
Malam ini Salsha seakan terus melamun, ia menoleh pada Bima yang sudah terlelap tidur. Ingatannya masih tertuju pada kejadian yang ia alami hari ini, rasanya seperti mimpi dan membuat Salsha bimbang. Haruskah ia hidup seperti ini terus atau memulai hidup dengan seseorang yang pernah ia cintai, belum lagi Bima akan mendapatkan keluarga seutuhnya layaknya anak-anak yang lain.
Flash back.
Pagi sekali tidak biasanya ada seseorang yang mengetuk pintu kontrakannya, Rian? apalagi Rian, tidak pernah Rian datang saat pagi-pagi seperti ini, mungkin dia masih terlelap tidur di kamarnya yang nyaman.
Salsha menyalakan ponselnya dan melihat jam baru menunjukkan pukul 05.50. Karena penasaran pun Salsha memindahkan guling terlebih dahulu agar Bima tidak terjatuh dari kasur. "Siapa ya?" tanya Salsha saat sudah membuka pintu dan melihat seorang laki-laki tak ia kenal mengenakan topi yang hampir menutupi setengah wajahnya.
Laki-laki itu mengangkat topinya sedikit, wajahnya cukup tak asing namun Salsha tak ingat di mana ia pernah bertemu sebelumnya. "Gue temennya Fahmi, Sal. Aldo," ucapnya yang langsung membuat Salsha membulatkan matanya karena cukup terkejut.
__ADS_1
"Maaf salah orang," jawab Salsha dengan cepat, saat ia akan menutup pintu rumahnya laki-laki itu menahan dengan cepat.
"Fahmi nggak ada niatan buat lari dari tanggung jawab Sal, dia kecelakaan waktu mau balik ke sini!" kata-kata itu membuat Salsha langsung terdiam, ia membiarkan Aldo kembali membuka pintu rumah dan melihat ekspresi wajah Salsha yang tampak syok. "Fahmi baru-baru ini dapet info tempat tinggal Lo yang sekarang Sal, dia langsung ke Bandung padahal keadaanya belum pulih total."
Salsha menggelengkan kepalanya tak percaya, ia tidak akan tertipu lagi akan ucapan laki-laki yang ada sangkut pautnya dengan Fahmi, ia sudah hampir melupakan laki-laki itu, namun mengapa saat Salsha udah menerima kehidupannya yang sekarang Fahmi malah datang kembali? "Fahmi koma hampir 2 minggu Sal waktu itu, dia bahkan lumpuh 1 tahun dan baru bisa terapi setelah luka-luka dan traumanya sembuh."
"Dimana dia sekarang? bilang aja gue udah lupain dia dan jangan ganggu hidup gue lagi," jawab Salsha berusaha dingin padahal hatinya tengah berdebar sangat kencang.
Flash back off.
__ADS_1
Di sisi lain Salsha masih merasa sakit hati karena mantannya sudah membuat hidup Salsha hancur dan hanya ada Rian yang dengan beraninya membantu Salsha hingga tertinggal 1 tahun sekolahnya. "Rian," gumam Salsha pelan. Perasaannya semakin tak menentu saat mengingat nama Rian, apakah ia sanggup jika meninggalkan laki-laki sebaik Rian? apakah ia bisa setega itu mengucapkan perpisahan jika memilih pergi bersama mantan kekasihnya?
Salsha menggelengkan kepalanya, tidak, tidak bisa ia melakukan hal sejahat itu pada orang yang sudah membantunya selama ini. Tapi sampai kapan ia harus merepotkan Rian terus menerus? membuka hati pun seperti yang diinginkan Rian tetap saja Salsha tidak bisa melakukan, dia tidak pantas untuk Rian, Rian harus memiliki masa depan yang cerah. "Bima sayang, bunda bingung harus gimana," ucap Salsha pelan sambil mengusap kepala Bima dengan halus.
Setelah beberapa menit dikelilingi oleh keheningan, Salsha mulai menyadari satu hal, sedari tadi pagi sampai siang Rian selalu mengirimkan pesan dan anehnya malam ini Rian tidak mengirimkan satu pesan pun seperti biasanya. "Kayaknya dia lagi main sama temen-temennya," gumam Salsha menghentikan niatannya untuk menghubungi Rian.
Ingin sekali Salsha menceritakan semuanya kepada Rian, namun rasa tak enak lagi-lagi menghantuinya.
Ting!
__ADS_1
Suara notifikasi pesan masuk membuat Salsha dengan cepat mengambil ponselnya dan melihat pesan yang ia kira dari Rian. [Sal, aku cuma 3 hari disini, nggak ada banyak waktu lagi buat kamu menunda jawaban. Aku harap kamu pikir-pikir dengan baik ya Sal, aku mau tanggung jawab untuk jadi ayah yang baik buat Bima, aku juga udah punya rumah buat keluarga kecil kita di sana.]