
prov author
seminggu setelah tragedi dompet Luna yang malang
kontrakan bude yus kembali digemparkan oleh kemarahan pakde Kardi
"dasar anak tidak tau diuntung, sudah aku tampung tidak ada sedikitpun rasa terimakasihmu padaku" lantang pakde Kardi ke pada Luna
badan Luna bergetar hebat
Luna hanya mampu berdiri dipojokan ruangan depan dimana ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat tidur Luna apa bila malam menjelang
"Sinta rajin ke resto itu pakde buat tanya perkembangan lamaran Sinta tapi selalu disuruh pulang sama Luna" tuding Sinta kesal sambil memonyongkan bibirnya ke arah Luna
"Luna Luna"
belum sempat Luna menjawab
"ala Luna Luna Luna apanya Luna Luna kamu takut kesaing sama kecantikan dan kepintaran ponakan pakdekan" Cibik pakde Kardi
bug bug bug
derap langkah cepat terdengar dari arah luar kontrakan pakde Kardi
"Kardi Kardi kehebohan apa lagi ini yang kamu perbuat" suara bariton diluar terdengar
Luna sangat hafal pemilik suara itu
dialah pakde Karto
"bisa kan semua dibicarakan dengan santai dan kepala dingin, gak malu kamu jadi tontonan tetanggamu, sudah macam pertunjukan topeng monyet aja" kekeh pakde Karto
apa sih si tua Bangka ini ikutan aja batin Sinta menatap sebal ke pakde Karto
"duduk semua hayo" titah pakde Karto
semua menurutin perintah pria paruh baya tersebut
dengan tetap mengencangkan urat pembahasan Sinta yang tidak kunjung di terima kerja di resto Eropa tempat Luna bekerjapun dibahas
hingga muncul keputusan
"iya sudah pakde Kardi Sinta gak apa-apa, nanti Sinta cari kerja tempat lain aja" ucap Sinta lemah dengan memasang tampang menyedihkan yang sangat tampak dibuat-buat
"huuuuft iya nduk kalau itu pilihanmu pakde bisa apa, yang penting kamu bahagia" dengan lembut pakde Kardi membelai rambut hitam lurus milik Sinta
"kalau begitu sudah baik-baik semua jangan lagi pake otot kalau bahas masalah keluarga, malu dilihat tetangga" bijak pakde Karto menanggapi permasalah dirumah pakde Kardi
setelah kepergian pakde Karto
pakde Kardi mencekal tangan Luna dan membawanya ke dapur
"Luna sini kalau kamu masih mau tinggal dan bekerja disini ikuti semua syarat dari pakde" perintah pakde
deg dengan takut-takut Luna pandangi wajah sangar pakde Kardi Waja lh tersebut sudah nampah memerah menahan amarah
sepersekian dekit terlihat senyum tersungging di sudut bibir pakde Kardi yang membuat nyali Luna menciut
"i i i iya pakde" jawab Luna diiringi anggukan
"jatah kontrakan kamu bulan ini dan seterusnya adalah tiga ratus ribu, tambahan modal buat dilapak pakde wajib kamu kasih dua ratus ribu dan jajan Sinta selama belum bekerja tiga ratus ribu" pakde Kardi menjelaskan panjang lebang kali tinggi syarat agar Luna tetap dapat tinggal dikontrakan bude yus dan tetap dapat bekerja di resto Eropa dimana sekarang hatinya telah tertambat diprofesinya sebagai karyawan disana
"aaaapa pakde semua jadi delapan ratus ribu" dengan takut-takut Luna menjawab
"tapi pakde maaf gaji Luna gak akan cukup untuk semua itu" Luna berusaha benegosiasi dengan pakde Kardi supaya logikanya kembali dan kewarasannya pakde terpulihkan
dengan gaji yang didapat Luna perbulan sebelumnyapun telah dibebankan kepadanya kontrakan sebesar seratus lima puluh ribu
belum kalau pakde Kardi meminta dengan alasan pinjam dulu untuk tambahan modal dilapak dan pasti uang tersebut tidak akan pernah kembali
Luna sudah sangat mengencangkan ikat pinggang
dengan tetal terus berjalan kaki apa bila tidak diantar oleh mas Yudi anak pakde Kardi
mengingat kedua anak laki-laki bude yus dan pakde Kardi Tenga disibukkan dengan urusan skripsi dan kegiatan dikampus atau sekedar kumpul-kumpul club pojokan anak Kemang
jadi bisa dipastikan kalau rutinitas yang dijalani Luna adalah berjalan kaki menuju tempat kerjanya
ya Allah aku harus bagaimana batin Luna
tanpa menunggu jawaban dari Luna
pakde Kardi dan Sinta sudah tidak tau timbanya
dengan lemah Luna terduduk bersimpuh dilantai
Luna berfikir keras bagaimana caranya supaya Luna bisa mandiri
alias ngontrak sendiri
dengan tekat bulat Luna berjalan kedepan gang Dimana warung bude Tini berada
"bude bude" Luna menghambur ke pelukan bude Tini
"aduhhh ini ada apa Luna Dateng Dateng kok nangis cah ayu" tanya bude Tini ikut panik melihat Luna yang menangis
Luna pun menceritakan keluh kesahnya kepada bude Tini dan meminta saran bagaimana cara menyikapi pakde Kardi dan Sarah
mengingat bude yus masih ditempat majikannya mengemban tugas sebagai pembantu rumah tangga yang mengharuskan tinggal dirumah majikan
ketika liburpun Luna dan bude yus jarang bertemu, entah karna libur yang berbeda hari atau terkadang jika bude yus libur dirumah Luna akan disuruh pakde Kardi membantu bude Tini supaya tidak bisa berlama-lama bertemu dengan bude yus
"hmmm ini minum dulu" bude yus menyodorkan es teh manis kepada Luna dielus pucuk rambut Luna dengan lembut
"nduk pakde Karto ada kenalan juragan kontrakan didaerah warung buncit sana, nanti biar pakde tanyain apakah ada yang kosong" ucap pakde Kardi tiba-tiba muncul dari arah pintu samping warung
__ADS_1
"pakde" Luna hanya dapat memandang pria paruh baya yang sudah Luna anggap seperti ayah sendiri
"iya Luna betul kata pakdemu, pak haji orangnya baik, suka ada acara majelis taklim nanti kamu bisa sekalian isi waktu luang ikut majelis disana" usul bude Tini
"baik pakde bude, tapi" belum sempat menyampaika kekhawatirannya tiba-tiba
"bagus kamu mau ngontrak sendiri Luna" suara tegas pakde Kardi terdengar dari luar arah pintu samping dimana pakde Karto tadi masuk
"pakde Kardi" suara Luna bergetar
"ok sekarang kemasi barangmu dan henyahlah dari hadapanku" teriak pakde Kardi penuh amarah
tanpa berucap lagi dan berlalu dari warung bude Tini
Luna makin menangis terngungu entah apa yang akan terjadi dihidupnya kali ini
mau tak mau Luna harus siap menghadapi
sesampainya dikontrakan pakde Kardi
Luna yang diantar bude Tini tercengang pasalnya baju dan tas Luna telah berada diluar rumah sedangkan rumah sudah dalam keadaan terkunci
tanpa berpamitan yang baik dan sopan selayaknya keluarga Luna meninggalkan kontrakan bude yus
---------
sesampainya di kontrakan pak haji jiam jurangan tersohor di daerah warung buncit selain terkenal karna memiliki banyak unit kontrakan haji jiam juga terkenal dengan kedermawanannya
dengan uang empat ratus ribu rupiah Luna mendapatkan satu petak kontrakan yang kamar mandinya diluar
alias kamar mandi umum
didalam sudah ada satu lantai kasur dan bantal ada juga lemari kecil untuk Luna menyimpan baju dan barang-barang lainnya
"nduk bismillah semoag betah iya, baik-baik disini, kalau warung bude lagi dijagain pakde Karto nanti bude akan main kesini iya" ucap bude Tini lembut sambil mengusap bahu Luna
"iya bude terimakasih, jangan lupa sama Luna iya" pinta Luna lirih
-------
tak terasa satu Minggu sudah Luna tinggal di kontrakan milik haji jiam
tepat setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib dering handphone Luna menyadarkan Luna dari atas sajadahnya
iya Luna lupa waktu diatas sajadah berwarna ungu warna kesukaan Luna
Luna larut dalam doa
terpampang di handphone Luan nama yang sangat iya rindukan sosok yang sangat ingin Luna peluk
ibu.
"assalamualaikum iya Bu, apa kabar" Luna mengangkat telfon dengan hatibyang sangat rindu
"luna kamu mau bikin ibu bapakmu dikampung mati berdiri kah" cecar suara ibu diujung telfon
terdengar sekali dari nada bicara sang ibu kalau kini sang ibu menahan kesal dan amarah yang sangat besar
pupus sudah
hati Luna bagai disayat sembilu
sakit yang tak berdarah Luna rasakan
bagaimana mungkin ada seorang anak yang menghendaki kedua orang tua yang sayang dia cintai bahkan sayangi akan mengalami hal yang disebutkan oleh ibunya tadi
"bukkk" jawab Luna dengan bersimbah air mata
"kamu pilih mana ibu bapak jemput pakde atau balik kerumah pakde Kardi sekarang" titah ibu Luna tanpa mau dibantah
jangankan dibantah mendengarkan penjelasan dari Luna pun rasanya tidak perlu
tutt Tut Tut Tut telfon dimatikan sebelah oleh pihak ibu Luna
"ya Allah apa lagi ini" batin Luna
Luna menutup rapat semua hal yang terjadi padanya selama tinggal bersama bude yus dan pakde Kardi
semua hal menyakitkan dan perlakuan kasar dan hinaan yang diterima tidak pernah Luna beritahukan kepada orang tuanya
mengingat kedua orang tuanya jauh disebrang pulau
dan karakter sayang ibu yang keras dan gampang emosi jika dirasa yang ibunya fikir itu adalah kebenaran
apalagi orang yang dipercaya sudah memberikan informasi A ibu Luna akan tegas dan mempercayai informasi A tersebut tanpa mencari informasi yang benar terlebih dahulu
drrrttt drrrttt drttt
diangkat handphone jadul milik Luna
ada pesan singkat dari pakde Kardi
"JUMINTEN MASIH TAHU JALAN PULANG KAU" begitu lah isi pesan singkat dari pakde Kardi
Luna berusaha abaikan SMS dari pakde Kardi tetapi mana mungkin Luna bisa mengabaikan perintah sang ibu
tutt tutt tutt
Luna menghubungi nomer sang ibu tapi disebrang pulau sana tidak ada niat sedikitpun sang ibu akan mengangkat telfon dari sang anak
ayah Luna hanya seorang penjaga sekolah dasar dikampung nya dan seorang yang gaptek atau gagap teknologi
handphone dirumah keluarga lunaoun hanya ada satu handphone jadul yang ada lampu senternya keluaran dari brand Nok#a
itupun hasil beli second dari tetangga
__ADS_1
"Buu Luna harus gimana" lirih Luna
-------
satu Minggu setelah kejadian telfon menyatat hati saat Luna sedang fokus bekerja tiba-tiba Luna dikejutkan dengan tarikan ditangannya oleh pakde Kardi
belum sadar dari keterkejutannya
"cepat pulang dasar anak gak tau malu bisanya nyusahin keluarga" sentak pakde Kardi
sontak seluruh ruangan terkejut dengan teriakan pakde Kardi
"pakde Luna lagi kerja" dengan sekuat tenaga Luna berusaha melepas cekalan dari tangan pade Kardi
"persetan" jawab pakde Kardi berang
"bapak mohon maaf jangan bikin kegaduhan disini" ucap MOD yang bernama Adi
"jika ada masalah keluarga mohon diselesaikan diluar ruangan ini dan dijam setelah kerja usai" lanjut MOD Adi tegas dan melepaskan cekalan tangan dari pakde Kardi
"gak usah ikut campur anak muda, ini urusan keluargaku" geram pakde Kardi dengan mata yang sudah memerah karna marah
"ini jadi urusan saya jika bapak melakukan keributan di area kerja saya dan karyawan saya, disini ada CCTV anda bisa kami laporkan dengan pasal menggangu ketertiban umum dan kekerasan" ancam MOD Adi sambil menunjuk CCTV yang tersedia di ruangan resto Eropa ini
"huuuu keluar kamu Luna pakde tunggu dirumah" titah pakde Kardi melemah dan tetap dengan rahang yang mengeras
"huu huuu huu maaf iya pak" Luna terngungu masih belum sadar dari keterkejutannya
"sudah kamu keloker dulu sana tenangkan diri" perintah MOD Adi
setelah kejadian memalukan di resto tadi pagi
handphone Luna berdering
drttt drrrttt drrrttt
nama ibu terpampang dilayar handphone Luna
"assalamualaikum Bu" lirih Luna
"waalaikumsalam Luna kalau kamu sayang ibu dan bapak pulang lah" perintah ibu
"iya Bu Luna akan mengajukan pengunduran diri dahalu" getir Luna menjawab perintah sang ibu
tutt tutt tuttt
dengan lemas dan bahu bergetar Luna menakupkan kedua tangan diwajahnya
ya Allah kuatkan aku batin Luna
Luna mengusap air mata dipelupuk matanya
dengan hembusan nafasn dan bismilla Luna menghadap ruang HRD
TOK TOK TOK
"permisi Bu, saya Luna, boleh saya masuk" sapa Luna meminta izin pada HRD resto Eropa dimana tempat Luna bekerja
"iya Luna, boleh masuk aja" suara mendayu dari dalam ruangan HRD
"Bu maaf saya menggangu"
setelah dipersilahkan duduk dan bercerita mengenai permasalahannya dan keinginan ibunya yang meminta Luna untuk pulang kampung
dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan
Luna dapat mengajukan pengunduran diri dan prosesnya dipermudah
hanya dengan 2 Minggu Luna dapat dinyatakan telah sah menjadi exs atau mantan karyawan resto Eropa
"Luna keruangan saya sekarang" perintah MR. WHY
setelah sampai diruangan MR. WHY menyerahkan amplop coklat yang isinya surat pakelaring dan rekomendasi apabila nantinya Luna mau bergabung kembali di resto Eropa yang dipimpin oleh Mr. WHY
"MR. ini" dengan mata berkaca-kaca Luna menerima dan membacanya secara seksama
"iya itu hadiah dari saya, kami karyawan yang sangat baik dan sopan sangat disayangkan kalau kamu harus pulang kekampungmu" ucap MR. WHY jujur
"ok jika kamu mau kembali bergabung disini hubungi email perusahaan ini atau nomer Mbak astrit iya, semangat Luna" MR. WHY mengepalkan tangan Chas memberi semangat kepada Luna
" siap MR. semangat" balas Luna dengan senyuman
tak disangka tak dinyana oleh Luna perantauannya di ibu kota hanya seumur jagung bukan karna Luna tidak kompeten dan tidak dapat beradaptasi atau bekerja dengan baik tetapi karna campur tangan pakde Kardi dan kesalah fahaman orang tua lah Luna harus mengalah
seperti dahulu ketika diusir dari kontrakan pakde Kardi Luna kali ini pulang ke kampung dengan modal nekat bekal sesak didada
langkah gontai iya jalani
menuju ke kalideres
dengan menaiki bus andalan orang Sumatra Arya Prim# Luna membawa diri dan batin yang sakit meninggalkan tempat yang telah mencuri hatinya
profesi menjadi pramusaji di resto Eropa sangat membuat Luna nyaman dan bahagia
walau kebahagian dalam keluarga pakde Kardi tak tersemat nama Luna disana
akan kah kedua orang tua Luna marah besar kepadanya atau sadar akan kesalah fahaman yang terjadi antara ibu dan anak
karna terbatasnya komunikasi anatar anak dan ibu
itulah terkadang orang tua harus sangat mengerti karakter anak dan mau sesekali mendengarkan keluh kesah sang anak
agar menghindari kesalah fahaman dari pihak lain yang tidak menginginkan kesuksesa sang anak
-----
__ADS_1