![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Vote and commenting☆
"Neng? Kamu teh sudah siap belum? Nanti Ibu telat rapat sekolah atuh." teriak Ibu dari luar kamarku sambil mengetuk pintu kamarku berkali-kali.
Lalu aku pun muncul dar balik pintu. Rambutku masih kusut belum disisir.
"tiga menit lagi ya, Bu?"pintaku sambil cengengesan.
Ibu mendengus, ia mencubit pipiku, "Cepat ya? Nanti ibu terlambat."
"Iya, ya."
Aku kembali menutup pintu. Aku bersiap-siap merapikan diri.
Hari ini Ibu ada rapat disekolah dan kebetulan aku sedang tak ada kuliah karena ujianku sudah berakhir.
Tak lama aku keluar kamar menemui Ibu yang sudah menungguku diluar.
Ku antar Ibu dengan mengendarai mobil. Meski keseharianku mengendarai motor bukan berarti aku tidak bisa menyetir mobil. Ilmu mengemudi sudah aku dapatkan sejak SMA yang dipandu langsung oleh mendiang Ayahku.
Ok, itu bukanlah info yang amat penting.
Tak lama kami pun sampai di sekolah. Ibu memilih turun didepan gerbang sekolah karena usai rapat aku akan menjemputnya kembali.
Aku men-starter mobil, tapi mesinnya tidak mau hidup. Aku ulangi lagi tapi tetap tidak mau hidup juga.
Ahh, aku kesal. Pasti karena ini mobil sudah cukup tua jadi mesinnya agak tergepoh-gepoh.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk dinding pintu mobilku, membuat aku kaget.
"Mobilnya macet lagi?"tanya suara itu lembut.
Aku menoleh. Pemilik suara itu adalah Mas Dito, anak rekan kerjannya Ibu, yang juga mengajar di sekolah ini.
Sepertinya hari ini dia akan mengajar, terbukti dari baju dinas sekolah yang dia pakai.
"Iya ni, Mas. Bikin kesel aja."sungutku.
Dia tersenyum. "Coba sini." dia meraih kunci yang terpasang di mobil dan memutarnya.
Aku menggeserkan tubuhku sedikit kesamping agar dadaku tidak terkena oleh tangannya.
Saat kembali di starter, mobil itu terasa bergetar namun tidak mau jalan.
"Tuh kan, nggak bisa, Mas. Kumat lagi deh kayaknya."aku merengkek kesal.
Dito tertawa pelan. Dia menarik tangannya dari mobil.
"Bawa ke bengkel aja,Ta. Ada yang deket kok dari sini."katanya memberi saran.
Aku diam dan berfikir sejenak. Masalahnya bagaimana aku bisa membawa mobil ini ke bengkel? Sedangkan mobilnya tidak bisa bergerak satu inci pun.
"Tenang, biar Mas yang derek mobilnya ke bengkel."kata Dito kemudian. Seolah tahu isi kepalaku.
"Beneran?"
"Iya."
__ADS_1
"Nggak ngerepotin?"
"Ya nggak lah,Ta. Kayak sama siapa aja."
Aku merasa beruntung bertemu dengan Dito hari ini. Jika tidak mungkin aku sudah diam di mobil seharian penuh.
Aku masih berada didalam mobilku, sedangkan Dito menderek mobilku di belakang mobilnya, lalu membawanya ke bengkel terdekat.
Tak perlu waktu lama, sekitar dua menit-an kami sudah sampai di sebuah bengkel yang cukup besar.
Semua masalah mobil aku serahkan pada Dito, karena aku tidak paham tentang otomotif sama sekali.
"Besok baru bisa diambil katanya. Harus di cek dulu dinamo starter-nya ."kata Dito.
"Mau gimana lagi. Kita tinggalin aja dulu. Tapi Ibu
gimana? "
"Aman, biar ibu mu aku yang jemput."
"Makasih ya, Mas."
"Iya."
Karena aku sudah dibantu olehnya, maka aku pun wajib mentraktirnya makan. Tapi dia menolakku dengan halus, katanya hari ini dia ada jam mengajar sehingga tidak dapat ikut denganku.
Dia akhirnya mengantarku pulang dan berjanji akan menjemput ibuku juga.
"Makasih ya, Mas. Sudah mau aku repotin."ucapku, saat kami sudah tiba didepan rumah.
"Iya."
Dito hanya mengangguk. Namun begitu aku hendak masuk ke dalam rumah, Dito menahan langkahku dengan sebuah pertanyaan sederhana.
"Nanti malam, mau makan bareng di luar nggak?"
Nada bicaranya terdengar ragu-ragu. Mungkin karena ini pertama kalinya dia mengajakku keluar bersama.
"Mmm, boleh. Jam berapa?"sahutku tanpa ragu.
"Jam delapan?"
"Siap!"
"Ok deh, kalo gitu, aku pamit dulu."
Aku mengangguk.
☆☆☆
Sesuai janji, aku dan Dito pergi makan diluar malam itu. Karena dia seorang guru, aku berfikir untuk berpakaian yang cukup tertutup saja. Seperti kemeja lengan panjang dengan jeans longgar yang dipadu padankan dengan sepatu sneakers. Tidak buruk.
Begitu aku sudah siap, Dito pun datang.
Malam itu kami pergi makan di sebuah restoran kecil yang terletak dipinggir jalan raya.
"Makanannya enak?"tanya Dito yang dari tadi hanya melihatku makan dengan penuh nafsu.
__ADS_1
"Enak, Mas."jawabku, tanpa memperdulikan betapa amburadulnya aku saat mengunyah makanan.
"Kalo laper, tambah aja."
"Nggak ah, nanti gendut."
Dito tersenyum bersuara mendengar ucapanku.
"Emangnya kenapa kalo gendut? Pacar kamu nggak suka?
Aku berhenti mengunyah. Ku ambil segelas air putih yang berada diatas mejaku.
"Bukan. Cuma nggak nyaman aja. Lagian Temmy bilang dia suka semuanya yang ada di aku kok. Tapi aku kan harus jaga badan biar nggak malu-maluin pas diajak jalan."cerocosku sambil mencomot kentang goreng yang ada di meja.
"Kapan ya terakhir kali kita pernah ngobrol langsung gini?"
"Mmm... kapan ya?"
"Pas aku nembak kamu dulu?"
Aku tertohok dibuatnya. Segera saja aku raih gelas berisi air putih tadi dan meneguknya sampai habis.
"Eh? Maaf ya, Ta. Aku nggak bermaksud ingatin itu loh."
Aku mengibas-ngibaskan tanganku sambil menahan rasa tidak enak hatiku.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma kaget aja."kataku berterus terang.
Dito tersenyum, "Kamu emang nggak banyak berubah ya?"
katanya.
"Emang aku power rangers?"
"Mirip dikit."ujarnya agak meledekku. Aku memasang wajah sok kesal.
"Kamu kalo makin ngambek malah makin lucu tahu? Mirip pikachu."
"Belum tahu aja kan, kalo aku ngambek mirip gozila."
"Nah.. itu lebih cocok."
"Jangan ngeledek terus deh, nanti jatuh cinta sama aku baru tahu loh."
Saat mendengar kalimatku barusanlah, perlahan wajah Dito berubah datar, senyumnya hilang seketika.
Aku berdehem pelan, mungkin aku sudah salah berucap.
Kami diam seperkian detik. Suasana berubah canggung.
"Mas?"aku memberanikan diri untuk memulai obrolan lagi.
Dito melirik ku dengan tatapan yang sayu. Di tersenyum simpul.
"Sampai sekarang pun aku masih jatuh cinta sama kamu, Ta."
Aku tertegun. Tak bisa berucap apa-apa lagi.
__ADS_1
Aku merasa kikuk sekarang. Aku lalu menundukkan pandanganku kebawah. BODOHNYA AKU!