
selama perjalanan menuju kampung halaman yang sangat Luna rindukan beserta semua anggota keluarga yang sangat Luna cintai
tak terasa perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan belas jam telah Luna tempuh
dengan perasaan yang berkecamuk didada Luna turun dari bus yang membawa tubuh beserta jiwa Luna dari perantauan hingga sampai ke kampung halaman
diloket bus tersebut tak nampak keluarga Luna yang menyambut atau sedekar menjemput kepulangan Luna dari tanah rantau
setitik beling lolos dari pelupuk mata Luna tatkala Luna menyaksikan disekeliling Luna para penumpang seperti Luna disambut meriah dengan suka cita oleh keluarga masing-masing
brukk
"upss sorry mbak, maaf saya gak lihat mbak berdiri disitu" ucap suara seorang pria menyadarkan Luna
Luna mengambil tas selempang yang tadi bergelayut Manja di bahunya kini telah tergeletak dilantai
"mbak maaf ada yang sakit kah" tanya pria tadi menyadarkan Luna jika Luna masih terpaku dan diam tidak menyahut permintaan maaf pria tersebut
"gak apa-apa mas, saya baik-baik saja" tanpa menoleh Luna menjawab lesu
dengan takut-takut salah mengenali orang si pria memberanikan diri untuk terus menyapa Luna
"maaf kamu Luna kan, anak SMANSA" tanya si pria sambil menyebutkan salah satu julukan nama asal sekolah Luna
dengan kening mengkerut dan tatapan tercengang Luna memperhatikan laki-laki tersebut
"hhmm iya benar, sebentar kamu" belum sempat melanjutkan pertanyaan Luna ke pada laki-laki yang berdiri dihadapan Luna dengan senyum sumringahnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali laki-laki tadi menyambar kalimat Luna
"iya aku Aldo si pengembala sapi" dengan mantap laki-laki yang bernama Aldo tadi memberi penjelasan kepada Luna
"ohh iya luar biasa kok bisa kamu disini, eh sebentar kamu dari mana mau kemana" cecar Luna
ternyata laki-laki yang tak sengaja menambrak Luna dari belakang hingga membuat tas selempang Luna terjatuh adalah salah satu teman luna semasa sekolah dahulu
dia adalah Aldo sipengembala sapi seperti yang Aldo sampaikan semasa sekolah dahulu Aldo lebih suka menggembala sapi selepas sekolah dari pada mengikuti teman sebayanya yang hobi nongkrong dipinggir jalan atau sekedar menghabiskan sisa uang jajan atau hasil palakan
"aku dari bus itu Lo, mau pulang kampung juga habis dari rantauan dapet kabar ibu sakit" mimik wajah Aldo mulai berubah murung dan tersirat disana kesenduan dan kekhawatiran yang mendalam terhadap keadaan ibunda tercinta
"hmm sabar iya. maaf bikin kamu sedih, bude sakit apa" tanyaluna turut prihatin
"aku belum tau, hanya dikabari kalau ibu sakit dan harus cepat pulang, kita ngobrol disitu yukk" usul Aldo kepada Luna
akhirnya Aldo dan Luna duduk dipojokan warung makan mie Indomie yang terletak masih disekitar wilayah bus yang mereka tumpangi
cerita mengalirlah dari dua muda-mudi yang sama-sama pulang dari tanah rantau itu
hingga bunyi alarm perut Bunya menyadarkan mereka berdua
bahwa cacing-cacing diperut telah menyatakan demonya karna sudah kelaparan karna keasikan Luna dan Aldo bercerita pengalaman di tanah rantau
Luna nyaman bercerita kepada Aldo karna Aldo salah satu teman masa sekolah putih abu-abu Luna tapi tetap Luna memilah dan memilih cerita apa yang pantas disampaikan dan pantas menjadi rahasia karna Luna anggap sebagai aib keluarga
krukkk krukkk krukkk
"Luna caing diperutmu berdemo iya, masih seperti dulu kalau laper itu perut berisik aja" kekeh Aldo
Luna tak marah ataupun kesal pasalanya memang suka menjadi kebiasaan diperut milik Luna
cacing-cacing diperutnya suka melakukan aksi demo apabila sipemilik perut kelaparan
"haduhhh kebiasaan hayuu makan dulu lah, pesen Indomie kuah pedas enak kayaknya" ajak Luna dengan tak kalah geli oleh tingkah perutnya
"mantappp aku yang goreng ajalah" pilih Aldo
setelah memesan menu favorit masing-masing Indomie kuah pedas dan segelas teh hangat telah tandas Luna santap
dengan mengelap peluh yang mulai membanjiri keningnya Luna berucap hamdalah dan memperhatikan Aldo
dengan bersendawa Aldo memanggil ibu pemilik warung dan menyerahkan selembar uang berwarna biru
"Buu semua berapa Indomie kuah pedas satu, Indomie goreng satu, jeruk hangat satu es teh jeruk satu" cerocos Aldo
Aldo anak juragan sapi didesanya walau terkenal tidak suka nongkrong-nongrong tak jelas sebenarnya Aldo adalah pribadi yang loyal dan rendah hati kekayaan tidak membuat Aldo menjadi anak yang sombong dan congkak, Aldo berteman dengan siapun tanpa memandang kasta dan harta
"ehhh biar aku"
"sssstt sudah biar aku traktir kali ini, besok-besok gantian iya, jangan sape kamu lewatkan kesempatan aku traktir" ucap Aldo menyela perkataan Luna
"ciee pengembala sapi mau jadi juragan mie kayaknya" canda Luna
setelah makan dan bercanda ria
Luna dan aldo dikejutkan dengan sapaan dari seorang pria paruh baya
"mas Aldo disini dari tadi mamang cariin, maaf menunggu lama iya mas" ucap pria paruh baya yang bernama mang Asep sopir pribadi keluarga Aldo
__ADS_1
"mamang sudah sampe to maaf mang Kana dulu, mamang sudah makan, mau dipesanin apa" tanya Aldo, Aldo sangat perhatian kepada keluarga dan orang sekitarnya sedari kecil Aldo diajarkan oleh orang tuanya untuk welas kasih dan berempati kepada sesama
"mamang sudah makan, mobil sudah siap mas kalau mau langsung otw (on the way)" tawar mang kepada mas Aldo anak dari majikannya
"boleh mang, oh iya luna kamu pulang dijemput atau gimana" tanya aldo kepada Luna yang sedari tadi diam menyimak obrolan Aldo dan mang Asep
"eeh aku itu aku em anu" jawab Luna tergagap pasalnya Luna baru ingat bahwa tak ada seorang keluargapun yang menjemput Luna mau menunggu trapel atau bus Luna sejenak lupa karna pertemuannya dengan Aldo yang tidak disengaja
"anu anu anu kamu mau bareng sama aku hayoo, masih ada kursi kosong kan mang, temen aku ini kalau duduk ngabisin bangku ahahha" sindir Aldo kepada Luna
"hahaha masih mas bisa buat main bola voly kok tempat duduknya" canda mang Asep yang memang pribadinya gemar bercanda umur boleh tua tapi jiwa muda begitulah kira-kira pemikiran mang Asep
tak ayal mang Asep kalau sudah bertemu Aldo bisa sefrekuensi dalam bercanda
"yeee aku tuu gak ngabisin tempat duduk iya manalah bisa aku makan itu kursi mobilmu Aldo ilahi" seloroh luna sambil melotot kan mata dan mencubit lengan Aldo
Aldo ilahi Luna suka sekali memanggil Aldo dengan panggilan Aldo ilahi selain Aldo sipengembala sapi sebab Aldo diberi nama oleh kedua orang tuanya Aldo Ibrahim entahengapa dengan Luna nama itu menjadi Aldo ilahi atau Aldo sipengembala sapi
walau desa Luna dan Aldo berbeda tak mengurungkan rencana kedua muda-mudi tersebut untuk bersama masuk kedalam mobil yang di kemudian oleh mang Asep
diperjalanan nampak Luna mulai merasakan kantuk yang teramat sangat matanya berat seakan tidak bisa diajak berkompromi
maklum biasa penyakit seseorang itu akan kumat ngantuknya apa bila perut dalam keadaan kenyang atau terisi
tak terasa satu jam setelah perjalanan Luna dan Aldo dari loket bus dikota menuju kampung halaman Luna membuahkan hasil
sampai digerbang perkampungan Luna
"Luna Luna yuhuuu Luna meyaa Luna meyaa" tepuk kan sedikit keras dibahu Luna rasakan
"ehh copot ehh copot eehh copot" latah Luna terkejut
"apanya yang copot copot" canda Aldo
"anu anu ehh ihh Aldo nagetin aja" dengan Waja garang luna menatap Aldo
"noooh sudah sampai digerbang kematian, rumah kamu sebelah mana". tanya Aldo memonyongkan bibir
"ini gerbang surga bukan neraka, banyak bidadari didalam sana" Luna menyombongkan gerbang kampungnya
"hahaha" Aldo dan mang Asep kompak tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang pastinya tidak sakit
Luna yang melihat kekompakan Aldo dan mang Asep pun ikut tertawa geli
"hehehe sudah shayy makasih iya tumpangannya, semoga makin cantik dan makmur" celoteh Luna sambil membuka pintu samping mobil lalu membungkuk tanda hormat
"okay bro" dengan mengajungkan jempol Aldo menjawab singkat
"dada Luna salam buat bapakmu, sehat selalu" ujar mang Asep sambil membunyikan dua kali klakson mobil pertanda pamit kepada Luna
"iya mang, dada semua" Luna melambaikan tangannya dengan senyum tersemat dibibirnha
bertemu dengan mang Asep dan Aldo membuat hiburan tersendiri didalam hidup Luna hari ini
sedikit mengurasi rasa sesak yang membuncah didada
dengan berjala satai Luna menyusuri jalanan menuju rumahnya dari gapura desa tak membutuhkan waktu yang lama untuk membawa kaki Luna Samapi ditujuannya
kini didepannya telah terpampang gapura seolah dasar didesanya
dimana orang tua Luna yang notabene adalah seorang penjaga sekolah mendapatkan fasilitas rumah tinggal dilingkungan sekolah tepatnya di belakang bangunan sekolah.
agar membuat kerja sang ayah menjadi lebih efisien dalam menjaga keamanan dan kebersihan sekolah
"bismillah" dengan mantap Lunaenuju rumah mungilnya
"assalamualaikum Ibu Bapak" sapa Luna didepan pintu yang terbuka lebar
perlu mengulang beberapa kali sapaan untuk menaati jawaban dari dalam rumah tetapi yang didapat Luna adalah jawaban dari samping rumah
tubuh lelaki paru baya terlihat berjalan dengan memegang satu tengkuit di tangan kanan dan beberapa rumput di tangan kirinya
dengan langkah tergesa dan terkejut mematung melihat sosok didepannya
tubuh tua itu terpaku dengan mata berkaca-kaca dia lepaskan apa yang ada di genggamannya dan mengusap ke sudut sudut bajunya serta berlari
"Luna anak bapak" sang bapak merentangkan tangannya dan berlaku memeluk tubuh Luna dengan penuh kerinduan dan kasih sayang
"Bapak" lirih Luna tak kalah tersedu
setelah drama Tangis menangis melepas kerinduan Luna dan sang bapak dikejutkan denga lengkingan suara ibu Luna
"pulang kerumah bisanya bawa malu kamu Luna" teriak sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca dan menujuk Luna
"ibu malu sama kamu, mau ditaruh dimana muka ibu" Raung sang ibu
__ADS_1
"buuu maksud ibu apa" lirih Luna bertanya
"Bu sudah anak kita baru sampai biarkan dia beristirahat" ucap sang bapak kepada ibu Luna
"ini lah didikanmu pak selalu bela anakmu apa bila aku sedang mendidiknya" garang sang ibu meluapkan emosinya
setelah ketegangan yang berlangsung cukup lama
di ruang tengah terduduk lah Luna dan kedua orang tuanya
seorang guru yang tinggal diperumahan disan disebelah Luna menengahi dan memulai diskusi keluarga tersebut
"Luna apakabar nak, apa kamu sehat"
ucap ibu Rini seorang guru agama di sekolah tempat bapak ajan ayah Luna bekerja sebagai penjaga sekolah
"Alhamdulillah Bu baik" jawab Luna tersenyum tak ada lagi butiran air mata yang meleleh dipipinya tapi mata sembab akibat menangis masih tampak jelas disana
"nak maaf ibu Rini disini sebagai penengah buat keluargamu mau nyampaikan sesuatu dan lain hal ibumu dapat kabar dari jakarta kalau kamu....."
mengalir lah cerita Bu Rini mengenai kabar yang terdengar ditelinga ibu Wati ibu Luna dari sang pakde Kardi
dikabarkan bahwa Luna selama di perantauan berubah menjadi anak yang pembangkang dan terlena dengan pergaulan dari yang menginginkan hidup terpisah dan berteman dengan anak-anak punk, berteman dengan beberapa anak yang mantan pengguna dan masih pengguna aktif barang haram baik a#u atau narkoboi
dari Luna yang membuat gaduh ditempat bekerja karna kedapatan mencuri dan merugikan tempat Luna bekerja
sehingga pakde Kardi lah yang harus menyelesaikan semua permasalahan Luna dan membayarkan sejumlah ganti ruginkpda perusahaan dimana Luna bekerja
hingga kabar terbaru
sebelum Luna pulang kampung handphone milik pake Kardi Luna curi dan dijual di konter terdekat beruntung pakde Kardi masih bisa menebusnya walau pakde kari mengalami banyak kerugian materi tapi pake Kardi tidak keberatan untuk melakukan emua hal tersebut demi keselamatan Luna
bak disambar petir disiang bolong dan dihantam bebatuan gunung
hati Luna penuh sesak oleh kepedihan sebgitu bencinya kah pakde Kardi sehingga menyebarkan berita bohong mengenai Luna kepada ibu dan bapak Luna sendiri yang notabene adalah keluarganya sendiri
dengan iak tangis dan derai air mata tak menyurutkan niat Luna untuk membongkar semua kebohongan dan fitnah sang pakde Kardi
tanpa bicara banyak Luna mengambil handphone jadul miliknya dan memencet sebuah nama dan menelfon deretan angka
tutt tutt tutt
"assalamualaikum nduk cak ayu Luna, kamu sudah sampai nak" suara seorang wanita keluar dari handphone jadul milik Luna
"waalaikumsalam Alhamdulillah Bu Tini Luna udah sampai dengan selamat dan sehat" jawab Luna berbinar tak menunggu waktu lama Luna menyampaikan tujuannya dan meminta bantuan bude Tini tetangga sebelah rumah pakde Kardi dan bude yus untuk mengklarifikasi berita mengenai permasalahannya dengan sang ibu
setelah penjelasan panjang lebar kali tinggi tidak ada perlawanan atau bantahan dari mulut sang ibu
yang terlihat hanya mata yang berkaca-kaca menahan tangis dan bibir yang mulai gemetar
lalu Luna menyodorkan surat pakelaring dan surat rekomendasi dari bos besarnya yaitu MR. WHY disitu tertulis nyata bahwa Luna bisa menggunakan surat tersebut untuk tujuan bergabung kembali dengan resto eropa tersebut kapanpun Luna mau
pecah tangis sang ibu kini hanya mampu meratap dengan bibir terkatup menyesal telah tertambat menyadari bahwa dirinya dan sang anak telah diadu domba oleh keluarga sendiri
tanpa kata sang ibu menyambar handphone yang tergeletak diatas nakas ekat tv yang tak jaul
entah apa yang akan dilakukan sang ibu semua mata diruang itu hanya dapat menatap dalam diam dan Isak Tangi kecil lolos dari mulut Luna
"mas Kardi tega kamu sama kami apa salah Luna dan keluarga ku padamu" jerit sang ibu
ternyata sang ibu mnelfon pakde Kardi
belum sempat mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada pakde Kardi tiba-tiba tangan kekar yang sudah nampak urat-urat menonjol menyambar handphone milik Bu Wati
"mas Kardi mulai sekarang dan selanjutnya kita urus khidupan keluarga masing-masing jangan harap aku maafkanmu" ucap tegas bapak ajan kepada pakde Kardi
"........."
"kami sudah tau semua, kamu bisa meracuni pikiran istriku tapi tidak denganku, diamku kau sepelekan, ingat hutangmu kepada anakku kami anggap sedekah untuk kematian mu" dengan warah mengeras sang ayah bapak ajan memperingatkan pakde Kardi tanpa menunggu jawaban dari pakde kardi telfon dimatikan secara sepihak oleh ayah Luna
"sudah Bu, aku akan selalu memaafkan mu, sudah ku peringatkan jika mengenai anak kita harusnya kita berada dilihatnya tau minim mendengarkan dulu penjelasannya" bijak pak ajan sampaikan kepada istrinya tercinta
drama keluarga Cemara deraian airmata kini ditutup dengan berpelukan antara ibu dan anak
tanpa kata dan saling menyalahkan
yang ada pelukan kasih dan sayang bercampur penyesalan karna telah dengan mudahnya terhasut dengan berita yang tak benar mengenai anak gadis semata wayangnya
ketegasan dari seorang Ayah pula yang telah membuat permasalahan ini tidak berlarut-larut
sungguh Luna beruntung memiliki ayah seperti bapak ajan
sosok yang sangat menyayanginya dan mendukung semua hal baik yang Luna upayakan
bapak ajan mewakili defenisi cinta pertama seorang putri atau anak adalah ayah nya ❤️❤️
__ADS_1
bersambung