Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
calon


__ADS_3

Kini tinggallah Bu Wati, Luna, Luffy dan juga Dwi dikontrakan ini


Luffy da Dwi walaupun mereka adalah kaum pria tetapi tak sungkan dalam membantu kerepotan wanita


Tanpa dikomando mereka berdua membantu Luna merapikan mangkok-mangkok sisa pertempuran pempek dan cuko


Merapikan sisa gorengan yang masih beberapa biji lalu menyapu ruang tamu dan teras


setelah rapi mereka kembali mendudukan dengan nyaman bobot tubuhnya


Lalu....


"Luna jangan lupa sholat" ucap Bu Wati mengingatkan Luna


"iya Bu" jawab Luna singkat


didepan teras kini tinggallah Luna, Luffy dan juga Dwi


Sempat suasana hening mendominasi diantara mereka


"jadi kapan mbak brow bagi undangan" suara Dwi memecah keheningan diantara mereka bertiga


"undangan apaan" kesal Luna


"lah yang lah punye calon nih dek galak ngenjok kabar e"


(lah yang sudah punya calon ini gak mau kasih kabar iya)


Ledek Dwi


"hmm iya nih" ucap Luffy singkat


Ada rasa perih danuka tak berdarah yang Luffy rasakan


Aneh tapi nyata rasa apa ini batin Luffy


harusnya aku B aja alaias biasa aja


Kok ada rasa sesak iya batin Luffy


Luna sempat melamun


tak disangkalnya Luna kepikiran dengan kalimat Bu Wati dihadapan orang banyak tadi


Maksud Bu Wati apa?


Apakah benar Luna akan dijodohkan


padahal Luna sudah memberi pengertian bahwa Luna dengan umur sekarang Mash sangat muda untuk memikirkan pernikahan dan Luna tidak mau masalah jodoh menjodohkan itu


"heiii" jentikan jari jempol dan telunjuk tepat didepan wajah Luna menyadarkan luna dari keterkejutannya


Belum lagi sempat merespon ibu luna datang dari dalam rumah dengan beberapa cangkir teh hangat


"diminum dulu nak Luffy, Dwi" titah sang ibu seraya meletakkan nampan berisi teh hangat tadi


"iya Bu makasih, malah ngerepotin ibu" ucap Luffy dan Dwi hampir bersamaan


"gak apa-apa, kalian sudah ibu anggap seperti anak sendiri" ucap Bu Wati bijak


Dipandangnya wajah sang ibu yang teduh itu


Namun terselep keresahan disana


"Bu " panggil Luna


" hmm apa Luna" jawab sang ibu singkat


"ibu sakit atau capek istirahat dulu gak apa-apa Bu" Luna terdengar sangat mengkhawatirkan sang ibu


"ibu gak apa-apa" sangkal sang ibu


Padahal saat ini hati sang ibu tidak tenang


Mungkin badan ibu memang tidak sakit


Tetapi kali ini yang sakit adalah hatinya


Ibunya khawatir dengan banyaknya teman pria Luna


Luna nanti akan terjerumus kehal-hal yang kurang baik dan makin jauh dari sang ibu dan bapak


Mana sekarang Luna memutuskan untuk merantau


Pastilah pengawasan ibu dan bapaknya yang jauh disana tida akan maksimal seperti di kampung


Kalau dikampung jika luna berpamitan hendak mengikuti olahraga volly antar RT saja harus izin secara jelas dan terang tujuannya


Bagaimana kalau begini jauh dari sang ibu dan bapak


Dimana jarak jauh membentang diantara mereka


Mana teman-tema Luna banyak bermacam-macam bentuk dan usia


Sungguh hati ibu Wati sangat khawatir


Ditambah lagi calon yang disetujui oleh ibu Wati dikampung sering kali menelfon menanyakan keadaan Luna dan Bu Wati


Luna memang belum tahu akan hal ini


Bu Wati telah menyiapkan jodoh terbaik untuk Luna versi ibu Wati


Seorang pria yang mapan dan dewasa tentunya akan sangat dapat membahagiakan Luna


Dan pastinya pria ini masih singlet alias bujang tingting


Buka pria yang sudah beristri atau duda atau bahkan laki-laki yang belum Bu Wati kenal asal usulnya


Bayangan Bu Wati menerawang kebelakang sebelum Bu Wati berangkat ke Jakarta menyusul sang anak


Guna menemani beberapa bulan dan mengenal lingkungan tempat tinggal dan kerja luna


---- flas bakck on ----


"Bu izinkan saya mengenal lebih dekat Luna, jika ibu berkenan dan kami bisa ketahap yang lebih serius apapun yang Luna inginkan saya akan penuhi" jawab seorang pria yang bernama Anwar mantap


Bu Wati masih bergeming


"saya izinkan dan sanggup membiayai kuliah Luna ke S satu Bu, rumah, kebun dan kendaraan saya sudah punya dan semua untuk Luna" imbuh sang pria


"berapapun mahar untuk Luna saya aka. Sanggupi minimal lima puluh juga buat ibu dan bapak" tambah Anwar


Bu luna menghela nafasnya dipindainya lelaki didepannya ini

__ADS_1


Tampak keseriusan dan kesungguhan disana


"nak Anwar semua keputusan ibu serahkan kepada Luna, kamu pria yang baik ibu sangat berharap kamu dan Luna berjodoh" jawaban ambigu dari Bu Wati ini digunakan Anwar untuk lebih gencar lagi mendekati Bu Wati dan pak ajan


satu pekan sekali Anwar akan berkunjung bersilaturahmi dan membawa beberapa sembako bahkan hadiah


Menurut Anwar ini hadiah kecil untuk ibu Wati dan bapak ajan


Dibandingkan dengan bersanding dengan Luna semua hal ini tidak ada apa-apanya


Bu Wati sangat bahagia melihat lelaki yang berjuang meyakinkan hatinya dan sang suami bahwa dia laki-laki sejati yang mampu menafkahi anaknya kelak


Baik dari segi materi ataupun bathin


Tentunya laki-laki ini mampu batin Bu Wati


Tetapi satu hal yang membuat Bu Wati khawatir


Kekeras kepalaan sang anak dan prilaku sang anak yang semaunya sendiri membuat Bu Wati sering berpikir bagaimana caranya mendekatkan Anwar dan Luna


Jika terang-terangan Luna pasti akan menolak perjodohan ini


Tetapi jika tidak bagaimana caranya Luan mendapatkan jodoh mapan seperti Anwar ini


---- flashback off ----


"Buu " ucap Luna mengguncang bahu sang ibu


."eehh" Bu Wati terkejut


"nak Luffy, Dwi ibu titip Luna, tolong awasi Luna selama kalian disini, ibu bapak minta bantu iya" ucap Bu Wati memecah keheningan


"ibu titip sebentar saja, nanti waktunya tiba ibu bapak dan calon Luna akan menjemput Luna pulang kekampung" ucap Bu Wati menjelaskan


Luna, Luffy dan Dwi diam terpaku


"Buu ibu ngomong apa sih, calon calon calon apa" Luna mulai kesal


Pasalnya sang ibu tidak membahas lebih dalam lagi berdua saja masalah calon mencalon ini


Malah Bu Wati membahas didepan temannya


Luna jadi tida enak dengan kedua teman nya ini


seolah-olah Luna adalah anak yang pembangkang dan mempermainkan sebuah hubungan


"Bu Luna kan udah bilang Luna mau fokus kerja, Luna masih muda Bu" ucap Luna lirih


dengan sekuat tenaga Luna menahan air matanya yang hendak tumpah


"iya ibu tau, ibu gak larang, tapi ingat ada calonmu dikampung menunggu, jaga hati dan kehormatanmu Luna" ucap ibu tegas


Luna hanya menggelengkan kepalanya kemudian berlalu menuju kamar


Dikamar iya menangis sambil memeluk guling


Batinnya ada apa dengan sang ibu yang tiba-tiba dengan Tegasnya berkata seperti itu


tadi dihadapan semua teman-tema satu kantornya sekarang dihadapan teman sekampungnya


Seharusnya bisa dibicarakan berdua dulu dengan Luna


apakah Luna menerima atau Luna memilih pilihannya sendiri


Ahhh sesak sekali rasanya


Seraga beban sangat berat Luna dapatkan hari ini


Tak Luna hiraukan lagi Bu Wati dan kedua temannya tadi


Luna larut dalam pikirannya sendiri


Dan dalam tangisnya Luna mulai berusaha menguasai diri


Luna bangkit dan duduk kemudian dihapusnya lelehan air mata yang sudah membanjiri pipinya


harus kuat batin Luna mengsugesti diri


kuat iya harus kuat


Luna bisa


Luna n bangkit dan menuju ke kamar mandi


Mengambil air wudhu dan gegas melaksanakan Sholat empat rakaat


selepas menunaikan sholat dan meminta kepada sang pembuat hidup


Luna merapikan diri dan menyusul ke teras depan


Dilihatnya sang ibu duduk bersandar Kedinding


Tak Luna temukan kedua temannya tadi


"Luffy sama Dwi ke masjid depan sholat" ucap Bu Wati kepada Luna sebelum sempat Luna bertanya


Luna duduk disebelah Bu Wati dan memegang tangannya


"Buu tolong jujur sama luna, maksud ibu calon luna dikampung itu apa" tanya Luna lirih


Bu Wati masih bergeming


sesaat dalam diam Bu Wati memejamkan matanya


seperti mengumpulkan separuh nyawa yang hilang dan


"ibu sudah putuskan akan menerima pinangan dari Anwar dikampung untukmu" jegggllerrrr


Bagai disambar petir disiang bolong


Luna terkejut bukan main


Pasalnya tanpa mendiskusikannya dulu Bu Wati telah memutuskan hal besar dalam hidup Luna


belum sempat Luna menjawab pernyataan sang ibu dua langkah kaki yang tertangkap di indra pendengaran Luna mulai mendekat


Luan masih menatap sang ibu


"Bu Luna masih muda, Luna gak mau dijodohin, Luna sudah punya pilihan sendiri" ucap Luna dengan derai air mata


Air mata Kemabali tumpah dipipi Luna


Luna tak dapat lagi menahannya

__ADS_1


Sesak dan sakit menjadi satu


"Luna sudah punya pilihan hati Luna sendiri Bu" ucap Luna kembali


Luffy dan Dwi yang melihat drama antar ibu dan anak yang menguras emosi depannya hanya terdiam


mereka tahu batasan mana hal yang harus mereka jauhi atau tidak ikut campur


Mereka berdua turut prihatin dengan hal yang menimpa Luna ini


Apalagi kalau sudah berhubungan dengan keinginan orang tua


Luffy dan Dwi bisa apa


hanya penonton saja


Tetapi seperti ada dorongan kuat yang membuat Luffy kembali melangkah


Dengan mengucapkan bismillah Luffy menghadap ibu Wati dan berkata


"Bu maaf jika saya lancang, izin kan saya memantaskan diri buat Luna, saya Luffy ariseno mencintai anak ibu" ucap Luffy mantap


Luna dan Bu Wati memandang Luffy


Begitupun Dwi iya tak habis pikir dari mana keberanian Luffy sehingga mampu mengucapkan kata itu


"mungkin saya sekarang belum mapan Bu, tapi saya yakin bisa membahagiakan anak ibu" ucap Luffy lagi


sudah kepalang tanggung semua ucapan di benak Luffy keluar jadi Luffy akan maju terus pantang mundur demi sang pujaan hati


Setelah memantapkan diri berkali-kali dalam sujud dan doa Luffy yakin akan perasaan yang Luffy punya


Bu Wati menatap tajam Luffy dan menoleh kepada Luna


"jadi dia pilihanmu" jawab Bu Wati bergetar


Luna hanya mengangguk dan tetap dalam tangisnya


Bu Wati beranjak dari duduknya dan gegas meninggalkan Luna dan Luffy dalam kebisuan


Luna menatap Luffy dalam banyak hal yang ingin Luna tanyanyakan tetapi mengingat waktunya tidak tepat Luna hanya mampu terdiam dan mengusap air matanya


Dwi mendekati Luna dan Luffy kemudian memeluk bahu Luffy


"bro hayo kita pamit dulu" ucap Dwi lirih namun terdengar oleh Luna dan Dwi


"Luna kamu pamit dulu" ucap Dwi kepada Luna


Dengan anggukan menandaka iya Luna memberi jawaban tapi


"bro dirimu mau duluan gak apa-apa" ucap Luffy mantap


Dwi terpaku di lihatnya ada keseriusan di kedua mata Luffy


Baru kali ini Dwi lihat kesungguhan yang begitu besar dalam diri temannya satu ini


"kamu yakin" ucap Dwi disini yang ragu meninggalkan tempat ini adalah Dwi


Pasalnya banyak yang tidak tahu di masa silam Luna dan Dwi pernah menjalin hubungan dalam ikatan pacaran


Dimana hubungan itu sangat ditentang oleh sang ibu sehingga menyebabkan kandasnya hubungan Luna dan Dwi


Hubungan yang mereka jalani masa putih abu-abu, ibunya selalu berkata cinta mereka hanya cinta monyet, cinta gak jelas dan gak bermanfaat


Entah dari mana dan sebab apa sang ibu tidak menyukai Dwi dan keluarganya


masa silam sang ibu selalu berkata cari lah yang bibir bebet bobotnya bagus


Jangan dari seorang dudu beranak banyak


Karna ibu Wati meyakini bahwa sang ibu Dwi pasti meninggal diusia muda karna tertekan dan ibu Wati tak mau hal yang sama terjadi pada Luna


Karna biasanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya


Kecuali pohon itu berada dipinggir sungai iya pasti buah jatuh kesungai dan mengalirlah si buah itu seiiringan dengan arus sungai hehe


Sebenarnya banyak hal juga yang ingin Dwi tanyaka kepada Luna


Mengenai masa lalu yang telah berlalu tetapi demi tidak merusah hubungan baik yang sudah terjalin ini Dwi memendamnya


Hubungan baik atas nama sahabatlah yang membuat Dwi dan Luna masih sering berkomunikasi dan jalan bersama


"Luffy aku temenin kamu sampe akhir" ucap Dwi entah kalimat itu meluncur spontan dari bibir Dwi


Dwi seolah ingin ikut berjuang dalam hubungan ini padahal hubungannya dengan Luna dahulu tak dapat diperjuangkan


Karna Luna memilih berbakti kepada sang ibu


sampai sekarangpun Dwi heran juga memang sang ibu Luna tak merestui mereka dimasa lalu kenapa kini merestui anaknya bersabar dengannya atau jangan-jangan sang ibu tak mengenal baik pacar Luna dimasa lalu


Ada apa sebenarnya dengan Bu Wati


"terimakasih bro" ucap Luffy tulus


Ketiga badan yang bernyawa ini terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing


"kalian pulang aja dulu" ucap Luna


"nanti aku kabarin lagi" lanjut Luna


"tapi ..." ucap Luffy


"tolong bantu aku" ucap Luna lirih


Denga berat hati Luffy meng iyakan kemauan Luna


"salam buat ibu saya pamit" ucap Luffy


"iya Luna kami pamit iya, baik-baik kamu" ucap Dwi tulus


sedikit banyak Dwi ikut menghawatirkan yang terjadi dengan Luna


Entah setelah ini akan terjadi hal apa lagi


Sejujurnya Dwi tidak tega dan kuat melihat Luna menangis bagaimanapun mereka pernah berpacaran dan saling memiliki rasa sayang dan perhatian


Tetapi kini Dwi melihat tatapan berbeda dari Luna kepada Luffy


dalam benak Dwi bertanya-tanya


Apakah benar Luffy dan Luna menjalin hubungan diam-diam seperti dia dimasa lalu


Apakah hubungan Luffy dan Luna ini akan kandas atau malah berhasil sampai restu didapat

__ADS_1


Bagaimana kalau posisi Dwi yang ditinggalkan oleh Luna kembali dirasakan oleh Luffy


bersambung ----


__ADS_2