Teka Teki Cinta

Teka Teki Cinta
Keluarga


__ADS_3

Mobil Dhea pun sampai di depan bandara, dia melihat sudah ada beberapa orang yang akan menjemput keluarganya yang datang, ada yang menggunakan papan nama dan ada juga seorang pria yang datang membawa sebuah balon berukuran sedang bertuliskan 'Will you marry me?' sangat romantis, namun cukup membuat iri untuk orang sepertinya. "Beruntung banget kalau jadi ceweknya," gumam Dhea pelan.


Rupanya gumaman itu terdengar oleh mamanya, dalam seketika mamanya menoleh dengan tetapan sinis. "Kamu tuh fokus dulu sekolah, bukannya mikirin cowok terus, apalagi pakai cara ngelamar, perjalanan kamu tuh masih panjang Dhe. Nanti kamu harus masuk kuliah yang mama tunjukin waktu itu ya, ada beberapa rekomendasi dari temen-temen kantor Mama kalo di sana bagus."


Dhea hanya bisa menarik nafas pelan, memang salahnya sendiri tidak bisa menjaga mulutnya padahal sudah jelas jika Mama nya sangat tidak menyukai hal itu. "Iya ma, maaf," jawab Dhea pada akhirnya.


Setelah menunggu hampir setengah jam, pesawat yang dinaiki oleh keluarganya datang, Dhea mulai menyambut 4 orang saudaranya dengan sangat senang. "Om bisa ambil cuti ternyata?" tanya Dhea pada Om Zainal yang sedari kecil sangat memanjakan Dhea.

__ADS_1


"Alhamdulillah bisa, om kan udah bilang bakal ngusahain biar bisa kesini," jawab Om Zainal dengan lembut. Ya, memang keluarganya sangat lembut dan perhatian, Mamanya pun dulu sangat perhatian saat Dhea kecil namun seiring bergulirnya waktu kenangan itu pun mulai menghilang dan Dhea tak ingat kapan kali terakhir Mamanya memberikan perhatian dengan tulus selain di depan keluarga besarnya. Dalam hati kecil Dhea sebenarnya ingin sekali ikut ke Malaysia dan mungkin saja hidupnya akan berubah 180°, jauh lebih bahagia dan tidak penuh kekosongan seperti ini.


Terkadang jika mengingat ke masa dulu mengapa ia tak bisa menghalangi sang Papa yang pergi meninggalkan Mamanya? mungkin saat ini mamanya tidak ada sibuk bekerja demi menghilangkan depresinya karena perselingkuhan tersebut. Hal ini juga yang membuat Dhea cukup berat meminta dirinya pindah ke Malaysia dan meninggalkan Mamanya tak selalu tidak ingin meninggalkan rumah di sini yang sudah ia bangun susah payah dari zaman pacaran.


Usai berbincang kecil, mereka pun masuk ke dalam mobil dan menuju hotel yang biasa mereka tempati saat berkunjung ke Indonesia. Kali ini yang mengemudi adalah Om Zainal, karena yang lainnya ada perempuan semua. "Kamu makin gede aja ya, makin cantik. Udah nentuin nanti kuliah mau masuk apa?" tanya Tante Sinta.


Dan benar saja, tangan Mamanya terulur mengusap kepala Dhea lembut. Ia terlihat tersenyum kecil sambil melihat ke arah Tante Sinta. "Aku udah siapin kuliah yang bagus, kalo Dhea yang disuruh pilih sendiri takutnya asal-asalan."

__ADS_1


"Tapi kalo nggak cocok gimana Ni? bukannya lebih enak dan nyaman kalo Dhea yang pilih sendiri?" tanya Tante Ira.


"Ah nggak usah gitu, kita sebagai orang tua juga nggak akan ngasih hal buruk ke anak, aku kan mau yang terbaik buat Dhea, kalo dia nurut dan rajin pasti dia juga yang dapet keberhasilannya. Aku mau Dhea jadi perempuan karir yang mandiri," ucap Mamanya dengan tangan yang masih mengusap pelan kepala Dhea. "Kamu juga udah setuju kan sayang?" tanya Mamanya membuat Dhea sedikit terkesiap dari lamunannya yang sudah ingin memberontak.


Dhea menganggukkan kepalanya, ia tersenyum pada kedua Tante yang tampak mengkhawatirkan Dhea. "Udah setuju kok, kampus pilihan Mama bagus. Cuma Dhea masih berusaha buat bagusin nilai, biar bisa masuk ke sana," jawab Dhea pada akhirnya.


**

__ADS_1


Guys jangan lupa Like ya


__ADS_2