Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
pulang kampung


__ADS_3

prov author


seminggu setelah tragedi dompet Luna yang malang


kontrakan bude yus kembali digemparkan oleh kemarahan pakde Kardi


"dasar anak tidak tau diuntung, sudah aku tampung tidak ada sedikitpun rasa terimakasihmu padaku" lantang pakde Kardi ke pada Luna


badan Luna bergetar hebat


Luna hanya mampu berdiri dipojokan ruangan depan dimana ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat tidur Luna apa bila malam menjelang


"Sinta rajin ke resto itu pakde buat tanya perkembangan lamaran Sinta tapi selalu disuruh pulang sama Luna" tuding Sinta kesal sambil memonyongkan bibirnya ke arah Luna


"Luna Luna"


belum sempat Luna menjawab


"ala Luna Luna Luna apanya Luna Luna kamu takut kesaing sama kecantikan dan kepintaran ponakan pakdekan" Cibik pakde Kardi


bug bug bug


derap langkah cepat terdengar dari arah luar kontrakan pakde Kardi


"Kardi Kardi kehebohan apa lagi ini yang kamu perbuat" suara bariton diluar terdengar


Luna sangat hafal pemilik suara itu


dialah pakde Karto


"bisa kan semua dibicarakan dengan santai dan kepala dingin, gak malu kamu jadi tontonan tetanggamu, sudah macam pertunjukan topeng monyet aja" kekeh pakde Karto


apa sih si tua Bangka ini ikutan aja batin Sinta menatap sebal ke pakde Karto


"duduk semua hayo" titah pakde Karto


semua menurutin perintah pria paruh baya tersebut


dengan tetap mengencangkan urat pembahasan Sinta yang tidak kunjung di terima kerja di resto Eropa tempat Luna bekerjapun dibahas


hingga muncul keputusan


"iya sudah pakde Kardi Sinta gak apa-apa, nanti Sinta cari kerja tempat lain aja" ucap Sinta lemah dengan memasang tampang menyedihkan yang sangat tampak dibuat-buat


"huuuuft iya nduk kalau itu pilihanmu pakde bisa apa, yang penting kamu bahagia" dengan lembut pakde Kardi membelai rambut hitam lurus milik Sinta


"kalau begitu sudah baik-baik semua jangan lagi pake otot kalau bahas masalah keluarga, malu dilihat tetangga" bijak pakde Karto menanggapi permasalah dirumah pakde Kardi


setelah kepergian pakde Karto


pakde Kardi mencekal tangan Luna dan membawanya ke dapur


"Luna sini kalau kamu masih mau tinggal dan bekerja disini ikuti semua syarat dari pakde" perintah pakde


deg dengan takut-takut Luna pandangi wajah sangar pakde Kardi Waja lh tersebut sudah nampah memerah menahan amarah


sepersekian dekit terlihat senyum tersungging di sudut bibir pakde Kardi yang membuat nyali Luna menciut


"i i i iya pakde" jawab Luna diiringi anggukan


"jatah kontrakan kamu bulan ini dan seterusnya adalah tiga ratus ribu, tambahan modal buat dilapak pakde wajib kamu kasih dua ratus ribu dan jajan Sinta selama belum bekerja tiga ratus ribu" pakde Kardi menjelaskan panjang lebang kali tinggi syarat agar Luna tetap dapat tinggal dikontrakan bude yus dan tetap dapat bekerja di resto Eropa dimana sekarang hatinya telah tertambat diprofesinya sebagai karyawan disana


"aaaapa pakde semua jadi delapan ratus ribu" dengan takut-takut Luna menjawab


"tapi pakde maaf gaji Luna gak akan cukup untuk semua itu" Luna berusaha benegosiasi dengan pakde Kardi supaya logikanya kembali dan kewarasannya pakde terpulihkan


dengan gaji yang didapat Luna perbulan sebelumnyapun telah dibebankan kepadanya kontrakan sebesar seratus lima puluh ribu


belum kalau pakde Kardi meminta dengan alasan pinjam dulu untuk tambahan modal dilapak dan pasti uang tersebut tidak akan pernah kembali


Luna sudah sangat mengencangkan ikat pinggang


dengan tetal terus berjalan kaki apa bila tidak diantar oleh mas Yudi anak pakde Kardi


mengingat kedua anak laki-laki bude yus dan pakde Kardi Tenga disibukkan dengan urusan skripsi dan kegiatan dikampus atau sekedar kumpul-kumpul club pojokan anak Kemang


jadi bisa dipastikan kalau rutinitas yang dijalani Luna adalah berjalan kaki menuju tempat kerjanya


ya Allah aku harus bagaimana batin Luna


tanpa menunggu jawaban dari Luna


pakde Kardi dan Sinta sudah tidak tau timbanya


dengan lemah Luna terduduk bersimpuh dilantai


Luna berfikir keras bagaimana caranya supaya Luna bisa mandiri


alias ngontrak sendiri


dengan tekat bulat Luna berjalan kedepan gang Dimana warung bude Tini berada


"bude bude" Luna menghambur ke pelukan bude Tini


"aduhhh ini ada apa Luna Dateng Dateng kok nangis cah ayu" tanya bude Tini ikut panik melihat Luna yang menangis


Luna pun menceritakan keluh kesahnya kepada bude Tini dan meminta saran bagaimana cara menyikapi pakde Kardi dan Sarah


mengingat bude yus masih ditempat majikannya mengemban tugas sebagai pembantu rumah tangga yang mengharuskan tinggal dirumah majikan


ketika liburpun Luna dan bude yus jarang bertemu, entah karna libur yang berbeda hari atau terkadang jika bude yus libur dirumah Luna akan disuruh pakde Kardi membantu bude Tini supaya tidak bisa berlama-lama bertemu dengan bude yus


"hmmm ini minum dulu" bude yus menyodorkan es teh manis kepada Luna dielus pucuk rambut Luna dengan lembut


"nduk pakde Karto ada kenalan juragan kontrakan didaerah warung buncit sana, nanti biar pakde tanyain apakah ada yang kosong" ucap pakde Kardi tiba-tiba muncul dari arah pintu samping warung

__ADS_1


"pakde" Luna hanya dapat memandang pria paruh baya yang sudah Luna anggap seperti ayah sendiri


"iya Luna betul kata pakdemu, pak haji orangnya baik, suka ada acara majelis taklim nanti kamu bisa sekalian isi waktu luang ikut majelis disana" usul bude Tini


"baik pakde bude, tapi" belum sempat menyampaika kekhawatirannya tiba-tiba


"bagus kamu mau ngontrak sendiri Luna" suara tegas pakde Kardi terdengar dari luar arah pintu samping dimana pakde Karto tadi masuk


"pakde Kardi" suara Luna bergetar


"ok sekarang kemasi barangmu dan henyahlah dari hadapanku" teriak pakde Kardi penuh amarah


tanpa berucap lagi dan berlalu dari warung bude Tini


Luna makin menangis terngungu entah apa yang akan terjadi dihidupnya kali ini


mau tak mau Luna harus siap menghadapi


sesampainya dikontrakan pakde Kardi


Luna yang diantar bude Tini tercengang pasalnya baju dan tas Luna telah berada diluar rumah sedangkan rumah sudah dalam keadaan terkunci


tanpa berpamitan yang baik dan sopan selayaknya keluarga Luna meninggalkan kontrakan bude yus


---------


sesampainya di kontrakan pak haji jiam jurangan tersohor di daerah warung buncit selain terkenal karna memiliki banyak unit kontrakan haji jiam juga terkenal dengan kedermawanannya


dengan uang empat ratus ribu rupiah Luna mendapatkan satu petak kontrakan yang kamar mandinya diluar


alias kamar mandi umum


didalam sudah ada satu lantai kasur dan bantal ada juga lemari kecil untuk Luna menyimpan baju dan barang-barang lainnya


"nduk bismillah semoag betah iya, baik-baik disini, kalau warung bude lagi dijagain pakde Karto nanti bude akan main kesini iya" ucap bude Tini lembut sambil mengusap bahu Luna


"iya bude terimakasih, jangan lupa sama Luna iya" pinta Luna lirih


-------


tak terasa satu Minggu sudah Luna tinggal di kontrakan milik haji jiam


tepat setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib dering handphone Luna menyadarkan Luna dari atas sajadahnya


iya Luna lupa waktu diatas sajadah berwarna ungu warna kesukaan Luna


Luna larut dalam doa


terpampang di handphone Luan nama yang sangat iya rindukan sosok yang sangat ingin Luna peluk


ibu.


"assalamualaikum iya Bu, apa kabar" Luna mengangkat telfon dengan hatibyang sangat rindu


"luna kamu mau bikin ibu bapakmu dikampung mati berdiri kah" cecar suara ibu diujung telfon


terdengar sekali dari nada bicara sang ibu kalau kini sang ibu menahan kesal dan amarah yang sangat besar


pupus sudah


hati Luna bagai disayat sembilu


sakit yang tak berdarah Luna rasakan


bagaimana mungkin ada seorang anak yang menghendaki kedua orang tua yang sayang dia cintai bahkan sayangi akan mengalami hal yang disebutkan oleh ibunya tadi


"bukkk" jawab Luna dengan bersimbah air mata


"kamu pilih mana ibu bapak jemput pakde atau balik kerumah pakde Kardi sekarang" titah ibu Luna tanpa mau dibantah


jangankan dibantah mendengarkan penjelasan dari Luna pun rasanya tidak perlu


tutt Tut Tut Tut telfon dimatikan sebelah oleh pihak ibu Luna


"ya Allah apa lagi ini" batin Luna


Luna menutup rapat semua hal yang terjadi padanya selama tinggal bersama bude yus dan pakde Kardi


semua hal menyakitkan dan perlakuan kasar dan hinaan yang diterima tidak pernah Luna beritahukan kepada orang tuanya


mengingat kedua orang tuanya jauh disebrang pulau


dan karakter sayang ibu yang keras dan gampang emosi jika dirasa yang ibunya fikir itu adalah kebenaran


apalagi orang yang dipercaya sudah memberikan informasi A ibu Luna akan tegas dan mempercayai informasi A tersebut tanpa mencari informasi yang benar terlebih dahulu


drrrttt drrrttt drttt


diangkat handphone jadul milik Luna


ada pesan singkat dari pakde Kardi


"JUMINTEN MASIH TAHU JALAN PULANG KAU" begitu lah isi pesan singkat dari pakde Kardi


Luna berusaha abaikan SMS dari pakde Kardi tetapi mana mungkin Luna bisa mengabaikan perintah sang ibu


tutt tutt tutt


Luna menghubungi nomer sang ibu tapi disebrang pulau sana tidak ada niat sedikitpun sang ibu akan mengangkat telfon dari sang anak


ayah Luna hanya seorang penjaga sekolah dasar dikampung nya dan seorang yang gaptek atau gagap teknologi


handphone dirumah keluarga lunaoun hanya ada satu handphone jadul yang ada lampu senternya keluaran dari brand Nok#a


itupun hasil beli second dari tetangga

__ADS_1


"Buu Luna harus gimana" lirih Luna


-------


satu Minggu setelah kejadian telfon menyatat hati saat Luna sedang fokus bekerja tiba-tiba Luna dikejutkan dengan tarikan ditangannya oleh pakde Kardi


belum sadar dari keterkejutannya


"cepat pulang dasar anak gak tau malu bisanya nyusahin keluarga" sentak pakde Kardi


sontak seluruh ruangan terkejut dengan teriakan pakde Kardi


"pakde Luna lagi kerja" dengan sekuat tenaga Luna berusaha melepas cekalan dari tangan pade Kardi


"persetan" jawab pakde Kardi berang


"bapak mohon maaf jangan bikin kegaduhan disini" ucap MOD yang bernama Adi


"jika ada masalah keluarga mohon diselesaikan diluar ruangan ini dan dijam setelah kerja usai" lanjut MOD Adi tegas dan melepaskan cekalan tangan dari pakde Kardi


"gak usah ikut campur anak muda, ini urusan keluargaku" geram pakde Kardi dengan mata yang sudah memerah karna marah


"ini jadi urusan saya jika bapak melakukan keributan di area kerja saya dan karyawan saya, disini ada CCTV anda bisa kami laporkan dengan pasal menggangu ketertiban umum dan kekerasan" ancam MOD Adi sambil menunjuk CCTV yang tersedia di ruangan resto Eropa ini


"huuuu keluar kamu Luna pakde tunggu dirumah" titah pakde Kardi melemah dan tetap dengan rahang yang mengeras


"huu huuu huu maaf iya pak" Luna terngungu masih belum sadar dari keterkejutannya


"sudah kamu keloker dulu sana tenangkan diri" perintah MOD Adi


setelah kejadian memalukan di resto tadi pagi


handphone Luna berdering


drttt drrrttt drrrttt


nama ibu terpampang dilayar handphone Luna


"assalamualaikum Bu" lirih Luna


"waalaikumsalam Luna kalau kamu sayang ibu dan bapak pulang lah" perintah ibu


"iya Bu Luna akan mengajukan pengunduran diri dahalu" getir Luna menjawab perintah sang ibu


tutt tutt tuttt


dengan lemas dan bahu bergetar Luna menakupkan kedua tangan diwajahnya


ya Allah kuatkan aku batin Luna


Luna mengusap air mata dipelupuk matanya


dengan hembusan nafasn dan bismilla Luna menghadap ruang HRD


TOK TOK TOK


"permisi Bu, saya Luna, boleh saya masuk" sapa Luna meminta izin pada HRD resto Eropa dimana tempat Luna bekerja


"iya Luna, boleh masuk aja" suara mendayu dari dalam ruangan HRD


"Bu maaf saya menggangu"


setelah dipersilahkan duduk dan bercerita mengenai permasalahannya dan keinginan ibunya yang meminta Luna untuk pulang kampung


dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan


Luna dapat mengajukan pengunduran diri dan prosesnya dipermudah


hanya dengan 2 Minggu Luna dapat dinyatakan telah sah menjadi exs atau mantan karyawan resto Eropa


"Luna keruangan saya sekarang" perintah MR. WHY


setelah sampai diruangan MR. WHY menyerahkan amplop coklat yang isinya surat pakelaring dan rekomendasi apabila nantinya Luna mau bergabung kembali di resto Eropa yang dipimpin oleh Mr. WHY


"MR. ini" dengan mata berkaca-kaca Luna menerima dan membacanya secara seksama


"iya itu hadiah dari saya, kami karyawan yang sangat baik dan sopan sangat disayangkan kalau kamu harus pulang kekampungmu" ucap MR. WHY jujur


"ok jika kamu mau kembali bergabung disini hubungi email perusahaan ini atau nomer Mbak astrit iya, semangat Luna" MR. WHY mengepalkan tangan Chas memberi semangat kepada Luna


" siap MR. semangat" balas Luna dengan senyuman


tak disangka tak dinyana oleh Luna perantauannya di ibu kota hanya seumur jagung bukan karna Luna tidak kompeten dan tidak dapat beradaptasi atau bekerja dengan baik tetapi karna campur tangan pakde Kardi dan kesalah fahaman orang tua lah Luna harus mengalah


seperti dahulu ketika diusir dari kontrakan pakde Kardi Luna kali ini pulang ke kampung dengan modal nekat bekal sesak didada


langkah gontai iya jalani


menuju ke kalideres


dengan menaiki bus andalan orang Sumatra Arya Prim# Luna membawa diri dan batin yang sakit meninggalkan tempat yang telah mencuri hatinya


profesi menjadi pramusaji di resto Eropa sangat membuat Luna nyaman dan bahagia


walau kebahagian dalam keluarga pakde Kardi tak tersemat nama Luna disana


akan kah kedua orang tua Luna marah besar kepadanya atau sadar akan kesalah fahaman yang terjadi antara ibu dan anak


karna terbatasnya komunikasi anatar anak dan ibu


itulah terkadang orang tua harus sangat mengerti karakter anak dan mau sesekali mendengarkan keluh kesah sang anak


agar menghindari kesalah fahaman dari pihak lain yang tidak menginginkan kesuksesa sang anak


-----

__ADS_1


__ADS_2