Tawanan Pria Arogan

Tawanan Pria Arogan
Bab 19


__ADS_3

" Wah, nyonya rumah terlihat bersemangat sekali" goda raya.


" Tentu saja" jawab caterin tersenyum membalas ucapan sahabatnya.


" Kau masak apa? Mmm sepertinya enak"


" Ayo kita sarapan" ajak caterin.


" Tunggu sebentar aku panggil pangeran kecilku dulu" jawab raya seraya beranjak ke kamar Steven.


Caterin hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.


Tak berapa lama keduanya menghampiri caterin di ruang makan. sepertinya Stiven baru bangun karena masih mengenakan piyama tidurnya.


" Pagi mom" sapa Stiven.


" Pagi sayang, ayo duduk. Kita sarapan" ajak caterin.


Mereka menikmati masakan caterin dengan tenang, tidak ada percakapan di atas meja makan tersebut.


Seusai sarapan mereka semua bersiap untuk pergi kerumah sakit, penampilan caterin sangat casual hari ini dia menguncir tinggi rambutnya outfit yang di gunakannya adalah celana jeans dengan kaos lengan pendek berwarna putih di padukan sepatu kets warna senada, penampilannya seperti anak remaja.


" Sudah siap?" tanya caterin.


" Siap" jawab raya dan Stiven semangat.

__ADS_1


" Let's go" seru mereka.


Caterin pun mengendarai mobilnya, melaju kerumah sakit tempat ibunya di rawat, sepanjang jalan Raya banyak berceloteh mengajak Steven berbicara namun anak itu hanya membalas dengan tersenyum dan mengangguk saja.


Disini Raya yang terlihat seperti anak kecil dia sangat antusias menunjukan ini dan itu kepada Steven.


Tak berapa mereka tiba di parkiran rumah sakit, setelah memarkirkan mobil mereka menuju ruangan dimana ibunya di rawat.


Raya sudah hapal betul dimana ruangannya berada, jadi mereka tak perlu bertanya terlebih dahulu.


Saat masuk caterin melihat ibunya terbaring diatas ranjang dengan selang infus di tangannya.


caterin mengusap rambut ibunya penuh sayang, dia mengecup pipi tua ibunya itu.


Terlihat nyonya adelson mengerjapkan matanya, ketika dia membuka mata nampaklah olehnya putri semata wayangnya yang dia rindukan.


" Ibu" Hanya kata itu yang terucap dari mulut caterin.


Dia peluk tubuh ringkih itu dan menangis sedih, dadanya terasa penuh dan sesak, sungguh hatinya terasa teriris melihat sang ibu tergeletak tak berdaya. sementara selama ini dia tak pernah ada di sampingnya.


Ironis bukan? hanya karena seorang William dia tega meninggalkan ibunya yang pesakitan padahal dulu dia rela menikahi William untuk kesehatan ibunya.


Tapi saat ini dia bertekad dalam hati, apapun yang terjadi nanti antara dirinya dan William. Dia tak akan pernah meninggalkan ibunya lagi.


Sudah cukup baginya bersembunyi selama ini, dia tidak akan jadi wanita lemah dia harus kembali jadi wanita yang tangguh.

__ADS_1


Demi ibu dan putranya...


" Kau pulang nak? apa kabarmu sayang" tanya nyonya adelson lirih.


Dia melirik raya dan bocah kecil di sampingnya, sungguh tampan. Dia yakin itu pasti cucunya.


" Iya bu, kami pulang. Maafkan aku selama ini tidak ada untuk mu" Isak caterin seraya menarik Stiven duduk di sisi ranjang bersamanya.


" Tak apa nak, semua yang kau lakukan sudah lebih dari cukup. Ibu sudah senang melihat kalian baik-baik saja".


" Mulai sekarang aku akan disini menjaga ibu, aku tidak akan pergi lagi Bu" ucap caterin tulus.


" Tapi bagaimana dengan William? bagaimana jika dia tau tentang keberadaan Stiven?" ucap nyonya adelson khawatir.


" Aku sudah siap menghadapinya Bu, aku tak akan pernah membiarkan William mengambil Stiven ku" ucap caterin yakin.


Nyonya adelson hanya mengangguk, walau bagaimana pun dia tau betapa kuatnya keluarga Smith, tapi dia tak ingin membuat putrinya lemah.


" Ibu beristirahatlah, aku akan keruangan dokter sebentar, Stive mommy dan bibi raya pergi sebentar kau disini jaga nenek ok"


" Ok mom"


" Good boy" ucap caterin bangga karena putranya begitu patuh.


Mereka berdua pun pergi keruang dokter yang menangani nyonya adelson, caterin ingin tau perkembangan kesehatan orang tuanya itu.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2