Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua

Teman Tapi Menikah - Restu Orang Tua
sukses menjadi PNS


__ADS_3

tak terasa waktu berlalu sudah tiga minggu Luna berada dikampung halaman tanah kelahiran Luna


hubungan antar ibu dan anak kembali menghangat, pada dasarnya ibu Luna adalah seorang ibu yang hangat dan penyayang hanya satu sisi sikap ibu Luna yang terkadang menguji kesabaran yang ayah Luna


yaitu sangat gampang percaya dengan orang yang sudah dianggap baik dan keluarga


sering kali ibu Luna tertipu dengan sikap beberapa saudara yang datang kerumah mengiba mencari simpatik ibu Luna guna memuluskan modus mereka entah itu meminjam sejumlah uang atau perhiasan


hingga sampai saat ini belum ada satupun dari keluarga yang beritikad baik untuk mengembalikan atau mencicil pinjaman mereka tersebut


bila dibahas atau ibu luna meminta dikembalikan apa yang mereka pinjam tidak segan mereka akan membuat keributan dan membawa-bawa atas nama ikatan keluarga suapaya mereka terbebas dari tanggung jawab membayar hutang


semua itu terkadang dilakukan ibu Luna tanpa sepengetahuan ayah Luna


karna hati ibu Luna yang terkadang gampang sekali goyah melihat orang lain apalagi keluarga sendiri dalam kesulitan


selama tiga Minggu ini luna memiliki jabatan dan trobosan baru yaitu menjadi seorang PNS dadakan atau lebih sering bisa disebut dengan Pagi Nunggu Sore pengangguran abadi


selama itupula Luna membantu kegiatan ayahnya dari membersihkan halaman sekolah dipagi hari, membuka pintu kelas dan mencuci gelas atau piring dikantor dewan guru


sore itu tampak Luna mengendarai sepeda kesayangannya berwarna ungu


Luna ingin berkeliling disekitar tempat tinggalnya guna mengenang masa kanak-kanak yang sangat manis di ingatan Luna


"eehhh Luna sini mampir" sorak sorak beberapa ibu di lapangan bola voly berteriak kepada Luna


dengan tangkas Luna mengerem sepeda butut yang tak lagi konclong


"iya buuu RT" dengan sopan Luna menghampiri ibu RT Nuni setelah menyenderkan sepedanya pada pohon akasia disekitar lapangan bola voly


"kamu udah balik dari jakarta udah lama gak keliatan, besok ikut main voly yuk ke desa sebelah" bujuk ibu RT Rini selalu ketua kelompok grup volly di RT 04 tempat Luna tinggal


disini kegiatan ibu-ibu maupun remaja putri sangat berjalan selaras dengan kegiatan bapak-bapak dan remaja putra


didesa ini tersedia berbagai kegiatan olah raga dan kesenian serta kegiatan ibu-ibu PKK


"apa boleh Bu, kalau boleh ikut latihan dulu bisa kan" pinta Luna sambil memasang wajah imut dan mengedipkan beberapa kali matanya supaya ibu RT terayu oleh bujukan rayu Luna


" ohh jelas hayu gas keun sekarang latihan, sepedamu taruk situ aja gak akan hilang, kalau kamu yang ditaru sembarangan baru hilang" kelakar Ibu RT di sambut tawa beberapa ibu-ibu dan penonton voly yang rata-rata adalah ibu-ibu gosip yang menjadi team hore meramaikan suasana permainan voly ini


lapangan voly yang memiliki beberapa pohon akasia yang rindang selain dijadikan ajang berteduh beberapa pedagang es dan sosis dijadikan pula ajang bergosip ria para emak-emak jilid


"ehh ibu-ibu ada anak kota balik kampung, awas nanti lengannya lecet Lo secara kan udah mulus, hati-hati investasinya nanti sia-sia loh" Ibu Retno seorang ibu tambun mengawali kejulitan sore ibu


ibu Retno pula sebagai kepa bigos atau biang gosip di kampung ini


"waaahh bisa berkurang dong pemasukan kalau lecet" jawab ibu jujum yang terkadang merangkap asisten bigos dan jubir ibu Retno


"ehhh Bu Ratno kita yang paling pemanasan kok dibangku penonton yang panas" seloroh Wiwin gadis tomboy musuh bebuyutan ibu Retno


"eh bukan laki bukan perempuan bukan diem aja kamu iya, ikut-ikutan aja" balas Bu jujum dengan sengit


Bu Retno yang memulai sudah tampak santai sambil menyomot beberapa sosis goreng yang di jual oleh Bu Lara


"yeee situ gak jelas PNS abadi aja sok-an jadi jubir si Bigos" timpal Wiwin tak mau kalah dengan tetap memperhatikan pasing bola tapi mulutnya dengan lancar membalas setiap perkataan Bu Ratna dan bu jujum yang terkenal sebagai bigos biang gosip dikampung mereka


"pantes belum kawin-kawin makhluk jadi-jadian kayak kamu gak akan bisa tuu jualan kayak si Luna" tunjuk bibir Bu Retno dengan mulut penuh sosis dan tangan kiri memegang es tangan kanan memegang tusukan sosis goreng


"waduh Bu ibu maksudnya jualan apa iya" tanya Luna dengan wajah bingung


tak ayal pasing voly yang diharapkan dapat memanaskan tubuh supaya tidak kaku dan mengalami keseleo alhasil menjadi ajang pemanasan mulut karna dimulai oleh ibu Retno and the gang


"iyaa jualan apa lagi kalau bukan anu anu" jawab jujum memonyong-monyongkan mulutnya


semua ibu-ibu dan remaja yang awalnya fokus melihat pemanasan voly kini fokusnya teralihkan keributan besar yang akan dimulai sore ini


semua penonton merapatkan barisan memasang mata dan telinga dengan tajam


seolah sedang menonton pertandingan besar maklum sudah biasa ibu-ibu di desa ini melihat drama bigos yang dibawakan Bu Retno and the gang


"Bu Retno dan Bu jujum bisa jelasin dirumah saya tuduhan yang tak berdasar yang sudah kalian ucapkan" tegas Bu RT dengan mata nyalang siap menerkam mangsa

__ADS_1


Bu Retno dan Bu jujum yang awalnya songong dan berkacak pinggang tiba-tiba melehan dan mulai gelagapan


"ehh apaan sih Bu RT ini serius banget orang lunanya aja santai" elak Bu Retno


"ho ohh ni Bu RT gak asik" timbal Bu jujum


"Bu Retno dan Bu jujum ini bukan ajang bercanda iya, Luna baru gabung disini tiba-tiba kalian gosipin begitu, kalian melukai harga diri Luna sebagai seorang gadis" ucap Bu RT tegas


"iya Bu saya gak merasa buat masalah sama kalian tapi kalian menyenggol saya maksudnya saya jualan apa" cecar Lunainta penjelasan kepada kedua bigos kampung


"kamu balik dari jakarta dirumah aja gak kerja tapi ibumu kalua belanja banyak-banyak terus itu duit dari mana dari pohon" ucap Bu Retno lantang


"wahhh gak beres ini"


"iya iya duit dari mana iya"


"bisa jadi Luna beneran jualan"


bisik-bisik kecil namun tetap terdengar diindra pendengaran Luna dan semua ibu-ibu di lapangan voly


"apa hubungannya ibuku belanja banyak dan Luna jualan Bu, asal ibu tau ibuku belanja pakai uangnya sendiri bukan duit ibu atau Luna" tegas luna membela diri


"hala kita tau Lo apa aja yang ibumu beli sebelum kamu pulang kampung, biasa masak tempe tahu kangkung, kenapa sekarang sering beli ikan, ayam dan daging hayo duit darimana" tunjuk-tunjuk ibu jujum bersemangat


"iya jawab duit dari mana kalau bukan kamu jualan di luar sana" semangat empat lima Bu Retno memprovokasi orang-orang sekitar supaya mempercayai kata-katanya


"Buu emg kerjaan saya selama disini PNS alias pagi nunggu sore tapi bapak ibuku kan punya penghasilan, apa salah kalau kami makan ikan, ayam dan daging, salahnya dimana" lirih Luna mulai berkaca-kaca


Tak disangka Luna ibu-bapaknya begitu sangat menjaga pengeluaran selama Luna bekerja di ibu kota hanya karna takut apa yang mereka makan tidak dapat ikut dinikmati anaknya yang ada di perantauan


"salah dong kalau belinya pake hasil gak bener"sewot Bu Retno dan Bu jujum serempak sungguh mereka adalah pasangan terserasi dan kompaknya abadi jika menyangkut gosip yang beredar


"sudah sudah semua bubar Bu Retno dan Bu jujum mau permasalahan panjang atau pendek, kalau mau panjang panggil suami kalian untuk ikut menyelesaikan masalah ini..."


"apa suami, maksud Bu RT apa" belum sempat ibu RT melanjutkan perintahnya sudah dipotong oleh Bu Retno dan Bu jujum


" iya lah biar mereka bertanggung jawab dengan mulut kalian" tunjuk ibu RT


"minta maaf sama Luna dan biarkan kami lanjutkan permainan dengan tenang tanpa gosip dari kalian" dengan bersedekah bu RT memerintah Bu Retno dan Bu jujum


Bu RT sudah sangat faham dengan kedua sifat wanita ajaib didepannya ini


mereka memiliki sifat iri hati dengan level sepuluh.


sedih melihat tetangganya senang, senang memilah tetangganya sedih


ibaratnya ada tetangga beli kipas baru mereka yang akan kepanasan, apa bila beli kompor baru mereka yang akan kebakaran jenggot begitulah ajaibnya sifat kedua wanita ajaib didepannya


tapi mereka akan menjadi kerupuk yang melempem apa lagi sudah berada didepan pawangnya yaitu suaminya masing-masing


karna suaminya mang Togar panggilannya sangat tegas dan garang kalau sudah menyakut keajaiban istrinya


selama menikah dan tinggal dikampung ini tak ayal banyak gosip yang tak terbukti kebenarannya telah disebarkan oleh pasangan ajaib Bu Retno dan Bu jujum


dengan drama ancam mengancam akhirnya keributan tak berlanjut


diakhiri dengan sorakan dari suporter ibu RT dan Luna keramaian pun terurai


huuuu huuuu bigos bigos


begitulah beberapa teriakan dari ibu-ibu dan muda-mudi yang kompak menyoraki Bu Retno dan Bu jujum


" huu hu huu juga wekk" ledek Bu Retno tak mau kalah


disentaknya tangan Bu jujum dan


"hayuu jeng cuss kita pergi dari sini gatel lama-lama Deket sama orang-orang kismin" celoteh Bu Retno


"ehh ehh enak aja Bu Retno bayar dulu ini sosis sama esnya main kabur aja" ucap seorang ibu penjual sosis dan es dimana sosis yang di pajang sudah berpindah ke dalam perut Bu Retno dan menyusahkan tusuk-tusuk sosis yang bertebaran dibawah kedua kakinya


"iiihh apaan sih sosis begini doang, dirumah aku ada sosis mahal rasa daging biasa aja" ucap Bu Retno ketus

__ADS_1


"iya udah bayar tuu tusukannya hitung semua daa dua puluh lima tusuk dan es dua bungkus jadi total tiga puluh ribu rupiah Bu Retno yang cantik kaya balbie" ucap penjaul sosis bakar sambil menodongka tangannya di hadapan Bu Retno


"iya besok tak bayar" sambil berlalu Bu Retno mengacuhkan penjual sosis tersebut


"bang Tigor bang Tigor bini mu jajan gak mau bayar" teriak Bu penjual sosis melambaikan kesini jalan dimana bang Tigor sedang lewat dengan motor antiknya


dengan gelagapan Bu Retno mengeluarkan uang selembang dua puluhan dan selembang sepuluh ribuan dan berlari meninggalkan Bu jujum yang terpaku menatap yang Bestie yang sudah meninggalkannya


tak ayal kejadian tersebut menjadi tontonan dan gelak tawa oleh para penonton dan semua ibu-ibu dan muda-mudi yang ada dilapangan


begitupun dengan Luna walau awalnya ada rasa kesal dan sakit hati tapi kerja kejadian yang membagongkan ini membuat lunapun larut dalam tawa


"hahah hahaha haa Bu jujum gak ikut lari" goda salah seorang ibu dari dalam lapangan


"ngapain lari nanti aku keringetan" dengan centil Bu jujum melenggak lenggokan kakinya menyusuri jala dipinggir lapangan


"lari dari kenyataan aja Bu gak keringetan tapi kepedihan hahaha"


hahahhaah hahaha


sereceh ini hiburan yang didapatkan Luna setelah tiga Minggu berhibernasi dirumah saja tanpa kegiatan apapun


dirumah Luna benar-benar sudah seperti seorang PNS abadi yaitu pagi nunggu sore alias pengangguran


karna pekerjaan rumah telah dikerjakan oleh ibunya dari pagi buta dan ayahnya pun mengerjakan rutinitas seperti biasa dan sering kali meminta Luna untuk beristirahat saja atau menonton tv


seperti itulah anak gadis kesayangan sematawayang dari pasangan bapak ajan dan ibu Wati menikmati hidup


karna bapak ajan sering berucap


"kamu adalah tanggung jawab bapak selama kamu masih sendiri nak"


"setah kamu menikah nanti tanggung jawab bapak kepadamu akan bapak serahkan kepada suamimu"


"semoga kamu mendapatkan pasangan yang sayang dunia akhirat" sambil mengelus pucuk kepala Luna dengan kasih sayang begitulah untaian kata yang sering disampaikan oleh bapak ajan kepada luna


mengingat semua hal manis itu membuat kedua pelupuk mata Luna memanas dan setitik air mata lolos dari kedua bola mata manis milik Luna


setelah pemanasan dan permainan bola voly yang sangat menguras tenaga Luna


permainan pun usai penonton da pemain membubarkan diri masing-masing


"Luna besok ngumpul dirumah ibu jam setengah tiga iya, baju seragam ada dirumah" perintah ibu RT


"baik Bu siap" jawab Luna hormat persis sekali seperti hormat kepada Bendera pusaka


jawaban dari Luna hanya disambut gelak tawa dari Bu RT dan beberapa ibu yang belum membubarkan diri


"Luna kamu mau jadi seorang PNS pagi nunggu sore abadi atau ada renca lain" tanya Bu RT serius


"hmm belum tau Bu, saya belum bicara lagi sama bapak dan ibu setelah ini saya mau ngapain dan gimana hehe" Luna tersipu dan terkekeh menjawab pertanyaan serius ibu RT


"kalau kamu mau kami bisa ikut kursus bareng anak ibu ke kota, gak setiap hari kok seminggu hanya tiga kali pertemuan" usul Bu RT kepada Luna


"nanti coba kamu diskusikan kepada kedua orang tuamu dan nanti ibu dan bapak berkunjung bawa brosurnya gimana" tawar Bu RT


belum selesai satu pertanyaan disusul dengan pertanyaan lainnya


"nanti masalah pendaftaran dan biaya bisa kita diskusikan sekalian Luna, ini kesempatan bagus buat kamu, supaya lebih berkembang dan menambah pengetahuan" cecar Bu RT


"menguasai komputer itu sangat penting demi masa depan anak muda jama sekarang, anak-anak ibu contohnya sekarang ibu ikut melek teknologi karna Meraka" sedikit cushatan dari ibu RT


"hehe Buu Luna kapan jawabnya" tanya Luna dengan malu-malu


"lah iya maaf-maaf ibu terlalu bersemangat pingin lihat kamu lebih maju dan berkembang kamu Anka yang cerdas Luna" belai ibu RT penuh kasih seperti memperlakukan anaknya sendiri


"iya bu saya faham, ditunggu kunjungannya dirumah iya Bu, terimakasih sudah sangat perhatian sama Luna" ucap Luna tulus dari lubuk hati yang paling dalam


karna Bu RT yang notabene adalah orang lain tetapi tulus menyayangi Luna dan perhatian dengan keluarga Luna yang terkadang dipandang sebelah mata oleh beberapa orang yang mengaku-ngaku orang kaya


padahal masih banyak orang kaya sungguhan yang mampu menghargai dan menghormati sesama tanpa memandang kasta harta dan wanita eh maksud author tahta

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2