Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
13. Permintaaan Maaf Temmy


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Aku berdiri di depan jendela kamarku, ku buka lebar pintu jendela. Ku biarkan angin malam menerpa wajahku.  Ponsel ku berkali-kali menerima panggilan dari Temmy. Dia juga mengirimiku banyak pesan, namun tak ada satupun yang aku gubris. Aku masih kecewa padanya.


"Please dong,Git, angkat telpon gue." Temmy begitu gelisah, duduk dalam kamarnya.


Temmy lalu memutuskan untuk menemuiku di rumah.


Melihat Temmy yang pergi terburu-buru, membuat Mamanya bertanya. Saat itu, kedua orangtuanya sedang duduk- mengobrol di ruang tamu.


"Temmy? Kamu mau kemana?"tanya Mama.


"Ke rumah Gita, Ma."sahut Temmy tanpa menoleh sedikitpun. Dia terus saja berlalu keluar pintu.


"Ya ampun, Pa. Temmy nggak sabaran banget ya sama Gita." ujar sang Mama, sambil tersenyum gemas.


"Namanya juga anak muda, Ma. Pubernya bisa dua kali."balas Papa dengan santai.


Orangtua Temmy sepertinya juga belum mengetahui pertikaian antara aku dan Temmy.


Temmy pergi menemuiku dengan menaiki mobil. Dia mengebut selaju mungkin untuk menemuiku.


30 menit kemudian, Temmy sudah tiba di depan rumahku. Saat itu sudah pukul sembilan malam.


Mendengar ada suara mobil di depan, Ibu langsung mengintip dari celah hordeng jendela. Saat tahu tamu itu adalah Temmy, Ibu langsung membuka pintu dan menghampiri Temmy yang sudah berdiri di depan pagar rumahku.


"Bu, aku harus ketemu Gita, Bu. Ini cuma salah paham."kata Temmy begitu panik.


"Apa waktunya tepat? Sepertinya Gita masih ingin sendiri dulu."ujar Ibu.


"Gita harus tahu hal yang sebenarnya. Ini nggak seperti yang Gita bayangkan, Bu. Ini cuma salah paham."


Ibu terdiam sejenak. Dia mengangguk pelan sambil membukakan pintu pagar untuk Temmy.


"Selesaikan urusan kalian secara baik-baik, ya? Tolong kamu maklumi situasi Gita saat ini."

__ADS_1


Temmy mengangguk. Dia kemudian masuk kedalam rumah, berjalan kearah kamarku.


Tak perlu berfikir lagi, Temmy langsung saja masuk kedalam kamar yang tidak terkunci. Dia masuk perlahan dan menutup pintu.


Aku sedikit kaget melihat kehadiran Temmy di kamarku. Aku menatapnya dengan sangat tajam dan dingin.


"Mau apa lagi kesini?"hardikku. Aku belum beranjak dari posisiku semula.


Temmy tetap mendekatiku, "Kita perlu bicara, Git. Ini masalah serius."ucapnya.


"Aku nggak mau lihat muka kamu. Kamu dan Angel-"


Temmy yang sudah berada tepat di depan wajahku, langsung mencengkram pundakku dengan lembut. Dia memelukku begtu erat.


"Aku nggak ada apa-apa sama Angel. Kamu salah kira, Git. Please, biar aku luruskan masalah ini."


Aku menangis lagi. Ku dorong dada Temmy agar menjauh dariku, tapi aku sudah tidak punya kekuatan lagi. Badanku sangat lunglai. Dorongan itu tidak berarti apa-apa pada Temmy.


Temmy mengangkat wajahnya di depan wajahku. Tatapannya sayu, dia seperti hendak menangis. Kedua tangannya menyentuh leherku dengan lembut.


Aku tidak berkata apa-apa. Aku ingin percaya padanya tapi aku belum yakin.


"Ini juga mendadak buat aku. Aku nggak mengira bahwa dia akan datang lagi."


Temmy mendesah berat. Dia menitihkan air mata.


"Please, Git, kasih aku kesempatan. Tolong percaya sama aku. Aku bener-bener ngg..."


Temmy menghentikan kalimatnya. Dia sesegukan karena berusaha menahan  tangisannya.


Tangisan Temmy benar-benar tulus. Aku dapat merasakannya. Temmy bukanlah lelaki yang cengeng, tapi jika dia sudah menangis seperti ini berarti dia merasa tertekan karena aku sudah menuduhnya.


Tapi aku juga punya alasan untuk membencinya.


Hanya saja jauh di lubuk hatiku, aku kasihan padanya, cuma karena perkataan Angel tempo hari-yang sudah meracuni otakku, membuat aku menjadi egois. Aku marah dan menjauh tanpa mendengar penjelasannya lebih dahulu.

__ADS_1


Apa aku keterlaluan?


Aku terlalu sayang padanya sampai aku menjadi seorang pencemburu begini.


Apa aku salah?


"Please, Git.." Temmy merebahkan kepalanya di pundakku.


Aku hanya diam. Namun perlahan, aku menyentuh rambutnya, ku belai dengan lembut.


Aku tidak tega melihatnya menangis seperti ini. Ini bukanlah salah Temmy seutuhnya.


"Maafin aku, Tem."ujarku lirih. "Aku harusnya dengerin kamu dulu. Aku minta maaf."


Aku menghela nafas panjang, mengatur pernafasanku yang begitu terasa sesak.


"Aku bener-bener sayang sama kamu. Aku cuma cemburu sama Angel.  Aku takut kehilangan kamu. Aku bener-bener minta maaf."lanjutku lagi.


Temmy mengangkat kepalanya. Dia menggeleng padaku.


"Nggak. Ini bukan salah kamu. Harusnya aku memberitahu kamu soal Angel dari awal."


Aku tersenyum simpul, "Kamu mau maafin aku, kan?"kataku.


Temmy diam sebentar, lalu mengangguk.


"Jadi kit-"


Seketika  ucapanku terputus saat Temmy langsung menutup  bibirku dengan bibirnya.


Kami berciuman.


Angin malam kembali menerpa kami. Rasanya sangat damai.


Aku begitu menikmati malam itu di pelukan Temmy.

__ADS_1


__ADS_2