![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and Commenting☆
Jam menunjukkan pukul 18.53, aku duduk didepan teras, menunggu kedatangan Temmy.
Malam itu aku memakai vintage dress motif floral dengan panjang selutut.
Jika berpergian bersama Temmy, aku memang suka memakai setelan model vintage dress selutut atau sweater big size yang membuat hampir setengah badanku tenggelam. Lalu biasa juga dengan bawahan berupa jeans agak longgar yang digulung hingga mata kaki.
Aku berpakaian seperti itu bukan untuk menarik perhatian Temmy atau siapapun, tapi karena tinggi badanku tidak mencapai 160 centi meter makanya aku memakai pakaian yang tidak membuat tubuhku 'dimakan' oleh pakaian.
Sesekali aku bersenandung kecil demi menyela waktu.
Aku bangun dari kursi dan melihat-lihat keluar pagar, untuk memastikan kedatangan Temmy.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian aku melihat sorotan cahaya lampu mobil dari arah samping pagar rumah. Itu mobil Temmy. Aku tersenyum senang. Dengan cepat aku berlari pelan kearah pagar dan membukannya. Mobilnya berhenti dan menepi tepat di sisi tembok pagar rumahku.
"Welcome!"seruku menyapa.
Temmy yang masih berada didalam mobil, membuka kaca jendela mobilnya, "Hai sayangku, sang pangeran datang."seloroh Temmy sambil tersenyum lebar memamerkan gigi gingsulnya.
"Kudanya mana atuh? Pangeran kok pake mobil."ujarku mengejeknya.
"Kudanya habis lahiran, jadi pake mobil dulu."sahutnya santai.
Aku tertawa pelan. Lalu memintanya untuk menunggu sebentar diluar, sedangkan aku berlari cepat kedalam rumah untuk mengambil sling bag-ku dikamar.
Ibu yang melihatku terburu-buru keluar, berdehem keras
"Pelan-pelan, neng. Temmy mah nggak lari atuh"katanya menggodaku.
Aku berbalik badan ke arah Ibu dan menyalim tangannya.
"Gita pergi dulu. Dah... Ibu!"ujarku dengan cepat.
"Iya. hati-hati ya, neng."kata Ibu.
Akupun pergi keluar menemui Temmy.
"Ayok, entar kemalaman."pintaku pada Temmy agar menyalakan mesin mobilnya untuk pergi seawal mungkin supaya tidak pulang kemalaman.
"Ok, Princess. Meluncur!"
Mobil pun pergi meninggalkan halaman rumahku.
☆☆☆
"Gimana kuliahnya? Lancar?"tanya Temmy, sambil melihat kearahku. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum kecil.
"Skripsi kamu gimana? Lancar?"tanyaku kembali, membuat Temmy berdehem keras hingga 2 kali, seperti orang yang tersedak.
Aku tertawa melihat kekonyolannya.
"Lancar dong."jawabnya kemudian. Dia terlihat santai
"Jadi, kapan maju sidang?"tanyaku lagi.
"Mmm... kemungkinan awal bulan depan sih, soalnya kebetulan dosen pembimbing satu aku itu mau pindah keluar kota, jadi dia minta aku sidang diawal bulan gitu."
"Berarti kamu bakalan wisuda tahun ini juga dong?"
"Ya.. mungkin."
"Kok mungkin terus?"
"Kan kamu tahu, sayang, dosen aku dua-duanya cerewet banget kayak kamu. Draft-nya dicoret sana sini, padahal isinya kan permintaan mereka juga. Belum lagi permintaannya aneh-aneh. Harus ini harus itu. Banyak deh."
__ADS_1
Aku tertawa renyah mendengar keluhan Temmy. Bagaimana tidak, dia malah terlihat seperti diriku jika sedang mengomel.
"Oh ya, sayang. Minggu depan, Erik dan Lena ngajak kita liburan ke Batu loh. Kita ikutan nggak?"tanya Temmy kemudian.
"Kalo minggu depan jam kuliah aku emang lagi kosong sih, kan tinggal persiapan ujian doang. Cuma nggak tahu nih, takutnya Ibu ada perlu pas aku lagi libur."
Mendengar penjelasanku tadi membuat Temmy terlihat berpikir sejenak. Ia tetap fokus untuk menyetir mobil.
"Hm, kalo kamu nggak ikut, aku juga nggak bakalan ikut."ujarnya tanpa melihat kearahku.
"Loh? Kenapa? Kan aku juga belum bisa memastikan bisa ikut atau nggak."
"Masalahnya adalah... masa aku harus jadi obat nyamuk antara mereka. Lagian aku kan nggak bisa tanpa kamu."
Aku tersenyum kecut, "Gombal."ketusku.
Temmy melirikku dan tertawa, "kok gombal, sih? Sejak kapan coba aku bepergian tanpa kamu? Kecuali kekampus. Kan kita beda kampus."katanya membantah tuduhanku.
Aku berpaling muka kearah luar jendela. Kulihat banyak cahaya kendaraan yang berlalu lalang disampingku.
"Kamu... sesayang itu sama aku?"ucapku sembari tersenyum tipis
Temmy kembali menoleh padaku sejenak.
"Aku nggak bakalan bosan bilang ini ke kamu, sampai ribuan atau bahkan jutaan kali. Aku benar-benar sayang sama kamu."ujarnya meyakinkan.
Aku memutar kepalaku melihatnya. Aku melihatnya sedang tersenyum disana.
"Aku juga sayang kamu."balasku, juga tersenyum.
Tak berapa lama kami pun sampai disebuah cafe yang terletak disebuah bukit kecil. Setelah memarkirkan mobil ditempat parkiran, kami berdua menaiki tangga batu menuju ruang cafe. Sebenarnya tidak sepenuhnya ruang, karena cafe ini berada dialam terbuka. Dikelilingi oleh pohon-pohon pinus yang rapi dan lampu kelap kelip yang berjejer rapi seperti tali jemuran menggantung diantara pepohonan.
Belum lagi irama musik dan lagu yang mengalun diatas panggung kecil, sehingga membuat suasana malam menjadi syahdu.
Aku dan Temmy memilih duduk di meja paling depan yang berhadapan langsung dengan panggung itu. Kursi di bagian depan hanya ada satu tapi modelnya memanjang, jadi aku dan Temmy duduk berdampingan.
Aku ikut membuka buku menu satunya lagi-yang ada diatas meja, melihat-lihat menu yang ingin aku makan.
"Beef Teriyaki Rice sama Orange Juice, deh."sahutku kemudian.
"Sama deh."kata Temmy mengikutiku.
Dan beberapa saat kemudian, pelayan cafe pun datang mencatat menu pesanan kami.
Sambil menunggu, kami menikmati setiap nyanyian dan alunan musik dari panggung itu.
Perlahan, Temmy memegang tanganku yang berada dimeja, kemudian aku membalasnyanya dengan menggenggam tangannya itu.
"Sebentar lagi Anniversary kita yang ke-2. Nggak terasa ya?"kata Temmy lalu melihat kearah ku.
Aku tersenyum padanya, "Iya. Semoga kita bisa seperti ini sampai nanti."ujarku berharap.
Temmy meng-Aamiin-kan perkatanku. Dan aku pun mengucapkan hal yang sama.
Sambil menunggu pesanan kami datang, Temmy berinsiatif untuk menyanyikan sebuah lagu untukku. Awalnya aku melarangnya, karena aku tidak yakin akan kemapuannya dalam hal bernyanyi. Yang aku tahu, dia hanya pandai mengomel.
Temmy telah naik keatas panggung. Dia tengah bernegosiasi dengan artis panggung itu. Apa yang mereka bicarakan? Entahlah. Temmy selalu melakukan hal-hal diluar dugaan.
Sampai akhirnya arti panggung itu meninggalkan Temmy sendirian di atas panggung.
Temmy mengambil sebuah gitar jenis electric acoustic yang memang sudah tersedia disana.
Dia duduk sebuah kursi kayu tinggi yang menghadap kearah microphone.
Setalah menyetel nada gitarnya, dia menarik menarik nafas panjang dan perlahan mengambuskannya.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya."seru Temmy menyapa pengunjung cafe. Mereka pun langsung menyambut seruan Temmy dengan semangat.
"Hari ini... saya akan menyanyikan sebuah lagi cinta untuk pacar saya yang berada di meja depan. Gadis berambut pendek, berwajah imut dan senyum yang manis"ujarnya seraya melirik kearahku.
Para tamu yang mengikuti arah pandangan Temmy, menyorakiku dengan semangat. Aku memutar kepalaku melihat puluhan pasang mata yang sedang menggodaku.
Aku menutup wajahku dengan buku menu. Wajahku terasa begitu panas karena menahan malu.
"Sebenarnya, ini pertama kalinya saya menyanyi untuk dia. Karena saya memang nggak jago nyanyi dan hanya modal nekat."
Pengunjung cafe tertawa mendengar orasi konyol Temmy.
"Saya persembahkan lagu ini buat pacar saya, karena dia sudah hadir mengisi ruang kosong dihati saya.
Dulu saya adalah sesorang dengan patah hati terhebat. Saya merasa depresi dan frustasi. Bahkan saya hampir jadi gila." Temmy menghentikan bicaranya sejenak.
Aku menyingkirkan buku menu yang menutupi wajahku. Perasaanku jadi melow mendengar curhatan Temmy di panggung. Aku menatapnya dengan sendu. Teringat kembali saat pertama bertemu Temmy. Dia memang pernah mengalami patah hati terhebat.
"Tapi itu sebalum saya bertemu dengan dia. Dia yang membuat saya kembali tersenyum lebar, membuat saya merasa konyol dan dia juga yang membuat saya mengerti bahwa yang pergi akan diganti dengan yang lebih baik lagi."
Ia berhenti berorasi lagi dan mulai menempatkan jari-jarinya diatara senar gitar.
Temmy kembali menghirup nafas dan menghelanya perlahan.
"Untuk kamu, pacarku, Gita Amirra. Aku benar-benar mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."sahut bahtinku bahagia.
Suara petikan gitar mulai mengalun. Nadanya begitu tenang dan menghayutkan.
Sedetik kemudian, suara Temmy lembut terdengar bernyanyi diantara alunan nada gitar.
*Betapa aku mencintaimu
Dengan sepenuh hatiku
Betapa aku menyayangimu
Lebih dari yang kau tahu
Huuhuuu..
hoo ooo.. ho...
Ingin ku bahagiakan dirimu
Setiap saat bersamaku
Seperti janjiku kepadamu
Tak 'kan pernah ku ingkari
Aku 'kan s'lalu ada di dekatmu
Aku 'kan s'lalu menemani harimu
Kau harus tahu
Betapa aku
Mencintaimu.. hoo..
Betapa aku mencintaimu
With everything inside of me*...
__ADS_1
Sebuah lagu tentang cinta dari Vagetoz band, bukan hanya membuatku meleleh tapi juga para pengunjung cafe. Mereka begitu menikmati setiap nada dan irama yang mengalun. Bahkan ada beberapa diantara tamu yang mengabadikan momen itu dengan merekam video atau mem-photo Temmy yang sedang bernyanyi.
Ahh sial, kenapa aku tidak kepikiran ya? Harusnya aku juga merekamnya bernyanyi untukku. Ini momen langka.