.
Parameter nyawanya akan berkurang ketika ia menerima serangan, namun karena jumlah poin nyawanya cukup banyak, mungkin hanya berkurang sekitar satu atau dua poin. Bahkan untuk monster semengerikan hewan iblis seperti waktu itu hanya mengurangi lima poin parameter nyawanya. Status ketahanannya memang mengerikan, ia pantas disebut benteng berjalan.
Selain status ketahanannya, status kekuatan fisik dan sihirnya juga tak kalah kuat. Riyan yang sekarang ini memiliki kekuatan yang jauh melebihi Faleon Hazefaith, sang jenderal besar Alivonia, salah satu dari sepuluh orang yang mempunyai kelas kesatria suci. Jika saja mereka bertarung satu lawan satu, mungkin Faleon akan kalah dalam sekejap.
Kalau saja hal tersebut benar-benar terjadi, berita tentang seorang kesatria suci dikalahkan akan tersebar ke seluruh dunia. Ada dua kemungkinan setelah kabar tentang Faleon dikalahkan oleh seseorang yang hanya memiliki kelas penduduk.
Satu, Alivonia dan Faleon sendiri akan rentan di serang oleh orang-orang yang benci padanya dan beberapa kelompok pemberontakan mungkin saja terbentuk. Meski pihak kerajaan sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan kerajaan, tentu terdapat segelintir orang yang takkan menerima mereka. Karena itulah pemberontakan juga dapat terjadi.
Dua, Riyan akan diburu banyak orang. Benar, kan? Misalnya ada orang yang ingin mengakui kalau ia mengalahkan orang yang telah mengalahkan Faleon dalam pertarungan satu lawan satu, ia pasti akan terkenal dan disegani oleh berbagai pihak. Inilah salah satu alasan mengapa Riyan tidak ingin mengenalkan diri atau membuat dirinya terkenal.
“Tuan!”
Mendengar panggilan Noel dari belakang, Riyan menoleh. Ia melihat Noel tengah berjalan ke arahnya dengan tampang riang dan berseri-seri sambil menggenggam sebuah pisau yang ia peluk erat di pipi. Ia terlihat sangat senang.
“Kamu sudah memilihnya?”
“Ya! Aku memilih yang ini! Pisau berat nan tajam berwarna hitam ini!”
Noel menunjukkan pisau yang telah ia pilih pada majikannya. Pisau tersebut memiliki bilah tajam berwarna hitam mengkilat dan gagang kuat yang terbuat dari lilitan kawat halus. Riyan cukup terkejut melihat kualitas pisau yang ia dapatkan hanya dengan biaya tiga keping koin emas. Karena penasaran, ia mengerahkan [Appraisal] pada pisau itu.
---
Nama : Welsher
Jenis : Senjata/Pisau
Kekuatan : 120
Efek : Menguatkan serangan fisik sebanyak 5%
__ADS_1
Material : Logam mithril, logam orichalcum, kawat halus
---
‘Oh, senjata spesial, ya? Lumayan juga.’
Riyan sedikit terkagum melihat pisau yang bisa ia dapatkan dengan harga tiga keping koin emas. Terutama ketika melihat material yang menjadi bahan utamanya. Mithril dan orichalcum? Bukankah kedua logam tersebut adalah logam terkuat sekaligus termahal? Kenapa penjaga toko itu memberikan sebuah senjata yang jauh melebihi budgetnya sendiri?
“Paman, apa tidak salah? Aku hanya meminta senjata yang seharga tiga keping koin emas.”
“Kalian adalah pelangganku setelah sekian lama, jadi kurasa tidak apa\-apa memberikan senjata itu, terutama karena hawa yang terpancar darimu sangat hebat. Itulah yang kupikirkan.”
Penjaga toko tersebut menunjuk Riyan sambil menjelaskan alasan mengapa ia memberi pisau sehebat itu. Memang jika dibandingkan dengan Garantia dan Glayster, Welsher hanyalah seongok besi. Tapi bagi orang-orang biasa, pisau bernama Welsher yang digenggam Noel cukup luar biasa.
Riyan hanya menghela nafas mendengar alasan sang penjaga toko. Entah mengapa, ia terlihat tidak puas dengan jawaban tersebut. Noel pun memiringkan kepalanya kebingungan melihat tuannya menghela nafas berat.
“Noel, cari perlengkapan lain yang kau butuhkan. Aku akan membayarnya.”
“E\-eh? Ti\-tidak bisa, aku tidak bisa menggunakan uang tuan untuk keperluanku.”
“Hah? Kamu berani melawan?”
“B\-baik!”
Mendapat tatapan tajam nan dingin dari Riyan, Noel pun segera berjalan kembali ke sang penjaga toko yang berada di meja kasir. Melihat Noel berlari menjauhinya dengan sedikit ketakutan, Riyan tersenyum kecil dari balik punggungnya. Ia merasa ia dapat mempercayai gadis beastkind ini.
***
Braakk!!
“Yang mulia!”
Di ruang tahta kerajaan Alivonia, kedua pintu masuknya di dobrak oleh seorang prajurit berzirah seadanya, layaknya prajurit biasa. Ia memasuki ruang tahta dengan nafas yang tersengal-sengal dan bulir-bulir keringat yang menetes ke lantai. Ekspresinya terlihat sangat panik. Ia jatuh telungkup di lantai.
Alestein dan Faleon yang sedang berbicara empat mata di dalam sana tersentak begitu si prajurit masuk disertai dobrakan pintu dan teriakan keras. Tentu perhatian mereka berdua segera teralih kepada sang prajurit.
“Ada apa?”
Di samping singgasana yang tengah di duduki raja Alivonia, Alestein, Faleon dengan sigap menanggapi si prajurit yang masuk barusan. Ia berjalan mendekati sang prajurit dan memberikannya sebotol air minum yang selalu ia bawa. Prajurit itu menerima dan lekas meminumnya, sepertinya ia kehausan.
“Uhuk! Uhuk!”
“Hei, tenangkan dirimu.”
Faleon memukul-mukul punggung prajurit tersebut agar merasa baikan. Setelah beberapa saat, kepanikan si prajurit telah sirna dan nafasnya kembali teratur. Faleon juga terlihat lega melihat prajurit di hadapannya menjadi tenang.
“Kabar apa yang ingin kau sampaikan kepada yang mulia? Kelihatannya darurat sekali.”
“Y\-ya.”
Sang prajurit menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, membersihkan rasa gugup. Selang lima detik, si prajurit berlutut sebagaimana biasanya bawahan memberi hormat kepada raja, kemudian mengangkat suaranya.
“Lapor! Labirin Hexaphilia telah runtuh!”
Faleon dan Alestein termenung mendengar berita yang dibawa oleh sang prajurit. Sebuah berita yang sama sekali tak terduga, sampai di telinga mereka. Awalnya dari penjaga pintu masuk labirin yang berasal dari pihak serikat petualang, hingga menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.
“Bagiamana bisa?! Bukankah labirin hanya akan runtuh ketika seseorang menaklukkannya?!”
“Saya tidak tahu pastinya, tapi yang jelas labirin tersebut dikabarkan runtuh.”
Faleon semakin tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Labirin Hexaphilia runtuh? Benar, hal itu memang terjadi. Menurut buku dan rumor yang beredar sejak dulu, labirin hanya akan runtuh ketika ditaklukkan monster atau suatu benda yang menjadi sumber energinya. Sampai sekarang kerajaan Alivonia belum bisa menembus lantai kelima, apalagi menaklukkannya.
Faleon dan Alestein hanya dapat ternganga tak mempercayai berita tersebut.
__ADS_1