
Rian masuk ke dalam kelas dengan tak bersemangat, hal yang tidak pernah biasanya ia lakukan, teman-temannya yang melihat itupun langsung kebingungan dengan sikap Rian yang biasanya selalu rusuh dan membuat keributan setiap masuk ke dalam kelas. "Kenapa Lo Ian? tumben banget galau gitu, nggak di kasih uang jajan sama nyokap Lo?" tanya Yosie yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya sendiri.
"Kepo Lo, udah ngerjain tugas belum? gue mau nyontek," jawab Rian asal sambil melemparkan tasnya ke atas meja. Mati-matian ia dari semalaman tidak menghubungi Salsha, namun perempuan itu pun sepertinya tak memperdulikan Rian, mungkin juga Salsha sedang sibuk memikirkan Fahmi yang siap bertanggung jawab.
Bruk!
Rian menatap tajam pada Yosie yang melemparkan buku tulisnya di depan wajah Rian, benar-benar suasana sedih Rian saat ini. Sambil berdecak Rian mengambil buku tulis Yosie dan melihat PR yang sudah terisi semuanya. "Buruan salin, gue curiga Lo jadi peringkat paling bawah nanti di bagi rapot," ucap Yosie sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya deh iya yang paling rajin, pinter," ejek Rian.
Bersyukur memang mendapatkan teman rajin dan pengertian seperti Yosie dan yang lainnya. Satu frekuensi kalau kata anak jaman sekarang. "Berisik Lo, udah buruan salin, mimpi aja gue bisa dapet KM kayak Lo," gerutu Yosie. Belum ada semenit, Yosie terlihat kembali ceria sambil menoleh ke arah Rian. "Bikin taruhan lagi yuk! Bosen gue dirumah nggak ada kegiatan," ucap Yosie bersemangat.
__ADS_1
Rian hanya bisa menarik nafasnya pelan, ia menggelengkan kepalanya seraya mengambil buku dan tempat alat tulis di dalam tas. "Lagi nggak mood gue, lagi nggak butuh duit juga," jawab Rian asal.
Saat sedang menyalin tugas Yosie, Rian mengangkat wajahnya ketika Galih terlihat berdiri di depan bangku Rian. "Apaan? jangan nanya-nanya dulu ke gue, lagi males bahas apa-apa," tegas Rian. Mengingat Galih adalah murid baru pastinya ia akan menanyakan perihal sekolah dan organisasi.
"Enggak, gue mau nanya temen sebangkunya Dhea, kok kayak jarang masuk ya? kayak nggak niat sekolah."
Dengan kening yang berkerut samar, Rian menatap aneh pada Galih. "Gue lagi nggak mood gibah, tuh sama Yosie aja sana," jawab Rian sinis. "Lagian mau dia niat sekolah apa enggak ngapain Lo harus tau sih? Lo suka sama Nanda?"
Yosie dan Rian pun saling menoleh tanpa kata. "Lo mau duduk sama cewek tukang marah-marah?" tanya Yosie tak percaya.
Rian langsung berdecak, sepertinya Dhea dan Yosie tidak akan pernah akur. "Udah kalian ngobrol aja berdua sana, gue mau ngerjain dulu tugas Ah elah!" ujar Rian menghindari perbincangan mengenai Dhea, bagaimana pun dia sudah banyak membantunya kemarin.
__ADS_1
"Oh iya lupa Lo udah jadi bestie Mak lampir itu ya," ejek Yosie. "Awas lama-lama demen Lo."
"Apaan sih Lo berisik!" balas Rian.
Galih yang merasa jadi orang terabaikan hanya bisa menggaruk tekuknya yang tidak gatal, ia pun pergi meninggalkan dua orang tengah asik berdebat itu.
Ting!
Rian dengan cepat mengeluarkan ponselnya. "Gue lupa matiin suara notif jir, untung nyalanya sekarang, kalo Pak Ismail udah masuk bisa berabe," ujar Rian.
[Rian, sore ini bisa ke kontrakan? ada yang mau gue obrolin.]
__ADS_1