
Seharian ini Dhea cukup senang dan merasa bebas, kehangatan keluarga seperti ini yang sangat ia butuhkan. "Udahlah kamu pulang ke Malaysia, biar kita bisa jalan-jalan terus kayak gini," ucap Om Zainal sambil merangkul Dhea yang tak terasa sudah remaja, tahun depan bahkan keponakannya akan menginjak usia 17 tahun.
"Jangan terus-terusan mancing ya Zai, ini udah pernah dibahas sebelumnya," jawab Mama dengan tegas.
Dhea yang hanya bisa menjadi pendengar baik menghembuskan nafasnya pelan, Mamanya bisa dibilang memiliki ambisi yang kuat, jika sekali ia bilang tidak maka tidak akan ada cara lagi untuk mengubah keputusan itu kecuali ada keajaiban.
Pikiran Dhea tiba-tiba mengingat Rian saat melihat motor besar yang masuk ke dalam area parkir Hotel, dengan kaki yang terus berjalan menuju sebuah Lift, Dhea diam-diam mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket saat memiliki kesempatan. "Keadaan Rian sekarang gimana ya? pasti dia sama Salsha lagi berantem, gue chat jangan ya?" ucap Dhea dalam hati. Pikirannya seakan terus memunculkan banyak pertanyaan tentang keadaan Rian, lalu disisi lain ia juga memikirkan Salsha yang mungkin sedang dalam keadaan bimbang saat ini. Saat menemani Rian semalam di balkon, ia jadi tahu laki-laki yang bersama Salsha di Hotel adalah ayah kandung dari Bima.
__ADS_1
"Ish!" desis Dhea saat membuka pesan masuk di aplikasi chatting nya. Sudah bisa di tebak siapa yang membuat Dhea menjadi meringis pelan bukan? Orang itu adalah Andy, pesan yang dikirimkan sampai 32 pesan. Sesekali Dhea berusaha fokus dengan pembicaraan keluarganya agar saat tiba-tiba ditanya ia akan bisa menjawab dan tidak terlihat bingung sehingga membuat Mama nya akan marah.
Saat kondisi sudah dirasa aman kembali, Dhea membuka ponselnya kembali dan membaca pesan masuk dari Andy. Sebuah pesan yang sangat terlihat tidak sabaran.
[Kemana aja sih? Nggak inget buat ngasih kabar?] salah satu contoh pesan yang membuat Dhea kini menjadi risih. Dulu, awal-awal saat Andy berubah sikapnya justru Dhea yang selalu cemas dan menanyakan keberadaan Andy, namun tak satupun pesannya yang di balas Andy justru Andy dengan teganya memblokir Dhea karena menganggap Dhea sudah mengganggu kesenangannya. Sekarang, semuanya sudah menjadi terbalik bahkan perasaan Dhea pun sepertinya sudah menghilang untuk Andy.
Ancaman seperti ini juga sudah biasa Dhea dapatkan. [Gue masih sama keluarga, nggak bisa lama pegang HP.]
__ADS_1
Tak menunggu lama untuknya mendapatkan sebuah pesan balasan. [Oh bagus, sekarang udah berani ngomong GUE! Awas aja kalo Lo berani berontak, gue bakalan ngomong ke nyokap Lo kalo Lo pernah minum dan sering nongkrong di club!]
Dhea menarik nafasnya panjang, hidupnya seakan tidak pernah bisa tenang sedikit saja. [Mau kamu apa sih? aku nggak bisa diganggu dulu hari ini, tau kan gimana marahnya Mama kalo aku bikin masalah setiap ada keluarga yang dateng?]
Dhea tak habis pikir mengapa bisa ia begitu mencintai Andy selama ini, ia juga mengapa baru sadar jika Andy tak pernah memperlakukannya dengan baik. [Lo inget nggak sih pernah janji buat traktir temen-temen gue buat ulangtahunnya Vicky? mereka udah pada nagih.]
Astaga, padahal saat itu Andy sendiri yang mengatakan dengan lantang di depan teman-temannya, Dhea tak tahu menahu tentang acara traktiran itu. Ia juga sudah tak ingin berdebat dengan Mama nya tentang uang saku bulanannya yang selalu habis sebelum waktu yang seharusnya. "Jangan main HP terus, simpen!" bisikan Mamanya membuat Dhea dengan cepat tersadar dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakit jaket.
__ADS_1