Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
perantauan Luna ke dua


__ADS_3

pagi itu matahari mulai nampak malu-malu muncul kepermukaan bumi cahayanya menyinari sudut bumi ini


dari cela-cela rumah Luna nampak cahaya masuk kedalam rumah


lagi ini Luna bak mendapatkan durian runtuh pasalnya setelah hampir satu tahun mengenyam pendidikan les komputer Luna dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan


kabar baik lainnya yaitu dari tempat Luna menimba ilmu diadakannya penyaluran siswa yang berprestasi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya lewat jalur tes/beasiswa


Luna menjadi salah satu dari sekian banyak siswa yang beruntung mendapatkan beasiswa jalur tes


disisi lain email dari perusahaan restoran Eropa dimana Luna sempat bekerjapun mendapatkan kabar baik


Luna di terima bergabung menjadi salah satu bagian team admin sales retail di perusahaan tersebut


setelah satu tahun kembali ke kampung halaman dan menempa diri menambah ilmu dan skill dalam bidang komputer Luna memberanikan diri mengirim surat lamaran kerja melewati email ke perusahaan Eropa di ibukota


berbekal sertifikat dan surat pakelaring dari bosnya dahulu MR. WHY Luna otomatis diterima kembali untuk bekerja namun diposisi yang berbeda mengingat pengetahuan dan kemampuan baru Luna dalam bidang komputer


"Allah hu Akbar, Allah Hu Akbar , Alhamdulillah" girang Luna sambil berjingkat-jingkat lalu sujud sukur


kegaduhan yang dibuat oleh Luna mengagetkan ibu dan ayahnya


pasalnya hari ini adalah hari libur untuk anak sekolah dan ibu bapak Luna memutuskan untuk beristirahat dari rutinitas ke ladang/kebun karet


"Luna nak ada apa" tergopoh-gopoh ayah Luna menghampiri Luna


ibu Luna yang sedang memasak pun berlari kearah Luna dengan cepat


"kamu kenapa Luna" pekik ibu Wati khawatir


"Buu bapak Alhamdulillah Luna keterima kerja pak" dengan berlompatan Luna memberi tahu ibu dan bapaknya


"duduk nak kerja" tanya bapak Luna heran


"kerja kerja apa" cerca ibu wati tak kalah penasaran dari bapak ajan


"iya pak Bu kerja, YESS Luna bukan PNS lagi" dengan riang gembira Luna memegang tangan kedua orang tuanya dan diajaknya bapak ibu berputar-putar


"haduh wes wes ibu jadi pusing" ibu Luna memegang kepalanya yang sedikit pening dikarenakan berputar-putar mengikuti tarikan tangan anaknya


sesaat kemudian mereka terdiam bersama


indra penciuman mereka bertiga mengendus sesuatu yang baunya seperti gosong


"Buu bau apa ini Bu" sambil mengendus-enduskan hidungnya pak ajan mencari sumber bau didalam ruangan tersebut


mata ketiga orang didalam ruangan itu tampak terkunci dan memandang satu sama lain lalu


"buuu masaka apa gosong" teriak Luna dan bapak ajan bersamaan


"haduhh endokku" jerit sang ibu sadar ada Sotil ditangan kanannya dan tadi ketika berlari menghampiri Luna ibu Wati tak sempat mematikan kompornya dimana Bu Wati sedang menggoreng telor mata sapi guna melengkapi nasi goreng untuk sarapan pagi ini


"hahahaha gosong gosong" jawab pak ajan dan Luna serempak


mereka tertawa bersama dan memegang perut masing-masing melihat sang ibu berlari sangat cepat kedapur dengan wajah penuh kepanikan


setelah drama telor mata sapi yang matang tapi gosong Luna dan kedua orang tuanya menikmati sarapan pagi ini dengan perasaan suka cita


denting sendok dan piring beradu mereka bertiga makan dalam diam dan sesekali saling pandang dan tersenyum


setelah acara sarapan bersama yang hangat selesai


Luna mulai menceritakan hal yang membuat bahagia


semoga dengan kabar ini membuat kedua orang tuanya makin bahagia dan merestui niat Luna


"bapak menyerahkan keputusan semua padamu Luna" ucap pak ajan memecah keheningan


"apapun yang terbaik menurutmu, kamu bukan anak kecil lagi, semoga bisa memilah dan memilih apa yang baik dan apa yang buruk" bijak pak ajan sampaikan pendapatnya kepada Luna


dalam heneningan ibu Wati menyimak interaksi antara anak dan bapaknya


kini ibu Wati tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan


ibu Wati harus percaya akan keputusan sang anak dan merestui niat sang anak


"tapi pak.." ucap Bu Wati sedikit berbisik


"kita tidak punya uang untuk biaya Luna selama belum gajian disana jangankan biaya selama seminggu buat ongkospun tak ada" kasak kusuk Bu Wati ditelinga bapak ajan


walau dibuat sekecil mungkin bisikan itu tentunya tetap sampai ditelinga Luna


"bapak ibu gak usah khawatir yang penting Luna dapet ongkos untuk kesana itu udah lebih dari cukup" tenang Luna menjelaskan kekhawatiran sang ibu

__ADS_1


"Luna sudah cari info harga tiket dari kota kita ke ibu kota sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah" lanjut Luna lagi


"hmmm bapak usahakan iya nak, lalu untuk modal kehidupanmu disana bagaimana" jawab sang bapak tak kalah khawatir mengingat jika Luna merantau walau sudah pasti dapat kerjaan belum tentu langsung gajian


Luna harus memiliki modal setidaknya biaya hidup selama satu bulan


seperti kontrakan makan dan ongkos bekerja


itu menjadi kendala bagi bapak ajan dan ibu Wati pasalnya modal itu tentu tidaklah kecil dan mereka belum memiliki dana untuk hal itu


"ibu bapak tenang aja Luna ada simpenan kok, Luna menabung sedikit demi sedikit hasil jualan makaroni dan membantu beberapa teman membuat tugas kuliahnya" jelas Luna menenangkan kekhawatiran kedua orang tuanya


"kamu serius nak" jawab pak ajan sambil menautkan dua alisnya


"iya pak Luna serius, yang terpenting doakan Luna iya dan selalu percaya sama Luna" dengan menggenggam kedua tangan kedua orang tuanya Luna meyakinkan bahwa Luna akan baik-baik saja dan restu serta doa dari orang tuanya lah hal terpenting untuk saat ini


akhirnya dengan segala pertimbangan dan keputusan bersama lunapun memulai perjalanannya untuk kembali merantau di ibu kota


"semua sudah siap nak, jangan ada yang ketinggalan" dengan sibuk tangan ibu Luna menyiapkan kotak bekal untuk Luna guna menemani perut Luna diperjalanan pasalnya ibu Luna faham perjalanan menggunakan bus akan berhenti jika sudah sampai di pemberhentian yang ditetapkan oleh bus jadi selama perjalanan bus tidak akan berhenti ditempat lain selain pom bensin


jadilah Luna membawa kotak bekal nasi, tempe goreng, ayam krispi, sambal terasi dan saos kecap kemasan tak lupa botol minum besar dan beberapa cemilan serta obat anti mual atau mabuk walau Luna bukanlah pemabuk jalan baik darat maupun laut


ibu luna dengan sigap menyediakan semua kebutuhan perjalanan Luna kali ini dengan sangat matang


perjalanan yang akan memakan waktu kurang lebih 17 pada tahun itu 2013 belum ada jalan tol seperti sekarang ini


"Alhamdulillah sudah siap semua bu, insyaallah tidak ada yang tertinggal, cuma hati Luna yang tertinggal buat ibu dan bapak" goda Luna pada sang ibu sambil mengeringkan sebelah matanya


"aduhh aduh aduh sakit Bu masa Luna dicubit" dengan bibir manyun Luna menggosok pinggangnya yang dicubi oleh ibunya


cubitan sayang dari sang ibu dengan mata berkaca-kaca lalu sang ibu memeluk lembut Luna


"hati-hati iya nak, ibu sayang kamu" bisik sang ibu dengan mengelus punggung Luna


" iya Bu. Luna juga sayang ibu" Isak tangis mulai lolos dari bibir mungil Luna


"bapak gak disayang ini" canda sang bapak


gegas Luna menghampiri sang bapak dan memeluk erat tubuh pria tersayangnya cinta pertama Luna


"Luna sayang pake banget sama bapak, sehat sehat iya pak, Luna pamit" Isak tangis makin terdengar ditelinga ketiga manusia yang terikat darah dan disebut keluarga tersebut


sesampai di bus tak menunggu lama mobil bus yang ditumpangi oleh Luna pun melaju dengan pasti


semua penumpang dilepas kepergiaannya dengan tangis haru dan ke khawatiran oleh keluarga masing-masing begitupula dengan Luna


"dada ibu bapak" lambai tangan Luna dari dalam bus


setela menata hati dan menyeka air mata yang sempat tumpah Luna menghela nafas dalam dan teringat kepada kak sely


dengan tepukan dijidat Luna bergumam


"astaghfirullah aku belum pamit sama kak sely, bagaimana kabarnya kak sely iya" ujar Luna seperti lebah yang berdegung


diambil Luna benda pipih didalam sakunya lalu membuka aplikasi pesan dan mulai mengetik pesan dilayar tersebut dan ditujukan kepada kak Sely


teman tetangga rasa saudara yang satu tahun belakangan ini mensupport Luna dan selalu membantu Luna dalam hal apapun


"assalamualaikum kak sely apa kabar? maafkan Luna memberi kabar dadakan, Luna hari ini berangkat ke ibu kota, doakan Luna semoga diberi kelancaran dalam bekerja disana, salam sayang Luna" send dan terkirim begitulah kira-kira pesan yang dikirim oleh Luna yang ditujukan kepada kak Sely


satu menit


dua menit


lima menit berlalu


belum ada balasan dari kak Sely


Luna kembali menyimpan benda pipih yang dinamakan handphone itu kesakunya


lalu pikiran Luna melayang keberatan waktu lalu setelah kak Sely menikah dan diboyong kerumah sang suami


---- flashback on ----


prov luna


di ruang kelas les


"Luna mbak mau ngomong nih tapi jangan marah iya" ucapk kak Sely serius kepadaku


"iya kak boleh" dengan dahi mengkerut Luna penasaran adapakah gerangan dan apa yang akan di sampaikan oleh kak Sely


karna saat ini kak Sely sudah memasang mode serius terlihat jelas di raut wajah cantiknya

__ADS_1


"kka kan sudah menikah dan tinggal sama suami, jadi motor Kakak menganggur nih dirumah" jelas kak sely pelan-pelan padaku


"iya" aku menjawab dengan anggukan dan belum tau arah kemana tujuan kak Sely bicara


"dari pada nganggur dan kebetulan kakak butuh uang, kamu mau gak kakak gadein dulu ke kamu" ucap kak Sely diselingi senyum manis


"kak Sely butuh berapa?" jawab ku agak sedikit ragu pasalnya aku yakin jika sekarang kak Sely sedang tidak kekurangan uang melainkan sepertinya ingin membantuku


karna dengan kak Sely diboyong oleh suaminya otomatis aku harus mandiri berangkat sendiri dari rumah ke tempat kami menimba ilmu berbekal motor butut ayahku yang terkadang kumat-kumatan penyakitnya


yang businya lah


yang remnya lah


yang karbulator


dan masih banyak penyakit lainnya yang membuatku sering kali bolos berangkat les dan pastinya merugikanku karna aku akan terlambat menerima materi pembelajaran secara langsung dan mempengaruhi penilaian dari guru kelasku


"gak banyak lima ratus ribu aja" dengan mengacungkan kelima jarinya kepadaku


"kak Sely sehat motor matic yang kondisinya masih mulus yang mulusnya ngalahin pahaku mau digadein limaratus ribu, jangan bercanda" kekeh ku sambil mengibas-ngibaskan tanganku


kupingku terasa panas dan pipiku mulai merah menahan malu


" kakak serius nanti kalau kita sudah selesai kuliah kakak kembalikan uangnya gimana" tawaran dari kak Sely mmbuatku sungguh bingung dan keningku makin mengkerut


"hayo lah cuma lima ratus ribu aja, besok berlaku tawaran ini sudah tidak berlaku" ucap kak Sely sambil memonyongkan bibirnya lima centi ala-ala merajuk ia tampilkan dihadapanku


"kak Sely cantik makasih iya" tanpa banyak kata dan drama kupeluk tubuh kak Sely dan menangis lah aku didekapannya


iya kak Sely seakan tau kendala dan masalah yang kualami


kak Sely jugalah orang yang berjasa dalam perjalanan ku mengenyam pendidikan les komputer ini


dengannya lah Maslaah tanpa dijelaskan panjang lebar kali tinggi akan menjadi masalah yang lebih simpel dan mudah dijalani


---- flashback off ----


tak terasa mataku mulai berat dan kurasakan kantuk yang teramat sangat


perasaan baru beberapa menit mobil ini melaju membawa diriku pergi menuju ibu kota tetapi mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi


sesaat terlelap terdengar sapaan disebelahku


aku yang dari awal berangkat hanya fokus pada kedua orang tuaku dan berpamitan kepada kak Sely melalui SMS pun terbangun


"mbak mbak maaf punya minyak kayu putih enggak" sapanya sopan


gadis manis berjilbab hitam disebelahku dengan sungkan mengutarakan isi hatinya yang hendak meminjam minyak kayu putih


aku yang tersadar dan ingat bahwa ibu sudah menyiapkan berbagai obat baik minyak kayu putih Antangin balsem hansaplaspun ada didalam tas kecil di tas selempang kupuemintanya menunggu sebentar sementara aku mengambil minyak kayu putih yang dimaksud mbak tadi


"ini mbak silahkan" aku mempersilahkan gadis tadi yang meminta minyak kayu putih padaku


"terimakasih mbak, oh iya mbak tujuan mau kemana?" tanya gadis tadi ramah


"saya ke Tangerang" ucapku mantap


"kalau kamu, oh iya saya Luna" seraya mengulurkan tangan aku memperkelan kan diri kepada gadis dihadapanku


"saya Kirana, saya mau ke Cikokol" ucapnya sambil menyambut jabat tanganku


ahhh yang tadinya mata mengantuk bertemu dengan orang yang se frekuensi membuat mata ini kembali on fire


tak terasa perjalan kali ini aku lewati dengan bertukar cerita dengan teman baru yang aku temui di bus dan persis duduk disebelah bangku yang ku naiki


ternyata kamu dari daerah yang sama hanya saja berbeda kecamatan


ibaratnya mungkin karna kami serumpun jadi obrolan kamipun menyambung mengingat umurpun sepertinya gadis ini ada di bawahku beberapa tahun tapi tak menyurutkan keseruan kami bercerita dari mulai dari masa sekolah hingga memutuskan untuk merantau


tak terasa waktu membawa kami makin hanyut dalam cerita dan bus telah makin jauh meninggalkan tempat dimana kami berasal


dengan niat dalam hati dan doa yang tulus kami mulai perjalan perjuangan ini ditahan rantau


seperti kebanyakan orang bilang


..."demi masa depan lebih baik"...


hingga memutuskan untuk melangkah ke perantauan


semoga ditanah rantau ini membuahkan hasil yang diinginkan dan dapat membahagiakan orang terkasih yang ditinggal didesa maupun daerah asal


bismillah

__ADS_1


kamipun terlelap dan bus terus melaju


bersambung


__ADS_2