Teka Teki Cinta

Teka Teki Cinta
Hancur


__ADS_3

Dhea spontan menoleh kearah belakang, di sana Rian sudah berdiri dengan tatapan sendu melihat Salsha dengan laki-laki lain. “Lo dari kapan di situ?” tanya Dhea sedikit berbisik karena takut Salsha menyadari keberadaan mereka.


Rian tak menjawab sepata kata pun, ia masih menatap Salsha dengan ekspresi yang sulit di ungkapkan oleh kata, kecewa bercampur sedih dan amarah. Rian tahu siapa laki-laki yang sedang sedang memeluk Salsha, bahkan Rian masih sangat mengingat wajah itu. Bayangan masa lalu kembali berputar bagai kaset rusak yang menjengkelkan, tangisan Salsha usai laki-laki itu menghilang yang membuat Rian menjadi dendam padanya.


“Aku udah maafin kamu, sekarang aku udah tahu alasan kamu dan kamu juga udah tahu kondisi aku sekarang kayak gimana. Aku harap ini terakhir kalinya kita ketemu,” ucap Salsha yang terlihat sedikit mendorong pria itu dan saat Salsha ingin melepaskan pelukan laki-laki itu, ia justru semakin memeluk Salsha erat.


Mata laki-laki itu berkaca, seakan menolak ucapan Salsha tadi. “Enggak! Aku sayang sama kamu Sal, susah payah aku cari kamu sampe kesini lagi, aku nggak akan biarin kamu hidup kayak gini, kamu bisa kasih aku satu kali kesempatan lagi kan?” ucap laki-laki dengan suara yang bergetar namun cukup kencang hingga terdengar sampai tempat persembunyian Dhea dan Rian. Wajar saja memang, karena keadaan yang cukup sunyi dan bergema membuat suara langkah kaki saja rasanya bisa terdengar jika benar-benar tidak ada obrolan orang-orang yang melewati lorong itu.


Dhea yang masih belum mengerti dengan keadaan tersebut merasa bingung, bukankah sudah jelas jika di sana Salsha sedang bersama mantannya? Rian yang menjadi kekasih Salsha saat ini seharusnya tidak hanya diam mematung seperti itu, ia berhak melabrak keduanya dan mendapatkan penjelasan dari apa yang mereka lakukan. “Lo kenapa diem aja sih? Ayo kita kesana, lo harus dapet penjelasan yang masuk akal, Ian!” bisik Dhea yang sudah gemas dengan situasi saat ini.


Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Rian saat itu, dengan perlahan Rian terlihat menggelengkan kepalanya dengan begitu lemah. “Enggak Dhe, gue udah kalah.”


“Hah?” ucap Dhea bingung. Masih belum mengerti dengan apa yang sedang Rian ucapkan. “Kalah apaan sih lo?”

__ADS_1


Kini pandangan Rian tertuju pada Dhea, tak ada sedikit pun semangat dalam hidupnya yang tersisa rasanya, hanya terlihat kesedihan dan keputus-asaannya. “Orang dari masa lalu dateng, dia yang bakalan menang dan bawa Salsha sama Bima pergi,” jawab Rian. Mendengar nama Bima membuat Dhea menjadi ingat akan cerita Rian, ia benar-benar melupakan kenyataan jika Salsha sudah memiliki anak dari laki-laki lain dan mungkin saja laki-laki yang sekarang sedang memeluk Salsha adalah laki-laki yang dimaksud oleh Rian.


Dhea yang masih belum bisa berkata apapun cukup terkejut karena Rian yang tiba-tiba saja menarik tangannya, kaki Dhea berusaha melangkah untuk bisa menyesuaikan langkah Rian yang begitu lebar menuju lift. “Lo apaan sih main tarik-tarik aja! Gimana kalo gue jatoh!” protes Dhea pada Rian yang langsung kembali menarik tangan Dhea saat pintu lift terbuka. Rian menekan tombol lantai paling atas di mana rooftop berada. “Loh nggak ke parkiran?” tanya Dhea bingung, namun seketika ia membungkam mulutnya sendiri saat melihat ekspresi Rian yang masih begitu terpukul.


Di dalam lift pun kini terasa hening, Dhea hanya bisa melihat dari pantulan kaca yang mengelilingi lift tersebut, mata Rian tampak mulai memerah dan berkaca, sepertinya Rian sedang berusaha keras untuk menahan tangisnya saat ini. “Sorry ya gara-gara gue lo jadi liat Salsha ketemu sama mantannya,” ucap Dhea dengan sangat pelan.


Rian pun menoleh dan mengerjapkan matanya beberapa kali, menahan air mata yang rasanya sudah mengumpul di matanya. “Gue buru-buru ke sini karena di foto yang lo kirim tadi kayak bukan muka cowok itu,” jawab Rian.


Dhea menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Emang bukan kok, dia cuma nganterin Salsha sampe kamar itu, terus dia keluar kamar ninggalin Salsha sama cowok tadi,” jawab Dhea dengan cepat. “Kayaknya itu temennya doang deh yang nganter jemput Salsha, soalnya gue denger dia nelfon gitu waktu keluar dari kamar kayak mau anterin Salsha lagi kalo mereka berdua udah beres,” jelas Dhea.


Dhea yang tidak tega melihat kondisi Rian langsung mengulurkan tangannya menepuk pelan pundak Rian yang sedikit bergetar karena menangis, menggambarkan seberapa dalam rasa sakitnya saat ini. “Nangisin dulu semuanya, ingetkan kata-kata lo waktu nenangin gue nangis gara-gara Andy?” ujar Dhea sambil terus mengusap pelan bahu Rian.


Tanpa terasa sudah satu jam mereka duduk dan langit sudah berubah gelap sejak 40 menit yang lalu. Ponsel Dhea tak henti-hentinya bergetar oleh pesan masuk dari Mamanya, bahkan panggilan masuk terabaikan oleh Dhea. Situasi seperti ini sangatlah tidak ia sukai, ia bimbang saat harus pamit pada Rian yang sedang terpuruk, ia kembali ingat saat Rian menenangkannya waktu itu, ia tidak meninggalkan Dhea dan justru dengan waktu yang sangat luang mengajak Dhea berjalan-jalan keliling kota hanya untuk menemani kesedihan Dhea saat itu. Di sisi lain, Dhea juga mulai takut karena pasti Mamanya sudah mengetahui kebohongan Dhea saat ini, bagaimana caranya? Tentu saja Mamanya pasti sudah menghubungi nenek atau Om Zainal. “Hp lo dari tadi geter, nggak akan lo angkat?” tanya Rian yang kini sudah terlihat cukup tenang namun tatapannya masih kosong layaknya tak ada semangat hidup lagi.

__ADS_1


“Nyokap gue, pasti dia nyariin, gue janjinya pulang sebelum jam 7 sih, tapi nggak apa-apa kok, Nyokap gue kalo marah cuma bentar,” jawab Dhea.


Tatapan Rian kini tak sekosong tadi, mulai terlihat kedua alis itu bertaut. “Lo kenapa nggak bilang?”


Dhea menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak berani gue ninggalin lo sendirian di lantai atas, gue takut lo terjun ke bawah,” jawab Dhea sambil bergidik ngeri.


“Gila, gue juga belum siap mati kali. Ayo pulang, gue anterin.” Rian langsung bangun dari duduknya. “Feeling gue lo bakalan di marahin sama nyokap lo, gimana kalo gue anter lo sampe depan rumah lo? Jangan sampe depan gerbang komplek doang, gue bisa jelasin gue kok sama nyokap lo biar lo nggak di marahin.”


Kedua bola mata Dhea langsung membulat. “Jelasin apaan? Gila lo ya? Yang ada gue diceramahin nanti gara-gara dikira ganti cowok!” protes Dhea menentang keras ide Rian.


“Udah jangan banyak debat, susah banget di bilangin,” jawab Rian yang tanpa ragu menarik tangan Dhea kembali untuk membuat perempuan itu bangun dari duduknya.


***

__ADS_1


Oke guys, lanjut besok ya, jangan lupa like, komen dan follow akun author. Bye bye!


__ADS_2