
"kalau sudah ketemu dengan orang yang tepat Luna akan kenalkan sama ibu dan bapak iya" ucap Luna bersungguh-sungguh
"kalau ibu dan bapak sudah punya calon untukmu apa kamu mau ikut pulang ke kampung" tanya Bu Wati dengan mode seratus ribu persen serius
Luna menatap sang ibu
nyalinya menciut tetapi keinginan dihati Luna lebih besar untuk menolak segala macam perjodohan
menikah hanya sekali Luna sangat berharap dapat menikahi seorang lelaki pilihan hatinya
dengan bonus restu kedua orang tuanya
tetapi apa ini barusan yang Luna dengar
apakah sang ibu dan ayah benar-benar telah memiliki calon suami untuk Luna
ataukah hanya pertanyaan pancingan biasa saja yang terkadang diucapkan orang tua kepada anaknya supaya sang anak memberitahukan hal sebenarnya apakah sudah memiliki tambatanh hai sendiri ataukah
benar-benar jomblo Wati
apakah Luna akan menikah muda dan mendapatkan suami pilihan orang tuanya
atau Luna masih berpetualang menunggu cinta sejatinya
khayalan anak perawan tak jauh-jauh dari hal cinta sejati
cinta suci dan hal-hal romantis lainnya
"Luna kamu denger ibu" ucap ibu Wati seraya memegang tangan Luna yang mulai dingin
ibu Wati sempat merasa terkejut dan bertanya dalam hati apakah pertanyaannya tadi membebani pikiran sang anak
sepersekian detik Bu Wati menata suasana hati dan raut wajahnya
melihat anaknya belum juga merespon
"ibu bercanda sayang" ucap Bu Wati terkekeh
sambil mengelitiki pinggang sang anak
"ibu bikin jantung Luna mau copot, nih nih jantung Luna geserkan " ucap Luna sambil merajuk dan menunjukkan dimana letak jantungnya
dua wanita berbeda generasi itupun tertawa lepas sambil saling menggelitik
"sudah sudah ibu enggap" ucap sang ibu
Luna menyudahi kelitikannya di pinggang sang ibu
kedua wanita ibu dan anak ini kompak mengusap setitik air disudut matanya
"Luna ibu serius kok kalau ibu sama bapak punya calon apa kamu mau minimal kenalan dulu" ucap sang ibu kemudian
"apa Bu hmm AMM" Luna tergagap
"kan kalau tak kenal maka tak sayang" lanjut sang ibu
"kenalan bukan berarti langsung nerimakan Bu" tanya Luna serius
dengan penuh harap Luna menatap sang ibu
"hmm" hanya deheman singkat yang diberikan oleh Bu Wati
Luna menatap sang ibu dengan lesu
"sudah hayo selesaikan ini dan bersih bersih, besok kamu kerjakan?" ucap sang ibu
."iya Bu" jawab Luna tangan Luna mulai kembali membantu sang ibu
setelah dirasa semua persiapan beres dan dapur sudah dalam keadaan bersih kembali
saatnya Luna dan Bu Wati membersihkan diri dan beristirahat
dikamar ukuran empat kali lima meter ini
Luna da Bu Wati membaringkan diri
dipandangi langit-langit kamar yang berwarna putih ini
pikiran Luna menerawang jauh
entah apa yang ada dibenaknya sekarang
perkataan ibunya tadi walau bercanda terselip keseriusan disana
Luna benar-benar tak habis pikir apakah ibunya sudah mempunyai calon untuknya
siapa dan dimana
dan berbagai macam pertanyaan yang lainnya kini bersarang dipikiran Luna
dengkuran halus disisi Luna menandakan bahwa sang ibu sudah mulai terlelap
Luna menggeser tubuhnya dengan pelan
berusaha tidak membangunkan sang ibu
ditatapnya wajah cantik sang ibu
walau tinggal dikampung wajah cantik itu tak dapat dipungkiri masih tercetak sisa-sisa dari kecantikan masa remaja dulu
aaaahh andai sang ibu tersentuh skincare dan perawatan pasti tak kalah cantik dengan ibu-ibu dikota batin Luna
ibu bapak semoga Luna bisa membahagiakan kalian iya dimasa tua kalian nanti
doa Luna
tanpa terasa ketenangan menelusup hati Luna sesaat kemudian lunapun terlelap dan hanyut dalam mimpi
----------
Sabtu pagi seperti biasa Luna sudah bersiap dengan seragam kantornya
dengan atasan warna biru tosca dan bawaha celana dasar hitam
dan jilbab hitam Luna tampil anggun
tampilan sederhana dan nyaman sangat disukai oleh Luna
"Bu Luna berangkat dulu iya, assalamualaikum" Luna berpamitan sambil mencium takjim tangan ibu Wati
"hati-hati nak, waalaikumsalam " ibu Wati menyambut uluran tangan anaknya dan mengelus pucuk kepala sang anak
disalah hati sang ibu sangat merasa bahagia melihat kini anaknya sudah besar, sudah mandiri dan bahagia denga pilihannya untuk bekerja di tanah rantau
__ADS_1
walau ada setitik kekhawatiran di relung hatinya yang paling dalam
pasalnya telinga Bu Wati yang ibaratnya setipis tissu tak sanggup mendengar segala hal buruk atau gosip yang beredar
dikampung sana sang anak digosipkan menjadi anak tak laku sehingga memutuskan untuk merantau
dimalung sana patokan kesuksesan orang tua dinilai dari suksesnya menikahan anak yang masih muda dengan acara yang terkesan serba wah
sedangkan ibu Wati menyadari bahwa Sang
anak berbeda dengan anak kebanyakan
Luna gadis yang patuh namun memiliki ambisi dan cita-cita yang jelas
ingin menjadi anak yang mandiri dan membahagiakan kedua orang tuanya
tetapi disisi lain hati Bu Wati ketar ketir dengan gosip yang beredar
ingin rasanya Bu Wati bungkam mulut semua tetangga julit nya dengan memperkenalkan calon Luna atau tunangan istilahnya supaya para tetangga terbungkam dengan kenyataan bahwa Luna gadis manis memiliki calon pendamping yang mapan dan tampan
tetapi fakta disini membuat Bu Wati sadar bahwa sang anak benar-benar belum memiliki calon pasangan
jangankan calon dalam tahap status pacar saja Luna belum ada
Bu Wati menghela nafasnya dalam-dalam
lalu dering handphone menyadarkan Bu Wati
drrrttt drrrttt
"hallo assalamualaikum nak Anwar" ucap Bu Wati sambil menempelkan benda pipih tadi ke dekat telinganya
"......"
"kabar ibu baik, kamu sendiri gimana?" tanya balik Bu Wati
"....."
"Alhamdulillah Luna juga baik"
"....."
"Alhamdulillah terimakasih nak belum apa-ala ibu dan Luna jadi ngerepotin" ucap Bu Wati lagi
"......"
"nanti ibu kasih nomer Luna iya" ucap Bu Wati berbinar
"....."
"iya sama-sama, waalaikumsalam " telfonpun ibu Wati matikan
kamu anak yang baik nak Anwar batin ibu Wati
semoga kalian berjodoh
lirih Bu Wati
siapkah Anwar
ada hubungan apakah dengan ibu Wati dan Luna
apakah niat Bu Wati benar-benar serius ingin menjodohkan Luna
sementara dikantor
Luna mengerjakan pekerjaannya seperti biasa
berhubung ini hari Sabtu jam pulang kantor sangat cepat yaitu jam dua
saat Luna sedang fokus dengan komputer didepannya
sapaan dari arah pintu mengalihkan pandangannya
"eh mbak Wati gimana mbak" tanya Luna perhatian
"mbak Luna maaf anak-anak pada bilang boleh enggak mainnya siang ini aja atau selepas kerja aja, biasa anak-anak hari Minggu mager pada mau main futsal ntar malem, takut gak bisa bangun katanya" mbak Atik head OB memberi tahu Luna mengenai rencana kunjunga para teman-teman kerumah Luna
"ohh gppa mbak kebetulan pempeknya sudah ready siap dieksekusi, gak apa-apa mau bareng sama saya apa menyusul nih" tawar Luna
"iya elah kayak mau kemana aja nyusl menyusul iya bareng aja kali ye mbak
biar anak-anak pada gak nyasar ke gang janda hahahaha" canda mbak Atik
keseruan obrolan dua wanita ini membuat raya pun penasaran dan menghampiri mereka
"eeii keong racun apose sih kalian ini rame bingit" tanya raya sambil senam bibir
"eehh mbak raya cantik manjah Lita ulala" sapa mbak Atik
"what mbak eeiii Mpok Atik panggil saya kak Raya atau non raya juga bagus, OMG emangnya diriku kayak dirimu mbak mbak " raya melotot sambil menunjuk-nunjuk mbak Atik
"eeittt shanntayyy shayyy" ucap mbak ati
"iya santauiii say nanti lipstik nya luntur itu" seraya Luna bangkit dari duduk nya
"aahh apa luntur, aduh aduh, kaca mana kaca" ucap raya panik
Luna dan mbak Atik terkekeh geli dengan tingkah laku mahluk goib satu ini
setelah kembali ke meja kerjanya raya gegas mencari kaca cantik bergagang dan tentunya berbulu-bulu warna pink
"aahh dasar luna menyee menyeee lipstik cetar gini dibilang luntur" geram raya
sambil menghentakkan kakinya menghampiri luna dan mbak ati yang masih terlihat seru mengobrol
"heii anak kamseupay asal tahu aja Yee lipstik eke tuu mehong bingit gak mungkin luntur, dasar gajebo"
"gak jelas boooo" ucap Luna dan mbak ati memotong ucapan Luna
dengan satu tangan ditelinga seperti DJ satu tangan lainnya kedepan
persis seperti DJ yang sedang memainkan alat musiknya
raya memanyunkan bibirnya dengan tangan dilipat didada raya berkata
"ohh dasar gak kreatif, oh iya mbak Atik chef Agus dan anak-anak katanya ada acara pada mau kemana?" tanya raya penasaran
sebab di lantai bawah tadi anak-anak bagian produksi dan beberapa chef bergerombol dan antusias sekali ingin ikut
entah ikut kemana
sebenarnya raya gengsi untuk bertanya tetapi mendengar bahwa chef Agus ikut dalam acara tersebut membuat rayaenjadi sangat antusias ingin ikut
__ADS_1
walau sudah memiliki pacar raya tipe wanita yang suka sekali tebar pesona dan apapun yang raya mau bisa tidak bisa harus raya dapatkan begitulah kira-kira karakter wanita satu ini
"mau main kerumah mbak Luna, non raya mau ikut" tawar Wati
"ehh kok kerumah Luna sih ?" tanya raya dengan menyelidik ditengah kebingungannya terdengar suara dari arah belakang raya
"iya pan kita sama anak-ank lain mau silaturahmi memperkenal kan diri ke ibunya Luna, sekalian siapa taukan dapet restu iya gak Luna" ucap chef Agus sambil menaik turunkan alisnya
"apa" ucap raya membelalakkan mata dan bibir yang menganga
raya tak habis pikir apakah telinganya salah menangkap suara
atau otaknya yang salah berfikir
sepertinya raya harus ke dokter THT demi memeriksakan fungsi pendengarannya
"mangap jangan lebar-lebar neng itu nyamuk cicak Din Din Ding nanti masuk" ucap chef agus sambil mengatupkan dagu dan mulutnya raya
"eehhh" raya gelagapan mukanya tampak seperti kepiting rebus
merah merona tanpa malu-malu tapi mau
"chef bisa aja, eh Luna jam berapa nanti acaranya ya, kita barengan aja iya nanti" tawar raya dengan suara yang manjahlita ulala
berbeda sekali dengan tadi
nadanya kini turun beberapa oktaf menjadi lembut ditelinga
Luna dan mbak Atik saling pandang pertanda Herman ehhh heran
lalu kompak menganggukkan kepala
"iya kak raya siap" jawab Luna menunjukkan jempolnya
setelah bercapak-cakap sebenar
semua kembali ke formasi tugas masing-masing
Luna dengan setumpuk faktur didepannya
dan bunyi printer yang menandakan bahwa ia sedang bertugas mengeluarkan surat jalan beserta data-data yang sudah dipersiapkan sebelumnya
begitupun di ruangan raa
raya yang semangat memiliki kesempatan sedikit lebih dekat dengan chef aguspun mengeluarkan segala kemampuannya dari menginput semua orderan dan mencetak surat jalannya baik itu delivery order untuk bagian driver dan sales order untuk bagian gudang
orderan via telfonpun raya angkat dengan senang hati sambil menyilangkan kakinya dan suara manja mendayunga
hari ini raya menjadi sosok yang berbeda
ibarnya biasanya service kepada customer hanya kisaran tujuh puluh lima persen kali ini berlipat menjadi seratus lima puluh persen
andai raya bersikap seperti ini setiap hari tentunya laporan harian, Minggu an dan bulanan akan tepat pada waktunya
pelayananeningkat tentu berpengaruh pada naiknya orderan atau pesanan
indahnya hari ini batin raya
sambil bersenandung lembut raya mengerjakan semua tugasnya
jika orang yang sudah faham karakter raya melihatnya bersikap begini akan membuat mereka Herman ehhh heran sekaligus tak menyangka
sungguh diluar prediksi sikap raya kali ini
tentunya alasannya satu yaitu jalan bareng chef Agus walau jalannya kerumah Luna
tak apa lah asal bisa Deket-deket batin raya
setelah selesai dengan tugasnya
dengan langkah seribu raya menghampiri Luna
"hei shayy aku ke toilet bentaran iyaw nanti tungguin, aku mau touch up" ucap raya sambil menoel-boel pipi mulusnya yang tercover dengan bedak padat dan blus on pink
"iya kak, santai nanti Luna tungguin" ucap Luna menghadap lawan bicaranya tentunya tetep di kursi tugasnya
dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal Luna mambatin
kesambet apa kak raya hari ini iya, luar biasa kerjanya sat set sat set.
dengan menggut-manggut Luna bermonolog di hatinya padahal yang ia bicarakan dalam hati sudah tak nampak didepan mata
setelah tersadar dari lamunannya Luna kembali ke komputer dan setumpuk tugasnya yang sebentar lagi selesai
dengan lentik jari jemari Luna menari diatas keyboard didepannya
dengan fokus dan teliti Luna menginput deretan angka dan huruf yang ada di lembar potocopyan rekapan pengiriman prodak dari sang manager
drrrtt drrrtt drttt
"halo assalamualaikum Bu" ucap Luna setelah mengangkat telfon dari sang ibu
"waalaikumsalam Luna ini ada temenmu kesini" ucap Bu Wati
"siapa Bu" tanya Luna heran pasalnya Luna hanya memiliki teman di sekitaran lingkunga kantor saja
teman yang mana yang dimaksud ibu Wati
"Luffy sama Dwi" ucap Bu Wati kembali
"ohhh ala mereka to, minta tolong tunggu Bu, Luna pulang satu jam lagi bareng anank-anak kantor pada mau main" ucap Luna
Luna lupa setelah mbak atik tadi meresekejul waktu janjian untuk main
Luna tidak langsung mengabari ibunya
pasalanya Luna tenang karna pempek dan cuko khas Palembang sudah mereka persiapkan dari semalam
aahh coba semalam gak langsung bikin pempek pasti kelabakan nih pasbtemen-temen main
batin Luna
mengingat pempek
membuat Luna mengingat ucapan sang ibu kembali
mengenai pernikahan
aduhhhh Luna bertepok jidat dan menyandarkan dirinya di kursi kerjanya
---- bersambung ----
"
__ADS_1
"