
Malam ini seperti biasa caterin pulang bekerja pukul delapan malam, saat tiba di rumah tidak terlihat keberadaan putranya, hanya ada bibi vida di ruang tamu sedang menonton televisi.
" Bibi masih disini?" sapa caterin
" Ah, kau baru pulang nak?" tanya bibi Vida ramah
" Hari ini pelanggan begitu banyak bi, tubuhku rasanya lelah sekal, oh ya dimana Steven?" tanya caterin seraya menghempaskan tubuhnya di sofa.
" Dia tadi selesai makan malam ingin mengerjakan tugas mewarnai dari sekolahnya" tutur bibi Vida.
" Maafkan aku ya selalu merepotkan mu, aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada dirimu bibi" ucap caterin tak enak
" sudah berapa kali aku katakan padamu, bahwa aku senang bisa menjaga Steven, aku sangat menyayanginya seperti cucuku sendiri" ucap bibi Vida tulus
" Terimakasih bi" ucap caterin seraya menggenggam tangan bibi Vida
Selama tinggal di desa hidup caterin begitu terbantu dengan kehadiran bibi Vida, entah seperti apa hidupnya jika tidak ada orang seperti bibi Vida yang selalu mendukungnya.
" Aku akan pulang, kau segeralah mandi dan beristirahat"
"tidak menginap saja? tanya caterin
" hahaha...Kalau aku menginap si tua Hans akan datang mengetuk pintu rumahmu" ucap bibi Vida
__ADS_1
"Baiklah kalau bibi ingin pulang, pulanglah..., bibi juga pasti lelah"
setelah kepergian bibi Vida caterin beranjak dari sofa, tapi sebelum masuk ke kamarnya caterin menyambangi kamar putranya terlebih dahulu, dia ingin memastikan putranya sudah tidur atau belum.
saat membuka pintu kamar dia mendapati lampu kamar masih menyala, dan putranya sedang duduk menghadap meja belajarnya.
" Kau belum tidur sayang" sapa caterin, membuat Steven menoleh dan tersenyum menghampiri ibunya.
" Mom aku rindu" ujar Steven seraya memeluk ibunya
" Mom juga rindu sayang" ucap caterin seraya membelai lembut kepala putranya
" Kenapa belum tidur hemm?, apa ada tugas di sekolah? tanya caterin
" Iya, ada tugas menggambar dari guruku, coba lihat bagus tidak" Steven berlari ke meja nya dan memperlihatkan hasil mewarnainya.
" Sudah selesaikan?, sekarang anak mom yang pintar tidur ya, besok harus sekolah dan bangun pagi"
" Baik mom" ucap
Bocah kecil itu patuh saat ibunya memerintahkan untuk menggosok gigi dan mencuci kakinya, kemudian caterin pun ikut merebahkan tubuh di samping putranya dan menepuk-nepuk punggungnya agar segera terlelap.
" Mom"
__ADS_1
" Hemm"
" Apa aku punya Daddy?" bukannya terlelap, bocah pintar itu malah memberi pertanyaan yang mencubit hatinya.
Deg..
" Tentu saja sayang" Ucap caterin setenang mungkin.
" Lalu kenapa aku tidak pernah bertemu Daddy ku? teman-teman ku yang lain selalu di antar Daddy mereka" tanya nya polos
" Daddy mu sedang bekerja di luar negri, jadi kita tidak bisa bertemu dengan Daddy sayang"
" Apa Daddy akan pulang dan bersama kita lagi?" semakin panjang semakin sulit caterin menjawab.
" Iya" terpaksa caterin berbohong agar putranya tak sedih.
" Sekarang tidur yah, sudah malam" ucap caterin
Steven pun tertidur dalam pelukan ibunya, sementara caterin tak mampu menahan laju air matanya, dada nya terasa sesak saat putranya menanyakan tentang ayah kandungnya, inilah yang selama ini dia takut kan.
Putranya semakin besar dan sudah pasti ingin tau keberadaan ayahnya, tapi sungguh dia belum siap akan hal itu.
luka yang William berikan padanya sungguh masih membekas di hati dan ingatannya, tapi bukan hanya karena luka itu dia takut.
__ADS_1
Tbc...
Kalian tau lah ya,,,caterin takut Steven diambil sama William, secara William kan orang kaya pasti gampang ambil hak asuh Steven.