Tawanan Pria Arogan

Tawanan Pria Arogan
Bab 21


__ADS_3

keesokan harinya...


Masih dirumah sakit caterin sedang menunggu dokter memeriksa keadaan ibunya,rencana nya hari ini jika keadaan nyonya adelson sudah membaik dokter akan mengijinkannya pulang.


"Sepertinya keadaan nyonya sudah lebih baik dan bisa pulang hari ini,tapi saya sarankan untuk selalu menjaga kesehatannya" ucap dokter kepada caterin


" Baik dokter, Terimakasih telah merawat ibu saya" ucap caterin tulus


"Sudah tugas saya, ini ada resep obat yang harus kalian ambil"


" Sekali lagi terimakasih dok"


Dokter pun mengangguk dan keluar dari ruang rawat meninggalkan mereka.


" Ayo kita berkemas, nenek sudah bisa pulang kau bantu mom untuk membereskan batangnya yah"


" Baik mom" jawab Steven patuh.


"Bagaimana perasaan ibu sekarang?" tanya caterin menghampiri ibunya di atas ranjang.


" Sudah lebih baik nak" ucap ibunya membelai rambut putrinya itu.


" Syukurlah" ucap caterin memeluk ibunya.

__ADS_1


" Entah kesulitan apa yang kau lalui selama ini, tapi aku harap setelah ini kau akan selalu bahagia" ucap nyonya adelson sendu.


" Tentu saja doa ibu yang terbaik" ucap caterin di dalam pelukan ibunya.


" ekhem"


Mereka menoleh dan melihat bocah kecil yang tampak marah melihat keduanya malah duduk bersantai sambil berpelukan sementara dirinya di biarkan membereskan barang sendirian.


Menyadari raut kemarahan di wajah Steven caterin pun tertawa, sungguh lucu sekali eksfresi wajah putranya itu.


Caterin pun merangkul putranya dan mengajaknya masuk dalam pelukan, sungguh kebahagian yang hakiki.


Di rumah...


Saat ini caterin sedang mengantar ibunya kekamar untuk beristirahat, mereka baru tiba lima belas menit yang lalu.


" Kau tidak istirahat nak?" tanya caterin pada putranya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.


" Disini saja mom, aku ingin lihat acara favoritku" jawab Stiven acuh.


" Baiklah" ujar caterin sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya yang terkadang bersikap dingin dan dewasa.


Dia pun melanjutkan tujuannya memasak di dapur hampir setengah jam dirinya berkutat dengan wajan penggorengan hingga sampai masakannya selesai dan tertata rapi di meja makan.

__ADS_1


Dia bergegas ke kamar ingin membersihkan diri dan memanggil ibunya namun saat melewati ruang tamu dia melihat putranya tertidur diatas sofa.


Caterin pun memandangnya sejenak, dia tak menampik kemiripan putranya yang hampir 90 persen seperti William.


Dari wajah hingga prilakunya sekali memandang orang akan langsung mengenalinya dengan mudah.


Entah dia harus bangga atau bersedih karena ini semua tak menutup kemungkinan jangan kan William orang lain pun jika melihat mereka bersama akan langsung mengatakan mereka ayah dan anak.


Tak ingin larut dalam dilema dia pun segera ke kamar membersihkan diri kemudian memanggil ibunya untuk makan siang karena tak ingin ibunya itu telambat meminum obat,sementara Stiven, caterin membiarkannya untuk tidur setelah sebelumnya di pindahkan ke kamarnya.


" Kemana cucuku?" tanya nyonya adelson.


" Sepertinya dia lelah, biarkan dia istirahat sebentar" jawab caterin.


" Kasihan sekali cucuku"


" Tak apa, dia hanya kurang tidur semalam" jawab caterin tersenyum.


" Ayo makan" tambahnya.


Mereka pun mulai makan dalam kehening, caterin berharap ini adalah kehidupan yang baik bagi keluarganya.


Sementara di tempat lain William sedang memikirkan cara bagaimana menemui mantan istrinya itu, entah kenapa setiap kali dirinya membayangkan pertemuan mereka, dia selalu gugup dan cemas.

__ADS_1


Seperti orang yang sedang kasmaran saja.


TBC......


__ADS_2