Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
22. Terakhir Kalinya


__ADS_3

☆Voting and Commenting☆


Aku keluar dari dapur dengan membawa sebuah gelas berisi susu coklat panas menuju ruang tamu. Kulihat di kursi kayu panjang itu tengah terbaring sosok Dito yang dari tadi belum juga sadarkan diri. Tubuhnya ku tutupi dengan selimutku, karena suhu tubuhnya sangat dingin tadi.


Terlihat rekan-rekan KKN-ku ada yang sedang duduk dan ada juga yang berdiri tengah mengelilingi Dito.


Ketika Dito pingsan tadi, aku segera menghubungi Fadil dan Adnan, meminta tolong pada mereka untuk menggotong tubuh Dito ke posko, karena aku tidak akan sanggup bila membawanya sendiri.


"Sumpah, cakep banget nih anak. Siapanya elu, Git?"tanya Gea begitu aku datang. Dia duduk persisi di sebelah Dito. Dia terpana akan ketampanan Dito.


"Mas Dito, tetangga."jawabku seraya meletakkan gelas yang ku bawa tadi di atas meja.


Mereka sempat bertanya mengapa Dito bisa ada disana dalam kondisi pingsan. Aku hanya mengatakan bahwa Dito kelelahan karena melalui perjalanan panjang kemari.


Aku lantas duduk di bagian tengah sisi kursi dimana Dito terbaring. Ku amati wajah Dito yang pucat itu. Apa dia demam? Kenapa dia kemari? Aku kembali teringat ketika dia menciumiku di pantai tadi. Apa yang sebenarnya Dito fikirkan? Apa yang dia katakan waktu itu masih berlaku, bahwa dia masih mencintaiku?


"Bikin panik aja lu,Git. Gua kira ada yang jahatin lu tadi."


"Kok bisa dia yang dateng? Udah janjian juga?"


Aku ragu, namun akhirnya mengangguk saja dari pada mereka bertanya yang macam-macam.


"Gila! Lu dikunjungi dua cowok dalam semalem. Gue pengen dong."celetuk Risty.  Aku tersenyum. Sedangkan yang lainnya menghujatnya.


"Sadar diri ye? Sama yang kemarin aja belum putus."ujar Fadil.


"Jangan sok jadi playgirl deh."


"Mending sama gue aja. Mau nggak?"


Risty tidak begitu merasa tersinggung dengan perkataan rekan-rekanku itu. Dia hanya mengepalkan tinjunya ke arah mereka.


"Udah, udah, " Adnan menengahi. "Mendingan kalian semua tidur dulu. Karena besok kita ada koordinasi sama orang desa mengenai proker kelompok."


Sebagian dari mereka langsung menurut perintah Adnan dan masuk kekamar. Cuma tinggal aku, Gea dan Fadil saja yang masih diam ditempat.


"Gita sama Gea mendingan kalian tidur juga. Biar gua sama Fadil yang jagain temen lu."


"Tapi aku belum ngantuk kok. Aku nggak apa-apa di sini dulu ya? Biar aku aja yang jagain, takutnya pas dia sadar nanti malah jadi canggung."


"Yakin? Tapi besok harus hadir loh? Jangan nggak."


Aku mengangguk. Gea dan Fadil juga meminta pada Adnan untuk tetap di ruang tamu bersamaku.


Akhirnya Adnan hanya mengiyakan dan pergi tidur.


"Dia udah punya pacar belum?"tanya Gea begitu semangat.


"Kayaknya udah sih."jawabku. Aku teringat Monika, yang pernah Dito ajak nonton di bioskop tempo hari.


"Yah.. telat kenalan dong gue?"Gea kecewa.


"Mana mau dia sama lu. Mending mundur teratur deh."


Mendengar perkataan Fadil tadi, langsung saja Gea mencubit-cubit lengan Fadil. Fadil menahan suara meringis di mulut agar tidak sampai menimbulkan suara berisik mengingat hari sudah sangat larut, belum lagi orang-orang sudah pada tidur.


"Gue kira ini pacar lu yang namanya Temmy."ujar Fadil.


Oh iya? Temmy-ku? Aku sampai lupa soal dirinya. Aku panik. Lalu aku berlari keluar teras untuk menelpon Temmy. Membuat Gea dan Fadil keheranan.


Sial, ternyata sinyal telponku hilang. Aku kembali masuk kedalam, bermaksud meminjam ponsel Gea tapi sinyalnya juga hilang total. Aku bertambah panik. Bagaimana kalau Temmy sudah tiba di pantai tanpa sepengetahuanku? Atau parahnya dia kembali pulang karena kecewa padaku?


Apa aku pergi ke pantai saja? Aku begitu ragu dan bimbang sekrang.


"Gimana dong?"pekikku pada Gea dan Fadil setelah menceritakan kegalauanku itu. Gea dan Fadil saling berpandangan tak yakin juga dengan ideku yang hendak kembali ke pantai.


"Lu tenang dulu deh, Git. Mungkin aja dia emang belum dateng."Gea menenangkanku. Tapi ekspresinya tetap tidak begitu yakin.


"Belum dateng gimana? Orang se-jam yang lalu dia bilang hampir nyampe?"ucapku panik.


"Ok, ok. Lu tenang. Biar gua temenin lu balik ke pantai. Kita cek cowok lu ada di sana apa kagak."


Aku mengangguk. Tanpa menunggu waktu lama lagi aku dan Fadil  kembali ke pantai. Dan aku menitipkan Dito pada Gea.


Setibanya di pantai, aku kangsung mencari Temmy.  Sekali dua kali aku berteriak memanggil namanya, namun nihil. Temmy tidak ada di sana. Aku kecewa dan sedih. Padahal akun sudah sangat berharap bisa melihat Temmy secara langsung malam ini.


"Mungkin belum dateng. Kita balik ke posko aja ,yuk?


Aku berfikir sejenak. Akhirnya mengangguk pasrah.


Kami berdua pun kembali ke posko.


"Belum ya?"tanya Gea yang masih duduk di kursinya, saat aku dan Fadil masuk ke dalam posko.

__ADS_1


Aku mengangguk lemas. Kemudian merebahkan diri di samping Gea.


"Besok baru lu hubungin lagi deh, pas jaringan bagus. Yang sabar ya?"


Aku hanya mengangguk saja.


☆☆☆


Aku membuka mataku perlahan ketika ku dengar suara adzan subuh berkumandang dari masjid yang terletak tidak begitu jauh dari posko.


Matakaku mengerjap-ngerjap karena silau lampu bohlam diatas plapon yang memang sengaja tidak di matikan.


Aku mengusap-usap mataku. Begitu pandanganku terasa normal, ku lihat wajah Dito sudah berada diatas wajahku. Dia tersenyum lembut.


"Udah bangun?"katanya.


Aku terhenyak. Hampir saja aku terlompat dari pembaringanku.


"Bikin kaget aja sih, Mas?"ujarku seperti berbisik karena takut yang lainnya bangun. Aku ternyata tertidur di pangkuan Dito. Tapi kapan? Aku tidak menyadarinya. Yang aku ingat aku tertidur dalam posisi duduk. Di tambah lagi tubuhku juga sudah memakai selimut yang sebelumnya memang aku pakaikan pada Dito saat dia pingsan tadi.


"Maaf, ya?" dia tersenyum, "Sudah buat kamu repot."


Aku menghela nafas. Aku lega kalau dia baik-baik saja. Wajahnya sudah kembali merona, tidak sepucat sebelumnya.


"Iya, Mas. Aku lega Mas Dito baik-baik aja. Bikin panik aja tahu nggak?"


"Maaf. Waktu berkunjungnya kurang tepat ya? Harusnya Mas kabarin kamu lebih dulu."


Aku hanya tersenyum.


"Sebelumnya Mas sudah nelpon kamu berkali-kali pas tiba di posko tapi poskonya kosong. Dan Mas liat titik lokasi kamu di pantai jadi Mas samperin langsung kamu aja."


Pantas saja mobilnya sudah ada terparkir beberapa meter dari posko. Rupanya dia mengikuti kerumunan warga yang juga hendak pergi ke pantai malam itu. Tapi apa mungkin dia menunggu selama berjam-jam di pantai dan mengamatiku dari jauh. Kok seperti stalker?


"Oh gitu? Jadi ini semua salah aku dong?" Aku tertawa kecil. Dito pun ikut tertawa.


"Yah.. Pokoknya maaf deh, udah buat susah."


"Udah, nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak nyangka aja Mas Dito ke sini. Sendirian?"


Dito mengangguk. "Maaf ya,Ta?"


Aku tertawa kecil, kenapa dia selalu saja minta maaf.


"Soal ciuman di pantai."katanya menyambung kalimatnya.


Aku tertegun sesaat, mengingat kejadian di pantai tadi malam. Aku lalu diam. Tidak tahu harus berkata apa. Aku sudah tidak kesal lagi, hanya menjadi canggung mendadak.


"Kamu berhak marah. Mas minta maaf. Silahkan kalo kamu membenci aku, Ta."


Dito memang tampak menyesali perbuatannya. Wajahnya sedikit di tekuk.


Aku menghela nafas. Aku menyentuh pundaknya.


"Aku nggak benci sama Mas Dito kok. Aku udah lupain kejadian semalam. Jadi jangan merasa bersalah lagi ya?"


Dito mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul.


"Udah bangun? Gimana keadaannya?"tanya Adnan. Dia dan Fadil yang baru saja keluar dari kamar dengan memakai sarung dan sebuah peci yang terpasang di kepala masing-masing.


Fadil menggosok-gosok matanya, dia sesekali menguap.


Mata kami teralihkan ke arah dua lelaki tersebut. Dito mengangguk.


"Makasih sudah ngizinin saya istirahat di sini."ucap Dito agak malu-malu.


Adnan tersenyum ramah, "Sama-sama. Maaf ya keadaan poskonya begini. Semoga nyaman."


"Cabut yuk? Udah habis adzan."ajak Fadil.


Adnan dan Fadil akhirnya pamit pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh.


"Setelah teman kamu tadi datang, aku juga bakalan balik. Kamu jaga diri ya?"


"Hah? Masih gelap begini? Nggak tunggu agak siangan aja?"


Dito menggeleng pelan. "Aku harus cepat pergi. Aku takut nggak bisa lupain kamu, Ta."


Aku diam kembali. Jika membahas masalah hati secara terangan-terangan begini, sudah pasti suasana akan bertambah canggung lagi. Aku ingin mengalihkan topik pembahasan, tapi bagaimana caranya? Masa aku harus bercerita soal Nobita yang tidak naik-naik kelas di sekolah dasar dari aku kecil hingga dewasa? Jatuhnya malah garing.


"Kita nggak usah bahas ini, ya? Nanti-"


"Ini yang terakhir kalinya, Ta. Setelah ini aku janji nggak akan menemui kamu lagi."

__ADS_1


"Hah? Maksudnya?"


Dito menghela nafas berat. Dia tetap tersenyum padaku dalam kondisi dilema begini.


"Aku ingin melupakan semua tentang kamu. Biar hidupku juga tenang. Aku berharap yang terbaik buat kamu. Bahagia bersama pilihan kamu."


"Mas, kamu ini kenapa? Memang kita nggak bisa jadi teman? Aku sayang sama Mas Dito."


"Kalo nggak melibatkan perasaan udah pasti aku bertahan di sisi kamu, Ta. Aku udah mencobanya selama bertahun-tahun, rasanya sakit kalo harus berdampingan dengan orang yang kita sayang tanpa ada balasan. Maafin aku, Ta. Aku bukan teman yang baik buat kamu."


"Kenapa Mas Dito ngomong gini sih? Mau pergi ninggalin aku ya?"


"Aku minta maaf, Ta. Aku udah coba ingin bertahan tanpa harus melibatkan perasaan tapi itu nggak berhasil. Rasanya aku mau gila."


"Tapi Mas mau kemana?"


Dito tersenyum namun kali ini yang terlihat senyuman itu di paksa.


"Ke Paris."


"Kenapa harus Paris sih? Itu kan jauh?"


Aku masih mengontrol pelan suaraku agar tidak terdengar oleh yang lainnya.


"Aku mau melanjutkan cabang bisnis Papa di sana."


"Bukannya Mas Dito lebih seneng jadi guru? Kenapa beralih ke bisnis?"


"Karena aku harapan keluarga aku, Ta."


"Kapan perginya?"


"Tiga hari lagi."


Tak terasa air mataku jatuh.  Aku terenyuh dengan ucapan Dito. Bukan dia yang salah, aku lah yang salah. Aku tidak membalas perasaannya tapi masih tetap membutuhkan perhatiannya. Secara tidak langsung aku telah menyakitinya selama ini. Aku merasa sangat jahat.


Beberapa saat kami saling terdiam. Kepalaku menunduk. Hatiku terasa sakit sekali.


Aku menyeka air mataku yang masih saja mengalir dan membasahi paha celana jeans ku.


"Mas kenapa ninggalin aku?" Aku berusaha menahan tangisanku agar tidak menimbulkan suara, bahuku berguncang karena mulai sesegukan.


Aku sudah tahu jawabannya-dia pergi kerena kecewa, tidak ada lagi yang harus dia perjuangkan. Tapi ini sangat mendadak bagiku.


"Semuanya akan baik-baik aja ,Ta. Temmy orang yang baik. Mas yakin dia pasti akan selalu menjaga kamu."


Aku menggelengkan kepalaku. Bermakna bahwa aku tidak ingin dia pergi. Aku tahu ini egois tapi Dito yang sudah aku anggap sebagai kakak akan pergi ketempat yang jauh dan meninggalkanku. Ini sangat membuatku sedih.


Dari luar, terdengar suara langkah kaki yang sepertinya adalah Adnan dan Fadil yang baru saja kembali dari masjid.


Dengan cepat aku menyapu air mataku yang membasahi pipiku.


Lalu Dito berdiri dari duduknya.


"Pantes jaringan pada hilang, kabel towernya ada yang putus semalem."kata Adnan seraya mencopot peci di kepalanya.


"Nah, lega kan lu sekarang? Nggak usah panik lagi karena nggak bisa telpon pacar lu."ujar Fadil padaku.


Aku spontan melirik Dito yang tetap tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya itu.


"Ada pohon tua lapuk yang tumbang juga di ruas jalan depan jadi nggak bisa di lalui dulu. Pagi, pohonnya baru di pindahi ke pinggir. Itu keterangan salah satu jemaah di masjid."


"Oh begitu ya? Padahal saya harus cepat balik ke kota."ucap Dito sambil menganggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Hah? Pagi buta begini?"Fadil sedikit terkejut.


"Sabar aja, Mas. Tunggu agak siangan aja. Biar nyaman perjalanannya."kata Adnan menyarankan.


Dito mengangguk dan tersenyum.


Tiba-tiba, Fadil menanyakan hal yang membuat aku dan Dito langsung canggung lagi.


"Eh Git? Kenapa mata lu merah? Habis mewek lu?"


Dito hanya diam. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dasar mulut emas si Fadil tidak lihat situasi kalau ngomong.


Tetapi Adnan, dia begitu peka dengan situasiku. Dengan cepat dia menyikut tulang rusuk Fadil dengan sikunya cukup keras, sehingga Fadil meringis kesakitan.


"Mending elu diem aja, kadal gurun."ujar Adnan dengan geramnya.


Suaranya tertahan dimulut.


Dia lalu menyeret Fadil kembali masuk kedalam kamar khusus para lelaki.

__ADS_1


__ADS_2