
malam ini Luna pulang kerja sudah sangat larut harusnya Luna sudah pulang dari jam dua siang karna Luna hari ini shift pagi
Luna menerima lembur sebagai pengganti team pacaging yang tidak hadir bekerja dikarenakan kecelakaan di bagian pastry
selama bekerja diresto Eropa Luna tidak pilih-pilih pekerjaan
apabila ada bagian yang membutuhkan bantuan atau crew dengan sigap Luna siap menggantikan selama pekerjaan utama Luna sudah rapi dan selesai dan atas izin dari kapten resto
iya resto Eropa tempat Luna bekerja menjunjung tinggi kekompakan dan kekeluargaan tidak seperti resto pada umumnya yang terpaku hanya dengan tugas masing-masing
malam itu Luna sampai dirumah sekitar jam satu malam
biasanya Luna akan sampai dirumah jam sebelas malam jika berjalan kaki atau jam set sebelas jika Luna mengendarai ojek pangakalan
pada tahun itu ojek online belum dikembangkan
"bismillah assalamualaikum bude yus tok tok tok" dengan pelan Luna mengetuk pintu kontrakan bude yus
"tok tok tok mas Yudi" sekali lagi Luna mengetuk dan memanggil nama mas Yudi anak pertama bude yus
biasanya jam segini mas Yudi dan mas Sigit masih didepan tv menonton film action
maklum jika jam enam sore sampai jam sebelas malam biasa paklek Kardi yang memegang kendali remot tv
jadilah anak-anaknya seperti kelelawar yang aktif dimalam hari
jika tidak menonton tv anak-anak bude yus dan paklek Kardi akan nongkorng ditempat temannya
"bude yus tok tok tok"
dengan lesu Luna masih mengetuk pintu kontrakan bude yus
tak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah
akhirnya Luna duduk di bale bambu depan kontrakan bude yus
dengan merapatkan jaket hitamnya dan menekuk kakinya Luna menyenderkan kepala ditangan yang ditunlukan di kaki Luna
walau dingin karna kelelahan lunapun tertidur
byurrrr byurrr
"aahh banjir banjir" Luna terngagap wajahnya sudah penuh dengan air. dingin menusuk kulit dirasakan oleh Luna
"bangun juminten bagus anak gadis jam segini baru pulang mana tidur diluar apa kata tetangga nanti haaa" ucap paklek Kardi berang
"Luna semalem ketok gak ada yang bukain paklek"jawab Luna takut-takut
"bisa aja ngeles kayak bajai pengkolan, kamu kerja dari pagi pulang malem, kerja apa kamu?" cerca paklek Kardi sambil telunjuknya mengarah ke wajah Luna
"Luna lembur paklek ada temen yang kecelakaan gak bisa masuk" jawab Luna
"halaaaa alasan aja, udah bisa jawba kamu iya baru berapa bulan dikira udah betingkah kamu itu wadon(wanita dalam bahasa Jawa) gak baik diliat orang kerja pagi gak pulang malah keluyuran" paklek Kardi menyudutkan Luna
mata Luna sudah berembun dan butiran bening pun lolos di pelupuk mata Luna
tanpa mereka sadari tetangga sudah berkumpul menyaksikan drama kemaraha palek Kardi
drama pagi ini mengalahkan drama ikan terbang
yang biasanya bercerita tentang pelakor didalamnya
tapi kali ini beda versi bukan pelakor atau rebutan warisan
tapi drama kemarahan paklek kepada anak keponakannya yang menumpang tinggal di rumahnya
tak Luna temukan bude yus dan kedua Mamasnya
dirumah ini hanya ada paklek Kardi dan beberapa tetangga
"Luna sabar iya nduk" wanita paruh baya bude Tini biasa orang memanggilnya
bude Tini penjual nasi uduk dan gorengan langganan Luna apa bila Luna tidak dapat jatah sarapan dari paklek Kardi
itu semua tanpa sepengetahuan bule yus
"kamu ga usah ikut campur urusan keluarga kami. biarin aku ngedidik ini bocah wadon satu yang gak tau aturan" dengan berang paklek Kardi meluapkan amarahnya
entah setan apa yang merasukinya sehingga pagi ini Luna diguyur air satu ember yang sangat dingin
"paklek lunakan udah bilang Luna lembur" jawab Luna terngungu
badannya bergetar dengan mata bersimbah air mata
"wes cup cup gak usah ladenin paklekmu, hayoo sini ikut bude Tini, nanti kamu kedinginan masuk angin" bude Tini membelai kepala Luna dan menuntunnya kekontrakannya
brukk brukk brukk
tiba-tiba paklek Kardi sudah dari dalam rumah dan melempar tas ransel Luna dan baju-baju Luna secara sembarangan
"ora Sudi aku ditumpangi wadon ora gemah koyo kowe"
artinya
"tidak Sudi aku ditumlangin perempuan sepeti kamu"
__ADS_1
"minggat kamu Luna dari sini, kamu mau malu-maluin keluarga besarku" dengan nafas memburu dan membusungkan dada paklek Kardi mengusir Luna
"eehh ada apa ini rame-rame, bapak, Luna bude Tini ini ada apa?" tanya bude yus dengan wajah yang bingung
dilihatnya halaman kontrakan yang luasnya tak seberapa sudah berserakan tas ransel dan baju Luna
"ini buk ponakan kesayanganmu mau ngelempar ta i di muka kita"tunjuk tunjuk paklek Kardi ke wajah Luna
"Luna apa ini maksudnya?" tanya bude Tini
"Luna lun Luna" Luna sesenggukan tak bisa menjawab pertanyaan bude yus
dengan masih berderai air mata Luna hanya bisa menggeleng
lelah yang dirasa sejak semalam bertambah sakit dan remuk redam hatinya karna tudingan paklek Kardi suami bude nya sendiri
"sudah sudah bicarakan baik-baik didalam, malu sudah tua dilihat orang banyak, cepat masuk" usul bude Tini
disini dirubah tamu yang biasa dijadikan tempat membuang penat dan lelah Luna selepas pulang kerja akhirnya
3 wanita beda generasi bude yus, bude Tini dan Luna serta paklek Kardi berkumpul
"ngapain kamu ikut masuk bude Tini, kamu gak ada urusan sama keluargaku" ucap paklek Kardi berang terlihat rahangnya mengeras dan wajahnya memerah menahan amarah
"aku disini mendampingi Luna, Luna udah kayak ponakanku sendiri, kamu kalau gak bisa bersikap baik setidaknya gak main fisik" tegas bude Tini
sejak tinggal dirumah bude yus Luna sudah sanagt akrab dengan bude Tini pasalnya bersama bude tinilah Luna bisa berkeluh kesah curhat dan meminta pendapat
selama tinggal bersama bude yus
bisa dihitung Luna bercengkrama dengan bude yus
karna profesi bude yus sebagai pembantu rumah tangga
yang akan pulang dan libur apa bila diizinkan oleh majikan
walau jarak dari rumah majikan bisa dibilang dekat dengan kontrakan bude yus
sesekali bude yus akan pulang hanya untuk mengantar sayur dari rumah majikan
lalu kembali bekerja lagi
"halaa bocah kayak gini didampingin, mau cari muka kamu bude Tini" cerca paklek Kardi
"hmmm Kardi Kardi pantas kah orang tua macem kamu ngomong kayak gitu, bisa dijaga ucapanmj Kardi" suara bariton dari arah luar terdengar
semua mata tertuju pada lelaki paruh baya diluar
menggunakan sarung dan peci putih baju Koko putih
dengan tenangnya
"ini sebenarnya ada apa to pak bude Tini" masih dalam kebingungan bude yus bertanya
mengharapkan ada dari salah satu orang diruangan ini akan menjawab kebingungannya
"ini ponakan kesayanganmu dari kemarin gak pulang-pulang pamit pagi pulang pagi ngapain kalau bukan keluyuran enggak jelas" tuding paklek Kardi penuh emosi
"CK CK CK CK Kardi Kardi sempit pemikiranmu ternyata" sahut pakde Karto
"gak usah belain juminten jnj pakde kalau gak tau kebenarannya, kelakuannya diluaran sana" dengus kesal paklek Kardi
"kamu punya bukti apa sampe menuduh ponakanmu kayak gitu? apa kamu lihat dengan mata kepala sendiri apa asumsimu saja, jangan main tuduh Kardi" dengan tenabg pakde Karto bertanya ke pada kakek kardi
"halaaa anak kampung kayak juminten ini baru melek kota jadi begini betingkah, gak ada aturan sudah gila dia" masih dengan segala macam tudingan paklek Kardi menuduh Luna
sedangkan Luna masih sesenggukan didalam dekapan bude Tini
"sabar iya nduk sabar" bude Tini memberi kekuatan kelada Luna
"Luna kamu jangan bikin malu bude, apa begini kelakuanmu kalau bude gak ada dirumah? mau kamu apa? mau tak balikin ke kampungmu?" ancam bude yus kepada Luna
dengan tangan terkepal dan nafas mulai naik turun
bude yus memiliki riwayat darah tinggi
jadi jikalau sewaktu-waktu bude yus emosi tak terkontrol terdang darah tingginya akan cepat naik
"bude Luna gak kayak gitu, Luna kerja bude" jawab Luna bersimbah deraian air mata
"benar kata Luna yus, Luna kerja, ponakanku anaknya Jusman kerja satu bos sama Luna, sudah satu bulan di bagian pengepakan produk" jawab paklek karto tenang
"halahhh halahhh pake sok sok an belain udahlah paklek jangan kamu bela si juminten ini. makin besar kepala dia" masih saja paklek Kardi mencerce Luna
"apa perlu aku panggil anaknya siyusman, biar kesini buat buktiin kekalian berdua" tantang paklek karto
"palingan mereka cinta cintaan pake alasan lembur, lembur apa si Luna ini, aku tau resto Eropa tempat kerja Luna itu tempat makan bukan tempat pengepakan barang" ujar pakde Kardi
"Kardi lancang kamu. picik sekali kamu menuduh ponakanku sendiri, aku bertemu Jefry di mushola tadi sehingga aku tahu kalau mereka lembur dan satu bos" jawab paklek karto dengan penuh penekanan
"mau ponakanmu mau bos mu aku gak peduli. Luna menumpang disini harusnya sadar diri, punya kewajiban menyiapkan sarapan dan masak makan siang serta memenuhi kebutuhan rumah ini" pakde kardi keceplosan dengan niatnya memarahi Luna lagi jnj sehingga drama mengguyur airpun tadi sempat terjadi
"ohhh alaaa ternyata hanya karna itu, kamu kan sudah gede tua bisa cari makan sendiri kalau lapar, kenapa kamu bebankan kepada keponakanmu" sambil geleng geleng lah Kepala paklek karto
"hmm hmm" pakde Kardi salah tingkah
__ADS_1
"bapak sudah sudah" ucap bude yus menenangkan suaminya
"ternyata salah faham aja ini paklek karti bude Tini, sudah kalau begitu kalian pulang aja, Luna tetap tinggal disini"lirih bude yus
"dasar suamimu bilangin, kalau ada maunya cukup bilang dan minta baik-baik ini anak orang keponakanmu sendiri jangan kamu permalukan seperti tadi dengan tudingan yang gak enggak" tegas paklek karto
"iya betul yus, kasihan keponakanmu, disini enggak ada sanak saudara selain kamu dan suamimu Kardi, bersikap baiklah" nasehat bude Tini
"iya bude" jawab bude yus
pakde Kardi hanya mendengus sebal sambil membuang muka dan memonyongkan bibir
hening tercipta setelah kedua orang pasangan paruh baya tadi paklek karto dan bude Tini pergi
"hmmm Luna, bude bisa bicara sebentar" pinta bude yus
Luna hanya mengangguk kan kepalanya
"kamu boleh kerja tapi ingat dirumah kamu bantu bude buat jagain pakde dan mamas-mamasmu, bude pernah bilang kan" tanya bude yus kepada Luna
"iya bude" jawab Luna sambil menyeka air matanya yang masih setia mengalir
"sudahlah Bu si juminten ini gak bisa diandelin, gak perlu kita berharap sama dia"tunjuk pakde Kardi masih dengan emosi yang sama
"maafin Luna bude pakde" Isak Luna
"iya sudah sana ganti baju dulu, habis itu kita makan dulu baru bersih-bersih, bude bawa ayam kecap, capcai sama udah asam manis" titah bude kepada Luna
"bapak apa mau makan dulu" tawar bude yus
"iya sini cepetan gara-gara anak gak tau diuntung itu aku sampe telat kelapak, terbuang waktuku sama aja kenyang duitku Bu, kamu faham itu" dengus paklek Kardi
"iya pak iya, sudah makan dulu" sambil menyodorkan nasi dan lauk yang sudah lengkap didalam piring besar untuk pakde Kardi, iya porsi makan pakde Kardi memang jumbo
badan boleh kecil ibarat mobil pakde Kardi adalah mobil carry tapi muatan mobil puso
"Luna nduk, hari ini masuk shif apa ?" tanya bude yus kepada Luna lembut
sebenarnya bude yus orangnya lembut dan sayang kepada Luna
mengingat bude yus tidak memiliki anak perempuan
kedua anak laki-laki bude yus adalah anak yang berbeda bapak
pernikaha dengan pakde Kardi mereka belum dikaruniai anak
maklum mereka menikah janda anak dua bertemu duda tanpa anak
namun keponakan pakde Kardi semua perempuan
jadi terkadang kerianduan menginginkan anak perempuan terobati dengan menginapkan keponakan pakde Kardi dari kampung
tapi semenjak Luna tinggal bersama bude yus dan pakde Kardi keponakan pakde Kardi tida ada yang menginap
dengan alasan masih bersekolah
menunggu kelulusan
dan lain-lain
"Luna libur bude karna kemarin Luna masuk pagi terus diminta bantu lembur, jadi Luna di beri pengganti libur"jawab Luna sopan
"iya sudah kalau begitu pas banget bude gak bisa lama-lama harus balik kerumah bos, mau ada acara dirumah bosnya bude" ucap bude
"kamu ikut bude sebentar iya bantu bude beberes dan masak disana" usul bude
"baik bude, kapan kira-kira bude acaranya" tanya Luna
"nanti siang makanya ini bude mau kepasar dulu, hayo cepetan siap-siap kita kepasar" titah bude
"iya bude" jawab Luna
padahal hari ini jatah libur Luna
rencana Luna mau gunakan untuk beristirahat sejenak mengingat Luna lembur dari pagi sampai tengah malam dan baru beristirahat sebentar sudah kena guyuran air seember dari pakde Kardi
apes atau sial kah atau sudah takdir suratan nasip Luna harus melalui semua cobaan yang berasal dari keluarga budenya
andai bisa lari mungkin Luna sudah menjadi juaranya
lari dari kenyataan pahit
tapi dibenak Luna selalu tertanam ibarat pejuang
jangan menyerah sebelum menang atau sampai titik darah penghabisan
atau kata pepatah
berakit-rakit kehulu berenang-renang kecapek an eh wait sepertinya salah
maaf salah kamus
berakit-rakit kehulu
berenang-renang ke tepian
__ADS_1
bersakit-sakit dahulu
baru bersenang-senang kemudian