
prov sely
"sah" pak penghulu
"sah" para saksi serempak menjawab dengan kepala kompak manggut-manggut
"Alhamdulillah...." sambung pak penghulu dan dilanjutkan dengan doa yang dibacakan dengan penuh hikmat didalam acara pernikahanku
dengan linangan air mata dan rasa yang membuncah didada penuh syukur aku lantunkan doa dari bibirku
walau pernikahanku dengan lelaki pilihan hatiku hanya dilaksanakan di gedung KUA setempat
tak mengurangi rasa syukurku
iya pernikahanku dengan Sutikna teman sekolahku masa putih abu-abu telah digelar secara sederhana semua atas keputusan bersama antara kedua keluargaku
ayahku tidak menentang dengan terang-terangan tidak pula memberikan restu dengan secara gamblang
pilihan ini kami ambil atas dasar ayahku tidak mau melihatku susah setelah menikah
bisa saja ayahku menyelenggarakan pesta mewah nan meriah tetapi mengingat suamiku kak Sutikna belum memiliki tempat tinggal yang tetap dan layak menurut orang tuaku jadilah semua dana yang seharusnya untuk biaya pernikahanku dialihkan ke pembelian lahan dan akan dibangun hunian untuk keluarga kecilku nanti berteduh
selepas acara pernikahan di KUA berjalan dengan lancar sementara aku tinggal bersama dengan mertuaku ibu kak Sutikna dikampungnya
jadilah jika aku akan mengikuti les komputer kini berangkat akan diantar oleh suamiku karna tepat suamiku bekerja searah dengan tempatku menimba ilmu
"sayang sudah siap belum?" tanya suamiku
"iya sebentar lagi" sahutku dari dalam kamar
sebenarnya sudah satu jam aku bersiap tetapi namanya wanita persiapan satu jam sama saja satu menit
sedangkan menurut sudut pandangan laki-laki menunggu satu jam wanitanya berdandan itu ibarat satu Minggu
"sayang aku udah siap, ibu mana?" tanyaku heran karna ruang tamu ini nampak sepi, diruang makan pun ibu tidak ada
"ibu ke ladang, sudah hayo nanti aku telat masuk kerjanya" titah suamiku dengan muka masam
"hayo lah" jawabku santai
diperjalanan pikiranku kembali menerawang kejadian yang telah berlalu
ingatanku tertuju pada ucapan ayah dimana pertama kali ku kenalkan kak Sutikna kepada Ayah
---- flashbackon ----
sore itu di teras rumah
"ayah sely mau izin" ucapku tertundun dengan jantung berdegup tak menentu
"hmm izin apa sely" jawab ayah dengan suara tegasnya
"hmm anu itu hmm Ayah janga marah iya" sahutku takut-takut
"hmm" hanya deheman yang terdengar ditelinga ku
dengan masih tertunduk dan memainkan ujung jilbabku akupun memberanikan diri untuk menyampaikan maksud hatiku
"nanti malam ada teman sely yang mau main, apakah boleh?" tanyaku tetap dengan rasa cemas dan takut
pasalnya Ayahku orang yang sangat tegas dan ketat dalam mendidik anaknya
diumurku yang memasuki umur hampir kepala dua dala kirim waktu dua tahun lagi aku belum pernah merasakan diapelin bahasa gaulnya para remaja di eraku tumbuh
"teman" jawab ayah datar
dengan lirikan yang nyalang ayahku berucap dengan tegas
"silahkan"
degg jawaban singkat ayah mebuatku termangu
apa aku tidak salah mendengar jawab singkat ayah membuatku berbunga-bunga
tanpa bertanya untuk yang kedua kali akupun mengucapkan terimakasih kepada ayah dan berpamitan untuk mengabari temanku, sebenarnya teman yang aku maksud adalah ka Sutikna
dengan bermodalkan keyakinan dan cintanya dia hendak menyampaikan niatan baiknya untuk hubungan kami kedepan
malam harinya
tanpa banya drama kak Sutikna di sambut baik oleh ibuku dan sikap dingin ayahku
ditengah ketegangan
"Bapak dengan niat tulus serta izin dan restu dari Bapak saya ingin mempersunting anak Bapak" dengan lugas kak Sutikna memintaku kepada kedua orang tuaku
"kamu dan sely sudah memutuskan hal ini sebelumnya" tanya ayah dengan penuh selidik dan penekanan disetiap katanya
"iya Pak, tapi kami tetap membutuhkan izin dan restu dari bapak agar langkah yang kami ambil makin berkah" santun kak Sutikna menjawab pertanyaan ayah
aku yang sudah tersipu malu hanya mengangguk kan kepalaku dan dengan diam berdoa supaya restu kami dapat dari ayah dan ibu
"setelah menikah mau mau ajak anakku tinggal dimana?" monohok ayah tepat diulu hatiku
pasalanya aku sangat faham dengan keadaan kak Sutikna dan sang ibu
rumah yang masih menumpang di rumah bos yang punya ladang dikampung
tentunya jika kami menikah sudah dipastikan aku akan mengikuti kemana kaki suamiku melangkah
"sementara kami akan tinggal bersama ibuku pak dirumah juragan kami, tapi saya berjanji akan secepatnya mencari kontrakan supaya kami dapat menempati rumah yang lebih layak" jawab kak Sutikna mantap
__ADS_1
"menikahlah" jawab Ayah singkat
tak kusangka tanpa banyak drama Ayahku yang keras dan dingin ini memberikan restu dengan mantap
ditengah keterkejutanku
"menikahlah di KUA setempat, dana yang kalian punya bangunkanlah rumah impian kalian, ayah tidak mau permata hati ayah satu-satunya..." kalimat ayah terhenti dan dengan helaan nafas ayah menegaskan
"pokoknya menikahlah dan bangun rumah impian kalian" ayah pun bangkit dari duduknya dan langsung menuju kamar
keheningan terjadi didalam ruangan yang awalnya ada aku kak suitkna dan kedua orang tuaku sedetik kemudian suasana menjadi sangat dingin
"nak Ayahmu hanya sedikit syok pasti ia tak menyaka permata hati kecilnya sudah menjelma menjadi gadis yang siap menikah" belai ibu lembut padaku
"ibu bapak terimakasih saya pastikan tida akan mengecewakan ibu dan bapak" ucap kak Sutikna dengan mata yang berkaca-kaca terlihat kesungguhan dan ketulusan dari sorot matanya
setelah kak suitkna pamit pulang
ibu menghampiriku dikamar
"nakk sely putri ibu yang cantik dengarlah nak, ayahmu terlihat keras dari luar sebenarnya hatinya sangat lembut" jelas ibu kepadaku
"ayahmu takut melepaskanmu, takut kamu jatuh ke tangan yang salah, laki-laki itu adalah imam dalam rumah tangga, nahkoda dalam sebuah kapal" lanjut ibu
"dia lah penentu arah jalannya kapal kalian, kamu sebagai pendamping pun harus sigap apabila nahkodamu mulai salah arah nak" sambung ibu penuh kebijakan
akupun hanya menyimak dan meresapi setiap kata dan pesan dari ibu
aku yakin dibalik semua sikap ayah selama ini
ayah tak pernah ingin anaknya tersakiti dan merasa kekurangan
sungguh ayah aku sangat menyayangimu ingin rasanya aku berlari dan memeluk ayah saat ini
"nak pesan ayah yang tak bisa ia sampaikan langsung iya itu ayah sangat menyayangimu walau tidak ia ucapkan itu semua iya buktikan dengan tindakan" sambil menyodorkan map coklat dan tertera disana tulisan huruf besar dan berlogo burung Garuda
"ini sertifikat tanah yang sudah dari jauh hari ayahmu siapkan jika masa ini datang"
"simpanlah ini untukmu sendiri dahulu, jangan kamu bilang kepada siapapun, suatu saat kamu akan tahu kenapa ayah meminta ini kepadamu" belai ibu dikepala ku dengan lembut
dengan keheranan akupun menerima pemberian ibu dan ayah
tak lupa kupeluk erat ibuku yang mengandungku selama sembilan bulan dan menyusuiku selama dua tahun
dengan derai air mata terharu yang sudah membasahi bahu ibu
kurasakan tubuh ibupun sama sepertiku berguncang khas seperti orang menangis
---- flashback off ----
"dek sayang sely sely" suara kak Sutikna menyadarkan ku dari lamunan
"hahahaha kamu mau motornya jalan kemana lagi, ini sudah sampai sayang" ucap kak Sutikna menoleh kepadaku dengan tetap diatas motor dan tangan distang motor
"aaa apa sudah sampai hehehe" dengan cengengesan akupun membelalakkan mata pasalanya kami sudah sampai didepan gerbang gedung dimana aku akan menimba ilmu
"mau turun apa ikut mas kerja" goda kak Sutikna padaku
"iiihhh masa aku ikut kerja gak asik ahh, udah mas aku berangkat dulu iya" gegas aku sambar tangan suamiku kucium dengan takjim dan berlari kecil meninggalkan nya dihalaman depan gerbang
"sayang ehh sayang ada yang lupa" teriak kak Sutikna membuat semua mata yang ada di gerbang dan pejalan kaki menoleh bersamaan
"ituu itu tu" tunjuk kak Sutikna kekepalanya
aku yang keheranan hanya bisa mengangkat bahuku tanpa bingung
"apa" tanyaku dengan bibir bergerak dan tidak mengeluarkan suara takut akan menjadi bahan perhatian sama seperti suamiku yang berteriak tadi
aku raba kepalaku dan ternyata
aahhhh betapa malunya aku helm masih bertengger manis membungkus kepalaku
dengan tergesa aku copot dan kukembalikan kepada suami tercintaku
diiringi gelak tawa suamiku dan gerakan tangannya yang mengacak-acak pucuk kepalaku
"ahhh mas jilbabku nanti kusut" rajukku dengan bibir cemberut
"iiihhh cantiknya mas" towel jari telunjuk kak Sutikna ke ujung hidungku
kupalingkan wajahku yang sudah bak kepiting rebut rona merah tercetak nyata dikedua pipiku
ahhh pengantin baru rasanya masih malu-malu bertingkah romantis dan diperlakukan manis oleh suami sendiri
jam istirahat aku gunakan untuk mengunjungi Luna dikelasnya
setelah pernikahanku dan aku memutuskan untuk tinggal bersama suami di kampung suamiku yang jarak ke tempat kami les komputer lebih dekat dibandingkan jarak dari rumah orang tuaku ke mari, otomatis membuat aku dan Luna tidak menjadi partner berkendara lagi alias berangkat sendiri-sendiri
tak kulihat Luna didalam kelasnya
batinku bertanya-tanya biasanya jam istirahat akan Luna gunakan untuk belajar materi selanjutnya didalam kelas
pasalnya Luna sangat jarang suka keluar kelas atau membuang waktu dengan hal-hal yang tidak jelas
seperti memperhatikan lawan jenis yang lagi populer di tempat kami menimba ilmu ini
iya dengar-dengan ada seorang pria populer yang masuk ke tempat dimana kami menimba ilmu ini
"sesi maaf mau tanya lihat Luna enggak"
tanyaku kepada salah satu siswa yang aku kenal karna duduknya telat disebelah Luna
__ADS_1
"kak sely iya. enggak kak sudah dua hari ini tidak masuk" jawab sesi memberi penjelasan padaku
"ohhh gitu, ok makasih iya" jawabku manggut-manggut
dihatiku berkecamuk kekhawatiran kenapa Luna sampai tidak masuk kelas apakah ia tidak mempunyai kendaraan atau apa
ahhh anak itu membuatku sangat khawatir
gegas aku ambil benda pipih di tas selempang ku dan memencet sejumlah angka
tuttt tuttt tuttt
hanya bunyi itulah yang terdengar ditelinga ku
tak putus asa akuencoba beberapa kali menghubungi nomer Luna
hingga panggilan ke empat telfonku pun diangkat
"halo" suara seorang laki-laki dari sebrang telfon sana menjawab telfonku sedikit banyak aku hafal dengan suara laki-laki tersebut pasti bapak ajan bapak Luna yang mengangkat telfonku
tapi kenapa bukan Luna yang mengangkat telfonku batinku
apakah Luna sakit apa ada hal yang terlewat
ahh aku jadi bertambah khawatir dengan Luna
walau ia bukan adikku atau kami tidak memiliki ikatan darah tetapi bagiku Luna sudah seperti saudara Perempuanku karna sikap dan sifatnya sangat membuatku nyaman dan nyambung bahasa gaulnya kami frekuensi
"halo assalamualaikum Bapak, maaf lunanya ada" tanyaku sopan
"halo nak sely Luna sedang mengantar pesanan makaroni hpnya ditinggal dirumah" jawab bapak ajan bapak dari Luna
"oh gitu pak sely mau tanya boleh" takut-takut mau tak mau aku harus mencari jawaban dari rasa penasaranku
"boleh nak gimana" tanya bapak ajan balik kepadaku
"hmm gini pak, Luna sudah dua hari tidak masuk les apakah Luna sakit" tanyaku tulus
"Luna tidak sakit nak, motor kami satu-satunya masuk bengkel sementara menunggu diperbaiki jadi Luna libur dulu sampai motor jadi" jelas danterang bapak ajan kepadaku yang sudah kepalang penasaran dan khawatir kepada Luna
"ohh begitu hmm sampaikan salamku kepada Luna iya pak" pintaku
"iya nak sely" jawaban dari bapak ajan di sebrang sana
setelah menelfon Luna dan diberi jawaban oleh bapak ajan hatiku sedikit tenang walaupun kini ada kekhawatiran lain lagi mengenai kendaraan untuk Luna ketempat kami menimba ilmu
ahh aku ada ide biar nanti aku telfon lagi dan mendiskusikannya kepada Luna
semoga niat baikku iya terima
dengan perasaan yang sudah lega dan plong aku melangkahkan kaki ke ruang kelasku dan mulai membuka materi pelajaran untuk jam selanjutnya
hal ini sudah menjadi kebiasaan ku
kebiasaan yang ditularkan oleh Luna
gadis manis nan tangguh dan ulet
itulah penilaian ku terhadap Luna
dibalik kesederhanaan dan bersahajanya terselip perjuangan yang tak banyak orang yang tahu
demi pendidikan demi mimpi dan demi kedua orang tua terkasih
terkadang jalanan menuju tempat les atau menuju pulang kami gunakan untuk bertukar pikiran sekedar bercerita tentang perjuangan hidup dan mimpi-minpi indah yang membutuhkan extra kerja keras untuk mewujudkannya
aku maklum karna Luna maupun aku bukanlah terlahir dari keluarga Sultan atau kaya raya yang memiliki uang tidak berseri ibarat kata sangking banyaknya uang hampir bingung cara menghabiskan uang tersebut dengan cara apa lagi
sedangkan kami kebalikan bingung harus mengais rejeki dengan cara apalagi
walau berpeluh dan sering diselingi cacian dan julidan para emak-emak maupun tetangga dan kerabat tak menyurutkan niatku dan Luna dalam mencari rejeki dan ilmu
walaupun aku masih bisa dibilang lebih cukup dalam segi ekonomi dibandingkan keluarga Luna
tak membuat hubungan kami menjadi renggang dan canggung
banyak hal yang menari di dalam otakku
jika kata Luna diinput didalam sana pastilah banyak kosa kata yang menjabarkan tentang kata Luna dan sosok gadis manis tersebut
aahhh andaikan aku punya kakak laki-laki sudah pasti aku akan meminta ibu dan ayahku untuk meminang Luna guna menjadi keluarga atau kakak iparku
secara kami sangat kompak dalam hal apapun dan dalam hal bercanda pun Luna sangat se frekuensi denganku
bukan hanya denganku dengan ibuku pun Luna sangat dekat
tak jarang ibuku bercerita mengenai Luna atau sekedar menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Luna
padahal jarak antar rumah ibu dan luna tak begitu jauh
tiba-tiba aku mengingat hal lucu yang pernah kami alami di bengkel milik teman kak Sutikna dimana dengan jelas dan binar bahagia Luna mendoakan kami menjadi teman tapi menikah dan mengutarakan isi hatinya bahwa Luna sangat berharap jadi pagar pengantin dikala aku menikah
tapi ada daya mimpi menjadikan Luna pagar pengantin dipernikahanku harus kandas
karna pernikahan yang kami impikan digantikan dengan pernikahan sederhana di KUA setempat
walau hal ini tak mengurangi rasa bahagiaku dan kak Sutikna tapi tetap saja ada rasa lain yang mengganjal di lubuk hatiku
"bismillah semoga pilihanku tepat ya Allah" desisku pelan
entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu mengucapkan doa tersebut secara spontan dan sangat tulus dari lubuk hatiku
__ADS_1