Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
8. Pertemuan Keluarga


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Temmy dan kedua orangtuanya sedang mengunjungi rumah kami. Mereka berencana akan makan malam dirumah. Tentu hal ini mebuat aku dan Ibu sangat senang, karena sudah cukup lama kami tidak mengadakan pertemuan antara keluarga ini.


"Seperti biasa, makanannya enak ya, Pa?"kata Mamanya Temmy memuji masakan kami.


"Sudah pasti. Papa sampai ketagihan loh."timpal Papanya Temmy. Mulutnya masih mengunyah.


Aku dan Ibu saling berpadangan dan tersenyum.


"Papanya sampai minta resep ini loh, mbak. Ingat kan?"


"Sebenarnya ini sih cuma menu simpel, mbak. Tapi masaknya pake cinta jadi rasanya lebih nikmat."ujar Ibu.


Baik Mama mau pun Papanya Temmy tertawa pelan mendengar penjelasan Ibu ku.


Aku mengalihkan pandanganku pada Temmy. Ku lihat dia sangat menikmati makan malamnya.


Aku mendesah pelan, entahlah, aku merasa kepikiran soal mantannya yang aku temui tadi siang.


Temmy tidak merespon apa-apa, dia hanya fokus makan dan dan sedikit menundukkan wajahnya. Dia hanya diam sampai kami selesai makan. Lalu mereka duduk diruang tamu bersama. Sementara aku mencuci piring sisa makan tadi didapur.


"Udah, Ibu kedalam aja, biar Gita yang beresin piringnya."kataku pada Ibu yang ingin membantuku.


"Ya sudah, Ibu temani mereka dulu ya?"


Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


Tak lama setelah Ibu keluar dari dapur, Temmy pun masuk ke dapur, lalu tiba-tiba saja dia mendekap pinggangku dari belakang. Hampir saja gelas yang aku basuh tadi terjatuh sangking kagetnya.


"Apaan sih? Bikin kaget mulu."protesku mengomel.


Ku dengar Temmy tertawa kecil. Dia makin mendekapku dengan sangat erat.


Aku mengerakkan tubuhku, berharap pelukan itu melonggar. Aku tidak bisa mencuci kalau begini.


"Lepasin ah, kalo ada yang lihatkan malu."


"Mereka sibuk ngobrol kok. Cuma kita bedua yang ada disini."katanya manja.


"Kalo ada yang masuk ke dapur gimna?"


"Emang aku peduli?"


Aku mulai berbalik badan, Temmy pun melonggarkan dekapannya itu, sehingga aku bisa bertatapan muka langsung dengannya.


Karena Temmy sangat tinggi, jadi aku mendongakkan wajahku keatas untuk melihat wajahnya.


"Masih nggak mau lepasin?"


Temmy menggeleng, "Nggak!"


"Lepasin!"


"Nggak!"

__ADS_1


"Lepasin!"


"Nggak mau!"


Aku gemas. Ku jinjitkan kakiku dan langsung saja aku menciumi dagunya. Temmy tampak kaget.


"Itu balasannya."kataku sok marah.


Temmy tersenyum licik. Dan dengan spontannya mencium bibirku. Aku kaget. Dan diam.


Hening....


Dan kami masih berciuman. Aku yang biasanya pasif kini mulai membalas ciumannya itu. Di sela-sela ciuman itu, Temmy menggigit bibir bawahku dengan lembut. Aku merasa merinding, tapi aku sangat menikmatinya.


Perlahan, tangaku yang masih ada busa sabunnya, mencengkram kedua pundaknya yang kekar. Aku merasa terhanyut. Temmy semakin gencar menciumiku. Hingga akhirnya kami sama-sama terkejut kala mendengar suara benda terjatuh ke lantai.


Kami menghentikan ciuman itu dan saling melepas pelukan.


"M-aaf. Mama nggak sengaja."kata Mama Temmy, yang sudah berdiri didepan pintu dapur. Entah sejak kapan dia berdiri disana.


Dia pun berbalik badan dan meninggalkan aku dan Temmy yang malu karena kepergok ciuman.


Wajahku memerah sangking malunya. Temmy juga terlihat malu tapi dia menutupinya dengan mengatubkan bibirnya.


"Haa." Temmy mendesah pelan.


Dia merebahkan kepalanya di pundakku dengan lemasnya.

__ADS_1


"Kita ketahuan deh."ujarku sambil tertawa canggung, seraya menepuk pundak Temmy.


__ADS_2