
🍂🍂🍂
Makin hari sikap caterin makin berubah, dia semakin dingin terhadap William. William pun sampai sulit untuk mendekatinya, saat ini Catherine begitu menutup diri.
Caterin sudah lelah dan tak berniat untuk memperjuangkan pernikahannya, dia berusaha untuk melupakan perasaannya terhadap William.
🍂🍂🍂
Tok...tok..tok
Suara ketukan palu di ruangan pengadilan sebagai tanda berakhirnya sebuah pernikahan antara caterin dan William, mereka akhirnya resmi berpisah dan bukan pasangan suami istri lagi.
Tak banyak orang yang menghadiri acara tersebut karena William hanya membawa kedua orang tuanya untuk mendampinginya, sementara Catherine di dampingi sahabatnya saja.
Ada gurat kesedihan di raut wajah kedua orang tua William mereka begitu menyayangkan perpisahan yang terjadi di antara kedua nya.
Mereka awalnya menentang perpisahan keduanya namun setelah mendengar penjelasan dari keduanya, mereka pun menyetujui perpisahan yang memang harus terjadi itu.
Mereka tidak ingin egois dengan membiarkan catherin terus bersama William dengan keterpaksaan.
mereka begitu menyayangi Catherine dan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri sehingga mereka tidak ingin memaksakan kehendak.
" jangan lupakan mamah ya nak" ucap nyonya Marinka seraya memeluk erat menantunya.
" tentu tidak ma, kalian sudah seperti orang tuaku" jawab caterin.
__ADS_1
" Mama pasti akan sangat merindukanmu sekali- kali kunjungilah orang tua ini ya" goda nyonya Marinka.
" Baiklah" jawab Catherine seraya melerai pelukannya.
" kami pulang yah, jaga diri baik-baik. jika butuh sesuatu kamu bisa hubungi kami" ucap tuan Smith.
" iya ayah" ucap caterin menatap kedua mertuanya dengan mata berkaca- kaca.
Setelah kepergian kedua mertuanya kini tinggallah William,caterin dan juga sahabatnya Raya.
William menghampiri Catherine dan menatap wanita itu lekat dia seakan enggan melepaskan pandangan matanya dari wanita yang telah membersamainya selama 1 tahun ini.
Ada sedikit rasa sesal di hatinya, namun dia berpikir jika itu hanya rasa empati saja dan bisa hilang dengan sendirinya.
" Terimakasih" jawab caterin.
William pun berbalik dan berniat meninggalkan caterin.
" Tunggu" teriakan caterin membuat William berhenti melangkah dan menoleh kearahnya.
" Ada apa?" tanya William
" Apa aku boleh memeluk mu?" tanya caterin ragu.
William pun mengernyit bingung, pasalnya selama ini caterin selalu menghindarinya. Tapi dalam hatinya berseru kegirangan.
__ADS_1
William pun tersenyum dan mengangguk membiarkan caterin memeluk tubuhnya, canterin tersenyum senang dia terus menyesapi aroma khas maskulin dari pria yang telah berstatus mantan suaminya itu.
Dia sebenarnya sudah beberapa hari ini ingin memeluk William namun, dia tak berani mengutarakan keinginannya karena takut William menolaknya.
Tapi rasa ingin nya semakin menggebu dan caterin pikir mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara.
sementara Raya yang melihat tingkah sahabatnya itu sebenarnya merasa kasihan, dia bisa melihat ada cinta di antara keduanya.
Namun entah itu karena ego atau karena mereka belum menyadarinya Raya pun hanya diam saja dan membiarkannya, Raya yakin jika mereka berjodoh mereka akan dipersatukan kembali.
" Terimakasih" ucap caterin seraya melerai pelukannya.
" Tidak masalah" Jawab William.
" Aku pergi" Ucap caterin seraya menarik tangan sahabatnya.
Setelah kepergian caterin William merasa dadanya sakit dan terasa sesak, beberapa kali dia memukul dadanya. Berharap rasa sesak itu hilang.
Sementara caterin yang sedang berada di dalam taksi hanya terdiam sambil memandangi jalan yang di lalui nya, dia bahkan tak menyadari setetes air keluar dari kelopak matanya.
Grace hanya bisa menghela napas melihat kesedihan sahabat baiknya itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun dia selalu berdoa semoga sahabatnya di berikan kebahagiaan.
TBC...
🍂🍂🍂
__ADS_1