Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
dompet ku malang


__ADS_3

POV Luna


siang itu aku berjalan dengan riang sepulang bekerja


walau hari ini adalah hari gajian aku tetap berhemat


dengan gaji satu juta tiga ratus dan beberapa ratus ribu tambahan hasil dari ketekunan ku alhamdulillah aku berencana mengirim beberapa ratus ribu kepada kedua orang tuaku


"la la la la sya Lala" senandung mertu dengan irama yang asal aku naynyikan


tak terasa perjalananku sampai di gang kontrakan bude yus


aku berpikir sejenak


karna gajian akubingin sekali membelikan buah-buahan untuk bude yus


karna tempo hari bude yus pernah meminta padaku jus buah naga extra keju


akupun berbelok ke warung bude Tini


selain berjualan nasi uduk dan gorengan kini bude tinipun menjual aneka jus buah segar


"bude assalamualaikum, bude Tini"sapaku riang gembira


"waalaikumsalam nduk cak ayu, sumringah banget ini, gimana-gimana" colekan lembut dari jari bude Tini ke daguku dari dalam warung


"he he he mau beli jus buah boleh" tanyaku


"gak boleh" jawab bude Tini dengan memanyunkan bibir


"waduh kok gak boleh" keningku mengkerut mendengar jawaban dari bude Tini


"gak boleh kalau satu hahahaha" canda bude Tini sambil tertawa terbahak-bahak


ini lah yang aku suka selain pembawaannya yang welas kasih bude Tini sangat suka bercanda sesekali pun dia akan tegas apabila dirasa tak masuk akal dilogikanya atau menentang keadilan


"khusus hari ini Luna beli 5 bude" aku mengacungkan seluruh jari yang ada di tanganku


"ehh ehhh lima itu iya begini bukan begini nduk cak ayu" ledek bude Tini sambil menurunkan salah satu tanganku


karna aku membalas candaannya dengan mengacungkan semua jariku


"wokeh wokeh mau rasa apa" bude Tini kembali ke mode serius


"rasah bayar ada"candaku kembali


"ohh ada rasah bayar, iya rasah tuku"


artinya "gak usah bayar, iya gak usah beli"


hahaha hahaha kami tertawa bersama


"bude rasa buah naga extra keju satu, buah naga mesis 3, buah naga susu coklat dan keju 1" pesanku serius kepada bude Tini


"mantappp Alhamdulillah laris manis diborong anak wedok cantik, iya udah tunggu sebentar iya" pinta bude Tini


"asiaap kapten" hormatku kepada bude Tini


setelah mesan jus buah tak lupa aku membeli aneka gorengan untuk pendamping jus buah yang akan kami seruput bersama nanti


sesampainya di kontrakan bude yus


nampak ada keramaian


sepertinya pakde Kardi sedang ada tamu


karna tak biasanya siang hari begini pakde Kardi dirumah sedangkan jam makan siang sudah lewat, setelah makan siang biasanya pakde Kardi akan kembali kelapak


"assalamualaikum" sapaku


"waalaikumsalam" dari dalam rumah semua serentak menjawab salamku


kulihat ada seorang gadis yang usianya sepantaran denganku dan sepasang suami istri sepertinya kedua orang tuanya dan tentunya pakde Kardi


"nduk sini sini kenalin ini keponakan pakde namanya Sinta" titah pakde Kardi


"Luna mbak" ucapku menyodorkan tangan


dibalas senyum manis dan jawaban dari gadis yang bernama Sinta


"aku Sinta mbak Luna, panggil Sinta aja aku baru lulus sekolah"


"ohh iya Sinta"jawabku malu-malu


tak lupa semua diruangan ini aku salam takjim


"Luna itu pesanan pakdekan, sini sini cepat hidangkan buat tamu pakde" tunjuk pakde ke jus buah dan aneka gorengan yang barusan aku beli


mau menjawab kalau ini buat bude pakde dan kedua mamasku


rasanya tidak etis dan tidak sopan sekali


aku hanya bisa manggut-manggut canggung


mau tak mau jus buah dan aneka gorengan aku hidangkan untuk tamu pakde Kardi


"silahkan dicicil" tawarku sopan


"oh ala mas mas kamu pesankan aku gorengan to jusnya sih ok iya iya buah, tapi ini kenapa pasangannya gorengan" cecar ibu-ibu yang sedari tadi diam dan belum aku tau namanya


"hmm hmmm Luna kan pakde minta roti tawar tadi kenpaa jadi gorengan sih" sungut pakde dengan muka masam


"ohh hmm maaf pakde diwarubg depan adanya gorengan" jawabku kebingungan


pasalnya dari tadi tidak ada SMS atau telfon dari pakde yang menyuruhku untuk membelikan titipan berupa buah tangan cemilan atau apapun untuk tamunya


"gorengan gini bikin tenggorokan sakit" ibu-ibu tadi tetap ngedumel tapi tetap dengan lancar jayanya tangan lentik itu mencomot gorengan yang ada didepannya


aku hanya bisa menghembuskan nafas secara halus jika terlalu kasa takut akan menyinggung pakde Kardi dan tamunya


"sudah sudah Bu, sudah ada nya ini didepan mata, nikmati saja gak apik ngedumel di depan makanan, gak elok" Tegur laki-laki yang aku duga adalah suaminya


"nak Luna sudah lama kah tinggal disini ? kerja dimana nak" tanya bapak tadi lembut


"kerja di resto Eropa pak, yang ada di Kemang" jawabku


"hmm ini adik pakde gimin dan istinya Mina kesini nganterin ponakan pakde yang ayu ini buat kerja, Luna kamu bisa bantu masukin ke resto tempatmu kerja" tanya pakde melunak tak semasam tadi


"Luna bisa bantu buat masukin CV dan surat lamaran kerjanya iya pakde, nanti Luna coba iya" jawabku sopan


"jangan cuma titip harus masuk dong, secara Sinta looh anak IPA pintar juara dikelas mana cantik" sombong bude Mina ibu Sinta


"iya bude nanti Luna bantu iya, selebihnya nanti keputusan atasan Luna" jawabku masih dengan sanagt sopan dan senyum termanis

__ADS_1


"wes wes pokoknya nanti titip" tegas pakde


setelah obrolan yang mengalor mengidul alias kesana kemari


dan tugas rumahku sudah selesai


tiba waktu azan ashar berkumandang


gegas aku melaksanakan kewajibanku empat rakaat di penghujung siang


 


malam ini rumah pakde Kardi dan bude yus terasa ramai sekali dengan kehadiran keluarga dari pakde Kardi


sesaat seletah acara makan malam bersama


Sinta mendekatiku


"mbak Luna, mbak Luna, besok kerja masuk apa ?"


"masuk pagi sin, gimana" tanyaku


sebenarnya aku tahu maksud dari Sinta mungkin Sinta ingin ikut ke tempat kerjaku


kulihat antusiang sekali dimatanya


sama sepertiku dahulu saat pertama kali akan melamar pekerjaan


dimaapun ada info lowonga pekerjaan


kesanalah kakiku meluncur


dengan riang gembira dan bersemangat


harapan dan doa supaya di terima di tempat tujuan bekerja


"iya aku mau ikut, tolong siapin apa jaa yang harus aku bawa" pinta atau perintah Sinta


"HM ok hayo" tanpa ba-bi-bu kami siapkan keperluan esok hari


karna mengingat aku harus masuk jam tujuh pagi dengan berjalan kaki


aku sudah terbiasa berjalan kaki selain sehat dan menghemat pengeluaran ku


demi menyambung hidup dengan gaji yang lumayan sebenarnya


tapi karna pengeluaran ku bukan hanya untuk ongkos dan makan jadi gaji segitu dicukup-cukupkan


--- esok hari setelah kami bersiap


rupanya bukan hanya aku dan Sinta yang bersiap


bapak ibu dari sinta dan pakde Kardi pun terlihat sangat rapi


"hayo Sinta kita jalan, sudah jam setengah enam, soalnya jalannya lumayan nih empat puluh lima menitan kita sampai ke tempat kerjaku" ajaku ke Sinta


"ehh mbak maksudnya apa iya kok jalan" kening Sinta mengkerut keheranan dengan ajakanku


"Luna kan kamu kemarin gajian to kita naik taksi aja" usul pakde Kardi


didepan gang kita naik ojek terus nanti dijalan besar kita pesan taksi yang lewat


"oh gitu iya pakde" dengan keheranan akupun meng iyakan


otakku tak sempat mencerna perintah dari pakde Kardi


apakah aku dan Sinta atau kita berarti semua


bapak ibu Sinta dan pakde Kardi


ternyataaaaa jreng jeng jeng


tebakan hatiku benar tak meleset satupun


acara melamar pekerjaan kali ini sudah sangat meriah dan ramai seperti mau melamar anak gadis orang


ojek pangkalan dibayar oleh pakde Kardi


sedangkan taksi yang kami tumpangi aku lah yang membayar


formasi didalam taksi tak kalah heboh


sang sopir duduk siap siaga didepan kemudinya


Sinta di sebelah pak sopir


aku bude Mina, pakde gimin dan pakde Kardi duduk di bangku belakang


dengan postur tubuh bude Mina yang maaf agak berisi alias tambun akupun duduk agak kedepan bangku seperti berjongkok


setelah drama kehebohan didalam taksi sampailah kami ditujuan


iya resto tercintaku


walau aku hanya karyawan tapi aku sudah sangat mencintai resto Eropa ini


disini lah aku menyambung asa


"ehh ehhh bapak-bapak ibu-ibu pada mau kemana main lari aja" teriak pak sopir taksi


kamipun serempak bak robot otomatis menoleh ke sumber suara


"iya pak ada apa lagi iya" jawab bude Mina ketus


"uuhh bayar dulu main nyelonong aja, ini gimana siapa yang bayar" ucap pak sopir taksi menyadarkan kami


ternyata ongkos taksi belum dibayarkan


karna ojek pengkolan tadi aku lihat pakde Kardi yang membayar aku fikir pakde Kardi pula akan membayar biaya taksi yang kami pesan


ternyata


"Sinta Sinta cepet bayar nanti dirumah pakde ganti gak pake lama, cepet" perintah pakde tegas tak mau dibantah


bak disambar petir siang bolong


dan rasanya bola mataku akan keluar dari rongga ya


dengan mulut menganga


terpaksa aku relakan satu lembar berwarna biru ku untuk membayar ongkos taksi kami tadi


niat hati mau mengirit mengencangkan ikat pinggang jadinya malah Morat Marit

__ADS_1


belum terlaksana niatku mengirim kekampung dan menyenangkan bude yus


pada akhirnya aku serasa dirampok oleh pakde Kardi secara halus


pasalanya semua uang yang keluar dari dompetku tidak akan pernah kembali


"ini tepat kerjamu Luna, hayo cepat masuk" semangat empat lima sekali bude Mina mendorongku menuju pintu masuk resto Eropa tempatku bekerja


"ehh ehh bude maaf aku lewat pintu karyawan kalau bude sama pakde mau menunggu sebentar bisa dibangku ini" tunjuk ku ke arah bangku tunggu calon karyawan didekat pos scurity


"haduhhh panas lah nunggu disitu nanti Debian, emang kenapa sih kalau kita ikut masuk kan kamu karyawan disini" cecar bude Mina


belum genap satu hari aku bersama bude Mina serasanya aku sudah mengenal lama kelakuannya hampir sangat mirip dengan pakde Kardi


"buk buk sudah sudah kita tunggu aja disini masih pagi kok sudah naik tensinya" ujar pakde gimin


"apa pak maksudmu gimana, aku naik tensi mau tak ulek kamu" bude Mina mengepalkan tangan nya dihadapan pakde gimin


"sudah sudah duduk aja lah sini yang penting Sinta diajak masuk langsung kerja" pakde Kardi menengahi


aku kembali dibuat terngaga


apa langsung kerja haduh dikira ini resto punya keluarga kita apa batinku


"maaf pakde Sinta juga tunggu disini dulu nanti dipanggil sama atasanku, biasanya jam 7 atau setengah depana orang office nya sudah datang" ujar ku menjelaskan kepada pakde Kardi, pakde gimin ,bude Mina dan Sinta


"Sinta siap-siap dan rapi-rapi lagi ahh biar langsung bisa kerja" ucap Sinta dengan pedenya


 


setelah aku breafing pagi bersama team sudah selesia dan kami siao memulai kerja dengan doa dan semangat


akupun menyampaikan niatku kepada MOD (manager on duty) yang sedang bertugas pagi lalu


"Sinta sin hayoo ikut aku" ajakku


"oh iya mbak, gimana aku udah diterima" tanya Sinta sumringah sambil mengekor langkahku


"ehh interview dulu iya kata atasanku mau ketemu dulu dan tanya-tanya kamu" jawabku sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal


"HM ok ok" jawab Sinta mantap


 


"Luna Luna tolong kekasir sekarang" peintah Eva teman kerjaku dengan muka kesal bak kanebo kusut yang sudah sangat kering


"siap" jawabku mantap


sesampainya aku di depan kasir


pemandangan apa yang kulihat


oh tuhan jantungku serasa melompat ragaku seakan dicabut paksa


pemandangan yang tersaji pakde Kardi berdepat dengan kapten kerjakh dan seorang kasir disana


"tuu tuu tuu itu ponakan pakde, sudah pakde bilang kan disini ada ponakan pakde yang kerja jadi yang sopan kalian sama pakde" ucap pakde Kardi ketus dengan berkacak pinggang


begitupun adiknya bude Mina dengan bibir yang dimonyong monyongin dan telunjuk yang lenjik menunjuk-nunjuk teman kerjaku


"aa-ada apa ini pakde" tanyaku terbata


"nihh pegawai satu ini kami mau pulang malah di tahan-tahan gak sopan" ketus pakde dengan rahang yang mengeras


"Luna sini tolong ini gimana siapa yang bayar bill dimeja sembilan" ujar Siti kasir satu shif denganku


"bill meja sembilan, maksudnya dimeja sembilan lost bill atau gimana" tanyaku pelan


"nihh katanya pakdemu dan keluargamu ini semua kamu yang bayar" tegas Siti


"alaaa aku yang bayar" lemas sudah lututku


tadi pagi melayang warna biru dari dompetku


kini apa lagi


ohh tuhan ini ujian apa cobaan


aku tidak bersekolah kenapa ujiannya melebihi anak sekolah


gegas ku tepis rintihan kepada Tuhanku


"hmm hmm maaf coba kulihat billnya" pintaku


dengan jantung berdegup kencang dan darah yang mulai semilir kurasa


tubuh gemetaran tapi aku pastikan ini bukan jatuh cinta


kubuka bill yang terselip didompet khusus bill untuk customer


jederrrrrr tertera disana Rp. 573.000


apaaaa ini bisa biaya makanku selama dua Minggu


ok ok Luna kamu harus kuat sadar dan sabar


"udah kan ada si Luna yang bayar yookk mas kita pulang" bude Mina and the familly bergegas keluar dari resto Eropa ini


"terimakasih silahkan datang kembali" spaa slaah seorang karyawan training yang bertugas dipintu masuk dan keluar customer


"lunas gimana ini, sini deh" Siti memapahku masuk ke area kasir


disini area kasir bersebelahan dengan area bar jadi pramusaji boleh masuk ke area ini


asal tidak mendekati laci kasir dan area kasir lainnya


"mbak Siti ini gimana huuu hiu aku sudah mulai akan terisak


sekuat tenaga kutaha tangisku


"iya gimana iya mbak juga bingung" ujar mbak Siti


"Luna kamu bayar aja dulu bill nya karna cust dimeja sembilan sudah kosong, takut nanti ada pelanggan lain yang masuk" perintah kapten team kami


"baik" ujarku lemah sambil aku menyodorkan ATM ku untuk di gesek melakukan pembayaran bill pakde Kardi and the familly


"kamu tenangin diri dulu ke loker sana" usul kapten team ku


"iya kak Luna permisi dulu iya sebentar" dengan langkah gontai tak terarah aku menuju loker karyawan


kududukkan bobot tubuh ini


dengan mata terpejam kuhembuskan nafas perlahan

__ADS_1


demi ketenanga jiwa raga dan pikiranku


walau dompetku tak tenang


__ADS_2