Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
ibu ku sayang


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu


Tibalah saatnya Bu Wati pulang ke kampung


Setelah drama malam Minggu kelabu bulan lalu


Malam Minggu selanjutnya menjadi malam-malam yang sepi


Pasalnya baik Luffy maupun Dwi atau teman sekantor Luna tidak ada yang mengadakan acara berkumpul atau silaturahmi


Semua fokus pada kesibukan masing-masing


Ada yang bekerja sambil kuliah


Ada yang bekerja bagai kuda


Salah satunya Luna


Luna sangat totalitas dalam bekerja


setelah memahami alur kerjanya dan tugas serta tanggung jawabnya


Luna mendapatkan fase nyaman dan cepat tanggap dalam bekerja


Tak ayal bos besarpun puas dengan kinerja Luna yang masih terbilang dini sangat dini


Walau menyimpulkan ha ini diawal tetapi bagi big bos ini adalah Luna yang baru


Luna yang dijuluki dengan Luna si workoholik


sore itu tak seperti biasanya Luna menghadap head admin dan manager sales untuk izin pulang lebih dahulu


tetapi sebelumnya Luna telah menyelesaikan semua tugasnya


Baik surat jalan untuk tiga dua hari kedepan yaitu Minggu dan Senin


Kemudian Luna sudah memfiling data surat jala yang sudah datang ditanggal sebelumnya


Banyak list yang sudah Luna susun dan lapirkan guna melaporkan semua tugasnya sudah selesai dengan baik


"bapak mohon maaf ini list tugas yang sudah saya kerjakan dan semua surat jalan sudah saya pisah sesuai hari pengiriman"


Ucap Luna kepada atasannya


"letakkan ditempat biasa iya Luna, oh iya luna setelah ini kamu boleh pulang duluan sesuai kesepakan kita kemarin" ucap atasan Luna dengan seutas senyum santai


Luna izin satu jam lebih awal dikarenakan Luna akanengantar sang ibu ke terminal kalideres


Mengingat jarak dari Tangerang ke kalideres lumayan jauh


Luna memutuskan untuk naik angkutan umum agar dapat lebih dekat lagi dengan sang ibu sebelum sang ibu pulang kampung


"baik Bapak, terimakasih sebelumnya pak dan maaf Luna merepotkan bapak dan team" ucap Luna tulus


"gak apa-apa luna kalau dihitung jam kerja mu disini lebih dari delapan jam" ucap atasan Luna sambil terkekeh


"Luna pamit iya pak permisi" izin Luna kemudian gegas meninggalkan ruangan atasannya dan kembali ke meja kerjanya


Setelah merapikan isi tas dan alat tempur kerjanya Luna bergegas menggendong tas cantiknya dibahu dan berjalan ke arah raya


"kak Raya, Luna duluan iya" ucap Luna sambil melambaikan tangan ke arah raya


dari bangku kebanggaannya raya menoleh dan menjawab dengan deheman singkat


Sambil memutar bola matanya dengan malas


Raya kembali fokus menghadap komputernya


Tak seperti biasanya yang amat sangat kepo


Raya beberapa waktu ini terlihat begitu sangat cuek dan lebih banyak diam


Tidak seheboh biasanya


awalnya Luna merasa ada yang aneh


Tetapi mengingat perangai raya yang sering membuat kesal jadi Luna tak ambil pusing dengan sikap raya


Bagi Luna jika raya merasa nyaman dan percaya dengannya sebagai team atau sahabat sekalipun jika raya membutuhkan pendengar setia maka Luna akan dengan senang hati memasang telinganya


Tanpa menghakimi raya


dengan langkah pasti Luna mulai meninggalkan ruangan kerjanya dan menuruni anak tangga


Satu demi satu tangga Luna turuni dengan langkah mantap


Dengan pasti langkah Luna membawa Luna didepan kosannya yang beberapa bulan ini telah dihuni oleh Luna dan Bu Wati


setelah mengucapkan salam Luna gegas masuk dan mencari Bu Wati


setelah salam Luna dijawab oleh Bu Wati gegas luna mencium punggung tangan Bu Wati dengan takjim


"kamu mau makan dulu apa gimana lun" tanya Bu Wati kepada sang anak


"ibu sendiri udah makan belum?" Luna balik bertanya kepada Bu Wati


"kebiasaan ditanya balik nanya" sunggut Bu Wati sebal


" hehe maunya Kana bareng ibu, kita bungkus aja iya Bu makan di terminal" usul Luna kepada Bu Wati


"emg boleh bawa makanan dari luar?" tanya Bu Wati serius


"boleh Bu, asal sampahnya nanti kita buang pada tempatnya, ibu masak apa nih" ujar Luna melihat ke etalase tempat menyimpan makanan


"emm enaknya jadi ngiler" ucap Luna dengan wajah sumringah dan tangannya mengelap dagu seakan-akan ada banjir iler disana


Menu yang dimasak Bu Wati sangat menggugah selera

__ADS_1


Ada rebusan daun singkong, sambal ikan asin, tempe goreng dan ceplok telur plus kerupuk tentunya


"Bu Luna beli bungkus nasi dulu iya


Nanti buat kita makan di terminal, kalau buat bekal ibu dikapal nanti Luna beli ayam kentuki aja iya boleh iya" ucap Luna berbinar


"iya begitu juga boleh, tapi ibu udah beli kertas nasi tu ada di plastik" tunjuk Bu Wati ke arah plastik warna hitam yang tergantung di dinding


Disana terlihat bungkus nasi yang masih tergulung rapi dan lumayan banyak


Sepertinya Bu Wati benar-benar beli dalam jumlah yang sangat banyak


"banyak banget Bu mau buat warung nasi apa" canda Luna


"sekalian buat jaga-jaga kalau kamu mau bungkus nasi buat bekal biar gak capek bolak balik kekosan dan tempat kerja" ucap Bu Wati bijak


Terlepas dari sikap Bu Wati yang terkadang mudah sekali terhasut dan tersulut emosi namanya seorang ibu tetap memiliki naluri welas kasih dan sayang


Bu Wati hanya ingin yang terbaik bagi sang putri apalagi berhubungan dengan hal yang sangat penting yaitu pendamping hidup


Menikah merupakan ibadah yang paling lama dan berharap hanya dilakukan satu kali seumur hidup


Dari itulah Bu Wati merasa sangat harus ikut turut andil dalam menyeleksi pria yang akan menjadi imam sang anak walau terkadang dengan cara yang salah menurut sang anak


"Bu ibu udah siap" Luna menepuk bahu Bu Wati yang sedang melamun


Dengan gelagapan dan mata sendunya menatap sang anak


"sudah nak" jawba Bu Wati singkat


"dua tas ini iya Bu, oleh-oleh buat bapak sudah dibawakan jangan sampe ketinggalan" celoteh luna sambil mengendong tas ransel sang ibu dan mendorong satu koper berukuran sedang


"sudah semua, iya udah ibu bungkus dulu ini bekal kita" titah sang ibu


"ok Luna tunggu depan iya" Luna menunjukkan jarinya yang membentuk simbol ok


"kamu gak ganti baju dulu atau mandi dulu" ucap Bu Wati dengan tangan tetap sibuk membungkus bekal mereka


"enggak Bu masih seger kok" kekeh Luna


Setelah memastikan semua persiapan dan kebutuhan Bu Wati diperjalanan telah siap


Luna dan Bu Wati mulai berjalan keluar gang menuju jalan raya


Tepat didepa indomaret Luna dan Bu Wati menunggu angkutan umum ke arah kalideres


"Bu mau beli es kopyor dulu enggak"


Tawar Luna kepada sang ibu


"boleh lah" jawab Bu Wati singkat


Sambil duduk santui diatas koper


Luna gegas menghampiri Abang tukang es kopyor dengan gerobak dan memesan dua es kopyor


Luna lanjutkan menghampiri sang ibu dan memberikan satu es kopyor ke ibu Wati


"Bu mau cemilan enggak, kayak kerupuk, atau kentang, atau keripik singkong?" tanya Luna ke sang ibu


"gak usah" lambaian tangan sang ibu ke Luna


"spri# atau fant# mau apa col#?" kembali luna bertanya kepada sang ibu


dengan masih menyeruput es kopyor yang segar Bu Wati kembali melambaikan tangannya


"minyak kayu putih, Antimo balsem atau fres care ibu sudah bawa semua kan?" Luna menatap sang ibu dengan serius


"sudah semua, iihhh lama-lama bawel kamu iya" satu Kitakan tepat di jidat Luna terima dengan sangat epik


Luna hanya mengelus jidat yang pasti tak lecet itu


"ibu udah pake koas kaki kan, udah siapin uang kecil, bawa pasmina kan nanti takut dikapal dingin Bu" ucap Luna penuh perhatian


"Hmmm" hanya deheman yang Luna dapat


Bu Wati menatap sang anak yang sudah memanyun kan bibir


Kembali Kitakan kedua Luna terima


"ibu iii sakit" rengek Luna


"makanya jangan bawel ih" jawab sang ibu.


Tawa kedua ibu dan anak itupun pecah


Disela tawa mereka riba-tiba ada mobil grandmax kantor melintas dan berhenti tepat dihadapan Luna


"dek hayo masuk" suara bariton dari dalam mobil terdengar setelah ia menurunkan kaca jendela penumpang


"ehh bang ucok bukannya mau anter prodak iya?" tanya Luna balik


"iya tapikan searah kebetulan gak ada kernet ini hayu lah sekalian, pak Ocit yang nyuruh" ujar bang Ucok


"okaylah klo begicu" jawab Luna sambil memberikan simbol ok


Dengan hati senang dan riang luna mambantu sang ibu masuk ke mobil grandmax yang biasa untuk mengirim prodak


"Alhamdulillah ini gratiskan bang" basa basi Luna


"bayar dong" ucap bang Ucok dengan nada yang dibuat-buat tegas


"bayar pake roti tawar iya 1 loaf" canda luna


"Yee kagak mau deh, maunya bagelan aja lah satu bungkus wkwkwk" tawar bang Ucok


"siap bagelan rasa apa nih" tanya Luna seolah mengiyakan akad pembayaran

__ADS_1


"rasah mbayar" ujar bang Ucok diiringi gelak tawa ketiganya


Disepanjang perjalanan bang Ucok mampu membuat suasana mencair dan tidak tegang


Bu watipun sesekali ikut bercanda dan sesekali terlibat obrolan yang serius


Tak terasa perjalan jauh mereka telah mendekati tempat tujuan


Tepat didepan lampu merah itu lalu berbelok kekiri sampailah Luna dan Bu Wati diterminal yang ramai di jakarta barat itu


Yaitu terminal kalideres


"de kamu nungguin ibu apa mau berangkat jadi kernet ini sekalian" tawar bang Ucok tentunya hal itu hanya bercanda iya


"enggak mau lah jadi kernetnya bang Ucok, nanti Luna semua ini yang disuruh bongkar barang hahaha" ujar Luna


"dihitung lembur ntar diajuin loo" iming-iming bang Ucok


"gak ah lemburan luna udah paling banyak ahhaha" canda Luna


"iye iye percaya ratu lembut, iya Udin, Bu pamit iya, hati-hati dijalan jangan rindu Ucok iya Bu" sambil menyalimin tanga. Bu Wati bang Ucok dengan PDnya berujar


"karna rindu itu berat, biar dilan aja yang rindu" wkwkwk


Sesaat semua terdiam dalam keheningan


Luna, Bu Wati maupun bang Ucok semua mencerna candaan bang Ucok lalu


Bu Wati dan Luna sontak tertawa terbahak walau ada jeda beberapa menit Anatara candaan dan tawa tetap tak mengurangi tawa renyah ketiga mahluk rumah tersebut


"bang Ucok garing wkwk" jempol Luna menunjuk dan menukik kebawah


"hmmm susah bercanda sama tukang kerja mah bawaannya serius mele" ucap bang Ucok sambil berjalan ke kursi kemudi dan lambaian tangan kekar itupun terlihat bersamaan menutupnya kaca bagian penumpang dan dua klakson terdengar tertanda pamitnya bang Ucok


luna dan Bu Wati menuju loker bus langganan para perantau


Luna mengkonfirmasi pesanan tiket bus atas nama Bu Wati untuk keberangkatan jam tiga sore tujuan ke Sumatera Selatan


Setelah mendapatkan nomer kursi, tiket dan membayar Luna menghampiri Bu Wati


"Bu masih ada tiga puluh menitan lagi ini, hayo ketaman sebelah sana makan dulu kita" ujar Luna sambil mengelus-elus cepat perut ratanya


"okay" jawab Bu Wati singkat


Luna dan Bu Wati berjalan ke area taman yang disediakan oleh terminal tentunya untuk pelanggan yang menunggu bus untuk berangkat


Di bawah pohon yang rindang


Luna duduk bersama Bu Wati


Berbekal taplak yang berukuran kecil Luna dan Bu Wati mulai menghidangkan bekalnya


Setelah mencuci tangan dengan bersih dan tak lupa membaca doa makan kedua wanita lintas generasi itu makan dengan lahap


Suapan demi suapan memanjakan lidah mereka berdua


makan menggunakan tangan memang sangatlah nikmat ditambah menu yang sangat sederhana namun dimasak dengan penuh cinta


Terlebih lagi dinikmati dengan orang tersayang rasanya menambah kenikmatan


Sungguh luar biasa karunia Tuhan yang maha esa sehingga menciptakan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang bermanfaat bagi ciptaannya


Tak menunggu waktu lama untuk menghabiskan hidangan dihadapan Luna dan Bu Wati


Sendawa kecil lolos dari mulut mungil Luna


"hmmm kalau bersendawa itu di ..."


"ditahan dan di tutup, hehe maaf iya Bu kebablasan habis enak" sambar Luna dengan penjelasannya


Masalah sendawa pernah disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,


Ada orang yang bersendawa di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mengatakan,


Tahan sendawamu di hadapan kami. Karena orang yang paling sering kenyang di dunia, paling lama laparnya kelak di hari kiamat. (HR. Turmudzi 2666 dan dihasankan al-Albani).


Referensi: https://konsultasisyariah.com/28763-hukum-bersuara-ketika-sendawa.html


Setelah acara makan siang bersama telah selesai Luna memesankan makanan via kurir online dari salah satu gerai makanan siap saji


Untuk bekal sang ibu dikapal


Luna ingin memastikan bahwa kebutuhan ibunya tak kekurangan satuapapun dikapal nanti


"Bu beneran kan sudah siap semua ibat-obatan, uang kecil, jaket ibu mana?" tanya Luna Herman eh heran karna dari tadi dirumah Luna sudah mengingatkan agar ibunya memakai jaket tetapi jaketnya sampai saat ini tidak terlihat


"ada nduk ini nih di dalam tas nanti langsung dipake kalau sudah masuk kapal" ujar sang ibu menunjukkan dimana letak ia menyimpan jaketnya


"oh kirain jangan sampe ketinggalan Bu nanti smape kapal kan malem" terlihat raut kekhawatiran diwajah manis Luna


"ibu nanti dikapal ambil bagian penumpang yang pake tiket aja biar nyaman iya, ini nanti tas satu aja yang dibawa, sisanya biar dibagasi biar ibu gak repot, trus jangan lupa kabarin Luna terus" banyak permintaan dan perhatian Luna kepada sang ibu


disini seolah terbalik Luna lah yang banyak berbicara dan sang ibu mendengarkan


Lalu jitakan ke tiga diterima oleh Luna


"bawelnya anak ibu" ucap sang ibu


Luna memegang kembali dahinya lalu


Mengerucutkan bibir


Saat sang ibu merentangkan kedua tangannya luna menyambut dengan penuh haru


Tangis pun pecah disela pelukan hangat antara Bu Wati dan Luna


Bu Wati harus percaya dan merelakan pilihan sang anak guna mencari rejeki di tanah rantau dan tentunya seorang diri

__ADS_1


--- bersambung ---


__ADS_2