Tawanan Pria Arogan

Tawanan Pria Arogan
Bab 20


__ADS_3

Setelah dari ruangan dokter dan mengetahui tentang keadaan ibunya yang sudah mulai stabil catering pun kembali ke kamar rawat ibunya, sementara Raya izin pergi sebentar karena ada urusan.


Saat memasuki ruang rawat Catherine melihat putranya dan sang Ibu sedang bercengkrama walaupun mereka baru pertama kali bertemu tapi Stive begitu akrab dengan neneknya itu.


Melihat Hal ini tentu saja membuat catering Tersenyum Dalam Hati, awalnya dia berpikir Stiven mungkin akan sulit menerima kehadiran neneknya karena sikapnya yang selama ini jarang berinteraksi dengan orang lain.


Caterin pun menghampiri mereka dengan senyum mengembang, mengusap kepala Stiven lembut dan mencium pipinya.


" Mom" teriak Stiven


" What?" tanya caterin acuh.


" Aku sudah besar mom" jawabnya cemberut.


" Benarkah? tapi kau itu pria kecil mommy" ucap caterin gemas dan mencubit kedua pipi putranya.


Sontak hal itu membuat kesal Stiven sehingga wajahnya cemberut namun hal itu justru membuat cetrin dan ibunya tertawa keras.


Kebahagiaan begitu terasa di ruangan itu.


Sementara di tempat lain raya sedang sibuk di introgasi oleh seseorang dari masa lalu caterin.


" Jadi katakan informasi apa yang ingin kau dapatkan dariku?" tanya Raya.


" Aku hanya ingin bertanya tentang keberadaan caterin saat ini, apa benar dia telah kembali?" tanya nya dengan sorot mata mengancam.

__ADS_1


" Cckk, jika kau sudah tau tak perlu bertanya padaku kan! buang-buang waktuku saja" ucapnya kesal.


" Aku hanya ingin memastikan saja" sarkasnya.


" Terserah, tapi ingat jika kau berniat menyakitinya aku tidak akan tinggal diam. Cukup sekali dia terluka karenanmu" tunjuk Raya, kemudian dia pergi meninggalkan William yang masih berdiri tak bergeming.


" Aku tak akan melakukan kesalahan lagi" ucapnya berbisik. Kemudian William pun pergi dari tempat tersebut.


Kembali kerumah sakit...


" Kau ini kemana saja? kenapa lama sekali? apa urusannya begitu penting hingga meninggalkan kami begitu lama? cecar caterin.


" Maaf, tadi ada sedikit pekerjaan, ibu apa lebih baik?" tanya Raya mengalihkan topik.


" Dokter bilang keadaanya stabil,ada apa?" bisik caterin.


Tak ingin membuat ibu nya khawatir caterin pun mengangguk dan mengikuti Raya ke luar kamar rawat ibunya setelah menyuruh Stiven menjaga neneknya lagi.


Kini mereka berdua duduk di bangku taman rumah sakit, wajah raya sedikit tegang dan menunjukan kekhawatiran.


" Dia sudah tau" Ucap raya menatap sahabatnya.


Deg


Caterin tau siapa dia yang di maksud sahabatnya itu.

__ADS_1


" Benarkah?" tanyanya dengan raut wajah tegang.


" Tadi aku bertemu dengannya" Caterin pun menatap tak percaya, begitu mudahnya bagi pria itu mengetahui keberadaannya.


Bahkan belum satu hari dia berada di kota ini,tapi pria itu sudah mengetahuinya, apakah selama ini pria itu selalu memantau pergerakannya atau hanya kebetulan saja.


Caterin juga sudah menebak ini semua akan terjadi namun perkiraannya tak secepat ini, haruskah ia senang atau sedih sekarang.


"Apa dia tau tentang Stiven?" tanya caterin kalut.


" Sepertinya tidak, dia hanya bertanya tentang dirimu" jawab Raya membuat hati caterin sedikit lega.


" Itu lebih baik, Kita hanya tak perlu mengungkap identitas Stiven di hadapannya" jawab caterin.


" Kau ingin terus menyembunyikan nya? tanya Raya tak percaya.


" Iya tentu saja, ini jalan yang tepat agar William tak mengetahui Stiven anaknya" jawab caterin.


" Kau sudah gila? ini ide yang buruk, kau lupa siapa itu William. Jika mereka bertemu william akan dengan mudah mengungkap identitas Stiven dengan jentikan jarinya" ucap raya marah.


" Aku tau, maka dari itu mereka tak boleh bertemu" ucap caterin yakin.


" Terserah kau saja, tapi cepat atau lambat dia akan mengetahuinya" ucap Raya seraya beranjak dan meninggalkan caterin dengan segala kekalutan dalam hatinya.


" Aku harus apa?" gumam caterin sembari menangkup seluruh wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2