Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
20. Masih Ingin Berjuang (1)


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Seminggu telah berlalu sejak kedatangkan kami di desa untuk KKN. Orang-orang desa sangat ramah pada kami, mereka memperlakukan kami seperti tamu yang terhormat. Dan malam ini kami diundang oleh Kepala Desa untuk mengahadiri acara adat tahunan di desa tersebut. Acaranya akan di selenggarakan di sebuah pantai, karena desa itu merupakan daerah pesisir pantai yang sebagian besar mata pencahariannya adalah nelayan.


Dan hari ini juga Temmy telah meyelesaikan sidang skripsinya. Itu membuatku senang sekaligus sedih karena tidak dapat hadir di hari yang mendebarkan itu.


Temmy mengirimiku banyak sekali photo bersama dosen pembimbingnya serta bersama teman-teman kuliahnya. Juga ada Erik dan Lena.


Aku dan Temny telponan di sela-sela kegiatanku.


"Congratulation sayang."ujarku dengan sedih. Padahal aku ingin sekali menemaninya sidang. Mendengar suaraku yang tak bersemangat membuat Temmy menggodaku.


"Jangan galau gitu dong sayang. Nanti aku terbang kesana ya. Biar kangennya hilang."


"Sedih nggak bisa liat kamu sidang."


"Gini deh, pas kamu balik nanti aku bakalan siapin meja, terus pake jas buat sidang dan terus kamu yang jadi pengujinya. Gimana?"


Aku tertawa. Dasar Temmy, selalu bisa membuatku tertawa geli.


"Wisudanya tetap kamu dong yang dampingin."kata Temmy.


"Aku nggak sabar liat kamu pake toga."


"Aku juga nggak sabar liat kamu pake wedding dress."


"Aku juga... Hei? Bilang apa barusan?"kagetku yang baru sadar.


"Nothing!"


"Kamu ini..."


"Will you marry me?"


"APA?"


"I love you!"


"I love you too. Eh? Temmy, serius. Tadi bilang apa?"


"Apa?"


"Kami bilang apa sebelum 'i love you' ?"

__ADS_1


"Nothing?"


"Bukan, bukan itu. Sebelumnya? Aku kurang dengar."


"Yang mana?"


Nada suara Temmy terus saja menggodaku. Aku benar-benar tidak begitu jelas dengan ucapannya.


"Temmy?"


"Apa, sayang?"


"Bilang apa?"


"Wi...ll, yo...u m-" tut tut tut. Sambungan telpon terputus. Aku kesal. Baru saja aku hendak menelponnya lagi, tapi ponselku sudah menerima notifikasi pesan.


[nanti malam aku kesana ya]


Aku terkaget dan bingung. Kesini? Serius? Ini sudah hampir jam dua belas siang, kalau benar dia akan kesini setidaknya dia akan tiba ke desa pukul enam atau tujuh sore, itu pun jika tidak kena macet.


Temmy memang sudah aku beritahu soal di desa mana aku KKN dan posisi persisnya, jika dia memang niat berkunjung. Tapi ini sangat dadakan. Karena kurang yakin, aku pun mengiriminya balasan pesan.


[Serius? Nyapenya bisa malem loh?]


[Everything gonna be OK]


Aku tersenyum girang. Akhirnya malam ini aku bisa bertemu langsung dengan Temmy. Tapi mendadak aku panik sendiri. Berarti dia akan bermalam di sini? Tidur dimana?


Tidak mungkin dia menginap di posko kan? Kamarnya cuma ada 2 itu pun sempit. Mana tega aku biarkan dia tidur di luar.


☆☆☆


Dito keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Tampilannya seperti orang yang akan pergi ke suatu tempat dan di pundaknya ia mengendong sebuah ransel.


Melihat Dito yang pergi terburu-buru, membuat kedua orangtuanya-yang baru saja turun dari tangga kamar atas, terheran-heran.


"Dito? Mau kemana kamu?"tanya Papanya. Kedua orangtuanya mendekatinya. Dito berhenti dan diam ditempat. Wajahnya tampak tegang.


"Apa yang kamu bawa itu? Mau kemana?"Mama kembali bertanya. Dito belum menjawab, wajahnya begitu ragu.


"Dit?"Papa menatap dengan ekspresi bertanya.


"Nemuin Gita, Pa."jawabnya akhirnya.

__ADS_1


Baik Mama mau pun Papanya sama-sama terkejut.


"Untuk apa kesana?"


"Kamu ini sedang mabuk ya? Buat apa kesana?"


Papa yang biasanya lemah lembut, tiba-tiba mengeluarkan suara yang ketus. Dia seperti tidak suka tindakan yang dilakukan oleh Dito. Mamanya dengan cepat menyentuh lengan suaminya itu, isyarat agar dia tidak boleh bicara kasar pada Dito. Mengingat Dito menjadi rapuh akhir-akhir ini.


"Pa? Tolong, kali ini aja. Biarkan aku-"


"Biarkan kamu hancur karena cinta? Papa tidak akan izinkan kamu kemana-mana."


"Tapi, Pa, aku harus ketemu sama Gita. Tolong, untuk kali ini aja, Pa."


Dito memelas pada Papanya. Benar-benar sangat rapuh.


"Pa?"ekspresi wajah sang Mama juga seperti memohon agar Dito dibiarkan pergi.


"Papa bilang tidak ya tidak. Buat apa lagi menemui Gita? Kamu tidak sadar diri juga? Gita itu sudah punya pacar. Eling kamu,Dit."


Dito terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke samping.


"Pakai logika kamu. Kamu itu kan seorang guru? Berfikirlah yang realistis. Papa tidak akan mengizikan kamu pergi."


Temmy langsung menoleh pada Papanya. Wajahnya memelas ingin dibiarkan pergi.


"Pa? Biarkan Dito pergi, ya?"Mama membujuk Papa dengan lembut. Ia mengusap-usap pundak lelaki paruh baya itu.


Papanya menghela nafas berat.


"Pa? Cuma kali ini."ujar Dito kembali memohon.


Perlahan Papa lebih mendekat lagi pada Dito. Dia menepuk sekali pundak Dito.


"Baik. Tapi setelah ini jangan pernah menangis karena perempuan.


Apapun hasilnya nanti kamu harus ikhlas. Kamu harus janji!"ucapnya mulai melembut.


Dito mengangguk dengan semangat. Dia tersenyum.


"Dito janji, Pa-Ma."


Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, Dito akhirnya pergi dengan menaiki mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2